Denpasastra.net

Sayembara Cerpen Denpasar 2025 Resmi Dibuka, Batas Akhir 31 Oktober

Denpasar kembali membuka ruang bagi para penulis untuk berbagi cerita. Melalui Sayembara Cerpen Denpasar 2025, warga diajak menuliskan pengalaman, kenangan, dan pandangan mereka tentang kota ini dalam bentuk cerita pendek.

Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan bit.ly/dpsbercerita, sementara naskah dikirimkan ke email wargamembacakota@gmail.com. Peserta boleh mengirim lebih dari satu cerpen, dengan panjang minimal 1.200 kata, ditulis dalam bahasa Indonesia, serta belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun. Format naskah menggunakan kertas A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman atau Calibri ukuran 12 pt.

Tema cerpen berfokus pada Denpasar, dengan kebebasan mengeksplorasi aspek apa saja mulai dari ruang kota, makanan, budaya, tradisi, hingga pengalaman personal sehari-hari. Panitia menekankan bahwa sayembara ini tidak mencari narasi promosi, melainkan cerita yang jujur, penuh rasa, dan berani menampilkan wajah Denpasar dengan segala kerumitannya.

Batas akhir pengiriman naskah adalah 31 Oktober 2025 pukul 23.59 WIB. Dewan juri terdiri dari sastrawan dan akademisi, sementara keputusan juri bersifat mutlak.

Hadiah yang disediakan meliputi:

Juara I: Rp3.000.000 + piagam

Juara II: Rp2.000.000 + piagam

Juara III: Rp1.000.000 + piagam

7 naskah pilihan: masing-masing Rp500.000

Panitia menyebut, sayembara ini lahir dari pertanyaan sederhana: bagaimana sebenarnya kita mengalami Denpasar? Lewat tulisan, diharapkan lahir beragam perspektif yang memperkaya ingatan kolektif tentang kota yang terus berubah ini.

Sayembara ini sekaligus menjadi ajakan untuk menulis Denpasar sebagaimana adanya dengan kehangatan, kontradiksi, sekaligus harapan yang tumbuh di dalamnya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Bahaya Laten Buku 'Filosofi Teras' dan Muslihat Logikanya

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ervin Ruhlelana

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Godaan Berahi dari Seorang Peri Inspirasi

Ervin Ruhlelana

Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Preman Laut

Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Preman Laut
Berita

Sayembara Cerpen Denpasar 2025 Resmi Dibuka, Batas Akhir 31 Oktober

Denpasar kembali membuka ruang bagi para penulis untuk berbagi cerita. Melalui Sayembara Cerpen Denpasar 2025, warga diajak menuliskan pengalaman, kenangan, dan pandangan mereka tentang kota ini dalam bentuk cerita pendek.

Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan bit.ly/dpsbercerita, sementara naskah dikirimkan ke email wargamembacakota@gmail.com. Peserta boleh mengirim lebih dari satu cerpen, dengan panjang minimal 1.200 kata, ditulis dalam bahasa Indonesia, serta belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun. Format naskah menggunakan kertas A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman atau Calibri ukuran 12 pt.

Tema cerpen berfokus pada Denpasar, dengan kebebasan mengeksplorasi aspek apa saja mulai dari ruang kota, makanan, budaya, tradisi, hingga pengalaman personal sehari-hari. Panitia menekankan bahwa sayembara ini tidak mencari narasi promosi, melainkan cerita yang jujur, penuh rasa, dan berani menampilkan wajah Denpasar dengan segala kerumitannya.

Batas akhir pengiriman naskah adalah 31 Oktober 2025 pukul 23.59 WIB. Dewan juri terdiri dari sastrawan dan akademisi, sementara keputusan juri bersifat mutlak.

Hadiah yang disediakan meliputi:

Juara I: Rp3.000.000 + piagam

Juara II: Rp2.000.000 + piagam

Juara III: Rp1.000.000 + piagam

7 naskah pilihan: masing-masing Rp500.000

Panitia menyebut, sayembara ini lahir dari pertanyaan sederhana: bagaimana sebenarnya kita mengalami Denpasar? Lewat tulisan, diharapkan lahir beragam perspektif yang memperkaya ingatan kolektif tentang kota yang terus berubah ini.

Sayembara ini sekaligus menjadi ajakan untuk menulis Denpasar sebagaimana adanya dengan kehangatan, kontradiksi, sekaligus harapan yang tumbuh di dalamnya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Lima Sastrawan yang Dibungkam Soeharto: Sejarah Panjang Pengawasan terhadap Bahasa

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Preman Laut

Catat Tanggalnya, 5 Pianist Bali Bakal Tampil Intim di Denpasar

Redaksi

Ketika Semua Orang Menulis di Negeri yang Sepi Pembaca

Ervin Ruhlelana

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Preman Laut

Menteri Kebudayaan Layak Turun

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi