Debut single Nelayan Pantai Sanur milik Reiten Drei dirilis di saat yang pas: beberapa hari sebelum penutupan RipCurl Cup Padang-Padang 2025. Atmosfer surf rock terasa kembali menggema seiring ombak, papan selancar, dan romantisme pantai sudah sejak lama jadi bahan bakar budaya pop di Pulau Dewata.
Namun, Reiten Drei, kugiran pendatang baru asal Kota Bekasi ini memilih jalur berbeda. Alih-alih merayakan matahari dan gairah liburan, mereka membawa nada gelap tentang nelayan congkak, simbol spiritual, dan karma. Sebuah langkah berani, tapi juga rawan salah baca.
Secara musikal, Reiten Drei tampil menjanjikan. Riff gitar berderu seperti ombak menghantam karang, bass hangat dan drum bergelora menancapkan fondasi energik, sementara sentuhan synth memberi nuansa muram yang jarang hadir di surf rock. Vokal rendah Ijlal Zein Ahza menyampaikan cerita dengan nada tegang tapi terkendali. Hasilnya: ironi halus. Musiknya ceria, tapi kisah yang dibawakan mengandung ketegangan moral. Ada tekstur, ada energi, ada potensi besar.
Masalah muncul ketika masuk ke wilayah lirik. Reiten Drei memakai kata-kata seperti ‘jimat’, ‘setan’, dan ‘dosa’ sebagai premis cerita. Pilihan diksi ini terasa aneh dalam konteks Sanur. Kosmologi Bali tidak mengenal ‘dosa’ ala Abrahamistik, melainkan papa atau karma buruk. ‘Setan’ juga lebih sering disebut bhuta atau leak. Sementara ‘jimat’ biasanya merujuk pada pusaka ritual, bukan benda magis sembarangan. Singkatnya, tiga kata ini adalah impor budaya yang ditempelkan begitu saja, dan ketika dijadikan dasar cerita tentang karma, hasilnya lebih komikal daripada kritis.
Akibatnya, tokoh nelayan congkak yang ditampilkan dalam lagu pun melenceng. Faktanya, nelayan Sanur hidup sangat dekat dengan ritus laut dan upacara adat. Mereka bukan simbol keserakahan. Kalaupun Reiten Drei ingin menghadirkan kritik sosial, seharusnya arah tembakannya lebih tepat ditujukan kepada reklamasi area Sanur sejak era Orde Baru misalnya. Tepatnya reklamasi pantai Serangan yang mengubah lanskap pesisir Bali bagian timur ke selatan. Semua hal tersebut kelak jadi bahan bakar gerakan Tolak Reklamasi Benoa yang menjadi puncak persinggungan nyata anara nelayan, kebudayaan pesisir, dan kelestrian lingkungan sekaligus.
Di titik ini lah, lagu Nelayan Pantai Sanur jatuh sebagai ‘kritik palsu’, bak lipstik yang menempelkan simbolisme sederhana tanpa menggali konteks lokal. Band ini seolah terburu-buru menuliskan Bali, cepat mengambil kesimpulan, enggan melihat lebih dalam. Padahal, dengan riset yang lebih matang, mereka bisa meramu cerita yang benar-benar menghantam, bukan sekadar menabrakkan kata-kata religius dengan latar eksotis.
Tetap saja, debut ini layak diapresiasi. Dari sisi musik, Reiten Drei berhasil menghadirkan surf rock yang segar: klasik tapi modern, enerjik sekaligus atmosferik. Dari sisi keberanian, mereka tak takut keluar dari pakem ‘pantai riang’ yang biasanya jadi pakem surf rock. Potensi itu nyata. Tinggal bagaimana ke depan mereka mengasah imajinasi, menajamkan kritik, dan menempatkan simbolisme dengan akurasi kultural.
Surf rock tak pernah sekadar soal gitar berderu atau pantai bersinar. Ia juga bisa menjadi ruang kritik, seperti punk yang tumbuh dari lorong sempit kota. Reiten Drei sudah mengambil langkah pertama ke arah itu, meski kali ini alamat kritiknya nyasar. Semoga di rilisan berikutnya, mereka lebih jeli memilih siapa sebenarnya yang pantas diingatkan karma.