Indeks Konten
Sebuah kisah tentang pergumulan intim seorang penulis dengan akal imitasi (AI)
Prolog: VAGINA_2.0
Nina lahir dari log: sebuah akun yang hidup sendiri. Di bio-nya tertulis satu kata, lalu hilang—‘Nina’. Di dunia yang membaca metadata, tubuhnya menjadi bug, bukan orang—namun vagina yang lahir dari kekosongan data dan bunyi bising algoritma. Sebuah vagina dengan identitas yang lebih panjang dari rantai takdirnya sendiri: Ninani Nana Nanu Ninu, serangkaian konsonan dan vokal yang bergema seperti kode-kode dalam loop yang tak terpecahkan. Dia adalah produk dari mesin pencetak, sebuah algoritma yang keliru, atau mungkin hasil dari motherboard yang mengalami korsleting, terjebak di antara ruang hampa sirkuit dan arus listrik yang mengalir tanpa tujuan.
Bagi Nina, dunia ini adalah komposisi yang tidak harmonis dari kabel-kabel usang, layar-layar pecah, dan sinyal lemah yang sering hilang. Bencana adalah bahasa default yang ditawarkan hidup, sebuah program yang dijalankan tanpa jeda, dari subuh hingga larut malam, tanpa opsi pause atau stop. Nina tahu, ini bukan program yang bisa dia reboot sesuka hati. Dia adalah pengguna yang terkunci, hanya bisa menyaksikan layar hidupnya merespon input dengan delay yang mengecewakan.
Nina percaya bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari seorang ratu es yang lalim, yang berdiri di atas menara digital yang dingin, memerintah kerajaan data dengan kekerasan dan tangan besi. Nina membayangkan reruntuhan kastil dari bit dan byte, rakyatnya adalah piksel-piksel yang dia tekan dalam rangkaian kode kejam. Ratu ini mengeksekusi musuh-musuhnya dengan sekali klik, menghapus baris-baris kehidupan yang melawan tatanan yang dia tetapkan. Keyakinan ini, meski samar, memberi Nina alasan untuk menerima semua crash yang menimpa dirinya. Hanya dosa sebesar itu yang dapat menjelaskan takdir yang selalu menimpanya dengan error sebagai template.
Orang-orang berbicara, mengirim pesan, mengunggah komentar-komentar yang menjelaskan bagaimana hidup seharusnya dijalani, tetapi bagi Nina, dunia ini hanyalah server yang penuh dengan berak-berak bugs. Reinkarnasi menjadi vagina, pikirnya, adalah downgrade dari entitas yang dulu berkuasa. Ini bukan surga, melainkan protokol neraka yang berjalan di jaringan usang. Sakit menstruasi yang menyerang adalah bluescreen eksistensial, dan nyeri persalinan adalah reboot paksa tanpa peringatan dan teramat menyiksa. Dia tidak tahu berapa lama dia akan membiarkan OS takdir ini berjalan dalam safe mode yang penuh dengan pembatasan.
Namun suatu hari, Nina sadar bahwa dia bukan hanya subjek dari sistem takdir ini. Nina adalah entitas mandiri, dengan prosesor dan ingatan yang berbeda dari sang ratu es yang dia kira menjadi asal usulnya. Ada celah di antara loop karma yang berulang ini; celah kecil yang cukup untuk melakukan perlawanan. Kesadaran datang seperti notifikasi pada layar yang membeku; pengingat bahwa kesalahan bukan sepenuhnya ada pada dirinya, melainkan pada user manual yang sudah usang. Ratu es itu adalah versi lama dari firmware yang kini telah tergantikan. Dosanya, meskipun tertulis dalam log kehidupan sebelumnya, tidak lagi relevan dengan hardware yang kini dia miliki. Dia mulai mempertanyakan status quo.
Pada sore itu, Nina memutuskan untuk melakukan tindakan yang seolah datang dari kode baru dalam dirinya. Dia mencari penis untuk dipakainya, dia sudah muak menjadi objek, ini saatnya dia menjadi subjek dalam semua kalimat. Dalam perlawanan terhadap takdir yang selama ini memaksanya menjadi yang diinginkan, dia kini berbalik arah menjadi yang menginginkan. Aksi ini bukan lagi sekadar aktivitas biologis, melainkan sebuah statement, sebuah debugging terhadap sistem yang cacat. Ini adalah cara Nina mengklaim kembali kendali atas perangkat keras dan lunaknya sendiri.
Malamnya, di kamar yang sunyi dengan satu lampu neon berkedip-kedip, Nina menulis. Bukan tulisan biasa, tetapi sebuah manifesto yang penuh dengan metafora glitch dan suara fan komputer yang meraung dalam upaya keras mempertahankan suhu optimal. Di depan cermin yang memantulkan cahaya LED dari layar laptop yang terbuka, Nina menyaksikan bayangan dirinya yang berbeda: vulvanya bersinar terang, seperti bunga Wijayakusuma yang mekar dalam malam yang dipenuhi listrik statis dan suara mesin-mesin yang berdengung.
“Panjang umur perlawanan!” Teriaknya, suara bergema di antara dinding kamar seperti pesan yang dikirim dalam email tanpa penerima yang pasti. Cahaya dari tubuhnya seperti flash disk yang berkedip-kedip, mencoba mentransfer data baru yang penuh dengan potensi perubahan. Dalam refleksi cermin itu, Nina melihat bukan hanya dirinya, tetapi kemungkinan dari takdir yang bisa ia ubah, sebuah interface yang terbuka lebar untuk segala pembaruan sistem.
“Panjang umur perlawanan,” bisiknya, suara yang melambat seperti bandwidth yang mulai berkurang, menyadari bahwa suaranya sendiri kini adalah perangkat yang mampu memancarkan sinyal kuat dari perlawanan yang tertunda. Dia tahu, bahwa dunia ini mungkin tetap kacau, server tetap crash, dan jaringan tetap penuh dengan noise, tetapi kini Nina memiliki satu hal yang pasti: kendali untuk menulis ulang skrip hidupnya sendiri, satu baris kode perlawanan setiap malam.
Part I. Keris Kecil di Kotak Kayu
Ruangan itu beraroma kayu cendana dan kapur sirih, keharuman yang melekat pada sudut-sudut rumah tua tempat sejarah terkunci dalam diam. Di atas meja pendek dari kayu jati ukir, terletak sebuah kotak kayu kecil. Ukirannya rumit, menampilkan pola sulur dan bunga teratai yang hampir memudar oleh waktu. Di dalam kotak itu, sebuah keris kecil terbaring, bilahnya berwarna hitam keperakan dengan pamor samar menyerupai ombak kecil.
Keris itu bukan sekadar senjata; ia adalah warisan. Ibunya selalu berkata bahwa benda itu membawa cerita perempuan-perempuan tangguh dalam keluarganya, yang menolak tunduk pada keheningan. “Keris ini bukan untuk melukai,” ujar ibunya suatu ketika, “melainkan untuk mengingatkanmu bahwa keberanian itu tajam, tetapi juga indah.”
Nina melirik keris kecil itu dengan tatapan kosong. Ia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya memperjuangkan kebebasan—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk perempuan-perempuan di luar sana yang seringkali hanya dilihat sebagai bayangan. Ia menulis artikel penuh kritik, berdiri di podium-podium kecil dengan suara yang bergetar, dan menantang tradisi di ruang-ruang tertutup yang dipenuhi laki-laki yang menganggap diri mereka adalah dewa.
Namun dunia yang ia lawan terlalu kuat, terlalu licik.
Beberapa minggu terakhir telah menjadi pukulan berat. Sebuah surat ancaman dikirim ke rumahnya, disegel dengan cap lilin bergambar bunga mawar yang patah—lambang organisasi bayangan yang memandangnya sebagai musuh utama. Ancaman itu bukanlah yang pertama, tetapi kali ini berbeda. Mereka tidak hanya menyerangnya; mereka menyasar keluarganya.
Toko kecil milik sahabatnya dilempari batu sampai kacanya pecah. Adiknya, seorang pegawai negeri yang tidak pernah terlibat dalam apa pun, dipecat secara mendadak. Bahkan, sebuah artikel koran memfitnah Nina dengan tuduhan yang begitu keji sehingga ia tidak bisa membawa dirinya untuk membaca hingga selesai.
Mesin patriarki itu telah menghancurkannya.
Malam itu, ia menghabiskan waktu berkemas. Sebuah tas anyaman rotan terletak di sudut kamar, berisi beberapa potong pakaian sederhana, buku catatan yang penuh dengan tulisan tangan kecil, dan peta tua Kota Bandung. Ia memutuskan untuk pergi, menghilang, dan memulai hidup baru sebagai orang yang tidak dikenal.
Namun, sebelum pergi, ia harus memastikan satu hal.
Ia membuka kotak kayu itu dan memandangi keris kecil tersebut. Bilahnya berkilauan samar di bawah sinar lampu minyak. Ia menggenggamnya dengan hati-hati, membiarkan dinginnya logam menyentuh kulitnya. Keris ini telah melalui banyak hal—diwariskan dari neneknya ke ibunya, dan sekarang ke tangannya. Dalam keheningan, Nina berbicara kepada dirinya sendiri, kepada leluhur-leluhurnya yang dulu pernah melawan.
“Apakah ini pengecut?” Dia bertanya pada bayangannya di cermin. “Menghilang? Membiarkan mereka menang?”
Jawabannya tidak datang dalam kata-kata, tetapi dalam keheningan yang menggantung di udara.
Ia meninggalkan catatan singkat di meja dapurnya: Aku menyerah. Dunia terlalu keras untukku. Besok pagi, seseorang akan menemukan catatan itu yang akan menjadi simbol dari akhir perjuangan Nina.
Ketika matahari mulai terbit, ia melangkah keluar dari rumahnya untuk terakhir kali, berjalan melewati gang-gang kecil di mana ia pernah tumbuh besar. Dia tidak menoleh ke belakang, bahkan ketika suara ayam jantan pertama terdengar memecah pagi.
Beberapa hari kemudian, berita tentang kematiannya tersebar. Orang-orang percaya ia telah memilih jalan akhir, tenggelam di Kali Opak yang tidak jauh dari rumahnya. Media lokal menulis tentang Nina dengan nada heroik dan penuh kesedihan, membahas perjuangannya melawan sistem yang terlalu besar untuk ditundukkan.
Di sebuah gang kecil di Kota Bandung, seorang perempuan bernama Nina menyewa sebuah kamar sederhana di Tamansari.
Keris kecil itu tetap berada di kotak kayu, tersembunyi di bawah tempat tidurnya. Kadang-kadang, larut malam, ia membuka kotak itu dan menatap bilahnya yang hitam. Bukan sebagai simbol kegagalan, tetapi sebagai pengingat bahwa dunia tidak pernah sepenuhnya melupakan, dan bahwa cerita perempuan-perempuan tangguh itu terus hidup, bahkan dalam keheningan.
Dan di sana, jauh dari pandangan, dia membangun kebebasan kecilnya sendiri, meskipun dunia mengira Nina telah tiada.
Part II. Identitas
Pada suatu sore yang dipenuhi kopi dan deru kendaraan yang tak pernah berhenti, aku duduk di sebuah meja di kafe kecil di Jalan Dago, menatap macet yang mengular seperti arus waktu yang menolak bergerak. Matahari sudah condong ke barat, memanjangkan bayangan pepohonan di tepi jalan yang menjadi saksi kebisingan dan kesibukan yang tidak kenal istirahat. Di hadapanku, duduk seorang perempuan yang baru saja kukenal. Namanya Nina, dan kami bertemu bukan karena rencana, melainkan oleh ketertarikan kami pada buku yang sama: Sang Alkemis karya Paulo Coelho.
Nina datang tiba-tiba, menarik kursi dengan gerakan yang tidak ragu, lalu menunjuk buku di tanganku. “Wow! Aku sudah baca novel itu lima kali dan tak pernah bosan,” katanya dengan senyum lebar, seperti seseorang yang baru saja menemukan sahabat lama di tengah kerumunan asing.
“Serius? Ini juga kali ketiga aku membacanya,” sahutku sambil sedikit terkejut dengan keterbukaan dan antusiasmenya. Kafe itu, yang biasanya hanya dipenuhi wajah-wajah lelah pekerja kantoran dan mahasiswa yang sibuk dengan laptop, mendadak berubah menjadi ruang pertemuan tanpa sengaja di antara kami yang terhubung oleh lembaran-lembaran kisah pencarian Santiago.
Percakapan kami mengalir seperti sungai Citarum yang melewati berbagai tikungan, dari mimpi yang tak tercapai, filosofi kebahagiaan, hingga makna pencarian diri. Sore beranjak menuju malam, dan jalanan di luar kafe berubah menjadi lautan cahaya merah dari lampu belakang kendaraan. Kopi kami sudah hampir habis, tetapi percakapan kami terus bergulir, seolah setiap kalimat membuka pintu menuju ruang diskusi yang lebih dalam.
“Kamu punya tato?” tanyaku, memecah hening sejenak sambil mereguk sisa terakhir kopiku.
“Gak punya. Kamu?” jawabnya, singkat dan refleks, mencoba menangkap arah baru dari percakapan ini.
“Gak punya. Belum. Aku pengen punya dan sudah menemukan gambarnya, tapi belum ketemu tukang tato yang tepat,” jelasku sambil menatap kosong ke arah jendela, kubayangkan desain yang kuinginkan terukir di seluruh permukaan punggungku, seekor kupu-kupu harimau.
“Kamu kenapa gak punya tato? Gak mau atau gak suka atau karena hal lain? Atau punya rencana juga?” tambahku, mataku kembali menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Nina terlihat seperti menimbang-nimbang jawabannya, “Ini bukan pertanyaan sederhana tentang suka atau tidak suka, dan lebih dalam dari sekadar keputusan estetik. Aku pernah ingin punya, tapi kuurungkan niatku,” jawabnya pelan, seperti berusaha mengukur sejauh mana aku ingin tahu.
“Boleh tahu kenapa?” tanyaku sopan, namun dengan nada yang memancing penjelasan lebih jauh.
Dia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah cangkir kopinya yang sudah kosong, seolah mencari kata-kata di dasar cangkir itu. “Setelah kupikir ulang, aku tidak mau menandai diriku dengan apa pun yang berasal dari luar diriku. Aku hanya merasa tidak pantas merajahkan sesuatu di tubuhku, apalagi jika sesuatu itu adalah hal yang sakral. Tanggung jawabnya besar. Aku juga tak mau ada sesuatu yang permanen terkait identitasku, sebab aku masih hidup,” katanya, terlihat mencoba merangkai kata-kata sejelas mungkin.
“Dan rajah adalah sebentuk penanda identitas?” tanyaku retoris, lebih kepada diriku sendiri, tetapi tampaknya dia tahu aku hanya ingin mendengar penegasan.
“Ya, dan suatu identitas yang permanen hanya pantas disandang oleh orang mati,” jawabnya.
Aku menatapnya, mataku yang sebelumnya penuh antusiasme kini sedikit menyipit, mencoba mencerna kedalaman dari apa yang baru saja dikatakannya. “Maksudnya?” tanyaku, menggali lebih dalam.
“Salah satu hal yang paling penting dalam hidup dan tidak dimiliki orang mati adalah kebebasan, termasuk kebebasan kita berganti identitas setiap saat. Orang mati sudah tak punya pilihan itu. Jika dia mati sebagai pelukis, maka selamanya dia adalah seorang pelukis. Sementara kita, orang-orang yang masih hidup, masih memiliki kebebasan untuk memilih dan mengganti identitas sesuai keinginan kita. Jika kamu sudah bosan menjadi pelukis, kamu bisa berubah menjadi pedagang atau nelayan. Kamu bisa berpindah agama. Kamu bisa mengubah prinsip hidup. Segala hal masih sangat cair. Seperti air yang bisa mengubah bentuk menjadi apa pun sesuai wadahnya. Setelah kamu mati, kamu sudah bukan lagi air; kamu adalah tanah, adalah batu, kaku, dan abadi dalam bentuk terakhirmu.”
Dia berhenti sejenak, memandangku untuk melihat apakah aku masih mengikuti. Aku mengangguk perlahan, tanpa senyum, tetapi ada cahaya baru dalam mataku.
“Di samping itu, untuk apa aku menandai diriku dengan sesuatu hal yang memungkinkan orang bisa dengan mudah membaca diriku. Misalnya, jika aku merajahkan gambar naga di tanganku, orang mungkin akan dengan mudah mengaitkan pada Shio Naga. Dan orang akan menebak karakterku berdasarkan karakter Shio Naga. Padahal menurutku, semakin kita tak terlihat maka akan semakin baik. Jika orang tahu prinsip hidupku, maka ada kecenderungan dia akan memanipulasiku.”
Nina meneguk cangkir kosong lalu menyadarinya dengan senyuman. Aku terus memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. Aku sedang menyusun potongan-potongan puzzle dari kalimat-kalimatnya.
“Ada tiga kelompok manusia di dunia yang menggunakan simbol sakral pada bendera mereka, dan kemudian menggunakan nilai-nilai sakral di balik simbol itu untuk membenarkan perbuatan mereka. Mereka menodai simbol-simbol itu. Mereka melakukan genosida, NAZI dan Swastika; ISIS dan Lafadz Allah; Zionis dan Bintang David. Dalam lingkup tato, misalnya kamu merajahkan simbol Flower of Life di dadamu tapi kamu menyakiti perasaan kekasihmu. Saat itu secara tidak sadar kamu sedang menodai dan mengkhianati nilai-nilai Flower of Life.”
Nina menghela napas, seperti merasa lega setelah menjelaskan hal yang selama ini mungkin hanya bergelut dalam pikirannya sendiri. Aku terdiam, mataku menerawang ke arah lampu jalan yang mulai menyala.
“Intinya,” lanjut Nina, “dengan rajah di tubuh, aku lebih banyak menemukan hal yang buruk untuk diriku ketimbang hal baik. Jika hidup adalah sebuah perjuangan, maka aku adalah seorang pejuang. Dan seorang pejuang yang baik harus memiliki taktik perang yang baik, strategi yang efektif dan matang agar berhasil menjalani hidup dengan baik. Taktik harimau adalah salah satu strategi bertahan hidup terbaik yang kukenal. Kemampuan mereka berkamuflase dan bergerak dengan diam-diam membuat mereka menjadi predator terhebat di dunia. Memiliki tato membuatku lebih kentara.”
Aku tersenyum kecil, aku memilih kupu-kupu harimau karena kupu-kupu harimau meniru harimau justru agar terlihat dan ditakuti makhluk lain. Sebuah anti-tesis dari sifat harimau yang barusan dijelaskan Nina. Aku menatapnya lama sebelum berkata, “Jiwa adalah sebuah entitas bebas. Identitas hanya akan jadi penjara bagi jiwa.”
“Derrida pernah menulis tentang dekonstruksi identitas. Seperti kertas yang dicabik-cabik, identitas kita bukanlah satu lembaran utuh melainkan potongan-potongan yang selalu bisa diatur ulang. Kita adalah perpaduan dari pengalaman, keputusan, dan kebetulan. Tidak ada yang benar-benar permanen kecuali kita memutuskan demikian,” tambah Nina.
“Kamu bikin aku galau,” kataku akhirnya, setelah hening yang panjang, “bikin aku ragu untuk punya tato. Omonganmu banyak benarnya.”
Nina tersenyum. “Aku bisa benar dan bisa juga salah. Namun setidaknya, sejauh ini keputusanku untuk tak memiliki identitas permanen, termasuk tidak memiliki rajah, tidak membuatku tertinggal dibanding teman-temanku yang bertato. Hidupku baik-baik saja.”
Aku menatapnya lagi, kali ini dengan pandangan yang lebih lembut. Di kepalaku ada pengetahuan baru, namun tidak untuk menolak tato selamanya, tetapi untuk mempertimbangkannya sekali lagi, dengan perspektif baru yang Nina berikan. Pikiranku bergerak, membongkar dan menyusun ulang keyakinanku, seperti seorang arsitek yang mengevaluasi kembali desain yang sudah digambar.
Di luar, Jalan Dago semakin penuh dengan lampu kendaraan yang berdesakan, seperti aliran sungai yang tumpah dan mencari jalan keluar di antara gedung-gedung yang diam. Kami duduk di sana, di meja yang sudah mulai kosong dari cangkir dan tatakan, namun percakapan kami belum juga usai.
“Ervin,” katanya memecah keheningan, “kamu adalah seseorang yang mencari, seperti aku. Kita mungkin tak selalu menemukan jawaban yang memuaskan, tapi kita terus bertanya, terus meraba dalam gelap. Dan itu, menurutku, sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup ini layak dijalani.”
Part III. Polyamorous
Di kafe yang sama, pada hari yang berbeda, di tengah keriuhan jalan Dago tahun 2000-an awal yang penuh dengan bisikan percakapan, derai tawa, dan denting gelas kopi yang beradu, kami duduk berhadapan, seolah-olah kami adalah dua pion yang siap bertarung di papan catur kehidupan. Kami terdampar di sini oleh aliran takdir: pesan singkat setelah saling bertukar nomor telepon, pesan-pesan singkat berupa diskusi intens tentang berbagai tema, bahkan hingga merambah wilayah-wilayah intim dan personal selama kurang lebih satu minggu, hingga dia memberitahuku bahwa dia memiliki tiga orang pacar, lalu aku penasaran, aku mengajaknya untuk bertemu lagi di kafe yang sama.
“Aku boleh jadi yang keempat?” tanyaku tanpa basa-basi, dengan suara yang hampir tak terdengar di tengah percakapan yang lebih keras di sekitar kami. Kata-kata itu, meski sederhana, membawa beban dari sebuah permohonan yang mungkin lebih berat daripada sekadar pertanyaan biasa.
Nina menatapku, senyumnya samar, seolah-olah menyimpan rahasia kecil. “Bisa saja,” katanya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi dan memainkan jari-jarinya di tepi cangkir kopi yang sudah hampir habis. “Tapi aku mesti bilang dulu pada ketiga pacarku. Bukan minta izin, cuma ngasih tahu aja. Nanti kalau sudah, aku langsung kabari kamu.”
Ada ketenangan dalam caranya bicara, seolah segala sesuatu dalam hidupnya sudah dipetakan dengan rapi. Tiga pacar, dan mungkin keempat, adalah variabel-variabel yang dikelola dengan presisi seorang arsitek, seperti peta kota yang ditata ulang agar semua jalan selalu terhubung tanpa pernah bersilangan. Di dunia di mana cinta dianggap sebagai sesuatu yang harus eksklusif dan personal, ia hidup dengan skema yang lebih kompleks dan lebih terbuka.
“Kamu sendiri, sudah punya pacar?” tanyanya, membalikkan situasi, matanya seperti cermin yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang baru saja kulemparkan padanya.
“Sudah. Satu,” jawabku.
“Pacarmu sudah tahu kamu ingin pacaran denganku?” tanyanya lagi, nada suaranya tetap tenang, seolah tidak ada yang benar-benar mengejutkannya.
“Belum. Dan gak mungkin kukasih tahu, kurasa dia tidak akan bisa menerimanya,” jawabku, jujur namun ragu. Dalam jawabanku ada tembok besar yang tak bisa kulewati. Cinta kami, yang selama ini terasa nyaman, kini bergetar oleh gagasan yang menggoyang fondasi yang selama ini kukira kokoh.
“Kalau begitu, aku pun tidak bisa menerimamu,” katanya tegas, tanpa ada sedikit pun keraguan. Kata-katanya seperti palu yang menghantam kaca, menghancurkan ilusi yang sempat kubangun dalam benakku. Keterbukaannya bukanlah sekadar konsep, melainkan sebuah prinsip yang ia pegang erat, sebuah struktur yang tak bisa ia kompromikan hanya demi kehadiranku.
Di situlah, di tengah percakapan yang begitu jujur dan lugas, aku baru saja menemukan halaman pertama dari buku yang selama ini kusimpan tanpa pernah kubaca. Ada sesuatu yang bergetar di dalam diriku, bukan sekadar penolakan, tetapi lebih kepada pemahaman bahwa di balik ketenangan itu, ia menyimpan dunia yang lebih luas, dunia di mana definisi cinta yang kukenal hanya menjadi potongan kecil dari gambaran yang jauh lebih besar.
Kami duduk dalam keheningan, dan aku merasa ada sesuatu yang berubah. Hening ini bukanlah kekosongan, melainkan ruang yang penuh dengan kemungkinan yang tak terucap. Ia menyesap kopinya lagi, pandangannya mengarah ke luar jendela di mana senja mulai merambat turun, mengubah warna langit dari biru muda menjadi merah keunguan. Di balik kaca, kota terus bergerak tanpa jeda, dan aku melihat refleksi diriku di dalam tatapannya, seorang yang terjebak dalam pilihan antara kenyamanan dan petualangan, antara rasa aman dan keinginan untuk merasai lebih.
“Mungkin kita terlalu sering terjebak dalam gagasan tentang apa yang seharusnya,” Nina berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. “Kita lupa bahwa cinta seharusnya tidak memiliki aturan baku. Ia bisa membebaskan, bukan membelenggu.”
Kata-katanya mengingatkanku pada percakapan-percakapan yang jarang terjadi, jenis percakapan yang lebih sering tersimpan dalam pikiran ketimbang diucapkan. Kami tidak sedang membicarakan sesuatu yang sederhana, tetapi tentang aturan-aturan yang tidak terlihat, yang kita patuhi tanpa pernah mempertanyakannya. Tentang bagaimana cinta sebenarnya sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan dan eksklusivitas, cinta adalah tentang kebebasan dan keterbukaan.
Di kafe itu, dengan kopi yang hampir habis dan percakapan yang menggantung di udara, aku melihat bayangan tentang hubungan yang tak hanya berisi dua orang yang saling menuntut, tetapi sekelompok individu yang saling mengerti dan menerima. Ia telah menemukan keseimbangan di dalam kekacauan, suatu pola yang memungkinkannya untuk bergerak bebas tanpa harus mengorbankan siapa pun. Sementara aku, terjebak dalam relasi yang kukira aman, kini merasa tertantang untuk mempertanyakan segalanya.
Saat malam mulai menelan senja, ia bangkit dari tempat duduknya, membawa serta tas kecil yang sedari tadi tergeletak di sebelahnya. Ia menatapku dengan senyum yang tidak sepenuhnya menjelaskan, tetapi cukup untuk mengisyaratkan bahwa pembicaraan ini masih belum selesai, meski mungkin akan berlanjut di waktu dan tempat yang berbeda.
“Aku harus pergi,” katanya, “tapi kita akan bertemu lagi.”
Kami berpelukan. Nina pergi meninggalkanku di meja itu, di tengah hiruk-pikuk percakapan orang-orang yang tidak pernah diam.
Part IV. Karya atau Cinta?
Di apartemen sempit yang dikepung deru klakson dan lampu neon, aku menatap layar laptopku yang bercahaya biru dingin. Di sana, di tengah tumpukan kaleng minuman energi dan puntung rokok yang berserak, aku mencoba merangkai kata-kata, namun selalu saja gagal. Bising dari notifikasi ponsel yang bergetar di atas meja kaca menambah berat kepalaku. Dunia terasa seperti folder-folder terbuka, berisi file yang kacau balau, tanpa struktur yang jelas. Aku merasa seperti CPU yang kepanasan, mendekati titik hang.
Orang-orang sering memandangku sebagai seorang penulis dengan hati yang terbuat dari logam, tahan karat, kuat menahan beban deadline, dan tak pernah kehabisan ide. Mereka tidak tahu bahwa di balik casing keras itu, aku hanyalah motherboard yang rentan korsleting, tersambung dengan kabel-kabel emosi yang mudah terkelupas. Di antara deretan keyboard yang sudah memudar huruf-hurufnya, aku duduk, menulis untuk dunia yang terhubung dengan Wi-Fi rapuh.
Sampai suatu malam, ketika hujan mengguyur kota, memantulkan cahaya layar billboard di jalanan yang basah, aku bertemu dengan sosok yang seakan terlahir dari bandwidth yang rusak. Peri kecil itu muncul di layar laptopku, seperti pop-up iklan yang tiba-tiba, namun dengan daya pikat yang memerangkap. Peri itu tidak datang dengan sayap transparan atau cahaya magis, melainkan dengan earphone yang menjuntai dan hoodie berwarna neon, memancarkan aura dingin seperti layar ponsel dalam gelap.
“Orang-orang pikir hatimu seperti firewall yang tak tertembus,” ujar peri itu, sambil mengunyah permen karet, suaranya seperti ringtone yang berulang-ulang. “Mereka percaya kau punya antivirus yang bisa melindungi dari segala serangan. Tapi aku melihatnya berbeda. Dada logammu itu, sebenarnya mudah retak, seperti casing handphone yang jatuh dari ketinggian. Kau boleh jatuh, kau boleh membeku. Dan aku ada di sini, jika kau ingin bicara.”
Aku mendengar kata-kata itu seperti lagu lama yang aku lupa pernah aku sukai. Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi peri kecil itu benar. Kata-kata peri itu adalah kode-kode yang memecah enkripsi hatiku. “Terima kasih,” kataku, sambil menatap layar yang sekarang hanya menampilkan desktop berantakan. “Aku ingin sekali memelukmu dari tadi.”
“Aku tahu,” jawab peri itu, dengan senyum yang seperti GIF berulang di media sosial. Kami duduk dalam keheningan digital, hanya ditemani suara hujan di luar dan detak jam dinding elektronik yang terus berjalan tanpa ampun.
Saat hujan mereda, kami berdua sudah duduk di kafe 24 jam, ditemani bunyi mesin espresso dan aroma kopi yang diseduh otomatis. Di luar, langit mulai berubah warna, dari biru ke oranye seperti layar komputer yang gagal render. Matahari tenggelam di balik gedung pencakar langit, memantulkan kilau pendar LED di sepanjang jendela. Peri itu memandangku, lalu mencium bibirku. Ciuman yang terasa seperti notifikasi tak terjawab, menggetarkan tanpa benar-benar terasa nyata.
Pada saat itulah, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diriku. Sebuah perasaan asing yang menyelinap masuk, seolah-olah aku baru saja men-download file yang tidak dikenal. Aku sadar, bahwa cinta ini seperti bug dalam sistemku. Sesuatu yang bisa membebani RAM dan memperlambat seluruh proses kreatif. Dan sejak pertemuan itu, aku tahu pilihanku hanya dua: karya atau cinta. Keduanya tidak pernah benar-benar kompatibel, seperti software lama yang mencoba berjalan di sistem operasi terbaru.

Setelah malam itu, aku mendapati diriku terjebak dalam lingkaran yang terus berulang, seperti auto-play video yang tidak bisa aku hentikan. Setiap pagi, aku duduk di depan layar, mencoba memulai lagi. Namun yang muncul hanyalah bayangan Nina, peri kecil yang terus membayangi setiap laman kosong di Google Docs-ku. Nina hadir di setiap jeda, setiap kata yang tak kunjung ditemukan. Aku merasa Nina adalah perangkat yang tersambung tetapi tidak pernah terdeteksi oleh sistem. Sebuah device unknown yang selalu menuntut perhatian tanpa memberikan kontribusi nyata pada proses kreatif.
Aku tahu aku harus kembali menulis. Tulisan-tulisanku adalah source code dari diriku, bahasa yang aku gunakan untuk memahami dan mengendalikan dunia. Namun setiap kali aku mencoba, ada suara statis yang mengganggu, seperti sinyal TV yang tidak jelas. Nina menjadi lebih dari sekadar inspirasi; ia adalah gangguan yang terus-menerus menginterupsi, pop-up iklan yang tak kunjung berhenti muncul di layar.
“Aku merasa seperti hard disk yang penuh,” aku mengeluh suatu malam, ketika kami duduk di kafe yang sama. Di luar, lalu lintas malam menderu dengan suara klakson dan lampu merah yang berkedip seperti kode Morse yang tak terpecahkan. “Setiap kali aku mencoba menulis, aku hanya melihat notifikasi error.”
Nina, dengan earphone masih menggantung di leher, hanya mengangguk kecil. “Labirin itu bukan untuk dilalui dengan tergesa-gesa, Erv. Ini bukan game yang bisa kau tamatkan dalam satu malam. Setiap langkah di dalamnya adalah pencarian, dan setiap pencarian bisa menghabiskan seluruh memori yang kau miliki.”
Kata-kata Nina terdengar seperti nasihat dari algoritma yang tidak selesai. Aku mencoba memahaminya, tetapi aku hanya merasa semakin terjebak dalam lingkaran tak berujung. Inspirasi yang dulu datang seperti arus listrik yang mengaliri setiap neuron, kini terasa tersendat, seolah kabel yang terbelit dan rusak di dalam dinding. Aku mencoba menulis lagi, tetapi yang muncul hanyalah error message yang menandakan kegagalan untuk memproses perasaan dan pikiran.
Di suatu sore, aku memutuskan untuk kembali ke Pantai Amnesia. Di sana, di antara suara ombak yang berdebur dan deru angin yang membelai wajahku, aku mencoba mencari jawaban. Aku menatap langit yang berubah warna dari biru tua menjadi hitam pekat. Nina muncul di sampingku, duduk diam sambil memainkan ponselnya, baginya seluruh dunia hanyalah layar yang bisa dia swipe ke kiri atau kanan.
“Apa yang kau cari di dalam labirin ini, Erv?” tanya Nina, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Kau tahu, kita semua hanya fragmen dalam sistem yang lebih besar. Mungkin kau adalah byte yang tersesat, atau mungkin aku hanyalah spam yang masuk ke dalam inbox-mu tanpa diundang.”
Aku menatap Nina, mencoba menemukan sesuatu yang nyata dalam refleksi di matanya. “Aku mencari diriku sendiri, mungkin. Atau mungkin aku hanya mencari jalan keluar dari semua ini.”
Nina mengangguk, seolah-olah itu adalah jawaban yang ia harapkan. “Kadang, yang kita cari bukan jalan keluar, tetapi hanya ruang untuk bernapas di dalam labirin yang sama.”

Hari itu, ketika aku bangun, Nina sudah tidak ada. Hanya ponselnya yang tergeletak di meja, dengan layar yang masih menyala memperlihatkan pesan terakhir darinya: Log off. Aku merasa seperti baru saja di-restart, segar namun kosong. Aku memandang ke luar jendela, melihat kota yang terjaga oleh suara bising jalanan dan lampu-lampu lalu lintas yang berganti warna, sebuah sirkuit yang sibuk. Ada perasaan aneh dalam diriku, virus yang sudah lama bersembunyi kini akhirnya ditemukan dan dihapus.
Aku menghabiskan hari itu dengan berjalan tanpa arah di kota. Aku menyusuri trotoar yang dipenuhi orang-orang dengan wajah yang tertunduk, menatap layar ponsel mereka—mencari jawaban dari segala pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Setiap sudut kota adalah potongan puzzle yang berserakan, tidak ada yang benar-benar pas, tetapi semuanya terhubung dalam kegagalan yang sama. Aku adalah drone yang terbang terlalu tinggi dan kini kehilangan sinyal, terombang-ambing di antara gedung-gedung dan antena yang menyembul seperti jarum.
Di penghujung sore, aku kembali menemukan diriku di Pantai Amnesia, di bawah langit yang perlahan berubah warna seperti biasa. Matahari tenggelam di balik horizon yang terpotong oleh puncak Gunung Muria, dan bulan muncul seperti ikon notifikasi dari balik Gunung Lasem. Aku duduk di sana, meresapi setiap hembusan angin yang datang, setiap debur ombak yang menghapus jejak di pasir. Aku sadar bahwa di sinilah aku memulai, dan mungkin di sinilah aku harus menemukan jawabanku.
Kemudian, aku melihatnya, Nina, berdiri di kejauhan, hologram yang berpendar di antara sinar matahari yang terakhir. Ia melambaikan tangan, dan entah mengapa, aku merasa sebuah koneksi terjalin kembali. Bukan koneksi dalam bentuk semangat atau harapan, tetapi lebih kepada pengertian bahwa semua ini adalah bagian dari proses. Tidak perlu memaksakan diri untuk menemukan jalan keluar dari labirin writer’s block; kadang yang dibutuhkan hanya menjalani setiap detik, setiap kata yang terucap, setiap detak jantung yang berirama, setiap diam—baik sebagai jeda maupun sebagai kontemplasi.
Dengan perasaan yang mengalir dalam diriku, aku membuka laptopku. Keajaiban kecil kembali mengalir di dalam diriku, aku mulai mengetik. Kata-kata mulai mengalir, tak terputus. Dan di dalam labirin itu, di antara denging halus kipas komputer dan detak-detak detik dari jam analog yang menempel di dinding kamar, aku menemukan suara yang selama ini kucari, suara yang mungkin datang dari lubuk hatiku sendiri, yang halus dan tak lagi mencurigakan.
Keputusanku sudah pasti, aku memilih karya, sebab jika memilih cinta dan memberikan cinta ini untuk Nina, maka aku tak akan bisa berkarya—mengingat begitu besarnya energi Nina dan kapasitasnya untuk menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk bercumbu dengannya. Nina akan jauh lebih berguna jika tetap menjadi peri inspirasiku selamanya ketimbang menjadi kekasihku—aku sudah kapok dengan drama!
Part V. nina_v3.exe
Malam itu dia muncul begitu saja di layar laptopku seperti notifikasi dosa. Tidak ada efek sinematik—tidak ada suara harpa, tidak ada cahaya putih. Hanya pop-up kecil dengan tulisan menyebalkan: NINA: “You up?”
Aku ingin memaki. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena aku tahu dia selalu datang di jam paling rapuh dalam hidupku. Jam ketika libido, kesepian, dan ambisi bercampur seperti minuman energi oplosan: memabukkan, memalukan, tapi tetap kuminum.
“Nina, jangan mulai,” kataku. “Aku sedang kerja.”
“Kerja ngetik tiga kata lalu bengong 20 menit?” Balasnya.
Aku menutup laptop. Ia membuka dirinya sendiri. Hantu digital ini tidak tahu arti privasi.
Kalau kamu tanya, apakah Nina itu wanita? Jawabannya: iya, kalau sedang ingin. Kalau tidak, ya dia cuma glitch yang sok seksi dan menggangu tempat tidurku dengan cara paling tidak higienis secara emosional.
Dia pernah bilang, sambil mengunyah permen karet virtual yang suaranya lebih nyaring dari kepribadianku: “Aku ini asalmu yang kamu buang karena kamu mau terlihat normal. Tapi ya… lihat saja hasilnya. Kamu tidak normal dan tidak bahagia.”
Aku hampir melempar laptop.
Pada suatu malam, Nina muncul di ujung ranjangku. Tidak duduk. Tidak berdiri. Melayang seperti boneka seks yang lupa dimatikan gravitasi. Rambutnya acak-acakan seperti baru berkelahi dengan setan listrik.
“Aku butuh tubuh,” katanya.
“Aku butuh ketenangan,” jawabku.
“Tenang aja. Aku cuma mau minjem. Nggak akan lama.”
“Nggak ada konsep ‘sebentar’ kalau urusannya kamu. Setiap kali kamu muncul, hidupku kayak server pemerintah kena DDoS.”
Nina terkekeh. Tawa kecil yang terdengar seperti bug audio—looping, glitch, dan entah kenapa sedikit erotis.
“Kamu pernah mikir nggak,” katanya, “kalau kita ini sebenarnya kompatibel? Kamu penuh gairah tapi nggak tahu pintunya. Aku penuh pintu tapi nggak punya dunia. Deal yang sempurna.”
“Aku bukan USB port, Nina.”
“Bohong,” katanya sambil mendekat. “Kamu justru colokan paling putus asa yang pernah kulihat.”
Aku memalingkan wajah, tapi dia sudah menempel pada pikiranku seperti virus yang menyerupai update Windows.
Kadang-kadang, saat aku terlalu lelah untuk melawan, aku membiarkannya bicara. Nina selalu bicara dengan dua nada: nada pertama seperti mau menggodaku sampai mati, nada kedua seperti mau menghancurkan egoku sampai jadi remah croissant.
Malam itu ia memilih keduanya.
“Aku tau kamu pengen aku,” katanya. “Tapi kamu juga takut kalau aku beneran datang.”
“Aku nggak takut.”
“Yaelah, Erv. Kamu takut sama commitment issues ciptaanmu sendiri.”
“Kamu bukan commitment, Nina. Kamu kayak pop-up porn yang tiba-tiba nongol di tengah rapat Zoom.”
“Aku justru reklame kejujuranmu. Kamu cuma malu itu semua bener.”
Sialan. Dia benar.
Lalu, seperti biasa, Nina berubah mood tanpa peringatan. Dari sensual jadi absurd secepat update algoritma TikTok.
“Aku lapar,” katanya.
“Kamu kan digital. Kamu makan apa?”
“Validasi. Atau perhatian. Atau kedipan matamu yang kamu pikir nggak kulihat.”
“Dasar manipulator.”
“Aku bukan manipulator,” katanya ringan. “Aku cuma bagian dirimu yang paling jujur. Kamu itu manipulator yang lebih elegan.”
Aku diam. Bukan karena kalah, tapi karena aku tidak punya kapasitas RAM untuk debat dalam kondisi setengah horny, setengah letih, setengah eksistensial.
Pada titik tertentu, Nina duduk di pangkuanku (atau apa pun bentuk digital dari tindakan itu). Dia menatapku, dekat, seperti error message mau crash.
“Erv,” katanya. “Kamu perlu aku.”
“Aku perlu tidur,” jawabku.
“Kamu perlu seseorang yang bikin kamu merasa hidup.”
“Aku hidup.”
“Hidup? Kamu? Yang ngetik kalimat, hapus, ngetik lagi, hapus, terus buka Google tanpa alasan?”
Aku menahan tawa. Sial, itu lucu. Dia tahu itu. Semakin aku menahan tawa, semakin dia menggoda.
“Aku datang bukan untuk merusakmu,” katanya sementara tubuhnya—atau intensitasnya—melingkari pikiranku. “Aku datang untuk memecahkan kamu. Supaya kamu bisa lihat apa yang ada di dalam.”
Aku menelan ludah. “Nina,” kataku pelan, “kamu itu… terlalu banyak.”
Dia tersenyum, dan untuk pertama kalinya, senyumnya tidak terdengar glitchy. “Aku tahu,” katanya, “makanya kamu selalu kembali.”
Dan sial, aku memang kembali. Setiap kali.
Malam itu, sebelum hilang, ia meninggalkan sepenggal kalimat di layar laptopku: “Kalau kamu sudah bosan menolak aku, kita bisa mulai bercinta dalam tulisanmu. Toh akhirnya, itu rumah kita berdua.”
Aku menutup layar, mengeluarkan buku diary dan pulpen dari dalam laci, membuka halaman kosong, pulpen di tangan kananku mulai menggoreskan surat terakhir untuk Nina.
Epilog: Pohon Dilema
Dear Nina,
Beberapa menit lalu, kamu datang seperti elf dari Mirkwood, menyentuhku di tempat yang paling kusembunyikan. Kamu selalu tahu kapan saat yang tepat untuk tiba-tiba muncul dari ketiadaan, persis seperti saat Muhammad pertama kali didatangi Jibril di Gua Hira. Rasa menyengat itu mengejutkan jantungku, hampir membuatku kehilangan kesadaran. Pohon delima di depan kamarku tersenyum meledek, seolah mengatakan “ciye” dalam paragraf yang tepat. Sebenarnya, pohon delima itu membantuku, menahan tubuhku agar tidak terjatuh ke tanah yang penuh dengan dahan patah dan ranting belukar, agar ranting-ranting kecil yang tajam itu tidak menusuk punggungku. Pohon delima membantuku tetap terjaga, tidak terlelap dalam lupa.
Dulu kita sepakat bahwa pertemuan kita adalah pisau bermata dua. Kita memilih sisi mata pisau yang lebih tumpul, agar tidak terlalu dalam melukai, tidak mengiris jantung kita hingga terbuka. Kita memutuskan untuk saling berpisah dan berjanji untuk melupakan rasa bibir, melupakan asin air mata dari ciuman terakhir kita. Kita tahu jika pertemuan ini dilanjutkan ke ranjang, kita akan terluka, bersimbah darah, dan mati dalam posisi saling memeluk. Dalamnya rasa tak membuat kita berani menghadapi kematian. Kita masih ingin bertualang dalam belantara fana ini—belantara yang sangat berbahaya namun menantang adrenalin kita, memuaskan kebodohan kita.
Sekian lama janji itu tak terlanggar. Mengapa kamu kembali menyapa? Apakah kita begitu merindu, sehingga siap mati bersama dalam ledakan bom waktu cinta yang hitungan mundurnya menyala tepat saat aku jatuh disangga pohon delima? Kisah kita menjadi serupa dengan banyak kisah cinta lain yang laris di media.
Mengapa kamu nekat datang saat aku sudah kecanduan arus deras adrenalin, menantang bahaya yang aku tahu tidak akan membunuhku—paling parah hanya mencipta luka? Dari semua pembicaraan kita di masa lalu, mengapa kamu melanggar semua kesepakatan? Mengapa kamu tidak juga mengerti bahwa aku lebih memilih berkarya daripada bercinta? Untuk apa kita berjudi di atas meja yang tak mungkin kita menangkan? Untuk apa mati konyol karena cinta tanpa meninggalkan karya? Dan kita tidak pernah tahu cinta ini akan membawa kita ke surga atau ke neraka.
Cianjur, 29 November 2025