Denpasastra.net

Di Hadapan Tuhan, Ahmad Dhani Hanyalah Sebutir Debu

Lagu paling rendah hati yang pernah ditulis Ahmad Dhani justru bukanlah lagu cinta, melainkan lagu tentang hubungannya dengan Tuhan: Kuldesak.

Tiga dekade terakhir, publik mengenal Dhani sebagai figur yang percaya diri sampai mendekati arogansi. Pernyataannya keras, opininya tajam dan sikapnya tegas.

Persona serupa kerap muncul dalam lagu-lagu yang ia tulis untuk Dewa 19. Subjek liriknya sering berbicara dari posisi yang yakin, hampir memerintah.

Dalam Risalah Hati, misalnya, terdapat kalimat yang sudah sangat dikenal: “aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku walau kau tak cinta kepadaku.”

Sebuah pernyataan yang terdengar seperti keyakinan mutlak terhadap daya tarik diri.

Kita bisa menjumpai nada serupa di banyak lagu Dewa lainnya. Dalam Arjuna Mencari Cinta, tokoh Arjuna hadir sebagai figur lelaki yang bergerak di tengah daya tariknya sendiri. Seorang pencari yang sekaligus sadar akan pesonanya.

Di Pangeran Cinta, bahkan judulnya sudah memanggil imaji yang jelas. Lelaki sebagai pusat orbit romantik, hampir seperti figur yang menobatkan dirinya sendiri.

Di tengah pola itu, ada lagu yang terasa bergerak ke arah lain: Kuldesak, ditulis Ahmad Dhani bersama Andra Ramadhan dan dirilis pada 1999. Liriknya dipenuhi metafora yang justru mereduksi manusia menjadi sesuatu yang nyaris tak berarti.

Di lagu ini, Dhani menempatkan dirinya sebagai buih di laut, debu di padang pasir, dan bintang kecil di antara jagad raya. Rangkaian citra yang bergerak dari laut ke gurun, lalu ke kosmos. Skala yang terus melebar sementara manusia justru mengecil di dalamnya.

Di sela citra-citra itu muncul doa yang berulang. Permohonan agar tidak tersesat di persimpang jalan. Nada yang terdengar bukan lagi keyakinan, melainkan pencarian arah. Di titik inilah Kuldesak terasa berbeda dari banyak lagu Dhani lainnya.

Baca Juga  Benua dan Dunia Tanpa Manusia

Lagu ini memperlihatkan satu momen langka: ketika ego manusia berhenti berbicara, dan yang muncul justru kerendahan hati di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Subhanallah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Rekomendasi Tiga Rilisan Musik Pekan Ini: Feral Stripes, Microbot dan Catur Hari Wijaya

Preman Laut

Membaca Estetika Kekalahan dalam Lagu-Lagu Sheila On 7

Preman Laut

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Lebih dari Sekedar Lagu Cinta: Refleksi atas Kehilangan Diri Sendiri ala Samsons pada ‘Kenangan Terindah’

Preman Laut

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut
Resensi

Di Hadapan Tuhan, Ahmad Dhani Hanyalah Sebutir Debu

Lagu paling rendah hati yang pernah ditulis Ahmad Dhani justru bukanlah lagu cinta, melainkan lagu tentang hubungannya dengan Tuhan: Kuldesak.

Tiga dekade terakhir, publik mengenal Dhani sebagai figur yang percaya diri sampai mendekati arogansi. Pernyataannya keras, opininya tajam dan sikapnya tegas.

Persona serupa kerap muncul dalam lagu-lagu yang ia tulis untuk Dewa 19. Subjek liriknya sering berbicara dari posisi yang yakin, hampir memerintah.

Dalam Risalah Hati, misalnya, terdapat kalimat yang sudah sangat dikenal: “aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku walau kau tak cinta kepadaku.”

Sebuah pernyataan yang terdengar seperti keyakinan mutlak terhadap daya tarik diri.

Kita bisa menjumpai nada serupa di banyak lagu Dewa lainnya. Dalam Arjuna Mencari Cinta, tokoh Arjuna hadir sebagai figur lelaki yang bergerak di tengah daya tariknya sendiri. Seorang pencari yang sekaligus sadar akan pesonanya.

Di Pangeran Cinta, bahkan judulnya sudah memanggil imaji yang jelas. Lelaki sebagai pusat orbit romantik, hampir seperti figur yang menobatkan dirinya sendiri.

Di tengah pola itu, ada lagu yang terasa bergerak ke arah lain: Kuldesak, ditulis Ahmad Dhani bersama Andra Ramadhan dan dirilis pada 1999. Liriknya dipenuhi metafora yang justru mereduksi manusia menjadi sesuatu yang nyaris tak berarti.

Di lagu ini, Dhani menempatkan dirinya sebagai buih di laut, debu di padang pasir, dan bintang kecil di antara jagad raya. Rangkaian citra yang bergerak dari laut ke gurun, lalu ke kosmos. Skala yang terus melebar sementara manusia justru mengecil di dalamnya.

Di sela citra-citra itu muncul doa yang berulang. Permohonan agar tidak tersesat di persimpang jalan. Nada yang terdengar bukan lagi keyakinan, melainkan pencarian arah. Di titik inilah Kuldesak terasa berbeda dari banyak lagu Dhani lainnya.

Baca Juga  Siapa Aku, Kamu, dan Kita di Album Rimpang: Membongkar Pronomina versi ERK

Lagu ini memperlihatkan satu momen langka: ketika ego manusia berhenti berbicara, dan yang muncul justru kerendahan hati di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Subhanallah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Tafsir Ulang Child – Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Preman Laut

Mendengarkan Album ‘Painting of Life’ – UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Pria Tidak Lagi Menjajah, Tapi Dijajah: Sebuah Resensi ‘Pria Dijajah Wanita’ Karya Kaimsasikun

Preman Laut

Siapa Aku, Kamu, dan Kita di Album Rimpang: Membongkar Pronomina versi ERK

Preman Laut

Morbid Monke: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi