Denpasastra.net

Belajar Stoikisme Melalui ‘Ya Sudahlah’ Karya Bondan Prakoso & Fade 2 Black

‘Ya Sudahlah’ tidak pernah datang sebagai ajaran filsafat.

Tidak ada istilah, tidak ada konsep, tidak ada klaim kebijaksanaan. Tapi justru di situ letaknya uniknya. Ia bekerja tanpa perlu dikenali.

Stoik hari ini hadir sebagai tren. Dikutip, diringkas dan dibagikan. Dipopulerkan di Indonesia lewat figur seperti Henry Manampiring di buku Filosofi Teras (2018) dan Ferry Irwandi di hmmm channel YouTube-nya, ia jadi bahasa yang eksplisit.

‘Ya Sudahlah’ sendiri dirilis pada 2010 karya orisinil Bondan Prakoso & Fade2Black. Ia hadir di fase ketika pop Indonesia mulai menyederhanakan narasi personal (sambil membawa nama besar Bondan sebagai musisi cilik) tanpa kehilangan daya jangkaunya.

Maka saat liriknya berkata ‘ketika mimpimu tak pernah terwujud, ya sudahlah’, saya tidak menangkap adanya ajakan untuk bangkit dan tidak ada glorifikasi proses. Yang muncul adalah penerimaan: berhenti melawan hal yang memang tidak bisa diubah.

Di titik ini, ‘Ya Sudahlah’ bersinggungan dengan inti filsafat stoik: kemampuan membedakan mana yang berada dalam kendali dan mana yang tidak.

Yang juga menjadi catatan saya, lagu ini menambahkan lapisan tambahan atas pemikiran kaum stoa. Terutama pada bagian lirik ‘Ku kan selalu ada untukmu’ yang menempatkan ketenangan bukan hanya pada diri individual, tapi pada relasi komunal.

Dalam stoik klasik, relasi memang ada dan tetap penting, tapi ia diletakkan dalam kerangka kewajiban rasional. Di sinilah makna kehadiran relasi komunal menjadi relevan.

Hasilnya bukan stoik yang murni, tapi adaptasi kultural. Prinsip penerimaan tetap ada, tapi dibungkus dengan empati, kedekatan dan bahasa sehari-hari.

Toh fenomena ngetrend-nya stoik di anak muda hari ini menunjukkan kebutuhan yang sama: menjadi stabil di tengah hal yang tidak terkendali. Yang berbeda hanya cara masuknya saja. Yang satu lewat konsep dan pembelajaran. Yang satu lagu lewat budaya populer dan pengulangan.

Baca Juga  Morbid Monke: Anomali Sonik dari Denpasar

Lagu ini memang bukan stoik yang utuh. Tapi cukup untuk membuat seseorang tidak runtuh.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

Siapa Aku, Kamu, dan Kita di Album Rimpang: Membongkar Pronomina versi ERK

Preman Laut

Tersesat di Bali Bersama Palm Theory

Preman Laut

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

Nelayan Pantai Sanur: Pengingat Karma yang Salah Alamat

Preman Laut
Resensi

Belajar Stoikisme Melalui ‘Ya Sudahlah’ Karya Bondan Prakoso & Fade 2 Black

‘Ya Sudahlah’ tidak pernah datang sebagai ajaran filsafat.

Tidak ada istilah, tidak ada konsep, tidak ada klaim kebijaksanaan. Tapi justru di situ letaknya uniknya. Ia bekerja tanpa perlu dikenali.

Stoik hari ini hadir sebagai tren. Dikutip, diringkas dan dibagikan. Dipopulerkan di Indonesia lewat figur seperti Henry Manampiring di buku Filosofi Teras (2018) dan Ferry Irwandi di hmmm channel YouTube-nya, ia jadi bahasa yang eksplisit.

‘Ya Sudahlah’ sendiri dirilis pada 2010 karya orisinil Bondan Prakoso & Fade2Black. Ia hadir di fase ketika pop Indonesia mulai menyederhanakan narasi personal (sambil membawa nama besar Bondan sebagai musisi cilik) tanpa kehilangan daya jangkaunya.

Maka saat liriknya berkata ‘ketika mimpimu tak pernah terwujud, ya sudahlah’, saya tidak menangkap adanya ajakan untuk bangkit dan tidak ada glorifikasi proses. Yang muncul adalah penerimaan: berhenti melawan hal yang memang tidak bisa diubah.

Di titik ini, ‘Ya Sudahlah’ bersinggungan dengan inti filsafat stoik: kemampuan membedakan mana yang berada dalam kendali dan mana yang tidak.

Yang juga menjadi catatan saya, lagu ini menambahkan lapisan tambahan atas pemikiran kaum stoa. Terutama pada bagian lirik ‘Ku kan selalu ada untukmu’ yang menempatkan ketenangan bukan hanya pada diri individual, tapi pada relasi komunal.

Dalam stoik klasik, relasi memang ada dan tetap penting, tapi ia diletakkan dalam kerangka kewajiban rasional. Di sinilah makna kehadiran relasi komunal menjadi relevan.

Hasilnya bukan stoik yang murni, tapi adaptasi kultural. Prinsip penerimaan tetap ada, tapi dibungkus dengan empati, kedekatan dan bahasa sehari-hari.

Toh fenomena ngetrend-nya stoik di anak muda hari ini menunjukkan kebutuhan yang sama: menjadi stabil di tengah hal yang tidak terkendali. Yang berbeda hanya cara masuknya saja. Yang satu lewat konsep dan pembelajaran. Yang satu lagu lewat budaya populer dan pengulangan.

Baca Juga  Makna Lagu Posesif Naif Berubah karena Videoklip: Tafsir Lirik dan Identitas

Lagu ini memang bukan stoik yang utuh. Tapi cukup untuk membuat seseorang tidak runtuh.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Apakah Bread & Circus Menandai Kedewasaan Politik The SIGIT?

Ihsan Jarot

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Pemberontakan Jinak Slank Karena ‘Terlalu Manis’

Preman Laut

Kosong (1996): Lagu Pure Saturday yang Menyimpan Trauma Akhir Orde Baru

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi