Denpasastra.net

Angga Wijaya Terbitkan Buku Kumpulan Esai Terbaru ‘Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi’

Penulis dan esais asal Bali, Angga Wijaya, resmi menerbitkan buku esai terbarunya berjudul ‘Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi’. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi dan memuat kumpulan esai reflektif yang berangkat dari pengalaman keseharian, relasi sosial, serta pengamatan penulis terhadap perubahan sosial di Bali.

Dalam buku ini, Angga menjadikan beranda kos sebagai titik pijak narasi. Ruang tersebut diposisikan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang sosial tempat percakapan, gosip, prasangka, dan konflik kecil tumbuh dan berkelindan. Melalui esai-esainya, Angga membaca kehidupan urban dari jarak dekat, dengan fokus pada relasi antarindividu, ingatan personal, dan dinamika sosial yang kerap luput dari perhatian.

Sebagian besar esai dalam buku ini sebelumnya pernah terbit di media daring, sementara sebagian lainnya ditulis khusus untuk buku. Seluruhnya disusun sebagai satu kesatuan narasi yang menyoroti tema-tema seperti relasi keluarga, konflik sosial, identitas, kesehatan mental, serta perubahan nilai dalam masyarakat Bali kontemporer.

Dalam pengantarnya, Angga menyebut menulis esai sebagai upaya merawat ingatan dan menghadirkan refleksi atas realitas yang ia jumpai sehari-hari. Buku ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan membuka ruang pemahaman atas kegelisahan-kegelisahan yang muncul dalam kehidupan bersama.

Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, penerbit independen berbasis di Bali yang konsisten menerbitkan karya sastra dan esai reflektif. Buku setebal 148 halaman ini tersedia melalui program pra-pesan pada 3–18 Januari 2026 dengan harga khusus Rp55.000 dari harga normal Rp70.000.

Angga Wijaya. Kredit foto oleh Rofiki Hasan

Tentang Angga Wijaya

Angga Wijaya adalah penyair, esais, dan jurnalis kelahiran Negara, Jembrana, Bali. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan belasan buku puisi dan esai.

Baca Juga  Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Karya-karyanya banyak mengangkat isu sosial, budaya, dan kemanusiaan dengan pendekatan reflektif yang berangkat dari pengalaman personal dan pengamatan atas kehidupan sehari-hari.

 

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Ada yang Baru di Denpasastra: Kolom Mingguan ‘Kerumitan Sastra’

Preman Laut

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Fragmen dalam Sastra Eksperimental

Ervin Ruhlelana

Tan Lioe Ie Terbitkan Dua Buku Baru di Bawah Ladang Publishing: ‘Tubuh yang Tak Patuh Seluruh’ dan ‘Sekolah Tikus’

Redaksi

Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Preman Laut
Berita

Angga Wijaya Terbitkan Buku Kumpulan Esai Terbaru ‘Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi’

Penulis dan esais asal Bali, Angga Wijaya, resmi menerbitkan buku esai terbarunya berjudul ‘Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi’. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi dan memuat kumpulan esai reflektif yang berangkat dari pengalaman keseharian, relasi sosial, serta pengamatan penulis terhadap perubahan sosial di Bali.

Dalam buku ini, Angga menjadikan beranda kos sebagai titik pijak narasi. Ruang tersebut diposisikan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang sosial tempat percakapan, gosip, prasangka, dan konflik kecil tumbuh dan berkelindan. Melalui esai-esainya, Angga membaca kehidupan urban dari jarak dekat, dengan fokus pada relasi antarindividu, ingatan personal, dan dinamika sosial yang kerap luput dari perhatian.

Sebagian besar esai dalam buku ini sebelumnya pernah terbit di media daring, sementara sebagian lainnya ditulis khusus untuk buku. Seluruhnya disusun sebagai satu kesatuan narasi yang menyoroti tema-tema seperti relasi keluarga, konflik sosial, identitas, kesehatan mental, serta perubahan nilai dalam masyarakat Bali kontemporer.

Dalam pengantarnya, Angga menyebut menulis esai sebagai upaya merawat ingatan dan menghadirkan refleksi atas realitas yang ia jumpai sehari-hari. Buku ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan membuka ruang pemahaman atas kegelisahan-kegelisahan yang muncul dalam kehidupan bersama.

Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, penerbit independen berbasis di Bali yang konsisten menerbitkan karya sastra dan esai reflektif. Buku setebal 148 halaman ini tersedia melalui program pra-pesan pada 3–18 Januari 2026 dengan harga khusus Rp55.000 dari harga normal Rp70.000.

Angga Wijaya. Kredit foto oleh Rofiki Hasan

Tentang Angga Wijaya

Angga Wijaya adalah penyair, esais, dan jurnalis kelahiran Negara, Jembrana, Bali. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan belasan buku puisi dan esai.

Baca Juga  Fragmen dalam Sastra Eksperimental

Karya-karyanya banyak mengangkat isu sosial, budaya, dan kemanusiaan dengan pendekatan reflektif yang berangkat dari pengalaman personal dan pengamatan atas kehidupan sehari-hari.

 

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Godaan Berahi dari Seorang Peri Inspirasi

Ervin Ruhlelana

Komunitas Mahima Konsisten Gelar Rabu Puisi, Tegaskan Singaraja Sebagai Ibukota Puisi di Bali

Redaksi

Fanfic Dalam Esensi Borgesian

Ervin Ruhlelana

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi