Dua perempuan itu duduk bertelanjang kaki saling berhadapan di ambang pintu, memetik gitar dan saling bernyanyi bersahutan. Tidak ada panggung, tidak ada jarak aman antar keduanya.
Sosok pertama adalah Tigra Rose, musisi yang tumbuh dalam pengalaman hidup Jawa–Bali ini bersandar membelakangi sudut kamar sebuah rumah pedesaan. Di hadapannya hadir Annabel Laura, menghadap keluar ke teras belakang rumah yang terlihat rimbun dan teduh. Musisi kelahiran Belanda ini ditimpa cahaya yang merasuk pelan dari sela dedaunan, membuat batas antara dalam dan luar rumah terasa samar.
Demikian rekaman suasana video sesi live lagu Duhai yang Kucinta yang diunggah ke kanal YouTube sebagai karya kolaborasi. Ditulis dan dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, musik video berdurasi 9 menit ini direkam oleh Cadby Kong di Ubud, Bali dan diunggah pada 11 November 2025 lalu.
Nomor ini kemudian hadir sebagai rilisan resmi pada 9 Januari 2026 di Bandcamp yang dipecah menjadi dua bagian, yakni Duhai yang Kucinta dan Duhai (epilogue). Tak ada gimmick, tak banyak penanda yang mencoba mengarahkan cara mendengarkan atau bahkan dilengkapi liner notes khusus. Seakan-akan nomor yang sengaja direkam live ini tidak diposisikan sebagai dokumentasi yang rapi, melainkan sebagai perpanjangan napas, dibiarkan hidup, dan sedikit berantakan.
Dalam konteks ini, pendekatan rilis extended single dimana lagu utama disusul dengan lagu epilog penutup, terasa lebih dekat ke ritual kecil ketimbang strategi distribusi. Ada kesan bahwa rilisan ini sengaja memperlambat pendengar di tengah kebiasaan skip cepat. Lagu tidak ditutup dengan klimaks, melainkan dibiarkan menggantung, lalu diam.
Dan seturut dengan judulnya, saya pribadi berpendapat bahwa lagu ini sepertinya bertolak dari hal yang sangat sederhana: keinginan untuk tinggal sejenak, memberi ruang aman, dan menghadirkan kehadiran tanpa tuntutan apa pun.
Yang bisa saya bayangkan hanyalah bagaimana konsep musik video berdurasi 9 menit ini digagas: sudut rumah di pedesaan, lantai kayu yang dingin dan lembap, bau kayu dari rak bersusun yang menyembul di pojokan, dan barang-barang personal yang terpampang mungkin sengaja tidak disembunyikan dari frame kamera rekaman sesi live saat itu. Belum lagi dinding batu berlumut, pot-pot kecil, dan tone kehijauan di belakang yang tak diatur komposisinya jelas menambah kesan intim secara domestik.
Dari posisi Tigra dan Annabel sebagai empunya lagu, dunia luar tampak hadir sebagai halaman samping yang terasa akrab tempat angin lewat tempat waktu seolah melambat. Toh ruang di belakangnya memang bukan latar artistik, tapi seperti sengaja dipilih sebagai ruang hidup yang kebetulan sedang dipakai keduanya untuk bernyanyi. Musik video dan gaya live recording dengan jitu melengkapi tema lagu yang bagi saya kelewat syahdu.
Betapa tidak. Dari tinjauan saya pada departemen lirik, single ini tidak memuat metafora rumit, nomenklatur ataupun citraan megah. Yang ada justru bahasa sehari-hari yang sengaja dirawat agar tetap polos.
“Tak perlu pergi ke mana pun, tak perlu menjadi siapa pun,” lantun keduanya sebagai refrain menohok. Alih-alih terjebak dalam romantisisme, kalimat ini adalah pernyataan ideologis yang menyamar sebagai kalimat penghiburan. Ia menolak dua mitos modern sekaligus: mobilitas tanpa henti dan identitas manusia sebagai proyek abadi.
Menariknya, subjek ‘aku’ di sini tidak memosisikan diri sebagai penyelamat. Ia tidak menawarkan solusi, hanya kehadiran. Pintu terbuka, teh hangat, dan diam sejenak. Ini bukan lirik tentang menyelesaikan masalah, melainkan tentang menangguhkan tuntutan. Dalam dunia yang “terus berubah”, lagu ini justru mengusulkan berhenti sebagai tindakan sah.
Belum lagi pengulangan di bagian “kita ’kan minum teh hangat bersama” dan “yang terus berubah” menjelang akhir lagu. Alih-alih repetisi klise, ia bisa ditafsirkan sebagai cara musikal Tigra dan Annabel untuk menciptakan rasa tinggal. Seperti duduk lebih lama dari yang direncanakan dan membiarkan waktu melebar begitu saja tanpa perlu tuntutan dan tujuan.
Sampai akhirnya lirik “ku melihatmu apa adanya” buat saya adalah inti emosional dari semesta lagu ini. Ia bukan pujian, tapi pengakuan. Tidak ada janji transformasi, tidak ada dorongan untuk menjadi versi lebih baik. Yang ada hanya validasi atas keberadaan, di tengah kecemasan dan rasa sendiri.
Dalam konteks ini, saya mulai paham mengapa dengan merekamnya secara live, lirik-lirik di atas menemukan rumah yang pas. Semuanya itu menegaskan betapa rilisan ini berangkat dari situasi domestik, bukan estetika panggung: lagu sebagai ruang singgah, bukan produk final yang dipoles habis dalam produksi studio yang bisa dimanipulasi. Duhai yang Kucinta barangkali memang bekerja maksimal sebagai ruang intim, bukan di atas panggung berkilau.
Betul memang bahwa ada kecenderungan dalam kancah folk kontemporer yang sering kali jatuh ke romantisasi cinta ataupun budaya masa lalu. Dalam rangka ini saya berani bertaruh bahwa single kolaborasi Tigra dan Annabel jauh dari kecenderungan tersebut karena posisinya yang memilih kesederhanaan yang sadar.
Lebih jauh lagi, Duhai yang Kucinta adalah catatan personal saya sebagai pengingat afeksi yang hadir apa adanya tanpa slogan tanpa perlu klaim besar di tengah dunia yang volatil seperti hari-hari belakangan ini.
