Denpasastra.net

Tanah Bali Itu Spiritual, Jalan Raya-nya Agnostik

Pernah di salah satu edisi Catatan Pinggir yang dimuat di Majalah Tempo awal tahun 2000-an, Goenawan Mohamad menulis, “Jika kita ingin melihat gerak peradaban suatu masyarakat, lihatlah jalan raya-nya.”

Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya setiap melewati hiruk-pikuk lalu lintas Bali hari-hari ini.

Saya percaya bahwa tanah di Bali sebagai simbol penghidupan adalah tanah yang terberkati, baik secara filosofis maupun spiritual dengan prinsip Tri Hita Karana tentang harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun di jalan raya, tepatnya di atas aspal, Bali tampak agnostik dan nyaris tak beragama.

Jangan salah, analogi ini saya pinjam sekedar untuk menggambarkan sikap penguna jalan raya yang percaya pada pentingnya aturan, tapi enggan diyakini sepenuh hati. Ia tidak sepenuhnya taat, namun juga tidak sepenuhnya meniadakan.

Lihat saja keriuhan peradaban dunia kiwari di akun Instagram @canggushortcut. Kesadaran lalu lintas di sana begitu cair. Tak hanya kita yang lokal, kawan-kawan kita yang bule-bule naif itu pun happy melaju tanpa helm, santai melawan arus sambil bonceng tiga, dengan satu tangannya merekam selfie. Mereka tertawa di depan kamera, dan sistem merayakannya atas nama kapitalisme pariwisata.

Fakta ini konon menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan seseorang dalam melindungi isi kepalanya (baca: otak) sebagai bagian paling penting bagi tubuh manusia memang tidak ditentukan oleh kewarganegaraan, pendidikan, atau merk kendaraan. Kebodohan di jalan raya bersifat universal.

Sebagian besar dari kita terus terang mungkin tidak terlalu peduli. Saya pun pernah merasakan semacam guilty pleasure saat menyalip sembarangan atau naik ke trotoar waktu macet dan tak ada yang memaki. Tak ada yang merasa terganggu, karena semua orang sudah tenggelam dalam urusannya masing-masing. Kita mungkin terlalu individualistis untuk peduli pada etika berkendara orang lain. Kita pasrah pada kekacauan, dan dari kepasrahan itu lahir kedamaian palsu.

Baca Juga  SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Saya juga ingat pengalaman pribadi di Sunset Road tahun lalu. Di sanalah pertama kali saya mendengar makian “bangsat” membahana di jalan raya. Bukan dari pengendara yang diserobot, tapi dari seseorang di belakang saya yang kehilangan kesabaran menunggu iring-iringan pejabat. Jalan disterilkan, warga diminta menepi, dan makian pun meluncur: keras, jujur, nyaris katarsis. Ironisnya, di kota-kota besar seperti Jakarta atau Jawa, umpatan semacam itu justru lazim terdengar bagi antarwarga biasa.

Di Bali, kemarahan semacam itu dialamatkan bukan pada sesama pengguna jalan, melainkan pada simbol kuasa yang merasa berhak melampaui aturan: pejabat yang memperlakukan lalu lintas sebagai hak prerogatif, bukan ruang publik yang setara.

Ada bentuk kritik horizontal di sana. Bukan soal siapa benar atau salah, tapi siapa merasa lebih penting dari aturan.

Saya sering mendengar warga lokal maupun ekspatriat meragukan rencana pemerintah soal transportasi publik terintegrasi. Alasannya bukan semata logistik atau dana, tapi karena mereka tahu: bukan jalurnya yang bermasalah, melainkan perilakunya. Sistem bisa dibangun, tapi jika manusianya tetap agnostik terhadap aturan bersama, kita hanya akan punya traffic light yang buta warna, zebra cross yang jadi tempat parkir, dan halte busway yang sunyi karena tak ada yang percaya pada jadwal.

Di Bali, lalu lintas adalah cermin peradaban yang tidak sepenuhnya percaya pada keteraturan. Ia spiritual tapi permisif, sakral tapi pragmatis. Canang diletakkan di perempatan, tapi tak mampu melindungi dari klakson dan serempetan.

Mungkin di situlah letak kejujuran Bali: sebuah peradaban yang sedang meragu antara iman pada tata tertib, dan kenikmatan diam-diam dalam kekacauan.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Preman Laut

Martin Suryajaya: Sastra Perlu Berani Berhadapan dan Bereksperimen dengan AI

Redaksi

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

Kartu Tarot Lebih Matematis Ketimbang Mistis

Ervin Ruhlelana

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut
Esai

Tanah Bali Itu Spiritual, Jalan Raya-nya Agnostik

Sumber Foto: Ist

Pernah di salah satu edisi Catatan Pinggir yang dimuat di Majalah Tempo awal tahun 2000-an, Goenawan Mohamad menulis, “Jika kita ingin melihat gerak peradaban suatu masyarakat, lihatlah jalan raya-nya.”

Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya setiap melewati hiruk-pikuk lalu lintas Bali hari-hari ini.

Saya percaya bahwa tanah di Bali sebagai simbol penghidupan adalah tanah yang terberkati, baik secara filosofis maupun spiritual dengan prinsip Tri Hita Karana tentang harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun di jalan raya, tepatnya di atas aspal, Bali tampak agnostik dan nyaris tak beragama.

Jangan salah, analogi ini saya pinjam sekedar untuk menggambarkan sikap penguna jalan raya yang percaya pada pentingnya aturan, tapi enggan diyakini sepenuh hati. Ia tidak sepenuhnya taat, namun juga tidak sepenuhnya meniadakan.

Lihat saja keriuhan peradaban dunia kiwari di akun Instagram @canggushortcut. Kesadaran lalu lintas di sana begitu cair. Tak hanya kita yang lokal, kawan-kawan kita yang bule-bule naif itu pun happy melaju tanpa helm, santai melawan arus sambil bonceng tiga, dengan satu tangannya merekam selfie. Mereka tertawa di depan kamera, dan sistem merayakannya atas nama kapitalisme pariwisata.

Fakta ini konon menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan seseorang dalam melindungi isi kepalanya (baca: otak) sebagai bagian paling penting bagi tubuh manusia memang tidak ditentukan oleh kewarganegaraan, pendidikan, atau merk kendaraan. Kebodohan di jalan raya bersifat universal.

Sebagian besar dari kita terus terang mungkin tidak terlalu peduli. Saya pun pernah merasakan semacam guilty pleasure saat menyalip sembarangan atau naik ke trotoar waktu macet dan tak ada yang memaki. Tak ada yang merasa terganggu, karena semua orang sudah tenggelam dalam urusannya masing-masing. Kita mungkin terlalu individualistis untuk peduli pada etika berkendara orang lain. Kita pasrah pada kekacauan, dan dari kepasrahan itu lahir kedamaian palsu.

Baca Juga  Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Saya juga ingat pengalaman pribadi di Sunset Road tahun lalu. Di sanalah pertama kali saya mendengar makian “bangsat” membahana di jalan raya. Bukan dari pengendara yang diserobot, tapi dari seseorang di belakang saya yang kehilangan kesabaran menunggu iring-iringan pejabat. Jalan disterilkan, warga diminta menepi, dan makian pun meluncur: keras, jujur, nyaris katarsis. Ironisnya, di kota-kota besar seperti Jakarta atau Jawa, umpatan semacam itu justru lazim terdengar bagi antarwarga biasa.

Di Bali, kemarahan semacam itu dialamatkan bukan pada sesama pengguna jalan, melainkan pada simbol kuasa yang merasa berhak melampaui aturan: pejabat yang memperlakukan lalu lintas sebagai hak prerogatif, bukan ruang publik yang setara.

Ada bentuk kritik horizontal di sana. Bukan soal siapa benar atau salah, tapi siapa merasa lebih penting dari aturan.

Saya sering mendengar warga lokal maupun ekspatriat meragukan rencana pemerintah soal transportasi publik terintegrasi. Alasannya bukan semata logistik atau dana, tapi karena mereka tahu: bukan jalurnya yang bermasalah, melainkan perilakunya. Sistem bisa dibangun, tapi jika manusianya tetap agnostik terhadap aturan bersama, kita hanya akan punya traffic light yang buta warna, zebra cross yang jadi tempat parkir, dan halte busway yang sunyi karena tak ada yang percaya pada jadwal.

Di Bali, lalu lintas adalah cermin peradaban yang tidak sepenuhnya percaya pada keteraturan. Ia spiritual tapi permisif, sakral tapi pragmatis. Canang diletakkan di perempatan, tapi tak mampu melindungi dari klakson dan serempetan.

Mungkin di situlah letak kejujuran Bali: sebuah peradaban yang sedang meragu antara iman pada tata tertib, dan kenikmatan diam-diam dalam kekacauan.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut

Bagaimana Anak Muda Melihat Kota-kota di Bali? AJW 2025 Berikan Beasiswa Liputan

Redaksi

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi