Denpasastra.net

Lagu Catchy Nggak Perlu Punya Reff: Sebuah Resensi ‘Gejolak Kawula Muda’ Karya Clubeighties

Clubeighties sulit ditempatkan dalam satu peta generasi.

Bagaimana tidak, band ini sejatinya dibentuk oleh anak-anak yang lahir di akhir 70-an, mengalami masa remaja di era 80-an, lalu membentuk band di era 90-an dan merilis album di tahun 2000-an.

Tapi dari sisi musikalitas, mereka justru kembali ke gaya 80-an. Satu band seperti berdiri di beberapa waktu sekaligus. Dari sini saja sudah kelihatan bahwa pembagian generasi dan angkatan di dunia musik tidak pernah sederhana.

Khusus di lagu ini, Clubeighties seperti meminjam ulang judul dan semangat dari ‘Gejolak Kawula Muda’ versi Chicha Koeswoyo di era 80-an yang lekat dengan budaya breakdance dan semangat remaja kota besar saat itu.

Tapi ada perbedaannya yang mencolok. Versi 80-an bergerak dengan energi urban yang sedang naik. Versi Clubeighties justru memindahkannya ke lapangan badminton.

Perubahan ini bukan sekadar visual. Breakdance membawa bayangan kota dan gaya global. Badminton membawa suasana yang lebih dekat, lebih lokal, dan lebih kolektif. Ia mengingatkan pada satu masa ketika lapangan di lingkungan jadi pusat aktivitas bersama, sesuatu yang lekat dengan kehidupan sehari-hari RT/RW di era Orde Baru.

Yang lebih aneh juga adalah fakta bahwa lagu ‘Gejolak Kawula Muda’ tidak punya reff yang jelas, tidak punya bagian yang jadi pusat lalu diulang. Yang ada justru pengulangan di hampir seluruh bagian, dengan satu bridge singkat sebagai jeda. Lagu ini tidak memuncak, tapi berputar. Tidak ada bagian yang menonjol, tidak ada klimaks yang dikejar. Semuanya bergerak rata dan berulang.

Perkara 80-an, Clubeighties memang tidak mencoba memperbesar nostalgia. Mereka justru mengecilkannya, membawanya ke ruang yang lebih akrab.

Hasilnya bukan nostalgia yang megah. Tapi sesuatu yang terasa dekat, sederhana dan enak untuk terus diputar ulang sampai hari ini.

Baca Juga  Benua dan Dunia Tanpa Manusia

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Mosi Tidak Percaya untuk Seni Oligarki

Preman Laut

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Preman Laut

Jazz Antar Benua Rasa Ubud: Catatan Pandangan Mata Hari Pertama Sthala UVJF 2025

Preman Laut

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut
Resensi

Lagu Catchy Nggak Perlu Punya Reff: Sebuah Resensi ‘Gejolak Kawula Muda’ Karya Clubeighties

Clubeighties sulit ditempatkan dalam satu peta generasi.

Bagaimana tidak, band ini sejatinya dibentuk oleh anak-anak yang lahir di akhir 70-an, mengalami masa remaja di era 80-an, lalu membentuk band di era 90-an dan merilis album di tahun 2000-an.

Tapi dari sisi musikalitas, mereka justru kembali ke gaya 80-an. Satu band seperti berdiri di beberapa waktu sekaligus. Dari sini saja sudah kelihatan bahwa pembagian generasi dan angkatan di dunia musik tidak pernah sederhana.

Khusus di lagu ini, Clubeighties seperti meminjam ulang judul dan semangat dari ‘Gejolak Kawula Muda’ versi Chicha Koeswoyo di era 80-an yang lekat dengan budaya breakdance dan semangat remaja kota besar saat itu.

Tapi ada perbedaannya yang mencolok. Versi 80-an bergerak dengan energi urban yang sedang naik. Versi Clubeighties justru memindahkannya ke lapangan badminton.

Perubahan ini bukan sekadar visual. Breakdance membawa bayangan kota dan gaya global. Badminton membawa suasana yang lebih dekat, lebih lokal, dan lebih kolektif. Ia mengingatkan pada satu masa ketika lapangan di lingkungan jadi pusat aktivitas bersama, sesuatu yang lekat dengan kehidupan sehari-hari RT/RW di era Orde Baru.

Yang lebih aneh juga adalah fakta bahwa lagu ‘Gejolak Kawula Muda’ tidak punya reff yang jelas, tidak punya bagian yang jadi pusat lalu diulang. Yang ada justru pengulangan di hampir seluruh bagian, dengan satu bridge singkat sebagai jeda. Lagu ini tidak memuncak, tapi berputar. Tidak ada bagian yang menonjol, tidak ada klimaks yang dikejar. Semuanya bergerak rata dan berulang.

Perkara 80-an, Clubeighties memang tidak mencoba memperbesar nostalgia. Mereka justru mengecilkannya, membawanya ke ruang yang lebih akrab.

Hasilnya bukan nostalgia yang megah. Tapi sesuatu yang terasa dekat, sederhana dan enak untuk terus diputar ulang sampai hari ini.

Baca Juga  Morbid Monke Bakal Tampil di Bangkok Music City 2026

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Dari Lombok untuk Kritik Musik

Preman Laut

Bali Music Forum Dibentuk: Apa yang Bisa Kita Berdayakan Darinya?

Redaksi

Morbid Monke: Anomali Sonik dari Denpasar

Preman Laut

Jembrana Luncurkan Anthem ‘Demi Jembrana, Pasti Bisa!’ pada Malam Pergantian Tahun

Redaksi

Menelan Kehampaan: Kritik Konsumerisme ala Leipzig di Lagu ‘Fokus Dina Parab’

Justin Gabriel Ritonga
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi