Sastrawan asal Bali Made Adnyana Ole menerbitkan buku puisi terbarunya berjudul Memilih Pohon Sebelum Pinangan pada Rabu, 14 Januari 2026. Buku ini diluncurkan dalam acara Rabu Puisi yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima.
Memilih Pohon Sebelum Pinangan merupakan kumpulan puisi berbahasa Indonesia yang memusatkan perhatian pada relasi antara pohon dan kehidupan manusia dalam peristiwa sehari-hari, khususnya dalam konteks budaya Hindu di Bali.
Buku ini membaca pohon bukan semata sebagai unsur alam, tetapi sebagai bagian dari sistem nilai, tradisi, dan laku hidup masyarakat.
Dalam sinopsisnya disebutkan bahwa puisi-puisi dalam buku ini berbicara tentang keterkaitan pohon dan kehidupan manusia dalam pengalaman keseharian.
Pada masyarakat Hindu di Bali, pohon memiliki posisi penting mulai dari pemilihan hari baik untuk menanam, larangan menebang jenis tertentu, hingga penentuan pohon yang layak atau tidak layak digunakan sebagai bahan bangunan.
Selain dimuliakan dalam upacara-upacara keagamaan, pohon juga diperlakukan dengan kehati-hatian dalam praktik sehari-hari, termasuk dalam seni olahan makanan untuk kepentingan upacara maupun konsumsi harian.
Sejumlah puisi dalam buku ini turut merekam nasib pohon pada masa pandemi, sekaligus merefleksikan perubahan relasi manusia dengan alam dalam situasi krisis.

Made Adnyana Ole, yang lahir di Tabanan pada 3 Mei 1968, dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Ia mulai menulis sejak akhir 1980-an dan karya-karyanya telah dimuat di berbagai media nasional maupun lokal.
Selain berkarya di bidang sastra, ia memiliki latar belakang jurnalistik dan aktif dalam pengelolaan media serta ruang budaya yang memberi perhatian pada sastra dan pemikiran kebudayaan.
Hingga kini, Ole telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain kumpulan cerpen Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci (2018), kumpulan esai Lolohin Malu (2019), dan kumpulan puisi Memilih Pohon Sebelum Pinangan (2025).
Ia juga tercatat menerima sejumlah penghargaan sastra, termasuk Anugerah Sastra Tantular dari Balai Bahasa Bali pada 2019, serta berbagai apresiasi penulisan puisi sejak dekade 1990-an.