Denpasastra.net

Lagu Indonesia Patah Hati Paling Ikonik 90-an: Terpuruk Ku di Sini – KLa Project

kla project

Ada momen-momen di mana saya bisa mendengarkan lagu sedih berulang-ulang dalam frekuensi yang tidak sehat.

Sebagai bagian dari generasi pendengar musik yang tumbuh di era 90-an, mengalami cinta monyet dan patah hati, lagu ini adalah salah satunya.

Dirilis pada tahun 1993, ‘Terpuruk Ku di Sini’ adalah bagian dari album Ungu milik KLa Project.

Flashback ke masa itu, lanskap lagu sedih yang kerap diputar oleh lingkungan keluarga saya hampir seragam nadanya: melankolis, meratap, dan sangat langsung.

Nama-nama seperti Betharia Sonata, Nia Daniaty, dan Dian Piesesha membentuk standar emosional angkatan sebelumnya: kesedihan harus ditumpahkan. Dan saya tumbuh dengan pola itu.

Sampai kemudian lagu ini datang dengan arah berbeda. Ia tetap sedih, tapi tidak meratap. Tidak ada simpati yang diminta, tidak ada pihak yang disalahkan.

Yang hadir justru keterombang-ambingan yang seakan datang untuk menetap. Simak saja pada bagian reffrain: ‘Menggigil palung hati, di pelukan bimbang jawabmu.’

Puluhan tahun kemudian, saya memahami bahwa lagu ini mengandung pengalaman eksistensial. Ada kedekatan dengan gagasan Jean-Paul Sartre tentang keterlemparan manusia di dunia: berada dalam situasi tanpa kepastian dan tanpa kontrol.

Secara musikal, KLa Project juga mengambil jarak dari arus utama. Tidak ada ledakan dan tidak ada dorongan menuju klimaks. Bahkan di bagian bridge yang biasanya mengantarkan pada penerimaan, di lagu ini justru bridgenya malah mempertebal keterpurukan.

Dalam hemat saya, inilah lagu yang alih-alih playing victim atau blaming, ia sekadar menunjukkan luka yang menganga. Pendekatan estetik semacam ini tidak lazim pada masanya dan terasa lebih kontemporer.

Wajar jika album ini kemudian meraih tiga penghargaan BASF Awards 1994 sekaligus sebagau Lagu Terbaik, Aransemen Terbaik, dan Pop Kontemporer Terbaik yang semuanya diberikan untuk lagu ‘Terpuruk Ku di Sini’.

Baca Juga  SID Balik Lagi ke Dapur Rekaman! Album Baru Setelah Lama 'Bertapa'?

Patut dicatat, ulasan ini tidak hendak membandingkan masa lalu dengan hari ini, melainkan sebagai penanda bahwa pernah ada satu fase dalam musik Indonesia ketika lagu patah hati dibangun dengan cara paling ikonik seperti ini.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Preman Laut

Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Redaksi

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

Jason Ranti Bakal Tampil di Bali 15 April Besok

Redaksi
Resensi

Lagu Indonesia Patah Hati Paling Ikonik 90-an: Terpuruk Ku di Sini – KLa Project

kla project

Ada momen-momen di mana saya bisa mendengarkan lagu sedih berulang-ulang dalam frekuensi yang tidak sehat.

Sebagai bagian dari generasi pendengar musik yang tumbuh di era 90-an, mengalami cinta monyet dan patah hati, lagu ini adalah salah satunya.

Dirilis pada tahun 1993, ‘Terpuruk Ku di Sini’ adalah bagian dari album Ungu milik KLa Project.

Flashback ke masa itu, lanskap lagu sedih yang kerap diputar oleh lingkungan keluarga saya hampir seragam nadanya: melankolis, meratap, dan sangat langsung.

Nama-nama seperti Betharia Sonata, Nia Daniaty, dan Dian Piesesha membentuk standar emosional angkatan sebelumnya: kesedihan harus ditumpahkan. Dan saya tumbuh dengan pola itu.

Sampai kemudian lagu ini datang dengan arah berbeda. Ia tetap sedih, tapi tidak meratap. Tidak ada simpati yang diminta, tidak ada pihak yang disalahkan.

Yang hadir justru keterombang-ambingan yang seakan datang untuk menetap. Simak saja pada bagian reffrain: ‘Menggigil palung hati, di pelukan bimbang jawabmu.’

Puluhan tahun kemudian, saya memahami bahwa lagu ini mengandung pengalaman eksistensial. Ada kedekatan dengan gagasan Jean-Paul Sartre tentang keterlemparan manusia di dunia: berada dalam situasi tanpa kepastian dan tanpa kontrol.

Secara musikal, KLa Project juga mengambil jarak dari arus utama. Tidak ada ledakan dan tidak ada dorongan menuju klimaks. Bahkan di bagian bridge yang biasanya mengantarkan pada penerimaan, di lagu ini justru bridgenya malah mempertebal keterpurukan.

Dalam hemat saya, inilah lagu yang alih-alih playing victim atau blaming, ia sekadar menunjukkan luka yang menganga. Pendekatan estetik semacam ini tidak lazim pada masanya dan terasa lebih kontemporer.

Wajar jika album ini kemudian meraih tiga penghargaan BASF Awards 1994 sekaligus sebagau Lagu Terbaik, Aransemen Terbaik, dan Pop Kontemporer Terbaik yang semuanya diberikan untuk lagu ‘Terpuruk Ku di Sini’.

Baca Juga  Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Patut dicatat, ulasan ini tidak hendak membandingkan masa lalu dengan hari ini, melainkan sebagai penanda bahwa pernah ada satu fase dalam musik Indonesia ketika lagu patah hati dibangun dengan cara paling ikonik seperti ini.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Preman Laut

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi