Bali pernah menjadi fantasi nasional tentang definisi pulau surgawi lewat lagu populer Indonesia era 1990-an. Dalam lagu-lagu tersebut, Bali hadir sebagai ruang liburan, romansa kisah cinta, dan jeda dari himpitan kehidupan kota besar.
Fantasi ini bekerja dengan baik karena Bali diposisikan terutama sebagai tujuan pelesir. Ia dibayangkan sebagai ruang pengalaman yang terbuka untuk diakses siapa saja, sejauh memiliki cukup uang, waktu, dan kesempatan. Dalam kerangka ini, Bali tidak dituntut untuk menjelaskan dirinya. Ia cukup hadir sebagai tempat yang bisa dinikmati.
Perlu dicatat sejak awal, Bali memang telah lama menginspirasikan banyak seniman dan musisi dalam berkarya. Kehadirannya dalam lagu-lagu populer Indonesia tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman personal, perjumpaan emosional, dan daya tarik yang nyata. Dalam konteks ini, lagu-lagu tentang Bali bekerja sebagai ekspresi rasa dan ingatan, bukan sebagai upaya merepresentasikan sebuah ruang secara utuh.
Berangkat dari ingatan masa kecil di Jakarta, saya menemukan setidaknya ada tiga lagu populer Indonesia yang melekat kuat dalam muscle memory. Ketiganya secara eksplisit menyebut Bali dan pada masanya didengar oleh banyak pendengar di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus merajai tangga lagu ibu kota. Dari sanalah terbentuk satu cara pandang populer tentang Bali, yang bergerak sebagai puja-puji dari sudut pandang luar melalui industri musik arus utama.
Tiga lagu yang dibaca ulang dalam naskah ini adalah:
- Slank – Bali Bagus
- Andre Hehanusa – Kuta Bali
- Maribeth – Denpasar Moon
Naskah ini tidak ditulis untuk merayakan romantisme masa lalu tentang bagaimana Bali digadang-gadang. Yang ingin saya lakukan adalah menelusuri pola objektifikasi yang bekerja di balik penulisan lirik-lirik tersebut, sekaligus membaca ulang relevansinya ketika dihadapkan pada kondisi Bali hari ini.
Dari Suksesnya ‘Kampungan’ ke Kosongnya Denpasar
Sebelum masuk ke pembacaan ulang lagu pertama yakni Bali Bagus, penting menempatkan lagu ini dalam lintasan karier Slank pada awal 1990-an. Melejit sejak album debut Suit-Suit… He-He (Gadis Sexy), Slank mendobrak dominasi lagu-lagu pop cengeng lewat racikan blues, hard rock, dan rock and roll beraroma ibukota. Lirik-liriknya yang ringan, nakal, dan emosional segera diganjar kesuksesan komersial.
Berada dekat puncak kreativitas inilah Bali Bagus kemungkinan besar ditulis. Lagu ini lahir bukan dari posisi tertekan atau marjinal, melainkan dari momentum keberhasilan. Ia muncul ketika Slank telah menemukan audiensnya, merasakan efek popularitas, dan memiliki jarak yang cukup untuk membayangkan Bali sebagai ruang pelepasan dari ritme kota serta industri musik yang sedang mereka hidupi.
Dalam Bali Bagus, relasi antara subjek dan Bali sejak awal dibangun melalui bahasa apresiasi.
“Terima kasih Baliku untuk budaya dan alammu
Terima kasih untuk cantik gadismu
Dan kerasnya arak Balimu”
Bali diringkas sebagai kumpulan kualitas yang menyenangkan. Budaya, alam, tubuh perempuan, dan konsumsi alkohol disusun sejajar sebagai daftar daya tarik. Tidak ada situasi sosial yang dibangun, tidak ada keseharian yang dihadirkan. Bali tampil sebagai ruang yang memberi kenikmatan, bukan sebagai ruang yang dijelaskan atau dialami secara kompleks.
Relasi ini dipertegas melalui perbandingan dengan kehidupan kota asal subjek.
“Sejenak lupakan sesakku hadapi egonya
Hidup di kota Jakarta yang penuh aturan”
Jakarta hadir sebagai sumber tekanan, sementara Bali berfungsi sebagai ruang pelepasan. Identitas Bali dibentuk secara relasional, sebagai antitesis dari kota besar yang mengekang. Ia hadir untuk menampung kelelahan yang berasal dari tempat lain.
Dalam konstruksi ini, Bali tidak diberi kesempatan untuk berbicara tentang dirinya. Ia menjadi latar yang siap diisi oleh kebutuhan emosional subjek. Bali tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak memiliki konflik. Ia hadir sebagai tempat aman yang bisa didatangi, lalu ditinggalkan kembali.
Jika Bali Bagus menempatkan Bali sebagai ruang pelepasan, maka Kuta Bali yang dibawakan Andre Hehanusa bergerak dengan pendekatan yang berbeda.
“Di pasir putih kau genggam jemari tanganku
Menatap mentari yang tenggelam”
Kuta muncul sebagai latar intim bagi relasi dua individu. Pantai dan matahari senja berfungsi sebagai properti emosional yang mengiringi kisah cinta. Kota tidak digambarkan sebagai ruang sosial dengan aktivitas dan kehidupan yang berlapis, melainkan sebagai bingkai perasaan yang sangat personal.
Pengulangan pada bagian reff memperjelas posisi tersebut.
“Di Kuta Bali cinta kita
Bersemi dan entah kapan kembali”
Kuta diperlakukan sebagai penanda memori. Ia dilekatkan pada satu momen romantik yang ingin diingat dan dipertahankan. Kota dibekukan sebagai nostalgia, tanpa ruang bagi perubahan, keberlanjutan, atau kehidupan di luar kisah tersebut.
Pada titik ini, Bali tetap hadir sebagai latar. Bedanya, pada Slank ia menjadi ruang pelepasan, sementara pada Andre Hehanusa ia menjadi ruang penyimpan kenangan cinta. Keduanya sama-sama tidak menempatkan Bali sebagai ruang hidup yang memiliki dinamika sendiri.
Yang justru paling menarik adalah Denpasar Moon yang dibawakan Maribeth. Lagu ini menyebut nama kota secara eksplisit, tetapi justru menghadirkannya dalam bentuk yang paling kosong.
“Denpasar moon
Shining on an empty street
I returned to the place we used to meet”
Frasa empty street menjadi kunci. Denpasar dibayangkan sebagai ruang yang lengang, sunyi, dan personal. Kota hadir sebagai suasana, bukan sebagai ruang urban dengan kepadatan, aktivitas, atau relasi sosial. Pengosongan ini kemudian ditegaskan kembali.
“But you were gone, there was no one
You had vanished with my dreams”
Yang menonjol bukan Denpasar sebagai kota, melainkan perasaan kehilangan. Kota berfungsi sebagai wadah emosi, sebagai latar absennya seseorang. Denpasar tidak hadir sebagai ruang hidup yang bekerja, melainkan sebagai sisa memori yang telah ditinggalkan.
Jika dibaca bersama, ketiga lagu ini memperlihatkan satu pola yang konsisten. Bali diperlakukan sebagai ruang pengalaman yang siap diisi oleh perasaan, kenangan, dan jeda. Ia hadir sebagai tempat pelarian, nostalgia, dan kesunyian, tanpa dituntut untuk berbicara tentang dirinya sendiri.

Ada paradoks yang sulit dihindari ketika lagu-lagu ini didengarkan hari ini. Bali Bagus merayakan Bali sebagai ruang pelepasan, tempat segala sesak kota bisa ditanggalkan. Tetapi Bali justru menanggung beban dari hasrat pelepasan itu sendiri. Yang datang untuk bernapas, beristirahat, dan melarikan diri, perlahan meninggalkan residu. Bali menjadi ruang jeda bagi banyak orang, tetapi jarang diberi jeda untuk dirinya sendiri.
Di titik ini, friksi ruang mulai terasa. Bukan semata antara yang lokal dan yang datang, melainkan antara Bali sebagai ruang hidup dan Bali sebagai ruang konsumsi. Dalam percakapan sehari-hari, istilah nak luar muncul bukan hanya sebagai penanda asal, tetapi sebagai cara menamai tekanan yang datang dari luar ritme lokal. Ini bukan soal siapa berasal dari mana, melainkan soal siapa yang menentukan arah hidup sebuah ruang.
Kondisi ini terasa paling gamblang ketika membayangkan ulang Kuta Bali. Lagu itu bekerja dengan citra pasir putih, genggaman tangan, dan matahari tenggelam. Namun Kuta hari ini adalah kawasan yang padat, bising, dan bergumul dengan persoalan sampah. Membayangkan Andre Hehanusa menyanyikan lagu itu di tengah tumpukan plastik, lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti, dan sisa pesta malam sebelumnya, terasa janggal. Bukan karena lagunya keliru, melainkan karena ruang yang dinyanyikan telah berubah jauh dari citra yang diwariskan.
Hal serupa terjadi pada Denpasar Moon. Lagu ini membayangkan Denpasar sebagai jalan kosong yang sunyi. Padahal Denpasar hari ini justru ditandai oleh kemacetan, kepadatan, dan ritme kota yang nyaris tanpa jeda. Jalan kosong dalam lagu itu terdengar seperti memori yang tidak lagi memiliki padanan di kenyataan. Yang ada bukan kota yang sepi, melainkan kota yang lelah.
Catatan ini tidak dimaksudkan untuk mengoreksi lagu-lagu tersebut atau menuntut mereka menyesuaikan diri dengan kondisi hari ini. Lagu-lagu itu lahir dari konteksnya masing-masing dan bekerja dengan sangat baik pada zamannya. Yang berubah adalah ruang yang terus dinyanyikan itu sendiri.
Bali terus hadir sebagai lagu, sebagai kenangan, dan sebagai citra. Tetapi sebagai ruang hidup, ia harus menanggung konsekuensi dari imajinasi yang terlalu lama ditempatkan dari luar.
Bali terus dinyanyikan, tetapi sebagai ruang hidup, ia nyaris tak pernah diberi suara dalam industri musik arus utama di Indonesia.
