Denpasastra.net

Padi Buktikan Lagu Pop Bisa Menjadi Karya Sastra lewat ‘Mahadewi’

Ada satu potongan teks lagu pop Indonesia yang pernah muncul di ruang kelas sekolah tahun 2006–2009.

Ia dibaca seperti puisi, ditulis di buku catatan, lalu dibahas di pelajaran Bahasa Indonesia terutama lewat buku terbitan Erlangga. Banyak siswa SMP–SMA kala itu mengenalnya sebagai bagian dari materi apresiasi Sastra Indonesia.

Teks itu adalah ‘Mahadewi’, lagu hits dari band Padi yang dirilis dalam album Lain Dunia (1999).

Liriknya memang tidak punya story telling dan bercerita seperti kisah pada umumnya. Tidak ada kejadian yang bergerak dari awal ke akhir.

Yang dihadirkan lagu ini adalah aliran perasaan saat melihat, terpukau dan pemujaan pada sosok frasa hiperbolis: maha dan dewi.

Kata-kata yang dipilih lagu ini tidaklah sederhana. Ada langit, bintang, cahaya, semuanya menunjuk pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar benda. Sosok ‘Mahadewi’ juga tidak hadir sebagai figur yang jelas, tetapi sebagai gambaran tentang sesuatu yang diidealkan.

Dalam ruang sekolah, lagu ini dibedah dalam rangka penggunaan majas, metafora, hiperbola, personifikasi dll.

Pada saat lagu ini dirilis di akhir 1990-an, lanskap pop Indonesia memang lebih banyak diisi lirik yang langsung saja dengan gaya bahasa percakapan sehari-hari. Jarang yang menyentuh sampai ke ranah sastrawi seperti yang dilakukan Padi.

Di tengah kecenderungan itu, Padi menempuh jalur yang berbeda. ‘Mahadewi’ tidak menekankan cerita, melainkan suasana dan perasaan yang dibangun lewat pilihan kata yang lebih puitik.

Betul bahwa pendekatan ini sudah lebih dulu dibuka oleh KLa Project misalnya, yang membawa bahasa lirik ke arah yang lebih reflektif dan terjaga.

Padi melanjutkan jalur itu dengan menempatkan bahasa sebagai pusat pengalaman. Lagu tidak hanya didengar, tetapi juga bisa dibaca sebagai teks yang berdiri sendiri.

Baca Juga  Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Sebagai lagu pop, ‘Mahadewi’ jelas memuat perangkat sastra yang relatif padat. Metafora, simbol, personifikasi, repetisi, dan citraan hadir dalam susunan yang konsisten.

Tidak semua teknik digunakan, tetapi yang dipakai bekerja cukup rapat dan terjaga.

Dalam konteks lirik pop, kepadatan seperti ini tidak umum, sehingga ia dapat dibaca sebagai puisi liris yang terpisah dari lagunya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Refleksikan Banjir Besar di Bali, Dialog Dini Hari Rilis Single “Bandang”

Redaksi

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut

Pemberontakan Jinak Slank Karena ‘Terlalu Manis’

Preman Laut

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

Dari Lombok untuk Kritik Musik

Preman Laut

Mendengarkan Album ‘Painting of Life’ – UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Preman Laut
Resensi

Padi Buktikan Lagu Pop Bisa Menjadi Karya Sastra lewat ‘Mahadewi’

Ada satu potongan teks lagu pop Indonesia yang pernah muncul di ruang kelas sekolah tahun 2006–2009.

Ia dibaca seperti puisi, ditulis di buku catatan, lalu dibahas di pelajaran Bahasa Indonesia terutama lewat buku terbitan Erlangga. Banyak siswa SMP–SMA kala itu mengenalnya sebagai bagian dari materi apresiasi Sastra Indonesia.

Teks itu adalah ‘Mahadewi’, lagu hits dari band Padi yang dirilis dalam album Lain Dunia (1999).

Liriknya memang tidak punya story telling dan bercerita seperti kisah pada umumnya. Tidak ada kejadian yang bergerak dari awal ke akhir.

Yang dihadirkan lagu ini adalah aliran perasaan saat melihat, terpukau dan pemujaan pada sosok frasa hiperbolis: maha dan dewi.

Kata-kata yang dipilih lagu ini tidaklah sederhana. Ada langit, bintang, cahaya, semuanya menunjuk pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar benda. Sosok ‘Mahadewi’ juga tidak hadir sebagai figur yang jelas, tetapi sebagai gambaran tentang sesuatu yang diidealkan.

Dalam ruang sekolah, lagu ini dibedah dalam rangka penggunaan majas, metafora, hiperbola, personifikasi dll.

Pada saat lagu ini dirilis di akhir 1990-an, lanskap pop Indonesia memang lebih banyak diisi lirik yang langsung saja dengan gaya bahasa percakapan sehari-hari. Jarang yang menyentuh sampai ke ranah sastrawi seperti yang dilakukan Padi.

Di tengah kecenderungan itu, Padi menempuh jalur yang berbeda. ‘Mahadewi’ tidak menekankan cerita, melainkan suasana dan perasaan yang dibangun lewat pilihan kata yang lebih puitik.

Betul bahwa pendekatan ini sudah lebih dulu dibuka oleh KLa Project misalnya, yang membawa bahasa lirik ke arah yang lebih reflektif dan terjaga.

Padi melanjutkan jalur itu dengan menempatkan bahasa sebagai pusat pengalaman. Lagu tidak hanya didengar, tetapi juga bisa dibaca sebagai teks yang berdiri sendiri.

Baca Juga  Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift 'Menyelamatkannya'

Sebagai lagu pop, ‘Mahadewi’ jelas memuat perangkat sastra yang relatif padat. Metafora, simbol, personifikasi, repetisi, dan citraan hadir dalam susunan yang konsisten.

Tidak semua teknik digunakan, tetapi yang dipakai bekerja cukup rapat dan terjaga.

Dalam konteks lirik pop, kepadatan seperti ini tidak umum, sehingga ia dapat dibaca sebagai puisi liris yang terpisah dari lagunya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut

Efek Rumah Kaca Merekam Cara-Cara Teror Warga Sipil Lewat ‘Di Udara’

Preman Laut

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi