Ada mitos yang sangat bertahan lama dalam dunia sastra: bahwa sebuah karya lahir dari individu yang otonom, sunyi, dan nyaris terpisah dari dunia. Penulis dibayangkan sebagai sumber tunggal makna, sebuah pusat kesadaran yang menurunkan kata-kata langsung dari dalam dirinya sendiri. Mitos ini terdengar romantis. Tapi justru di sanalah masalahnya.
Kreativitas individual, dalam praktiknya, hampir selalu merupakan ilusi yang kita pelihara bersama.
Padahal setiap tulisan berdiri di atas bahasa yang tidak diciptakan penulisnya. Setiap kalimat membawa jejak struktur gramatika, metafora usang, konvensi genre, dan ingatan kolektif yang jauh lebih tua daripada si penulis itu sendiri. Bahkan ketika seseorang merasa sedang “menemukan suara sendiri”, yang sebenarnya terjadi sering kali adalah proses menyaring, mengulang, menolak, atau menggeser suara-suara lain yang sudah lebih dulu menetap di kepalanya.
Namun industri kreatif, terutama sastra sangat membutuhkan narasi individu. Nama penulis dijadikan merek. Orisinalitas dijadikan nilai jual. Proses kolektif disederhanakan menjadi kisah personal: bakat, kejeniusan, keunikan. Cerita ini mudah dipasarkan, mudah dirayakan, dan mudah dipahami. Ia memberi wajah pada karya, dan wajah lebih mudah diingat daripada proses.
Masalahnya, ketika kreativitas terus-menerus dipahami sebagai prestasi individual, kita mulai mengabaikan kondisi yang memungkinkan karya itu ada. Kita jarang membicarakan ekosistem bacaan, pendidikan bahasa, kerja editorial, relasi sosial, bahkan kebetulan historis yang membentuk sebuah tulisan. Sastra direduksi menjadi ekspresi diri, bukan hasil interaksi panjang antara individu dan dunia.
Di titik ini, ilusi kreativitas individual tidak hanya menyesatkan, tapi juga politis. Ia mengalihkan perhatian dari struktur. Ketika sebuah karya dianggap murni lahir dari “kemampuan pribadi”, kegagalan pun dibaca sebagai kegagalan personal. Bukan kegagalan sistem distribusi, bukan kemiskinan ruang kritik, bukan timpangnya akses, melainkan kurangnya bakat atau usaha. Narasi ini sangat rapi. Terlalu rapi.
Teknologi kontemporer memperumit persoalan ini. Di satu sisi, ia membongkar mitos individualitas karena kini semakin jelas bahwa tulisan dipengaruhi oleh data, algoritma, dan pola yang berulang. Di sisi lain, teknologi justru memperkuat branding individu. Profil, akun, dan persona kreator menjadi semakin penting. Kreativitas tetap dipersonalisasi, meskipun prosesnya makin kolektif dan terdistribusi.
Dalam konteks ini, pertanyaan tentang orisinalitas menjadi semakin kabur. Bukan karena orisinalitas tidak penting, tetapi karena ia sering dipahami secara sempit: sebagai kebaruan mutlak, bukan sebagai cara unik mengolah warisan bersama. Padahal, dalam sejarah sastra, yang disebut “orisinal” hampir selalu lahir dari pembacaan yang intens, pengaruh yang disadari, dan dialog panjang dengan tradisi.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan apakah sebuah karya benar-benar orisinal, melainkan: relasi apa yang ia bangun dengan yang lain. Dengan teks sebelumnya. Dengan pembaca. Dengan konteks sosialnya. Dengan bahasa yang digunakannya. Kreativitas, dalam pengertian ini, bukan soal berdiri sendiri, melainkan soal posisi di mana seseorang berdiri dalam jaringan makna yang sudah ada.
Dengan membongkar ilusi kreativitas individual, sastra tidak kehilangan martabatnya. Justru sebaliknya. Ia kembali menjadi praktik yang jujur: kerja kognitif dan etis yang selalu melibatkan lebih dari satu suara. Penulis tidak lenyap, tetapi ditempatkan secara lebih proporsional: ia bukan sebagai pusat semesta, melainkan sebagai simpul sementara dalam arus panjang bahasa dan pengalaman manusia.
Dan mungkin, dari sanalah sastra bisa kembali dibaca bukan sebagai monumen ego, melainkan sebagai percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.
