Kamu tidak pernah kehilangan anakmu. Kamu hanya kehilangan ilusi bahwa ia pernah benar-benar milikmu. Ini bukan lagu tentang anak-anak. Ini lagu tentang para orang tua yang diam-diam tahu bahwa keberhasilan mereka justru diukur ketika anak tidak lagi membutuhkan mereka.
Di awal 2000-an, Nidji merilis Child dalam album debut ‘Breakthru’. Secara musikal, lagu ini mengikuti struktur pop-rock yang relatif konvensional, sesuatu yang terasa akrab dan mudah dikenali. Tapi justru di situlah liriknya bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya nyaman.
Sekilas, pembuka lagu terdengar sederhana, ‘I am one / I am child’, hampir seperti doa pendek. Namun ketika ditarik ke relasi orang tua dan anak, kalimat ini perlahan membuka lapisan lain.
‘I am child’ tidak lagi terasa sebagai identitas yang bisa disimpan. Ia sejak awal sudah mengarah pada jarak. Kita membesarkan anak dengan harapan ia tumbuh, tapi tanpa sadar kita sering menolak arah tumbuh itu sendiri.
Pergerakan itu kemudian menjadi jelas. ‘Let them born into this world / let them sing into the sky’ tidak lagi sekadar puitik, tapi jadi konsekuensi. Membesarkan anak bukan soal mempertahankan, melainkan membiarkan. Karena anak-anak tidak dibesarkan untuk terus tinggal.
Yang tersisa bukan lagi kehadiran, melainkan jejak. ‘You are evergreen’ tidak berbicara tentang kebersamaan yang abadi, melainkan tentang sesuatu yang tetap hidup setelah kebersamaan itu berubah bentuk.
Lalu lagu ini sampai pada pengakuan paling sunyi: ‘I will be fading / as your child.’ Sekilas terdengar seperti suara anak, tapi jika didengar lebih dalam, ini adalah kesadaran orang tua.
Bahwa suatu hari, kita akan memudar dari pusat hidup anak. Bukan karena gagal, justru karena berhasil. Dan di saat yang sama, kita tetap anak-anak, bahkan ketika kita sudah menjadi orang tua.
Saya tidak percaya lagu hanya untuk didengar sebagai hiburan. Saya membaca lagu ini berulang kali dan di situlah ‘Child’ menjadi tempat kita menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
