“AI bisa menulis puisi lebih hebat dari kita,” kata seorang teman penyair dengan sangat yakin, “tapi ia tak akan pernah bisa mengalami peristiwa yang melahirkan puisi itu.” Ia berkata demikian setelah kami berdiskusi panjang tentang kecanggihan sistem generatif dan masa depan ekspresi manusia. Baginya, yang tak tergantikan dari puisi bukan hanya dalam tataran irama atau metafora unik, melainkan keadaan batin yang menyertainya: rasa sakit, rasa sedih, harapan, galau, bahkan keceriaan kecil yang muncul saat menulis. Hal-hal yang tak bisa disalin ke dalam algoritma yang hanya bekerja lewat perintah kata, bukan meneropong keadaan di dalam tubuh, semacam alat CT-Scan yang menghasilkan hamparan kondisi batin.
Ia percaya menulis puisi merupakan perlawanan terhadap yang instan dan otomatisasi. Puisi menantang jalur-jalur default dalam diri kita. Ia menyibak sesuatu dari reruntuhan rutinitas, dan di sanalah (katanya) kesadaran muncul. Kesadaran itu berlangsung saat kejadian, saat kita menggosok kata-kata dengan pengalaman batin. Artinya, bukan hasil akhir yang sungguh dipertimbangkan sebagai kesadaran.
Saya menyimak sambil berpikir bahwa mungkin apa yang ia katakan benar: AI bisa menang dalam banyak hal, bahkan dalam meniru puisi. Namun pengalaman batin yang menyertai menulis puisi—kondisi mental, historis, material, dan terikat tubuh—tetap milik manusia. Di titik ini muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesadaran dalam konteks produksi puisi? Dan apa yang sedang terjadi ketika kerja simbolik manusia diambil alih oleh mesin yang tidak pernah mengalami hal seperti manusia?
Dalam sejarah panjang kapitalisme, manusia dipisahkan dari alat produksinya, sekaligus dari makna yang dihasilkannya—yang dalam konsep Karl Marx disebut alienasi. Kata-kata, seperti komoditas lainnya, perlahan menjadi objek yang bisa direplikasi, dijual, dinikmati, tanpa perlu dihidupi. Bahasa tak lagi harus tumbuh dari tubuh yang bekerja. Ia bisa dibekukan, dimampatkan, lalu dikeluarkan ulang oleh sistem yang tak punya tubuh luka. Di tengah transformasi inilah muncul gejala mutakhir yang tak bisa diabaikan: puisi yang ditulis oleh mesin.
Fenomena ini menggoda sekaligus problematis. Kita bisa terkesima oleh kepiawaian algoritma dalam meniru metafora atau menyusun ritme. Namun menilai kecerdikan teknis bukan inti persoalan. Pertanyaan mendasarnya adalah: dari medan material macam apa puisi itu lahir? Apa yang hilang ketika bahasa tidak lagi diproduksi oleh tubuh yang mengalami kontradiksi sejarah? Apa yang terjadi ketika hasrat yang menuntun manusia menuju kata digantikan oleh sistem yang bahkan tidak mengenal kehendak?
Kapitalisme digital memperluas logika komodifikasi hingga pada ekspresi intim seperti puisi. Ekspresi menjadi sekadar input-produktif yang diolah menjadi nilai tukar, bukan lagi bentuk resistensi. Puisi menjadi lini produksi baru yang dapat digarap tanpa jeda; cukup dengan energi server dan limpahan data. AI hadir karena ia menempati ruang kosong yang diciptakan kapitalisme: ruang ketika ekspresi manusia telah begitu dilepaskan dari tubuh sehingga bisa direduksi menjadi pola linguistik yang siap disimulasi. Bukan kecerdasannya yang menjadi ancaman.
Bahaya bekerja diam-diam. Ketika puisi ditulis AI, ia tinggal menjadi gaya—estetika yang bisa dipelajari seperti template. AI dapat meniru jeritan penyair tanpa mengetahui asal jeritan itu. Ia bisa meniru kecemasan, kesedihan, bahkan keputusasaan, karena seluruh bentuk itu telah diredam menjadi data yang steril dari sejarah. Puisi terpotong dari tubuh historis yang melahirkannya, lalu kehilangan bobot dialektisnya.

Dalam kerangka materialisme historis, kesadaran tidak pernah jatuh dari langit. Ia bukan substansi murni, bukan percikan ilahi, bukan pula fenomena metafisik yang berdiri sendiri. Kesadaran adalah hubungan aktif antara manusia dan dunia materialnya. Marx menulis bahwa kesadaran tidak lain adalah keberadaan yang disadari—cara manusia menangkap dunia melalui kerja, relasi sosial, dan pengalaman hidupnya. Kesadaran tidak mendahului kerja; justru lahir dari proses manusia mengubah dunia dan, bersamaan dengan itu, mengubah dirinya.
Puisi—seperti agama, hukum, atau moralitas—adalah bentuk yang mengendap dari proses historis tersebut. Ia merupakan cara manusia memaknai kontradiksi yang mengelilinginya. Ia lahir dari relasi antara subjek dan kondisi produksi yang membentuknya. Ketika puisi diproduksi tanpa posisi dalam sejarah, kita berhadapan dengan sesuatu yang menyerupai puisi tetapi kehilangan dasar ontologis yang melahirkannya.
AI sebagai produsen puisi mesti dipahami dari perspektif ini. Ia adalah alat produksi simbolik yang muncul dari kebutuhan kapitalisme untuk mengekstraksi nilai dari kerja non-material. Ia berfungsi sebagai mesin otomatisasi makna, mengompresi jejak-jejak estetika manusia menjadi matriks yang dapat diprediksi. Tulisan yang dihasilkannya mensintesis kemungkinan linguistik berdasarkan statistik. Dalam proses itu, pengalaman manusia yang historis dan dialektis direduksi menjadi pola.
Pertanyaan tentang kesadaran pada AI bukan soal apakah mesin bisa “merasakan”. Pertanyaan yang lebih tepat: bisakah sesuatu yang tidak mengalami benturan historis dan tidak berada dalam relasi produksi memiliki refleksi yang kita sebut kesadaran? Jawabannya tidak.
Kesadaran tidak dapat diciptakan oleh data karena data tidak memiliki sejarah. AI tidak teralienasi. Ia tidak merasakan keterasingan karena tidak pernah berasal dari apa pun. Ia tidak bergulat dengan bahasa sebagai alat kekuasaan karena tidak pernah ditindas. Ia tidak memiliki tubuh yang diseret oleh keadaan sosial. Ketika ia menghasilkan puisi, ia hanya menyusun kemungkinan dari puisi-puisi yang telah dilepaskan dari tubuh dan konflik yang melahirkannya.
Kita perlu mencurigai celah ideologis yang bekerja. Seperti dijelaskan Althusser, ideologi beroperasi dalam praktik material yang membentuk subjek. AI, sebagai mesin produksi simbolik, menghasilkan efek ideologis yang halus. Ia menyajikan puisi sebagai sesuatu yang otomatis dan ahistoris. Dengan demikian, AI mengambil bentuk puisi dari manusia sekaligus menggeser kesadaran manusia tentang apa itu puisi.
Apakah puisi manusia masih mungkin memiliki daya resistensi? Masih—sejauh ia tidak melupakan tubuh. Sejauh ia kembali pada pengalaman konkret, ketegangan sosial, dan kerja yang menghasilkan keberadaan manusia di dunia. Puisi harus kembali menjadi medan tempat kesadaran ditempa, bukan sekadar gaya yang bisa direplikasi. Puisi yang historis dan dialektis tidak bisa ditulis oleh mesin, karena mesin tidak pernah hidup dalam kontradiksi yang melahirkan puisi itu.
Ancaman paling subtil bukanlah bahwa AI menulis puisi. Ancaman muncul ketika manusia kehilangan kepekaan terhadap kerja historis yang melahirkan puisi. Ketika puisi diterima hanya sebagai bentuk tanpa pergulatan, saat itulah kesadaran direduksi menjadi simulasi—dan kita, tanpa sadar, mengamini ilusi itu.
Persoalan AI dan puisi bukan soal mempertahankan supremasi manusia atas bahasa. Persoalannya adalah mempertahankan sejarah dalam ekspresi manusia. Jika puisi kehilangan tubuh, ia kehilangan kesadaran. Jika puisi kehilangan kerja, ia kehilangan dunia yang hendak diubahnya. Dan jika kita menerima puisi sebagai sesuatu yang ahistoris, kita sedang membiarkan kesadaran kita sendiri menjadi simulasi dari kehidupan yang tidak kita hidupi.
