Denpasastra.net

Serial Kaleidoskop 2025

Di Bali 2025 Dalam Sorotan

Serial tulisan ‘Di Bali 2025 Dalam Sorotan‘ disusun sebagai kaleidoskop kecil, bukan podium, bukan pula upaya merangkum keadaan.

Ia berangkat sederhana dari perjumpaan-perjumpaan saya pribadi sepanjang 2025 dengan deretan nama, karya, dan gerak yang kebetulan bersinggungan.

Dengan radar yang terbatas dan pilihan yang pasti bias, daftar Kaleidoskop 2025 ini ditulis disela-sela keseharian, pekerjaan dan perhatian yang tentu jauh dari spirit kanonisasi.

Di dalam ekosistem seni Bali yang cair dan tak selalu saling menyapa, catatan ini memilih untuk berhenti sejenak dan melihat dari jarak dekat.

Karenanya serial ini hadir sebagai catatan apresiasi, bukan legitimasi: Tidak ada niat mengklaim gambaran utuh, apalagi mewakili Bali sebagai keseluruhan.

Yang tercatat di sini justru potongan-potongan yang kerap luput dari kerja-kerja sunyi, jalur berliku, generasi yang masih mencari bentuk, dan pilihan estetik yang tidak selalu selaras dengan arus utama.

Yang sudah mapan dan terlalu sering dibicarakan sengaja tidak menjadi fokus bukan untuk disingkirkan, melainkan karena ruang ini memang sempit.

Bagi saya, ‘Di Bali 2025 Dalam Sorotan‘ ini lebih bekerja sebagai arsip sementara di blog Denpasastra. Ia mencatat apa yang terasa dekat, apa yang sempat tinggal di kepala dan tubuh, tanpa klaim ketepatan atau kelengkapan. Tidak netral, tapi juga tidak ingin menentukan apa-apa.

Hanya sebuah upaya kecil untuk menyimpan jejak sebelum tahun benar-benar berganti.

Anggap serial ini sebagai catatan pinggir tahunan yang tidak rapi, tidak lengkap, dan tidak perlu dituntaskan. Sebab seni, dan Bali bersamanya, selalu bergerak lebih cepat daripada upaya mencatatnya.

Nantikan!

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Menteri Kebudayaan Layak Turun

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Morbid Monke: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Tajuk Rencana

Serial Kaleidoskop 2025

Di Bali 2025 Dalam Sorotan

Serial tulisan ‘Di Bali 2025 Dalam Sorotan‘ disusun sebagai kaleidoskop kecil, bukan podium, bukan pula upaya merangkum keadaan.

Ia berangkat sederhana dari perjumpaan-perjumpaan saya pribadi sepanjang 2025 dengan deretan nama, karya, dan gerak yang kebetulan bersinggungan.

Dengan radar yang terbatas dan pilihan yang pasti bias, daftar Kaleidoskop 2025 ini ditulis disela-sela keseharian, pekerjaan dan perhatian yang tentu jauh dari spirit kanonisasi.

Di dalam ekosistem seni Bali yang cair dan tak selalu saling menyapa, catatan ini memilih untuk berhenti sejenak dan melihat dari jarak dekat.

Karenanya serial ini hadir sebagai catatan apresiasi, bukan legitimasi: Tidak ada niat mengklaim gambaran utuh, apalagi mewakili Bali sebagai keseluruhan.

Yang tercatat di sini justru potongan-potongan yang kerap luput dari kerja-kerja sunyi, jalur berliku, generasi yang masih mencari bentuk, dan pilihan estetik yang tidak selalu selaras dengan arus utama.

Yang sudah mapan dan terlalu sering dibicarakan sengaja tidak menjadi fokus bukan untuk disingkirkan, melainkan karena ruang ini memang sempit.

Bagi saya, ‘Di Bali 2025 Dalam Sorotan‘ ini lebih bekerja sebagai arsip sementara di blog Denpasastra. Ia mencatat apa yang terasa dekat, apa yang sempat tinggal di kepala dan tubuh, tanpa klaim ketepatan atau kelengkapan. Tidak netral, tapi juga tidak ingin menentukan apa-apa.

Hanya sebuah upaya kecil untuk menyimpan jejak sebelum tahun benar-benar berganti.

Anggap serial ini sebagai catatan pinggir tahunan yang tidak rapi, tidak lengkap, dan tidak perlu dituntaskan. Sebab seni, dan Bali bersamanya, selalu bergerak lebih cepat daripada upaya mencatatnya.

Nantikan!

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Menteri Kebudayaan Layak Turun

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Morbid Monke: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi