Denpasastra.net

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Dee Lestari kembali ke dunia musik. Sebuah kabar yang secara historis bisa membawa ekspektasi tinggi.

Pasalnya di blantika musik Indonesia, Dee bukan nama sembarangan. Ia dikenal publik sejak era 1990-an lewat grup Rida Sita Dewi, lalu memperluas pengaruhnya sebagai penulis melalui serial novel Supernova di awal 2000-an. Karya tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang ikut mengguncang lanskap sastra Indonesia mutakhir. Selebihnya adalah sejarah.

Dalam kariernya, musik dan sastra berjalan beriringan. Terlepas dari album debut Out of Shell (2006) yang rilis setelah ia hengkang dari RSD, Dee menulis lagu dengan pendekatan bercerita dan menulis cerita dengan kepekaan terhadap ritme serta bunyi. Dari pertemuan dua wilayah ini, pola kerja estetiknya terbentuk dan konsisten.

Jejak tersebut terlihat jelas, mulai dari rentetan kutipan lirik di berbagai bab Supernova, trilogi Rapijali yang bertema musik, hingga Perahu Kertas yang dijadwalkan tampil sebagai pementasan musikal pada 2026.

Salah satu karya yang paling menunjukkan keapikannya berkarya di dua dunia adalah Aku Ada, nomor terkuat dari album Rectoverso yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpennya. Dinyanyikan sebagai duet bersama Arina Mocca, lagu ini digarap dengan subtil untuk menggambarkan kondisi batin dua orang di sebuah pantai pada waktu yang berbeda, bahkan mungkin di dunia yang berbeda.

Meski tidak seekletik dan eksperimental duet Baskara Putra dan Sal Priadi di lagu Belum Tidur, atau seklasik Benyamin S. bersama Ida Royani di lagu Hujan Gerimis, single duet Aku Ada menyajikan transisi dua penceritaan yang mulus. Dua sudut pandang itu saling bertukar dan berpadu dengan tenang, membentuk satu alur emosional yang utuh.

Pesan dalam Aku Ada bekerja dengan jelas. Lagu ini berbicara tentang keberanian, ketegasan, dan upaya melampaui kemustahilan dua dunia yang membatasi para tokoh yang dikisahkan. Kesadaran emosional tidak berhenti sebagai perenungan, melainkan diarahkan menjadi sikap. Ada keputusan untuk hadir sepenuhnya, meski risikonya nyata dan tidak romantis.

Pola serupa tampak dalam karya-karya ikonik Dee lainnya. Dalam Malaikat Juga Tahu, kesedihan tidak dijadikan dalih untuk terus bergantung. Ada pengakuan atas keterbatasan, lalu pilihan untuk mundur dengan kepala tegak. Sementara di lagu Firasat, intuisi bekerja sebagai mekanisme penyelamatan diri. Pertanda tidak dirayakan sebagai tragedi romantik, melainkan dipercaya dan kemudian diikuti dengan kepergian.

Baca Juga  Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Dalam lagu-lagu tersebut, Dee selalu menempatkan keputusan sebagai puncak dramatik. Emosi tidak dibiarkan mengambang atau berputar di tempat. Ia diarahkan, dipatahkan, atau disudahi. Di situlah letak kekuatan etik sekaligus estetik yang dulu membuat lagu-lagu Dee terasa tuntas, bukan hanya indah.

Dalam beban ekspektasi inilah single terbaru Dee layak dibaca. Bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta, lagu ini dirilis pada 16 Desember 2025 kemarin sebagai nomor perkenalan menuju album baru yang sedang disiapkan.

Sejatinya, lagu (Jangan) Jatuh Cinta dibangun sebagai dialog batin dua posisi yang tidak setara. Kutipan “Jangan jatuh cinta. Belum saatnya kau akan tersiksa” hingga “Tapi jatuh cinta. Tak butuh alasan terjadi begitu saja” memperlihatkan dua suara yang saling berhadapan. Tokoh pertama hadir sebagai pihak yang memberi peringatan, menyusun alasan-alasan rasional, dan mengklaim posisi protektif. Tokoh kedua, sebaliknya, mengakui bahwa perasaan telah terjadi begitu saja tanpa beban logika.

Konflik bergerak ke wilayah yang lebih problematik ketika tokoh kedua menyadari bahwa tidak ada waktu yang tepat dan tidak ada ruang untuk menghindar. Namun alih-alih keluar dari situasi tersebut, ia justru diminta untuk mengalah. Permintaan itu dinyanyikan berulang dengan alasan yang sama: belum tepat, belum pantas, belum layak.

Bagian refrain menegaskan posisi ini. Pertanyaan tentang berapa lama harus berpura-pura demi logika dan rasa aman pasangan, serta berapa lama harus diam dalam “penjara” orang lain, menunjukkan kesadaran penuh atas ketimpangan relasi tersebut. Tokoh kedua tahu bahwa ia sedang dikekang, bahkan menyebutnya secara eksplisit sebagai ilusi kendali.

Namun lagu ini berhenti di sana. Kesadaran tidak pernah berujung pada keputusan untuk keluar. Tokoh kedua tetap bertanya, tetap menunggu, dan tetap menahan diri. Relasi yang timpang dikenali dengan jelas, tetapi dibiarkan berlangsung.

Karena itu, pembacaan kritis atas (Jangan) Jatuh Cinta tak bisa dilepaskan dari diskursus toxic relationship yang dalam satu dekade terakhir semakin populer dan sekaligus semakin disederhanakan. Lagu ini sadar medan: mengenali kontrol emosional, menyadari penundaan sepihak, menormalisasi rasa aman yang dibangun dari pengorbanan pihak lain, serta menyebut ilusi kendali secara terang.

Baca Juga  Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Masalahnya, lagu ini berhenti pada pengakuan. Dalam relasi toksik, kesadaran hanyalah awal, bukan akhir. Ketika narasi berhenti di sana, yang terjadi bukan pembebasan, melainkan normalisasi. Relasi timpang berubah menjadi drama batin yang tampak wajar untuk dirawat, bukan persoalan yang perlu diputus.

Kritik yang muncul dalam lirik “demi ilusi kau punya kendali” tidak pernah menjadi motif bagi tokoh kedua untuk mengemansipasi dirinya. Jika kendali itu disadari sebagai ilusi, seharusnya ada konsekuensi naratif. Namun konsekuensi itu tidak pernah datang. Lagu ini tetap bertahan di wilayah penangguhan.

Di sinilah pergeseran Dee terasa signifikan. Pada karya-karya sebelumnya, ia tidak berhenti pada diagnosis emosional. Ia mendorong tokohnya mengambil posisi, bahkan ketika posisi itu menyakitkan. Mundur, pergi, menolak, atau mengakhiri. Keputusan selalu menjadi klimaks. Di lagu ini, keputusan justru ditangguhkan tanpa batas.

Penurunan kualitas yang dimaksud di sini bukan terletak pada kemampuan Dee menulis lirik, musikalitas, atau kepekaan membaca isu. Semua itu masih bekerja. Yang berkurang adalah keberanian etik untuk menekan lebih jauh, untuk memaksa cerita berhadapan dengan konsekuensinya sendiri. Dee memilih aman, berhenti di wilayah empati, dan bersikap pasif-agresif sejak dari pemilihan judulnya yang ambigu.

Sebagai nomor perkenalan menuju album mendatang, pilihan ini problematik. Lagu pembuka seharusnya memberi sinyal arah, ketegangan, atau pertaruhan artistik. (Jangan) Jatuh Cinta justru berhenti tepat sebelum risiko dimulai.

Di titik ini, penilaian penurunan kualitas menjadi masuk akal, bukan sebagai vonis mutlak, melainkan sebagai catatan kritis. Dee Lestari masih menulis dengan rapi dan cerdas, tetapi tidak lagi setajam dulu dalam memaksa karyanya mengambil sikap. Lagu ini selesai sebagai teks, tetapi tidak selesai sebagai pernyataan.

Untuk standar Dee Lestari, kemunduran itu terasa nyata.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Ketika Semua Orang Menulis di Negeri yang Sepi Pembaca

Ervin Ruhlelana

Fragmen dalam Sastra Eksperimental

Ervin Ruhlelana

Puisi, Manusia, dan Mesin: Refleksi atas Perpuisian Indonesia di Era Kecerdasan Buatan

Wayan Jengki Sunarta

Pemenang Lomba Baca Puisi Bali Politika 2025 Diumumkan. Berikut Ini Daftarnya

Redaksi

Manual Membunuh Idola

Ervin Ruhlelana
Resensi

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Sumber Foto: IG/deelestari

Dee Lestari kembali ke dunia musik. Sebuah kabar yang secara historis bisa membawa ekspektasi tinggi.

Pasalnya di blantika musik Indonesia, Dee bukan nama sembarangan. Ia dikenal publik sejak era 1990-an lewat grup Rida Sita Dewi, lalu memperluas pengaruhnya sebagai penulis melalui serial novel Supernova di awal 2000-an. Karya tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang ikut mengguncang lanskap sastra Indonesia mutakhir. Selebihnya adalah sejarah.

Dalam kariernya, musik dan sastra berjalan beriringan. Terlepas dari album debut Out of Shell (2006) yang rilis setelah ia hengkang dari RSD, Dee menulis lagu dengan pendekatan bercerita dan menulis cerita dengan kepekaan terhadap ritme serta bunyi. Dari pertemuan dua wilayah ini, pola kerja estetiknya terbentuk dan konsisten.

Jejak tersebut terlihat jelas, mulai dari rentetan kutipan lirik di berbagai bab Supernova, trilogi Rapijali yang bertema musik, hingga Perahu Kertas yang dijadwalkan tampil sebagai pementasan musikal pada 2026.

Salah satu karya yang paling menunjukkan keapikannya berkarya di dua dunia adalah Aku Ada, nomor terkuat dari album Rectoverso yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpennya. Dinyanyikan sebagai duet bersama Arina Mocca, lagu ini digarap dengan subtil untuk menggambarkan kondisi batin dua orang di sebuah pantai pada waktu yang berbeda, bahkan mungkin di dunia yang berbeda.

Meski tidak seekletik dan eksperimental duet Baskara Putra dan Sal Priadi di lagu Belum Tidur, atau seklasik Benyamin S. bersama Ida Royani di lagu Hujan Gerimis, single duet Aku Ada menyajikan transisi dua penceritaan yang mulus. Dua sudut pandang itu saling bertukar dan berpadu dengan tenang, membentuk satu alur emosional yang utuh.

Pesan dalam Aku Ada bekerja dengan jelas. Lagu ini berbicara tentang keberanian, ketegasan, dan upaya melampaui kemustahilan dua dunia yang membatasi para tokoh yang dikisahkan. Kesadaran emosional tidak berhenti sebagai perenungan, melainkan diarahkan menjadi sikap. Ada keputusan untuk hadir sepenuhnya, meski risikonya nyata dan tidak romantis.

Pola serupa tampak dalam karya-karya ikonik Dee lainnya. Dalam Malaikat Juga Tahu, kesedihan tidak dijadikan dalih untuk terus bergantung. Ada pengakuan atas keterbatasan, lalu pilihan untuk mundur dengan kepala tegak. Sementara di lagu Firasat, intuisi bekerja sebagai mekanisme penyelamatan diri. Pertanda tidak dirayakan sebagai tragedi romantik, melainkan dipercaya dan kemudian diikuti dengan kepergian.

Baca Juga  Morbid Monke: Anomali Sonik dari Denpasar

Dalam lagu-lagu tersebut, Dee selalu menempatkan keputusan sebagai puncak dramatik. Emosi tidak dibiarkan mengambang atau berputar di tempat. Ia diarahkan, dipatahkan, atau disudahi. Di situlah letak kekuatan etik sekaligus estetik yang dulu membuat lagu-lagu Dee terasa tuntas, bukan hanya indah.

Dalam beban ekspektasi inilah single terbaru Dee layak dibaca. Bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta, lagu ini dirilis pada 16 Desember 2025 kemarin sebagai nomor perkenalan menuju album baru yang sedang disiapkan.

Sejatinya, lagu (Jangan) Jatuh Cinta dibangun sebagai dialog batin dua posisi yang tidak setara. Kutipan “Jangan jatuh cinta. Belum saatnya kau akan tersiksa” hingga “Tapi jatuh cinta. Tak butuh alasan terjadi begitu saja” memperlihatkan dua suara yang saling berhadapan. Tokoh pertama hadir sebagai pihak yang memberi peringatan, menyusun alasan-alasan rasional, dan mengklaim posisi protektif. Tokoh kedua, sebaliknya, mengakui bahwa perasaan telah terjadi begitu saja tanpa beban logika.

Konflik bergerak ke wilayah yang lebih problematik ketika tokoh kedua menyadari bahwa tidak ada waktu yang tepat dan tidak ada ruang untuk menghindar. Namun alih-alih keluar dari situasi tersebut, ia justru diminta untuk mengalah. Permintaan itu dinyanyikan berulang dengan alasan yang sama: belum tepat, belum pantas, belum layak.

Bagian refrain menegaskan posisi ini. Pertanyaan tentang berapa lama harus berpura-pura demi logika dan rasa aman pasangan, serta berapa lama harus diam dalam “penjara” orang lain, menunjukkan kesadaran penuh atas ketimpangan relasi tersebut. Tokoh kedua tahu bahwa ia sedang dikekang, bahkan menyebutnya secara eksplisit sebagai ilusi kendali.

Namun lagu ini berhenti di sana. Kesadaran tidak pernah berujung pada keputusan untuk keluar. Tokoh kedua tetap bertanya, tetap menunggu, dan tetap menahan diri. Relasi yang timpang dikenali dengan jelas, tetapi dibiarkan berlangsung.

Karena itu, pembacaan kritis atas (Jangan) Jatuh Cinta tak bisa dilepaskan dari diskursus toxic relationship yang dalam satu dekade terakhir semakin populer dan sekaligus semakin disederhanakan. Lagu ini sadar medan: mengenali kontrol emosional, menyadari penundaan sepihak, menormalisasi rasa aman yang dibangun dari pengorbanan pihak lain, serta menyebut ilusi kendali secara terang.

Baca Juga  Komunitas Mahima Konsisten Gelar Rabu Puisi, Tegaskan Singaraja Sebagai Ibukota Puisi di Bali

Masalahnya, lagu ini berhenti pada pengakuan. Dalam relasi toksik, kesadaran hanyalah awal, bukan akhir. Ketika narasi berhenti di sana, yang terjadi bukan pembebasan, melainkan normalisasi. Relasi timpang berubah menjadi drama batin yang tampak wajar untuk dirawat, bukan persoalan yang perlu diputus.

Kritik yang muncul dalam lirik “demi ilusi kau punya kendali” tidak pernah menjadi motif bagi tokoh kedua untuk mengemansipasi dirinya. Jika kendali itu disadari sebagai ilusi, seharusnya ada konsekuensi naratif. Namun konsekuensi itu tidak pernah datang. Lagu ini tetap bertahan di wilayah penangguhan.

Di sinilah pergeseran Dee terasa signifikan. Pada karya-karya sebelumnya, ia tidak berhenti pada diagnosis emosional. Ia mendorong tokohnya mengambil posisi, bahkan ketika posisi itu menyakitkan. Mundur, pergi, menolak, atau mengakhiri. Keputusan selalu menjadi klimaks. Di lagu ini, keputusan justru ditangguhkan tanpa batas.

Penurunan kualitas yang dimaksud di sini bukan terletak pada kemampuan Dee menulis lirik, musikalitas, atau kepekaan membaca isu. Semua itu masih bekerja. Yang berkurang adalah keberanian etik untuk menekan lebih jauh, untuk memaksa cerita berhadapan dengan konsekuensinya sendiri. Dee memilih aman, berhenti di wilayah empati, dan bersikap pasif-agresif sejak dari pemilihan judulnya yang ambigu.

Sebagai nomor perkenalan menuju album mendatang, pilihan ini problematik. Lagu pembuka seharusnya memberi sinyal arah, ketegangan, atau pertaruhan artistik. (Jangan) Jatuh Cinta justru berhenti tepat sebelum risiko dimulai.

Di titik ini, penilaian penurunan kualitas menjadi masuk akal, bukan sebagai vonis mutlak, melainkan sebagai catatan kritis. Dee Lestari masih menulis dengan rapi dan cerdas, tetapi tidak lagi setajam dulu dalam memaksa karyanya mengambil sikap. Lagu ini selesai sebagai teks, tetapi tidak selesai sebagai pernyataan.

Untuk standar Dee Lestari, kemunduran itu terasa nyata.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Sabtu Besok, HIMA Sastra Indonesia UNUD Bahas Buku Puisi ‘Jamuan Malam’ di Denpasar

Redaksi

Menengok Batin Para Pengarang

Ervin Ruhlelana

Tiga Puisi untuk Iryna

Ervin Ruhlelana

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Fanfic Dalam Esensi Kafkaesque

Ervin Ruhlelana
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi