Denpasastra.net

Film Chairil Anwar Segera Tayang di Bioskop, Falcon Pictures Belum Umumkan Pemeran dan Jadwal Rilis

Rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan proyek film terbaru berjudul Chairil Anwar. Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun resmi Falcon Pictures di Instagram pada awal November 2025. Dalam poster yang dibagikan, tampak siluet wajah Chairil Anwar dengan latar teks puisi-puisinya, disertai tulisan “Segera di Bioskop.”

Hingga kini, Falcon Pictures belum merilis keterangan resmi selain unggahan di akun Instagram mereka mengenai siapa yang akan memerankan penyair Angkatan ’45 itu, maupun siapa sutradara yang menggarap film tersebut.

Film ini menjadi salah satu karya biopik sastra yang dinantikan, mengingat sosok Chairil Anwar dikenal luas sebagai tokoh sentral Angkatan ’45 dan pelopor puisi modern Indonesia dengan karya-karya monumental seperti “Aku” dan “Derai-Derai Cemara.”

Terlebih lagi, sebelum proyek Falcon Pictures ini, sosok Chairil Anwar juga pernah diangkat dalam bentuk skenario film berjudul AKU yang ditulis oleh sutradara Sjuman Djaya. Naskah tersebut diterbitkan dalam bentuk buku Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (Grafiti Pers, 1987), dengan kata pengantar oleh W.S. Rendra.

Dalam pengantarnya dan berbagai sumber menyinggung bahwa film ini tidak pernah terwujud. Keterbatasan teknologi perfilman pada masa itu menjadi alasan utama mengapa skenario tersebut sulit diwujudkan. Naskah AKU sendiri dianggap cukup maju untuk zamannya, dengan beberapa bagian yang bersifat eksperimental dan psikadelik dimana Sjuman Djaya mencoba memvisualisasikan kondisi batin Chairil melalui bahasa sinema yang belum memiliki padanan teknis di perfilman Indonesia era 1970–1980-an.

Kini, naskah tersebut dipandang sebagai salah satu artefak penting dalam sejarah sinema nasional, yang memperlihatkan bagaimana Sjuman Djaya berupaya memadukan bahasa puisi dan sinema jauh sebelum teknologi memungkinkan gagasan itu terwujud.

Tentang Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia muda, sekitar 26–27 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang membawa bahasa Indonesia ke wilayah ekspresi yang lebih bebas, personal, dan memberontak.

Baca Juga  Teater Sastra Welang Terbitkan Kumcer Nyonya Suartini Karya Luh Arik Sariadi

Puisinya yang singkat, padat, dan penuh semangat eksistensial mematahkan tradisi puisi lama yang kaku, memperkenalkan bentuk baru yang menjadi tonggak modernisme sastra Indonesia.

Sepanjang hidupnya, Chairil menulis sekitar 96 karya, termasuk 70 puisi yang banyak terinspirasi dari kehidupan, kematian, cinta, dan perjuangan.

Meski hidupnya singkat dan penuh gelora, warisan puisinya terus hidup sebagai simbol penyair yang menolak tunduk pada zaman, sebuah semangat yang kini tampaknya hendak dihidupkan kembali di layar lebar oleh Falcon Pictures.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Fanfic Dalam Esensi Kafkaesque

Ervin Ruhlelana

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

Puisi, Manusia, dan Mesin: Refleksi atas Perpuisian Indonesia di Era Kecerdasan Buatan

Wayan Jengki Sunarta

Ketika Semua Orang Menulis di Negeri yang Sepi Pembaca

Ervin Ruhlelana

Rapor Merah Menteri Kebudayaan dan Sastra Kita di Halaman Belakang

Preman Laut
Berita

Film Chairil Anwar Segera Tayang di Bioskop, Falcon Pictures Belum Umumkan Pemeran dan Jadwal Rilis

Rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan proyek film terbaru berjudul Chairil Anwar. Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun resmi Falcon Pictures di Instagram pada awal November 2025. Dalam poster yang dibagikan, tampak siluet wajah Chairil Anwar dengan latar teks puisi-puisinya, disertai tulisan “Segera di Bioskop.”

Hingga kini, Falcon Pictures belum merilis keterangan resmi selain unggahan di akun Instagram mereka mengenai siapa yang akan memerankan penyair Angkatan ’45 itu, maupun siapa sutradara yang menggarap film tersebut.

Film ini menjadi salah satu karya biopik sastra yang dinantikan, mengingat sosok Chairil Anwar dikenal luas sebagai tokoh sentral Angkatan ’45 dan pelopor puisi modern Indonesia dengan karya-karya monumental seperti “Aku” dan “Derai-Derai Cemara.”

Terlebih lagi, sebelum proyek Falcon Pictures ini, sosok Chairil Anwar juga pernah diangkat dalam bentuk skenario film berjudul AKU yang ditulis oleh sutradara Sjuman Djaya. Naskah tersebut diterbitkan dalam bentuk buku Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (Grafiti Pers, 1987), dengan kata pengantar oleh W.S. Rendra.

Dalam pengantarnya dan berbagai sumber menyinggung bahwa film ini tidak pernah terwujud. Keterbatasan teknologi perfilman pada masa itu menjadi alasan utama mengapa skenario tersebut sulit diwujudkan. Naskah AKU sendiri dianggap cukup maju untuk zamannya, dengan beberapa bagian yang bersifat eksperimental dan psikadelik dimana Sjuman Djaya mencoba memvisualisasikan kondisi batin Chairil melalui bahasa sinema yang belum memiliki padanan teknis di perfilman Indonesia era 1970–1980-an.

Kini, naskah tersebut dipandang sebagai salah satu artefak penting dalam sejarah sinema nasional, yang memperlihatkan bagaimana Sjuman Djaya berupaya memadukan bahasa puisi dan sinema jauh sebelum teknologi memungkinkan gagasan itu terwujud.

Tentang Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia muda, sekitar 26–27 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang membawa bahasa Indonesia ke wilayah ekspresi yang lebih bebas, personal, dan memberontak.

Baca Juga  Edisi Tahun Baru: Fanfic Sebagai Politically Correct

Puisinya yang singkat, padat, dan penuh semangat eksistensial mematahkan tradisi puisi lama yang kaku, memperkenalkan bentuk baru yang menjadi tonggak modernisme sastra Indonesia.

Sepanjang hidupnya, Chairil menulis sekitar 96 karya, termasuk 70 puisi yang banyak terinspirasi dari kehidupan, kematian, cinta, dan perjuangan.

Meski hidupnya singkat dan penuh gelora, warisan puisinya terus hidup sebagai simbol penyair yang menolak tunduk pada zaman, sebuah semangat yang kini tampaknya hendak dihidupkan kembali di layar lebar oleh Falcon Pictures.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham Bakal Dibedah Di Denpasar, Habis-Habisan!

Redaksi

Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Preman Laut

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ervin Ruhlelana

Novel ‘Menuai Badai’ Karya Juli Sastrawan Resmi Terbit

Redaksi

Menemukan Nyala: Jalan Merawat Semangat dalam Menulis

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi