Denpasastra.net

Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Band rock independen asal Bali, Trabasenja, merilis single terbaru berjudul Ogar Ogar Ogoh Ogoh yang disertai dengan videoklip pada Kamis (12/3/2026). Lagu ini terinspirasi dari tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun hadir menjelang Hari Raya Nyepi di Bali.

Peluncuran lagu tersebut diperkenalkan dalam sebuah konferensi pers yang digelar di studio rumahan milik gitaris Trabasenja, Gung Eka Poglax, di Batubulan, Gianyar. Band ini digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, serta Gung Eka Poglax pada gitar yang juga menjadi penulis lagu tersebut.

Menurut Eka Poglax, ide lagu Ogar Ogar Ogoh Ogoh muncul dari suasana kolektif yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan. Tradisi ogoh-ogoh, menurutnya, tidak hanya menghadirkan tontonan visual berupa patung raksasa yang diarak keliling desa, tetapi juga memancarkan energi kebersamaan masyarakat.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bukan cuma perayaan. Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menangkap energi itu lewat musik,” ujar Eka dalam konferensi pers.

Secara musikal, lagu ini memadukan aransemen rock dengan unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong. Aransemen dibuka dengan permainan gitar dan vokal yang relatif tenang sebelum kemudian berkembang dengan groove drum dan bass yang stabil. Distorsi gitar yang digunakan sengaja dibuat kasar untuk mempertahankan karakter rock yang mentah.

Pada bagian chorus, lagu ini menghadirkan chant sederhana “Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!” yang dirancang untuk membangun energi kolektif, menyerupai suasana arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.

Proses produksi lagu berlangsung sekitar satu bulan sejak penulisan hingga tahap rekaman. Produksi dilakukan secara independen dengan dukungan produser audio Dewa Edwin.

Videoklip Ogar Ogar Ogoh Ogoh juga melibatkan unsur komunitas. Sosok ogoh-ogoh dalam video diperankan oleh penari asal Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan yang tampil dalam video turut melibatkan truna-truni desa serta anggota komunitas Trail Club Adventure (TCA).

Baca Juga  Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu 'Salah'

Trabasenja sendiri lahir dari komunitas motor trail tersebut. Para personelnya pertama kali bertemu dalam Trail Club Adventure sebelum akhirnya mulai menulis dan memainkan musik bersama. Lagu pertama mereka berjudul Trail Club Adventure yang awalnya dibuat sebagai anthem komunitas.

Seiring waktu, aktivitas bermusik mereka berkembang dan kini telah menghasilkan lebih dari sepuluh materi lagu.

Dengan perpaduan rock, gamelan, dan atmosfer tradisi Bali, Ogar Ogar Ogoh Ogoh diharapkan menjadi salah satu lagu yang merepresentasikan energi malam pengerupukan menjelang Nyepi.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut

Kritik Sosial ala Seurieus Lewat ‘Rocker Bukan Manusia’

Preman Laut

Kisah Lagu Pak Tua oleh Elpamas Masih Relevan Sampai Sekarang

Preman Laut

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

Membongkar Mitos ‘Selera Musik Berhenti di Usia 30 Tahun’

Preman Laut
Berita

Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Band rock independen asal Bali, Trabasenja, merilis single terbaru berjudul Ogar Ogar Ogoh Ogoh yang disertai dengan videoklip pada Kamis (12/3/2026). Lagu ini terinspirasi dari tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun hadir menjelang Hari Raya Nyepi di Bali.

Peluncuran lagu tersebut diperkenalkan dalam sebuah konferensi pers yang digelar di studio rumahan milik gitaris Trabasenja, Gung Eka Poglax, di Batubulan, Gianyar. Band ini digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, serta Gung Eka Poglax pada gitar yang juga menjadi penulis lagu tersebut.

Menurut Eka Poglax, ide lagu Ogar Ogar Ogoh Ogoh muncul dari suasana kolektif yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan. Tradisi ogoh-ogoh, menurutnya, tidak hanya menghadirkan tontonan visual berupa patung raksasa yang diarak keliling desa, tetapi juga memancarkan energi kebersamaan masyarakat.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bukan cuma perayaan. Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menangkap energi itu lewat musik,” ujar Eka dalam konferensi pers.

Secara musikal, lagu ini memadukan aransemen rock dengan unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong. Aransemen dibuka dengan permainan gitar dan vokal yang relatif tenang sebelum kemudian berkembang dengan groove drum dan bass yang stabil. Distorsi gitar yang digunakan sengaja dibuat kasar untuk mempertahankan karakter rock yang mentah.

Pada bagian chorus, lagu ini menghadirkan chant sederhana “Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!” yang dirancang untuk membangun energi kolektif, menyerupai suasana arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.

Proses produksi lagu berlangsung sekitar satu bulan sejak penulisan hingga tahap rekaman. Produksi dilakukan secara independen dengan dukungan produser audio Dewa Edwin.

Videoklip Ogar Ogar Ogoh Ogoh juga melibatkan unsur komunitas. Sosok ogoh-ogoh dalam video diperankan oleh penari asal Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan yang tampil dalam video turut melibatkan truna-truni desa serta anggota komunitas Trail Club Adventure (TCA).

Baca Juga  Pria Tidak Lagi Menjajah, Tapi Dijajah: Sebuah Resensi 'Pria Dijajah Wanita' Karya Kaimsasikun

Trabasenja sendiri lahir dari komunitas motor trail tersebut. Para personelnya pertama kali bertemu dalam Trail Club Adventure sebelum akhirnya mulai menulis dan memainkan musik bersama. Lagu pertama mereka berjudul Trail Club Adventure yang awalnya dibuat sebagai anthem komunitas.

Seiring waktu, aktivitas bermusik mereka berkembang dan kini telah menghasilkan lebih dari sepuluh materi lagu.

Dengan perpaduan rock, gamelan, dan atmosfer tradisi Bali, Ogar Ogar Ogoh Ogoh diharapkan menjadi salah satu lagu yang merepresentasikan energi malam pengerupukan menjelang Nyepi.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Ubud Jadi Tuan Rumah Ubud Village Jazz Festival 2025, 1–2 Agustus di Sthala

Redaksi

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

Lebih dari Sekedar Lagu Cinta: Refleksi atas Kehilangan Diri Sendiri ala Samsons pada ‘Kenangan Terindah’

Preman Laut

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Redaksi

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Hari-Hari Terakhir Peterpan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi