Denpasastra.net

Kritik Sosial Ala Seurieus Lewat ‘Rocker Bukan Manusia’

Kita terbiasa mendengar lagu Rocker Juga Manusia sebagai lelucon yang cerdas.

Reff-nya mudah diingat, nadanya ringan dan pesannya terdengar sederhana. Rocker juga manusia. Punya rasa. Punya hati. Selesai.

Pembacaan ini membuat lagu terasa aman. Sekadar kritik kecil terhadap tuntutan untuk selalu terlihat kuat. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa musisi yang tampak keras pun juga bisa lembut. Tidak lebih.

Padahal justru di situlah ia menipu.

Menurut hemat saya, lagu ini tidak sedang membela rocker. Rocker hanya simbol, representasi paling mudah dari sosok yang dituntut selalu kuat.

Yang dibicarakan lagu ini adalah tekanan dalam memainkan peran. Dan itu adalah kamu.

Kamu bisa jadi seorang single parent yang harus terlihat tegar demi anak. Kamu juga bisa jadi bapak yang tidak punya ruang untuk lelah di depan istri dan keluarga. Kamu bisa jadi seorang kakak yang menahan beban agar orang rumah tetap aman.

Di ruang lain, kamu bisa jadi bos di kantor yang harus selalu terlihat kuat di depan tim, atau kamu memegang tanggung jawab besar yang tidak memberimu ruang untuk terlihat goyah.

Dalam semua posisi itu, yang dijaga bukan hanya tanggung jawab, tetapi citra. Kamu tidak hanya dituntut kuat, tapi harus terlihat kuat. Di titik ini, kekuatan berubah menjadi kewajiban.

‘Ingin ku teriakkan’ pada bagian reff jelas bukan ekspresi bebas, melainkan suara yang terlambat muncul setelah terlalu lama ditahan. Masalahnya bukan pada kuat atau lemah, tetapi pada keharusan untuk tetap terlihat kuat.

Karenanya, lagu ini bukan lagi perkara menjadi musisi di atas panggung. Ia menjadi tentang kebiasaan kita menjaga peran. Kita tidak selalu kuat, kita hanya tidak diberi ruang untuk terlihat lemah.

Baca Juga  Cahaya dan Siluet Aneh Lagu Mati Suri - rumahsakit di Televisi Nasional

Dan kini kamu pasti tahu, bahwa ada seorang ‘rocker’ juga di hidupmu yang selama ini terlihat kuat supaya kamu tidak perlu ikut hancur.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru ‘Semakin Jauh’

Redaksi

Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Preman Laut

Pernyataan Thom Yorke Soal Gaza: Dari Cancel Culture Sampai Harapan Kemanusiaan

Preman Laut

Kurt Cobain dan Panggung Perpisahan yang Tak Direncanakan

Preman Laut
Resensi

Kritik Sosial Ala Seurieus Lewat ‘Rocker Bukan Manusia’

Kita terbiasa mendengar lagu Rocker Juga Manusia sebagai lelucon yang cerdas.

Reff-nya mudah diingat, nadanya ringan dan pesannya terdengar sederhana. Rocker juga manusia. Punya rasa. Punya hati. Selesai.

Pembacaan ini membuat lagu terasa aman. Sekadar kritik kecil terhadap tuntutan untuk selalu terlihat kuat. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa musisi yang tampak keras pun juga bisa lembut. Tidak lebih.

Padahal justru di situlah ia menipu.

Menurut hemat saya, lagu ini tidak sedang membela rocker. Rocker hanya simbol, representasi paling mudah dari sosok yang dituntut selalu kuat.

Yang dibicarakan lagu ini adalah tekanan dalam memainkan peran. Dan itu adalah kamu.

Kamu bisa jadi seorang single parent yang harus terlihat tegar demi anak. Kamu juga bisa jadi bapak yang tidak punya ruang untuk lelah di depan istri dan keluarga. Kamu bisa jadi seorang kakak yang menahan beban agar orang rumah tetap aman.

Di ruang lain, kamu bisa jadi bos di kantor yang harus selalu terlihat kuat di depan tim, atau kamu memegang tanggung jawab besar yang tidak memberimu ruang untuk terlihat goyah.

Dalam semua posisi itu, yang dijaga bukan hanya tanggung jawab, tetapi citra. Kamu tidak hanya dituntut kuat, tapi harus terlihat kuat. Di titik ini, kekuatan berubah menjadi kewajiban.

‘Ingin ku teriakkan’ pada bagian reff jelas bukan ekspresi bebas, melainkan suara yang terlambat muncul setelah terlalu lama ditahan. Masalahnya bukan pada kuat atau lemah, tetapi pada keharusan untuk tetap terlihat kuat.

Karenanya, lagu ini bukan lagi perkara menjadi musisi di atas panggung. Ia menjadi tentang kebiasaan kita menjaga peran. Kita tidak selalu kuat, kita hanya tidak diberi ruang untuk terlihat lemah.

Baca Juga  Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Dan kini kamu pasti tahu, bahwa ada seorang ‘rocker’ juga di hidupmu yang selama ini terlihat kuat supaya kamu tidak perlu ikut hancur.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Redaksi

Apakah Bread & Circus Menandai Kedewasaan Politik The SIGIT?

Ihsan Jarot

Music Celebration 2026 Digelar di Antida Sound Garden, Perayaan Musik Awal Tahun Kembali Berlangsung

Redaksi

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi