Kita terbiasa mendengar lagu Rocker Juga Manusia sebagai lelucon yang cerdas.
Reff-nya mudah diingat, nadanya ringan dan pesannya terdengar sederhana. Rocker juga manusia. Punya rasa. Punya hati. Selesai.
Pembacaan ini membuat lagu terasa aman. Sekadar kritik kecil terhadap tuntutan untuk selalu terlihat kuat. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa musisi yang tampak keras pun juga bisa lembut. Tidak lebih.
Padahal justru di situlah ia menipu.
Menurut hemat saya, lagu ini tidak sedang membela rocker. Rocker hanya simbol, representasi paling mudah dari sosok yang dituntut selalu kuat.
Yang dibicarakan lagu ini adalah tekanan dalam memainkan peran. Dan itu adalah kamu.
Kamu bisa jadi seorang single parent yang harus terlihat tegar demi anak. Kamu juga bisa jadi bapak yang tidak punya ruang untuk lelah di depan istri dan keluarga. Kamu bisa jadi seorang kakak yang menahan beban agar orang rumah tetap aman.
Di ruang lain, kamu bisa jadi bos di kantor yang harus selalu terlihat kuat di depan tim, atau kamu memegang tanggung jawab besar yang tidak memberimu ruang untuk terlihat goyah.
Dalam semua posisi itu, yang dijaga bukan hanya tanggung jawab, tetapi citra. Kamu tidak hanya dituntut kuat, tapi harus terlihat kuat. Di titik ini, kekuatan berubah menjadi kewajiban.
‘Ingin ku teriakkan’ pada bagian reff jelas bukan ekspresi bebas, melainkan suara yang terlambat muncul setelah terlalu lama ditahan. Masalahnya bukan pada kuat atau lemah, tetapi pada keharusan untuk tetap terlihat kuat.
Karenanya, lagu ini bukan lagi perkara menjadi musisi di atas panggung. Ia menjadi tentang kebiasaan kita menjaga peran. Kita tidak selalu kuat, kita hanya tidak diberi ruang untuk terlihat lemah.
Dan kini kamu pasti tahu, bahwa ada seorang ‘rocker’ juga di hidupmu yang selama ini terlihat kuat supaya kamu tidak perlu ikut hancur.
