Denpasastra.net

Janet DeNeefe: “Bisakah Kebijaksanaan dan Inovasi Berdampingan?”

Ubud, Bali – Bisakah kebijaksanaan dan inovasi berdampingan untuk kebaikan yang lebih besar, atau justru membawa kita ke era ketidakseimbangan, di mana kemampuan teknologi melampaui pertumbuhan moral dan spiritual kita?

Demikian ungkap Janet DeNeefe, pendiri dan direktur Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) menanggapi pengumuman tema festival UWRF tahun ini. Lewat akun social media resmi festival, diumumkan bahwa Ubud Writers & Readers Festival akan kembali digelar sebagai edisi ke-22 dengan rangkaian acara selama 4 hari, mulai 29 Oktober hingga 2 November 2025.

Janet Deneefe
Janet Deneefe. Sumber Foto: @janetdeneefe

Adapun tahun ini, festival mengusung tema “Aham Brahmasmi”—sebuah konsep kuno dari literatur Hindu yang bermakna “I am the Universe.”

Mengutip keterangan penyelenggara, tema ini menekankan kesatuan antara diri manusia dan alam semesta, mengingatkan bahwa setiap individu memiliki potensi kreatif yang sama besar dengan alam semesta itu sendiri.

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, gagasan ini kian relevan, terutama ketika dikaitkan dengan konsep Homo Deus—imajinasi manusia untuk bertransformasi menjadi ‘dewa’ melalui inovasi teknologi.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang berbagi cerita dan ide, tetapi juga sebagai ruang refleksi atas tantangan zaman di mana kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pertumbuhan nilai moral. Bagi para penggemar dan pencinta sastra, acara ini menawarkan kesempatan untuk menyelami diskusi mendalam yang menghubungkan tradisi kuno dengan dinamika inovasi masa kini.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Redaksi

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi

Jembrana Luncurkan Anthem ‘Demi Jembrana, Pasti Bisa!’ pada Malam Pergantian Tahun

Redaksi

Fanfic Dalam Esensi Kafkaesque

Ervin Ruhlelana
Berita

Janet DeNeefe: “Bisakah Kebijaksanaan dan Inovasi Berdampingan?”

Ubud, Bali – Bisakah kebijaksanaan dan inovasi berdampingan untuk kebaikan yang lebih besar, atau justru membawa kita ke era ketidakseimbangan, di mana kemampuan teknologi melampaui pertumbuhan moral dan spiritual kita?

Demikian ungkap Janet DeNeefe, pendiri dan direktur Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) menanggapi pengumuman tema festival UWRF tahun ini. Lewat akun social media resmi festival, diumumkan bahwa Ubud Writers & Readers Festival akan kembali digelar sebagai edisi ke-22 dengan rangkaian acara selama 4 hari, mulai 29 Oktober hingga 2 November 2025.

Janet Deneefe
Janet Deneefe. Sumber Foto: @janetdeneefe

Adapun tahun ini, festival mengusung tema “Aham Brahmasmi”—sebuah konsep kuno dari literatur Hindu yang bermakna “I am the Universe.”

Mengutip keterangan penyelenggara, tema ini menekankan kesatuan antara diri manusia dan alam semesta, mengingatkan bahwa setiap individu memiliki potensi kreatif yang sama besar dengan alam semesta itu sendiri.

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, gagasan ini kian relevan, terutama ketika dikaitkan dengan konsep Homo Deus—imajinasi manusia untuk bertransformasi menjadi ‘dewa’ melalui inovasi teknologi.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang berbagi cerita dan ide, tetapi juga sebagai ruang refleksi atas tantangan zaman di mana kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pertumbuhan nilai moral. Bagi para penggemar dan pencinta sastra, acara ini menawarkan kesempatan untuk menyelami diskusi mendalam yang menghubungkan tradisi kuno dengan dinamika inovasi masa kini.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Redaksi

Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi