Indeks Konten
Beberapa tahun terakhir, Marmar Herayukti menjadi salah satu nama yang paling menonjol dalam dunia ogoh-ogoh Bali. Karya-karyanya dikenal bukan hanya karena skala dan kompleksitas visualnya, tetapi juga karena upayanya membawa ogoh-ogoh keluar menuju wilayah gagasan.
Dalam berbagai karya yang pernah ia buat, mulai dari Taru Pule, Paksi Ireng, hingga Ki Ai Nirnur, tema yang dibicarakan memang terus berubah. Namun cara membacanya relatif tetap. Krisis lingkungan, identitas, spiritualitas, maupun teknologi pada akhirnya kembali dipahami sebagai persoalan manusia dan kesadarannya.
Ki Ai Nirnur merupakan kelanjutan dari kecenderungan tersebut. Melalui sosok yang memadukan elemen ritual Bali dengan imajinasi teknologi futuristik, Marmar mengangkat kecerdasan buatan sebagai titik berangkat untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan ciptaannya sendiri. Di balik bentuknya yang menyerupai makhluk pasca-manusia, tersimpan kegelisahan tentang dunia yang semakin cerdas secara teknologis tetapi belum tentu semakin bijaksana secara moral dan spiritual.
Sebagai karya seni, Ki Ai Nirnur berhasil membuka percakapan yang jarang muncul dalam dunia ogoh-ogoh. Namun justru karena ambisinya besar, karya ini layak dibaca lebih jauh. Bukan untuk membantahnya, melainkan untuk melihat apa yang tetap berada di luar bingkai meskipun tema yang diangkat terus berubah dari tahun ke tahun.
Manusia Sebagai Pusat Segalanya
Jika ditelusuri dari berbagai karya Marmar, ada satu pola yang cukup konsisten. Tema boleh berganti. Dulu alam, spiritualitas, atau identitas. Hari ini kecerdasan buatan. Namun pusat gravitasinya tetap sama: manusia sebagai subjek utama dan kesadaran sebagai medan pertarungan utama.
Pola tersebut juga terlihat dalam Ki Ai Nirnur. AI tidak benar-benar hadir sebagai persoalan teknologi. Ia hadir sebagai metafora. Yang dipersoalkan bukan mesin, melainkan manusia yang menciptakan mesin tersebut. Yang dipertanyakan bukan kecerdasan buatan, melainkan kesadaran manusia yang dianggap gagal mengimbangi perkembangan kecerdasannya sendiri.
Di sinilah letak kekuatan sekaligus keterbatasan Ki Ai Nirnur. Sebagai refleksi filosofis, pendekatan ini cukup kuat. Ia mengingatkan bahwa persoalan teknologi pada akhirnya tetap merupakan persoalan manusia. Namun sebagai pembacaan terhadap dunia yang lebih luas, pendekatan ini menyisakan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah seluruh persoalan memang dapat dijelaskan melalui kesadaran individu? Apakah semua krisis pada akhirnya adalah krisis spiritual?
Pertanyaan ini terasa semakin penting karena banyak kerusakan justru berlangsung ketika semua orang merasa dirinya sudah cukup sadar. Hampir tidak ada developer properti yang mengaku sedang merusak Bali. Hampir tidak ada pelaku industri yang mengaku sedang mengkomodifikasi budaya. Hampir tidak ada institusi yang secara terbuka menyatakan dirinya sedang mengikis ruang hidup masyarakat. Namun perubahan itu tetap berlangsung. Dalam banyak kasus, persoalannya bukan kurangnya kesadaran. Persoalannya adalah sistem yang terus bekerja bahkan ketika semua orang mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah.
Seorang developer bisa saja memahami bahwa sawah yang dibangun merupakan bagian dari ekosistem yang lebih luas. Namun proyek tetap berjalan karena nilai tanah terus naik dan logika investasi menuntut pertumbuhan. Dalam situasi seperti itu, kesadaran tidak otomatis menghasilkan perubahan. Struktur tetap bergerak mengikuti insentifnya sendiri.
Barangkali masalah terbesar Bali hari ini bukan krisis kesadaran. Barangkali justru kesadaran telah menjadi jawaban yang terlalu sering dipakai untuk menjelaskan persoalan yang lebih besar daripada manusia itu sendiri.
Yang Tetap Berada di Luar Bingkai
Di titik inilah muncul hal yang menarik untuk dibicarakan. Banyak perubahan besar yang terjadi di Bali hari ini tidak bekerja terutama melalui kesadaran individu. Mereka bekerja melalui struktur yang jauh lebih besar daripada individu itu sendiri.
Sebuah sistem tidak selalu membutuhkan manusia yang jahat untuk menghasilkan akibat yang buruk. Banyak perubahan besar justru berlangsung ketika setiap orang di dalamnya merasa sedang melakukan hal yang masuk akal. Investor mengejar keuntungan. Pemerintah mengejar pertumbuhan. Pekerja mengejar penghasilan. Wisatawan mengejar pengalaman. Tidak ada yang merasa sedang merusak sesuatu. Namun hasil akhirnya tetap mengubah lanskap sosial dan budaya secara drastis.
Dalam konteks ini, menarik bahwa Ki Ai Nirnur tetap membawa persoalan kembali ke wilayah batin manusia. Bahkan ketika berbicara tentang AI, fokus utamanya tetap berada pada kesadaran, kebijaksanaan, dan orientasi spiritual. Yang muncul adalah pertanyaan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup. Yang tidak muncul adalah pertanyaan tentang bagaimana sistem bekerja.
Dalam semesta Marmar, sistem hampir selalu muncul sebagai latar. Manusialah yang selalu menjadi tokoh utamanya.
Tentu tidak ada kewajiban bagi seorang seniman untuk membicarakan ekonomi politik. Namun justru karena Ki Ai Nirnur mengangkat tema yang sangat besar tentang masa depan manusia, absennya dimensi struktural tersebut menjadi menarik untuk dicatat. Yang dipilih untuk dibicarakan sama pentingnya dengan yang dipilih untuk ditinggalkan.
Padahal banyak persoalan kontemporer justru bekerja melalui mekanisme yang tidak dapat direduksi menjadi pilihan moral individu. Ada logika pasar, distribusi modal, regulasi, kepemilikan, dan relasi kuasa yang ikut bekerja di dalamnya. Banyak perubahan sosial berlangsung bukan karena individu-individu kehilangan moralitas, melainkan karena sistem memiliki cara kerja yang tidak selalu tunduk pada kesadaran individu yang berada di dalamnya.
Ketika Semua Kembali ke Kesadaran
Hal yang sama sebenarnya dapat diterapkan pada AI. Dalam Ki Ai Nirnur, AI tampil sebagai simbol kecemasan zaman. Namun perkembangan AI hari ini tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan yang melampaui manusia. Ia juga berkaitan dengan monopoli data, kepemilikan infrastruktur digital, eksploitasi tenaga kerja, pengawasan, dan konsentrasi kekuasaan pada segelintir perusahaan teknologi global.
Dimensi-dimensi tersebut hampir tidak muncul dalam semesta Ki Ai Nirnur. AI lebih banyak dibaca sebagai persoalan kesadaran daripada persoalan kekuasaan. Akibatnya, teknologi tampil sebagai cermin moral manusia, bukan sebagai bagian dari sistem ekonomi dan politik yang konkret.
Di sinilah konsistensi cara pandang Marmar kembali terlihat. Bahkan ketika tema yang dibicarakan adalah teknologi mutakhir, pusat gravitasinya tetap berada pada manusia sebagai subjek dan kesadaran sebagai medan pertarungan utama. Tema berubah, simbol berubah, ancaman berubah, tetapi arah pembacaannya tetap sama.
Dalam semesta Marmar, hampir semua krisis pada akhirnya berubah menjadi krisis kesadaran. Padahal banyak krisis justru bertahan karena kesadaran tidak pernah cukup untuk menghentikannya.
Pendekatan semacam ini membuat karya-karya Marmar mudah terhubung dengan pertanyaan yang bersifat universal. Namun pada saat yang sama, ia juga menciptakan titik buta tertentu. Ketika hampir semua persoalan dibaca sebagai persoalan manusia, berbagai struktur yang membentuk kehidupan manusia perlahan menghilang dari pusat perhatian.
Setelah Ki Ai Nirnur
Pembacaan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa Ki Ai Nirnur keliru. Justru sebaliknya. Karya ini menarik karena memperlihatkan konsistensi cara pandang Marmar terhadap dunia. Hampir semua persoalan akhirnya dibaca sebagai persoalan manusia, bukan persoalan sistem.
Namun dari titik itulah pertanyaan lain mulai muncul. Jika krisis terus-menerus dipahami sebagai krisis kesadaran, bagaimana kita menjelaskan berbagai perubahan yang tetap berlangsung bahkan ketika individu-individu di dalamnya memiliki kesadaran yang baik? Bagaimana kita menjelaskan sistem yang terus bekerja terlepas dari niat, moralitas, atau refleksi pribadi para pelakunya?
Mungkin hal yang tidak dibahas Marmar dalam Ki Ai Nirnur bukanlah pariwisata, alih fungsi lahan atau komodifikasi budaya secara langsung. Yang tidak dibahas adalah kemungkinan bahwa banyak persoalan terbesar hari ini tidak lahir dari manusia sebagai individu, melainkan dari struktur yang jauh lebih besar daripada manusia itu sendiri.
Di sinilah batas dari cara pandang yang menempatkan kesadaran sebagai pusat segala persoalan. Tidak semua krisis dapat diselesaikan melalui refleksi. Tidak semua kerusakan lahir dari kegagalan moral. Ada sistem yang tetap berjalan bahkan ketika semua orang memahami dampaknya. Ada struktur yang terus bekerja bahkan ketika individu-individu di dalamnya merasa sedang melakukan hal yang benar.
Apakah Marmar baik secara sadar maupun tidak, sedang melanggengkan status quo? Pasalnya kesadaran telah menjadi penjelasan paling populer untuk hampir semua persoalan, justru karena ia memungkinkan kita menghindari pembicaraan tentang ‘kekuasaan’.
Dus, Ki Ai Nirnur mengkhawatirkan masa depan ketika mesin menjadi lebih cerdas daripada manusia. Padahal yang lebih dekat untuk dipikirkan mungkin adalah keadaan ketika sistem tidak adil yang diciptakan manusia sudah lebih kuat daripada kesadaran individu manusia itu sendiri.

