Ketika Nugie merilis lagu ‘Tertipu’ dan meledak menjadi hits di awal kariernya, saya mengira ia sedang membicarakan sosok perempuan dan hubungan manipulatif.
Kata-kata seperti ‘putri’, ‘keraton’, dan ‘norma’ dalam liriknya menyiratkan tafsir itu. Sebuah kisah tentang seseorang yang terpesona oleh citra keanggunan, lalu sadar bahwa semua itu hanyalah topeng.
Puluhan tahun berselang, ternyata saya keliru. Dalam berbagai oral story yang beredar di kalangan pelaku musik 1990-an seperti Baim, Pongky Barata, maupun Nugie sendiri, lagu ini kerap dibicarakan sebagai sindiran terhadap pejabat pada masa Orde Baru di bawah Soeharto.
Dalam pembacaan itu, Tertipu seolah jadi pengakuan kultural yang sederhana namun tajam: Nugie tertipu Orde Baru!
Ia tidak sedang berbicara tentang satu figur perempuan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan memikat publik lewat citra kesantunan dan bahasa moral.
Baris seperti ‘manis tutur kata dari mulut yang terbungkus norma-norma’ dan ‘itu palsu, itu topeng’ memperlihatkan bagaimana bahasa moral dapat berubah menjadi kosmetik kekuasaan.
Kesantunan, norma, dan citra keanggunan tampil sebagai wajah resmi yang menutupi relasi kuasa yang manipulatif.
Hari ini topeng kekuasaan mungkin berubah bentuk, tetapi mekanismenya tetap sama. Kekuasaan membangun citra, memproduksi harapan, dan merawat kepercayaan publik agar dominasi tetap tampak wajar.
Dalam banyak kasus, ia juga memelihara jaringan loyalitas, semacam ternak politik, untuk menjaga pengaruh dan melindungi kepentingan oligarki.
Maka dengan semua janji rezim, slogan perubahan dan narasi moral anti asing yang diproduksi penguasa, pertanyaannya sederhana: setelah puluhan tahun lagu ini dirilis, masihkah kita terus tertipu?

