Denpasastra.net

Resensi Lagu

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Banjir bandang, hutan gundul, hingga polusi kota telah lama jadi inspirasi musisi menulis lagu tentang krisis alam.

Dari Ebiet G. Ade, Efek Rumah Kaca, Navicula, hingga Hindia, alam digambarkan kian terluka dan manusia jadi pihak yang bertanggung jawab atasnya. Tema ini hampir selalu dibingkai dalam suasana fear mongering, di mana musik menjadi alarm sosial untuk menekan kebijakan agar lebih ramah lingkungan.

Namun dalam praktik politik yang dikuasai kepentingan oligarkis, kebijakan diambil lewat kalkulasi ekonomi yang kompleks dan berlapis. Logika angka, investasi, dan stabilitas sering mengalahkan logika etika. Kritik boleh keras, kampanye boleh viral, tetapi keputusan tetap tunduk pada jaringan kepentingan yang sulit ditembus.

Wajar bila gerakan iklim kerap jalan di tempat. Alih-alih jadi alarm, slogan seperti “No Music On Dead Planet” terdengar seperti nubuat.

Di tengah lanskap itu, lagu Restoe Boemi dalam album Terbaik Terbaik karya Dewa 19 bisa ditafsirkan ulang sedang mengambil arah berbeda. Lagu ini sendiri secara resmi diciptakan oleh Erwin Prasetya, figur yang sering berada di belakang sorotan ketika orang membicarakan kreativitas Dewa 19.

“Sewangi bunga mawar tubuhmu
Menghampar di permadani
Mengetuk hasrat ’tuk menjamah
Surgamu.”

Bait ini bisa dibaca sebagai metafora hasrat manusia mengeksploitasi alam. Tubuh hadir sebagai lanskap; keindahan memancing kepemilikan.

Namun kemudian muncul koreksi.

“Kuyakinkan restu bumi.”

Di sini hasrat diuji. Bumi bukan korban, melainkan pemberi legitimasi. Lalu pada “Sucikan dari debu dunia” konflik itu menyentuh akar krisis: ego dan keserakahan manusia.

Pilihan kata Restoe dengan ejaan lama juga memberi nuansa arkais, seolah-olah kalimat yang diucapkan bukan sekadar lirik pop 1990-an melainkan semacam mantra. Lagu ini tidak berbicara tentang kebakaran hutan atau banjir secara langsung, tetapi menyentuh lapisan yang lebih mendasar: relasi manusia dengan alam yang menopangnya.

Baca Juga  Music Celebration 2026 Digelar di Antida Sound Garden, Perayaan Musik Awal Tahun Kembali Berlangsung

Secara musikal, teknik dua vokal dilantunkan berbarengan: falsetto Ari Lasso dan bariton Ahmad Dhani digarap apik berlapis, memberi kesan dialog antara dorongan dan kesadaran.

Jangan salah sangka dulu, saya pribadi tetap berpandangan bahwa kritik kebijakan dan fear mongering itu perlu. Tetapi boleh jadi itu belum cukup jika tidak disertai perubahan cara kita memosisikan diri terhadap alam.

Mungkin “mencari restu bumi” bukan sekadar ritual simbolik seperti upacara sebelum sawah digarap, melainkan kesediaan memberi batas pada hasrat sendiri.

Tanpa kesadaran itu, eksploitasi ala oligarki akan terus berjalan dalam bentuk yang lebih sumir dan lebih rapi.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Menelan Kehampaan: Kritik Konsumerisme ala Leipzig di Lagu ‘Fokus Dina Parab’

Justin Gabriel Ritonga

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut
Resensi

Resensi Lagu

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Banjir bandang, hutan gundul, hingga polusi kota telah lama jadi inspirasi musisi menulis lagu tentang krisis alam.

Dari Ebiet G. Ade, Efek Rumah Kaca, Navicula, hingga Hindia, alam digambarkan kian terluka dan manusia jadi pihak yang bertanggung jawab atasnya. Tema ini hampir selalu dibingkai dalam suasana fear mongering, di mana musik menjadi alarm sosial untuk menekan kebijakan agar lebih ramah lingkungan.

Namun dalam praktik politik yang dikuasai kepentingan oligarkis, kebijakan diambil lewat kalkulasi ekonomi yang kompleks dan berlapis. Logika angka, investasi, dan stabilitas sering mengalahkan logika etika. Kritik boleh keras, kampanye boleh viral, tetapi keputusan tetap tunduk pada jaringan kepentingan yang sulit ditembus.

Wajar bila gerakan iklim kerap jalan di tempat. Alih-alih jadi alarm, slogan seperti “No Music On Dead Planet” terdengar seperti nubuat.

Di tengah lanskap itu, lagu Restoe Boemi dalam album Terbaik Terbaik karya Dewa 19 bisa ditafsirkan ulang sedang mengambil arah berbeda. Lagu ini sendiri secara resmi diciptakan oleh Erwin Prasetya, figur yang sering berada di belakang sorotan ketika orang membicarakan kreativitas Dewa 19.

“Sewangi bunga mawar tubuhmu
Menghampar di permadani
Mengetuk hasrat ’tuk menjamah
Surgamu.”

Bait ini bisa dibaca sebagai metafora hasrat manusia mengeksploitasi alam. Tubuh hadir sebagai lanskap; keindahan memancing kepemilikan.

Namun kemudian muncul koreksi.

“Kuyakinkan restu bumi.”

Di sini hasrat diuji. Bumi bukan korban, melainkan pemberi legitimasi. Lalu pada “Sucikan dari debu dunia” konflik itu menyentuh akar krisis: ego dan keserakahan manusia.

Pilihan kata Restoe dengan ejaan lama juga memberi nuansa arkais, seolah-olah kalimat yang diucapkan bukan sekadar lirik pop 1990-an melainkan semacam mantra. Lagu ini tidak berbicara tentang kebakaran hutan atau banjir secara langsung, tetapi menyentuh lapisan yang lebih mendasar: relasi manusia dengan alam yang menopangnya.

Baca Juga  Kosong (1996): Lagu Pure Saturday yang Menyimpan Trauma Akhir Orde Baru

Secara musikal, teknik dua vokal dilantunkan berbarengan: falsetto Ari Lasso dan bariton Ahmad Dhani digarap apik berlapis, memberi kesan dialog antara dorongan dan kesadaran.

Jangan salah sangka dulu, saya pribadi tetap berpandangan bahwa kritik kebijakan dan fear mongering itu perlu. Tetapi boleh jadi itu belum cukup jika tidak disertai perubahan cara kita memosisikan diri terhadap alam.

Mungkin “mencari restu bumi” bukan sekadar ritual simbolik seperti upacara sebelum sawah digarap, melainkan kesediaan memberi batas pada hasrat sendiri.

Tanpa kesadaran itu, eksploitasi ala oligarki akan terus berjalan dalam bentuk yang lebih sumir dan lebih rapi.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Redaksi

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Rekomendasi Tiga Rilisan Musik Pekan Ini: Feral Stripes, Microbot dan Catur Hari Wijaya

Preman Laut

Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru ‘Semakin Jauh’

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi