Denpasastra.net

Lelucon Abadi Sang Multi-Semesta

Bayangkan setiap keputusan kecil yang kau ambil —memilih kopi hitam atau cappuccino, membaca buku Borges atau komik Marvel— adalah pintu yang membelah kenyataan menjadi dua, lalu empat, lalu tak terhingga. Di satu cabang kau membaca Borges dan menjadi filsuf yang muram, di cabang lain kau memilih Marvel dan menjadi penggemar multiverse tanpa kamu sadari.

Hugh Everett, fisikawan yang pada 1957 bosan dengan keangkuhan interpretasi Kopenhagen, menyarankan bahwa dunia memang tak pernah “memilih” satu jalur kuantum, melainkan semua jalur terjadi sekaligus, hanya saja kita terjebak di satu lintasan. Dunia lain ada, tapi kita tidak punya tiket menonton.

Simak gambar di atas sebagai ilustrasi Paradoks “Kucing Schrödinger” dalam mekanika kuantum menurut Interpretasi Banyak Dunia (Many-Worlds Interpretation). Dalam interpretasi ini, setiap peristiwa kuantum adalah sebuah titik percabangan; kucing tersebut hidup sekaligus mati, bahkan setelah kotaknya dibuka.

Namun, kucing yang “hidup” dan kucing yang “mati” berada di cabang-cabang yang berbeda dalam multisemesta. Kedua cabang tersebut sama-sama nyata, tetapi tidak saling berinteraksi satu sama lain.

Multiverse versi Many-Worlds ini adalah semacam ironi: dunia bercabang karena eksperimen sederhana, tapi kita sendiri tak pernah bisa melompat ke cabang sebelah. Ia lebih seperti berita gosip kosmik: meyakinkan, masuk akal, tapi tanpa bukti langsung.

Gelembung Kosmos dan Labirin Matematika

Para kosmolog tidak pernah puas berhenti di gosip. Alan Guth, ketika menemukan teori inflasi kosmik, tanpa sadar menciptakan sebuah rahim untuk semesta tak terbatas. Jika jagat raya kita meledak dari satu titik dan mengembang dengan cepat, lalu berhenti di satu fase, maka mengapa tidak ada ledakan serupa yang terus terjadi di wilayah lain?

Multiverse inflasi adalah ladang gelembung sabun, di mana tiap gelembung adalah kosmos dengan konstanta fisik berbeda. Mungkin di sana elektron punya massa yang berbeda, atau gravitasi sedikit lebih manja, membuat bintang tak pernah terbentuk. Dan tentu saja, di sana tak akan ada Shakespeare atau rendang Padang.

Dari sudut pandang kosmologi, kita hanyalah salah satu gelembung yang kebetulan cukup stabil untuk menampung kehidupan. Bagi sebagian orang, ini romantis. Bagi yang lain, ini penghinaan: ternyata keberadaan kita hanya hasil “judi kosmik,” dan kemungkinan besar semesta yang kalah judi jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang berhasil, mirip banget sama judol.

Ilustrasi visual kosmos dan nebula galaksi. Sumber istimewa

Max Tegmark melangkah lebih jauh, mengusulkan klasifikasi multiverse hingga Level IV, di mana tak hanya konstanta fisika berbeda, tapi bahkan hukum matematika itu sendiri. Artinya, ada semesta di mana dua tambah dua sama dengan lima —kayak lagu Radiohead, dan mungkin logika Aristoteles dianggap sekadar lelucon basi.

Baca Juga  Kerumitan Sastra: Sebuah Epilog

Tentu, ini menggelitik rasa ingin tahu: apakah rasionalitas kita hanyalah produk lokal, seperti masakan Padang yang terasa pedas hanya karena lidah kita sudah terbiasa? Tegmark dengan santai mengubah jagat raya menjadi showroom kosmik: ada model standar, ada model gila, ada model rusak.

Ironisnya, semakin tinggi level multiverse, semakin rendah bukti empiris yang bisa kita tawarkan. Seakan-akan fisika modern berubah menjadi cabang sastra spekulatif dengan matematika sebagai bahasanya.

Peta suhu latar belakang gelombang mikro kosmik yang diukur oleh wahana antariksa Planck.

Teori string juga tak mau ketinggalan. Dengan gagasan tentang 10^500 kemungkinan “landskap vakum,” yang tampak seperti birokrasi kosmik paling absurd: setiap kombinasi menghasilkan semesta berbeda. Hawking sempat menggoda dengan ide “top-down cosmology” bahwa kita hanya bisa mengamati semesta yang memungkinkan kita ada, bukan semesta lain.

Ini terdengar masuk akal, tetapi juga terasa seperti excuse intelektual: kita hanya bisa mengukur yang bisa diukur, maka berhentilah bertanya. Namun manusia, makhluk keras kepala yang tak tahu diri, selalu ingin bertanya, dan mengekspresikan pertanyaan itu dengan cara yang berpotensi destruktif. Bahkan di tengah ketidakmungkinan itu, kita tetap menulis makalah, menayangkan film Marvel, dan menulis esai semacam ini, seolah keyakinan akan banyaknya dunia bisa menambal rasa kosong di dalam dada.

Proyeksi, Simulasi dan Keangkuhan Manusia

Ada pula prinsip holografik, yang dengan anggun menyarankan bahwa seluruh semesta kita hanyalah proyeksi dari tepi, seperti film yang diputar dari layar kosmik dua dimensi. Ini adalah hasil kalkulasi serius dari fisika gravitasi kuantum. Tetapi begitu kata “proyeksi” muncul, manusia awam segera membayangkan dirinya sebagai karakter dalam gim The Sims.

Nick Bostrom pun masuk ke dalam pesta ini dengan teori simulasi: bahwa kemungkinan besar kita hidup dalam realitas buatan, disimulasikan oleh peradaban super-maju. Jika ini benar, maka semua filsafat, agama, dan sejarah hanyalah dekorasi piksel. Tuhan, ternyata, seorang programmer —dan mungkin bukan programmer jenius, tapi anak magang yang malas bersihin bug.

Ironisnya, meskipun ide ini terdengar gila, banyak ilmuwan serius mempertimbangkannya karena, secara probabilistik, lebih gampang untuk percaya bahwa kita adalah simulasi ketimbang menghadapi gigitan realitas.

Namun mari sejenak menertawakan diri kita sendiri. Betapa congkaknya manusia yang berdebat soal multi-semesta, padahal kita bahkan tidak mampu sepenuhnya memahami satu semesta kecil yang kita injak ini. Kita masih ribut masalah perbedaan keyakinan, soal siapa yang harus memimpin negara, bagaimana cara membagi kekayaan, mengapa harga dolar terus naik, tetapi di waktu luang kita berdiskusi apakah ada alam semesta lain di mana cabai dan selangkangan gratis sepanjang masa.

Baca Juga  Sastrawan Harus Miskin

Mungkin multiverse hanyalah cara elegan untuk melarikan diri dari fakta bahwa dunia ini, satu-satunya yang kita punya, terasa tidak tertanggungkan. Daripada menerima absurditas hidup, kita meminjam absurditas kosmos.

Terjebak di Satu Cabang

Filsuf klasik sebenarnya sudah lama membayangkan multiverse dengan cara lain. Demokritos dengan atom-atomnya, Leibniz dengan “the best of all possible worlds,” bahkan Nietzsche dengan “eternal recurrence.” Hanya saja, para fisikawan modern punya keuntungan: mereka bisa membungkus mitos dengan persamaan diferensial. Seolah angka-angka membuat absurditas lebih dapat diterima. Borges, tentu saja, tersenyum getir di kuburnya: semua kemungkinan dunia sudah ia tulis di The Garden of Forking Paths. Yang kita sebut teori ilmiah hanyalah upaya lain untuk memberi bentuk pada labirin yang sama.

Tetapi ada satu pelajaran pahit di sini, meskipun multiverse membuka ruang imajinasi, kita tak pernah bisa melintasinya. Tidak ada kereta antar-semesta, tidak ada tiket sekali jalan menuju dunia di mana keputusanmu adalah kebahagiaan. Kita terjebak di cabang semesta yang ini, dengan semua penyesalan dan keindahannya. Seluruh percabangan kemungkinan ada, tapi kamu tetap harus membeli token listrik dan bayar wifi bulan ini.

Dan barangkali di situlah letak relevansinya. Multiverse, betapapun ilmiah atau metaforisnya, adalah cermin bagi keinginan manusia untuk percaya bahwa selalu ada versi lain dari kita: lebih sukses, lebih dicintai, lebih bahagia. Keyakinan itu menghibur sekaligus menyiksa. Sebab jika benar, maka kegagalan kita adalah pilihan cabang semesta yang keliru, jauh dari konsep takdir. Tetapi jika salah, kita hanyalah makhluk kecil di satu semesta kecil, dan itu pun sudah lebih dari cukup.

Mungkin, multiverse bukanlah tentang kosmos tak terbatas, namun tentang keberanian menerima satu dunia yang ada di tangan kita. Bahwa entah ada berapa cabang semesta, kita hanya diberi satu tubuh, satu kehidupan, satu kesempatan untuk menulis, mencinta, tertawa, atau merusak. Dan jika suatu hari terbukti bahwa kita memang simulasi, maka tak ada alasan untuk menyesal. Karena bahkan karakter dalam simulasi pun masih bisa menulis esai tentang multiverse dengan kalimat penutup: Programmer kita selera humornya buruk sekali.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Sabtu Besok, HIMA Sastra Indonesia UNUD Bahas Buku Puisi ‘Jamuan Malam’ di Denpasar

Redaksi

Fanfic Dalam Esensi Borgesian

Ervin Ruhlelana

Fragmen dalam Sastra Eksperimental

Ervin Ruhlelana

Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham Bakal Dibedah Di Denpasar, Habis-Habisan!

Redaksi

Sastra dan Ilusi Kreativitas Individual

Preman Laut

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ervin Ruhlelana
Esai

Lelucon Abadi Sang Multi-Semesta

Bayangkan setiap keputusan kecil yang kau ambil —memilih kopi hitam atau cappuccino, membaca buku Borges atau komik Marvel— adalah pintu yang membelah kenyataan menjadi dua, lalu empat, lalu tak terhingga. Di satu cabang kau membaca Borges dan menjadi filsuf yang muram, di cabang lain kau memilih Marvel dan menjadi penggemar multiverse tanpa kamu sadari.

Hugh Everett, fisikawan yang pada 1957 bosan dengan keangkuhan interpretasi Kopenhagen, menyarankan bahwa dunia memang tak pernah “memilih” satu jalur kuantum, melainkan semua jalur terjadi sekaligus, hanya saja kita terjebak di satu lintasan. Dunia lain ada, tapi kita tidak punya tiket menonton.

Simak gambar di atas sebagai ilustrasi Paradoks “Kucing Schrödinger” dalam mekanika kuantum menurut Interpretasi Banyak Dunia (Many-Worlds Interpretation). Dalam interpretasi ini, setiap peristiwa kuantum adalah sebuah titik percabangan; kucing tersebut hidup sekaligus mati, bahkan setelah kotaknya dibuka.

Namun, kucing yang “hidup” dan kucing yang “mati” berada di cabang-cabang yang berbeda dalam multisemesta. Kedua cabang tersebut sama-sama nyata, tetapi tidak saling berinteraksi satu sama lain.

Multiverse versi Many-Worlds ini adalah semacam ironi: dunia bercabang karena eksperimen sederhana, tapi kita sendiri tak pernah bisa melompat ke cabang sebelah. Ia lebih seperti berita gosip kosmik: meyakinkan, masuk akal, tapi tanpa bukti langsung.

Gelembung Kosmos dan Labirin Matematika

Para kosmolog tidak pernah puas berhenti di gosip. Alan Guth, ketika menemukan teori inflasi kosmik, tanpa sadar menciptakan sebuah rahim untuk semesta tak terbatas. Jika jagat raya kita meledak dari satu titik dan mengembang dengan cepat, lalu berhenti di satu fase, maka mengapa tidak ada ledakan serupa yang terus terjadi di wilayah lain?

Multiverse inflasi adalah ladang gelembung sabun, di mana tiap gelembung adalah kosmos dengan konstanta fisik berbeda. Mungkin di sana elektron punya massa yang berbeda, atau gravitasi sedikit lebih manja, membuat bintang tak pernah terbentuk. Dan tentu saja, di sana tak akan ada Shakespeare atau rendang Padang.

Dari sudut pandang kosmologi, kita hanyalah salah satu gelembung yang kebetulan cukup stabil untuk menampung kehidupan. Bagi sebagian orang, ini romantis. Bagi yang lain, ini penghinaan: ternyata keberadaan kita hanya hasil “judi kosmik,” dan kemungkinan besar semesta yang kalah judi jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang berhasil, mirip banget sama judol.

Ilustrasi visual kosmos dan nebula galaksi. Sumber istimewa

Max Tegmark melangkah lebih jauh, mengusulkan klasifikasi multiverse hingga Level IV, di mana tak hanya konstanta fisika berbeda, tapi bahkan hukum matematika itu sendiri. Artinya, ada semesta di mana dua tambah dua sama dengan lima —kayak lagu Radiohead, dan mungkin logika Aristoteles dianggap sekadar lelucon basi.

Baca Juga  Angga Wijaya Terbitkan Buku Kumpulan Esai Terbaru 'Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi'

Tentu, ini menggelitik rasa ingin tahu: apakah rasionalitas kita hanyalah produk lokal, seperti masakan Padang yang terasa pedas hanya karena lidah kita sudah terbiasa? Tegmark dengan santai mengubah jagat raya menjadi showroom kosmik: ada model standar, ada model gila, ada model rusak.

Ironisnya, semakin tinggi level multiverse, semakin rendah bukti empiris yang bisa kita tawarkan. Seakan-akan fisika modern berubah menjadi cabang sastra spekulatif dengan matematika sebagai bahasanya.

Peta suhu latar belakang gelombang mikro kosmik yang diukur oleh wahana antariksa Planck.

Teori string juga tak mau ketinggalan. Dengan gagasan tentang 10^500 kemungkinan “landskap vakum,” yang tampak seperti birokrasi kosmik paling absurd: setiap kombinasi menghasilkan semesta berbeda. Hawking sempat menggoda dengan ide “top-down cosmology” bahwa kita hanya bisa mengamati semesta yang memungkinkan kita ada, bukan semesta lain.

Ini terdengar masuk akal, tetapi juga terasa seperti excuse intelektual: kita hanya bisa mengukur yang bisa diukur, maka berhentilah bertanya. Namun manusia, makhluk keras kepala yang tak tahu diri, selalu ingin bertanya, dan mengekspresikan pertanyaan itu dengan cara yang berpotensi destruktif. Bahkan di tengah ketidakmungkinan itu, kita tetap menulis makalah, menayangkan film Marvel, dan menulis esai semacam ini, seolah keyakinan akan banyaknya dunia bisa menambal rasa kosong di dalam dada.

Proyeksi, Simulasi dan Keangkuhan Manusia

Ada pula prinsip holografik, yang dengan anggun menyarankan bahwa seluruh semesta kita hanyalah proyeksi dari tepi, seperti film yang diputar dari layar kosmik dua dimensi. Ini adalah hasil kalkulasi serius dari fisika gravitasi kuantum. Tetapi begitu kata “proyeksi” muncul, manusia awam segera membayangkan dirinya sebagai karakter dalam gim The Sims.

Nick Bostrom pun masuk ke dalam pesta ini dengan teori simulasi: bahwa kemungkinan besar kita hidup dalam realitas buatan, disimulasikan oleh peradaban super-maju. Jika ini benar, maka semua filsafat, agama, dan sejarah hanyalah dekorasi piksel. Tuhan, ternyata, seorang programmer —dan mungkin bukan programmer jenius, tapi anak magang yang malas bersihin bug.

Ironisnya, meskipun ide ini terdengar gila, banyak ilmuwan serius mempertimbangkannya karena, secara probabilistik, lebih gampang untuk percaya bahwa kita adalah simulasi ketimbang menghadapi gigitan realitas.

Namun mari sejenak menertawakan diri kita sendiri. Betapa congkaknya manusia yang berdebat soal multi-semesta, padahal kita bahkan tidak mampu sepenuhnya memahami satu semesta kecil yang kita injak ini. Kita masih ribut masalah perbedaan keyakinan, soal siapa yang harus memimpin negara, bagaimana cara membagi kekayaan, mengapa harga dolar terus naik, tetapi di waktu luang kita berdiskusi apakah ada alam semesta lain di mana cabai dan selangkangan gratis sepanjang masa.

Baca Juga  Simulasi Kesadaran AI dalam Produksi Puisi

Mungkin multiverse hanyalah cara elegan untuk melarikan diri dari fakta bahwa dunia ini, satu-satunya yang kita punya, terasa tidak tertanggungkan. Daripada menerima absurditas hidup, kita meminjam absurditas kosmos.

Terjebak di Satu Cabang

Filsuf klasik sebenarnya sudah lama membayangkan multiverse dengan cara lain. Demokritos dengan atom-atomnya, Leibniz dengan “the best of all possible worlds,” bahkan Nietzsche dengan “eternal recurrence.” Hanya saja, para fisikawan modern punya keuntungan: mereka bisa membungkus mitos dengan persamaan diferensial. Seolah angka-angka membuat absurditas lebih dapat diterima. Borges, tentu saja, tersenyum getir di kuburnya: semua kemungkinan dunia sudah ia tulis di The Garden of Forking Paths. Yang kita sebut teori ilmiah hanyalah upaya lain untuk memberi bentuk pada labirin yang sama.

Tetapi ada satu pelajaran pahit di sini, meskipun multiverse membuka ruang imajinasi, kita tak pernah bisa melintasinya. Tidak ada kereta antar-semesta, tidak ada tiket sekali jalan menuju dunia di mana keputusanmu adalah kebahagiaan. Kita terjebak di cabang semesta yang ini, dengan semua penyesalan dan keindahannya. Seluruh percabangan kemungkinan ada, tapi kamu tetap harus membeli token listrik dan bayar wifi bulan ini.

Dan barangkali di situlah letak relevansinya. Multiverse, betapapun ilmiah atau metaforisnya, adalah cermin bagi keinginan manusia untuk percaya bahwa selalu ada versi lain dari kita: lebih sukses, lebih dicintai, lebih bahagia. Keyakinan itu menghibur sekaligus menyiksa. Sebab jika benar, maka kegagalan kita adalah pilihan cabang semesta yang keliru, jauh dari konsep takdir. Tetapi jika salah, kita hanyalah makhluk kecil di satu semesta kecil, dan itu pun sudah lebih dari cukup.

Mungkin, multiverse bukanlah tentang kosmos tak terbatas, namun tentang keberanian menerima satu dunia yang ada di tangan kita. Bahwa entah ada berapa cabang semesta, kita hanya diberi satu tubuh, satu kehidupan, satu kesempatan untuk menulis, mencinta, tertawa, atau merusak. Dan jika suatu hari terbukti bahwa kita memang simulasi, maka tak ada alasan untuk menyesal. Karena bahkan karakter dalam simulasi pun masih bisa menulis esai tentang multiverse dengan kalimat penutup: Programmer kita selera humornya buruk sekali.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ervin Ruhlelana

Kerumitan Sastra: Sebuah Epilog

Ervin Ruhlelana

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

Ketika Semua Orang Menulis di Negeri yang Sepi Pembaca

Ervin Ruhlelana

Film Chairil Anwar Segera Tayang di Bioskop, Falcon Pictures Belum Umumkan Pemeran dan Jadwal Rilis

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi