Denpasastra.net

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Saya percaya konteks waktu sangat menentukan makna sebuah lagu diamini pendengar. Single terbaru Soul And Kith, Carry On, hadir dengan semangat cerah dan energi positif. Namun, di tengah situasi Indonesia yang sulit—ekonomi melemah, hak sipil terancam, dan suasana politik penuh ketegangan—pesan “terus melangkah” terasa terlalu dini, bahkan seperti mengabaikan luka yang masih menganga.

Untuk memahami kenapa Carry On terasa kurang pas, kita perlu menengok perjalanan musikal Soul And Kith. Mereka memulai sebagai pencerita introspektif, dengan karya-karya awal seperti Time (2019) yang menciptakan lanskap suara intim dan eksistensial lewat gitar akustik dan tekstur ambient. Musik mereka seperti ruang doa pribadi—nikmat didengar sendiri dalam keheningan dan renungan.

Kemudian, mereka melebarkan cakrawala lewat lagu seperti Huretoy Kor Kamuy, mengeksplorasi bahasa Ainu dan spiritualitas lintas budaya. Di sini, Soul And Kith membuka jendela dunia tanpa kehilangan kedalaman hati. Titik balik terjadi di mini-album A Journey Unseen (2024), di mana anggota baru bergabung, aransemen menjadi lebih dinamis, dan musik mereka yang dulu tertutup jadi lebih ekspresif dan terbuka. Lagu seperti Unbound Voices mengajak berdansa, sementara Social Jungle memberikan komentar sosial ringan tapi bermakna.

Carry On terasa seperti langkah berikutnya: lebih cerah, lebih enerjik, dan penuh motivasi. Dari sisi musikal, lagu ini diproduksi dengan rapi—melodi yang mengangkat, permainan gitar yang atmosferik, dan tekstur synthesizer yang halus—menjadikannya enak didengar dan ramah radio. Namun di sinilah masalahnya: dalam upaya membangkitkan semangat, mereka lupa duduk bersama rasa sakit yang sebenarnya perlu didengar dulu.

Yang kita saksikan bukan cuma evolusi artistik Soul And Kith, tapi juga bahaya pesan positif tanpa pondasi emosional. Carry On terasa kurang otentik karena tidak terlebih dulu mengakui beban berat yang dipikul banyak orang. Lagu ini terlalu cepat melompat ke harapan tanpa memberi ruang untuk marah, kecewa, atau bingung. Ia menawarkan kanvas emas tanpa menyadari bahwa banyak orang hari ini memandangi dinding yang muralnya sudah dicoret paksa.

Baca Juga  Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Bukan berarti harapan tak berhak ada di masa gelap. Tapi harapan sejati lahir dari menghadapi gelap, bukan melewatinya begitu saja. Kebangkitan yang tulus datang setelah kita mengakui luka, bukan menggantikannya.

Ironisnya, Soul And Kith sebelumnya mampu menciptakan karya yang sabar dan menghormati rasa sakit. Lagu ini akan lebih bermakna jika diawali dengan pengakuan atas beban yang dirasakan banyak orang, baru kemudian mengajak untuk bangkit bersama.

Secara teknis, Carry On adalah lagu yang halus dan enak didengar. Namun, di konteks Indonesia saat ini, lagu ini terasa seperti harapan yang datang terlalu cepat. Seni yang baik harus mampu menemani luka, bukan melewatinya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Rima Ababil Homicide: Membongkar Kekerasan Rezim & Kasus Munir

Preman Laut

Refleksikan Banjir Besar di Bali, Dialog Dini Hari Rilis Single “Bandang”

Redaksi

Tujuh Tahun Hiatus, Scared Of Bums Gelar Pesta Sesi Dengar Materi Baru

Redaksi

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Redaksi
Resensi

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Saya percaya konteks waktu sangat menentukan makna sebuah lagu diamini pendengar. Single terbaru Soul And Kith, Carry On, hadir dengan semangat cerah dan energi positif. Namun, di tengah situasi Indonesia yang sulit—ekonomi melemah, hak sipil terancam, dan suasana politik penuh ketegangan—pesan “terus melangkah” terasa terlalu dini, bahkan seperti mengabaikan luka yang masih menganga.

Untuk memahami kenapa Carry On terasa kurang pas, kita perlu menengok perjalanan musikal Soul And Kith. Mereka memulai sebagai pencerita introspektif, dengan karya-karya awal seperti Time (2019) yang menciptakan lanskap suara intim dan eksistensial lewat gitar akustik dan tekstur ambient. Musik mereka seperti ruang doa pribadi—nikmat didengar sendiri dalam keheningan dan renungan.

Kemudian, mereka melebarkan cakrawala lewat lagu seperti Huretoy Kor Kamuy, mengeksplorasi bahasa Ainu dan spiritualitas lintas budaya. Di sini, Soul And Kith membuka jendela dunia tanpa kehilangan kedalaman hati. Titik balik terjadi di mini-album A Journey Unseen (2024), di mana anggota baru bergabung, aransemen menjadi lebih dinamis, dan musik mereka yang dulu tertutup jadi lebih ekspresif dan terbuka. Lagu seperti Unbound Voices mengajak berdansa, sementara Social Jungle memberikan komentar sosial ringan tapi bermakna.

Carry On terasa seperti langkah berikutnya: lebih cerah, lebih enerjik, dan penuh motivasi. Dari sisi musikal, lagu ini diproduksi dengan rapi—melodi yang mengangkat, permainan gitar yang atmosferik, dan tekstur synthesizer yang halus—menjadikannya enak didengar dan ramah radio. Namun di sinilah masalahnya: dalam upaya membangkitkan semangat, mereka lupa duduk bersama rasa sakit yang sebenarnya perlu didengar dulu.

Yang kita saksikan bukan cuma evolusi artistik Soul And Kith, tapi juga bahaya pesan positif tanpa pondasi emosional. Carry On terasa kurang otentik karena tidak terlebih dulu mengakui beban berat yang dipikul banyak orang. Lagu ini terlalu cepat melompat ke harapan tanpa memberi ruang untuk marah, kecewa, atau bingung. Ia menawarkan kanvas emas tanpa menyadari bahwa banyak orang hari ini memandangi dinding yang muralnya sudah dicoret paksa.

Baca Juga  The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Bukan berarti harapan tak berhak ada di masa gelap. Tapi harapan sejati lahir dari menghadapi gelap, bukan melewatinya begitu saja. Kebangkitan yang tulus datang setelah kita mengakui luka, bukan menggantikannya.

Ironisnya, Soul And Kith sebelumnya mampu menciptakan karya yang sabar dan menghormati rasa sakit. Lagu ini akan lebih bermakna jika diawali dengan pengakuan atas beban yang dirasakan banyak orang, baru kemudian mengajak untuk bangkit bersama.

Secara teknis, Carry On adalah lagu yang halus dan enak didengar. Namun, di konteks Indonesia saat ini, lagu ini terasa seperti harapan yang datang terlalu cepat. Seni yang baik harus mampu menemani luka, bukan melewatinya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Benua dan Dunia Tanpa Manusia

Preman Laut

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Ubud Jadi Tuan Rumah Ubud Village Jazz Festival 2025, 1–2 Agustus di Sthala

Redaksi

Lagu Lama ‘Surti-Tejo’ karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Redaksi

Merayakan Rindu 50 Tahun Kemudian: Revisiting Wish You Were Here – Pink Floyd (1975 – 2025)

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi