Denpasastra.net

'Kerumitan Sastra' - Edisi 11

Peta Harta Karun

Waktu aku baru bisa lancar baca, Lima Sekawan menjahit kisah pertama di benakku; Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy menggandengku dari pagar tanaman ke rumah reyot, dari teh sore ke mulut gua yang bergema. Setiap petualangan adalah pelajaran kejutan geometri: selalu ada tikungan yang tak kau duga, dan di balik tikungan itu ada sesuatu yang mengatur ulang sisa harimu. Pelajaran itu kubawa seperti perabot moral: membuatku alergi pada kerapihan palsu; jadwal yang merataratakan posibilitas, kalender yang sok meramalkan kebahagiaan sebelum sempat menjadi. Rutinitas: terlalu terjadwal dan mudah ditebak. Membosankan!

Bagiku hidup ini masih menarik dan layak dijalani justru karena misterinya. Tanpa misteri, hidup rasanya seperti stasiun kereta tanpa pintu masuk/keluar, dan kita dipaksa menanti kereta kematian di ruang tunggu tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan misteri, kita bisa berpetualang ke seluruh dunia, meskipun kita tahu pada akhirnya kita akan selalu berakhir di stasiun kereta, dan harus cek in setidaknya satu jam sebelum kereta kematian datang. Dalam jeda satu jam itulah hidup kita yang sebenarnya. Demikianlah indahnya misteri.

Aku ingat betul saat menginjak bangku SMP, sebuah rasa yang menggelinjang di balik perutku ketika menemukan anasir-anasir yang begitu presisi; bau daun basah setelah hujan, lampu-lampu jalan raya yang menyala sebelum waktunya, seekor ngengat yang sopan menumbuk-numbuk kaca jendela sementara aku membaca buku ini. Inilah momen pertama kali aku berjumpa Agatha Christie di sebuah toko buku bekas kecil dekat alun-alun Cianjur—lonceng pintunya punya hobi mengejutkan akang-akang penjaga toko yang sering terlihat mengantuk—yaitu sebuah buku menguning edisi terjemahan Bahasa Indonesia And Then There Were None (saat itu Gramedia—yang memiliki hak cipta terjemahannya dan belum teredukasi wacana rasialisme—menerjemahkannya menjadi Sepuluh Anak Negro, namun pada edisi-edisi terbaru diganti menjadi Dan Semuanya Lenyap, sesuai judul aslinya dan mungkin karena sudah teredukasi) terselip di antara Buku Pintar Senior dan novel Sidney Sheldon. Judulnya menantangku—Sepuluh Anak Negro. Kubeli tanpa menawar lalu kubawa pulang seperti barang selundupan sebab ayah melarangku baca novel saat seharusnya aku mengerjakan PR sekolah; malam itu hujan membuat kaca bernyanyi dan rumah terasa dibangun hanya untuk menahan tegangnya satu novel. Sepuluh orang asing di sebuah pulau: premis sederhana, kejam secara geometris. Christie mengajariku, dengan kejernihan bedah, bahwa misteri bisa jadi kuliah etika yang menyamar sebagai hiburan. Motif, katanya, adalah aljabar dingin: tambahkan dosa lama pada rahasia, bagi dengan isolasi, kalikan dengan diam; hasilnya tragedi yang tak terelakkan. Aku menutup buku dalam keadaan puas sekaligus kosong, memahami bahwa pengetahuan tak selalu membebaskan; kadang ia memperluaslebar rongga pernapasan.

Ada malam-malam ketika aku masih bisa mencecium toko buku itu jika mengingat Christie: bau apek, sedikit rasa perasan lemon di pinggir lidah, dan optimisme sengatan listrik yang tidak akan membunuhmu tapi cukup menyakitkan sehingga kamu tak ingin mengulanginya lagi (100 volt); namun kau tetap mengulanginya lagi. Menemukan Christie adalah membuku, yang berniat menyakitimu dengan lembut dan tepat. Kenangan itu kusimpan karena mengajariku sesuatu yang tak tersentimentil oleh wajah manusia. Kita menyenyumi perang; di dalamnya mungkin tersembunyi buku besar pengkhianatan. Novel itu membuatku lembut; melembut pada fakta rapuh bernama kesopanan, sekaligus waspada dan berterima kasih padanya. Matematika moral And Then There Were None menelanjangi gagasan bahwa hidup bisa dijalani dengan rapi. Sejak saat itu, aku curiga bahwa adab hanya setipis kertas; ruangan paling santun sering menyimpan angin paling gelap.

Edgar Allan Poe menumbuhkan lapar yang berbeda pada tekstur tak mau mengalah. Pengalaman ini datang saat aku menginjak bangku SMA. Kalimat-kalimat Poe seperti uang logam tembaga yang dititipkan ke telapak malam; mendingin, memberat, menggaung. Ia mengajariku bagaimana satu detail kecil; ketukan halus, tekad gelap seekor gagak, bercak tinta yang menolak terbaca selain sebagai firasat; dapat menyusun ulang arsitektur kepala. Misteri versi Poe dalam imajinasi manusia adalah katedral, kaca patrinya disusun dari obsesi. Poe adalah demam yang memaksa kita melihat warna-warna yang tak kita minta. Poe emang bangsat!

Kafka datang saat aku kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi di Bandung seperti perubahan cuaca yang tak diundang: pelan, telaten, final. Pagi setelah aku menamatkan Metamorphosis untuk pertama kali, aku menyentuh benda-benda dengan kecurigaan baru: kewaspadaan orang yang pernah melihat kemungkinan “menjadi lain” secara mendadak. Transformasi Gregor, bagiku, merupakan sayatan eksistensial. Kafka menyodorkan kebenaran rumah tangga yang pahit: pintu bisa tertutup dan tetap tertutup karena dunia meningkatkan bahasa dan kunci-kunci, sehingga kita ketinggalan jauh. Pelajarannya adalah kerendahan hati yang tajam: tak semua misteri bisa diselesaikan, karena beberapa kemustahilan adalah pengkondisian situasi yang menjebak.

Baca Juga  Manual Membunuh Idola

Film, tentu saja, memberi gerak pada kecurigaanku. Hitchcock mengajariku mengukur selang waktu. Bahwa jarak antara pengetahuan dan tindakan bisa menjadi seni tersendiri; kekejaman manis menunda penyingkapan, ekonomi moral yang menjadikan penonton penjaga rahasia yang tak bisa ia campuri. Aku menonton Psycho di bioskop beraroma popcorn dan disinfektan, ruang proyektor seperti altar. Orang-orang tertawa pada momen yang mereka kira nyaman, lalu menahan napas bersama pada momen yang menguliti rasa bersalah dan teramat mengerikan. Adegan kamar mandi adalah buku teks kepanikan yang dikoreografikan, sekaligus orakel tentang keintiman: rutinitas privat dipaksa menjadi trauma publik karena film menolak hak privasi yang biasa-biasa saja. Rear Window ngasih tahu bahwa menatap pun sebuah risiko moral, rasa ingin tahu bisa berevolusi menjadi kuku hitam kotor tak terawat.

Di dua kursi di sebelahku, seorang lelaki menangis pelan seperti orang mengaku dosa. Entah karena filmnya, entah karena film itu memberi izin untuk melepaskan badai trauma yang sudah lama dipikulnya. Suara basah yang privat itu tertanam dalam caraku memikirkan voyeurisme dan belas kasih. Film melonggarkan otot-otot yang kita bikin kaku karena hidup terlalu lama bersama kesendirian genit yang selalu mengundang tanya.

Dongeng-dongeng Guillermo del Toro adalah katekismus yang berbeda. Dunia Hitchcock adalah pelipatan banal yang klinis; del Toro memperlihatkan dunia di mana monster sering lebih jujur dibanding fasad sopan yang disukai kebanyakan orang. Pan’s Labyrinth menyadarkan kita bahwa mitos bisa jadi dialek paling jujur untuk trauma: berkata apa adanya tentang kekejaman kadang hanya mungkin dilakukan lewat dongeng. Monster del Toro adalah saksi, sering lebih penyayang daripada tokoh beradab. Ia membuatku curiga pada pertolongan yang dikemas rapi dalam kemasan modern, dan menyuruhku mendengar logika rakyat di tempat bahasa resmi kehabisan kata.

Musik melapisi atmosfer hidup yang kubangun dari buku-buku dan film itu. Radiohead memasuki kamar seperti senja yang bikin mager. Suara Thom Yorke membuat keraguan terdengar liturgis; melodinya membuaikan dan mengajariku bagaimana sebuah pertanyaan bisa dibentuk dalam sebuah paduan suara. Smashing Pumpkins memberiku nyeri-nyeri asik intensitas remaja, gelombang sonik yang terasa di dada seperti pasang naik yang kasat mata. Soundgarden adalah pekik ritual: ketidakpastian yang disulap menjadi guntur. Tiga band itu bila disatukan akan menjadi teologi ambiguitas: lagu-lagu mengajarkan cara mendiami suasana kala masa depan hanya menyisakan beberapa gigi untuk menggigit dan menggigil.

Cuaca kultural ini perlahan menginfeksi toleransiku terhadap hidup. Aku menemukan alergi terhadap definisi overrated. Beri aku itinerary, tubuhku gatal, jadwal tanpa celah keanehan terasa menyinggung intelektualitas diri sendiri. Dunia, dalam pengalamanku, dermawan dalam kegagalannya: ia menumpahkan rahasia di tempat paling jujur. Dalam kekacauan kecil; pesan gagal terkirim namun tetap bergetar di meja, tetangga pergi di jam-jam yang ganjil; cerita-cerita berkembang biak jadi antologi dan serial. Cintaku pada misteri adalah sikap etis yang dipelajari dengan kecermatan seorang pembaca kritis. Memihak kegelapan berarti menolak tirani: tirani teka-teki cemen, tirani jadwal kantor yang membosankan.

Kesia-siaan kecil yang manis dalam sikap ini adalah pengakuan dosa atas semacam perasaan inisiat. Misteri menuntutku untuk belajar sabar, yang di zaman penyembahan instan adalah bentuk pembangkangan. Duduk bersama sebuah tanya tanpa memaksa jawabannya sekarang juga adalah cara kecil menolak komodifikasi perhatian. Ada ketebalan sipil di sana: pada era algoritma yang ingin menebak setiap langkah, hidup yang menyisakan opasitas keras kepala lebih sukar dimonetisasi, dan karena itu, sejauh bisa diupayakan, cukup berguna secara politis.

Namun mencintai misteri bukan romantisme tanpa nyeri. Ada malam-malam ketika kekosongan menggigiti tulang. Pesan tak berbalas bisa menjelma krisis kecil; pintu yang dibiarkan terbuka berubah menjadi wilayah berhantu untuk satu malam; menulis menjadi tukikan yang keras kepala. Bertahun-tahun aku belajar membedakan rasa ingin tahu yang menyuburkan dan yang menyerang balik. Ada batas untuk menjaga jantung tetap lentur. Terlalu banyak curiga membuatmu kikuk dan kesepian. Keahlian adalah keseimbangan: menahan lapar pada misteri tanpa membiarkannya mengapur menjadi industri kecil yang memproduksi dendam karatan.

Aku masih ingat saat Radiohead dengan album The Bends menyentakku seperti kesetrum. Usia enam belas, larut malam, kaset rekaman teman, canggung dan rapuh. Lagu dimulai dengan bisik; suara Thom datang seperti pasang. Rasanya seperti ada laci di dadaku dibuka dan dipenuhi udara. Sebuah pengakuan bahwa rangkaian nada bisa menceritakan rasa tercerabut tanpa malu. Sejak saat itu, ketika dunia terasa terlalu rapi, aku mencari satu garis gitar Smashing Pumpkins dengan double album Mellon Collie and the Infinite Sadness atau satu korus Radiohead, memejam, dan membiarkan musik memulihkan cuaca yang pas untuk ketidakpastian.

Baca Juga  Romantika Candi Tebing

Oh Borges yang agung, izinkan aku menyimpan mitologi kecilku sendiri, cerita yang kususun saat seseorang, dengan kesabaran yang praktis, bertanya kenapa hidupku tak juga beres. Borges mungkin tersenyum pada penolakanku menjadi buku tertutup. “Peta bukan wilayah,” barangkali katanya, sembari tergelak melihat upayaku hidup di dalam peta. Borges memberitahuku satu anugerah presisi: paradoks adalah mesin berpikir. Bila kau memeta hanya demi orientasi, kau akan melewatkan keindahan fraktal labirin. Lebih baik jadi peziarah di perpustakaan yang terus menata ulang dirinya; lebih baik—meminjam nadanya—tersesat dengan bahagia, ketimbang hidup lurus tetapi hampa.

Ada vignette kecil yang mengorbit teologi ini. Suatu Selasa di Jakarta, kereta commuter line macet; heningnya mengental hingga seorang lelaki di depanku membaca Poe dari Kindle-nya, seolah gerbong adalah ruang tamu. Lebih aneh: saat dia membaca, seorang perempuan di belakangku tertawa, tawa spontan yang memecah sesuatu di udara. Orang-orang di sekitar seketika menjadi jemaat temporer. Dua puluh menit. Kereta bergerak lagi, semua kembali ke ponsel masing-masing, scrolling—kembali ke dracin atau algoritma reels masing-masing. Mukjizat kecil: perhatian publik, sekejap, diberikan pada misteri yang bukan milik mereka.

Dalam urusan intim, cinta pada ketaktahuan sering disalahpahami. Seorang kekasih meminta kepastian seolah “dikenal” adalah layanan. Hubungan-hubunganku dengan banyak perempuan adalah eksperimen kecil opasitas yang dinegosiasikan: memberi cukup waktu dan ruang agar kepercayaan tumbuh, tetapi menyisakan pinggiran ego yang tak diketahui agar jiwa menyempatkan diri untuk pulih. Aku menyaksikan hubungan tumbang ketika para pihak berusaha saling memprediksi hingga menjadi bentuk permanen; ketertebakan adalah lonceng kematian kejutan. Paradoksnya: ketidaktahuan—bila mutual dan murah hati—bisa menjadi keintiman. Dua orang yang mengizinkan suatu bagian yang terungkap dan yang tak terungkap secara  berdampingan, sering tinggal lebih dekat dibanding mereka yang menyerah pada tirani keterbukaan total, dengan dalih cinta yang bersifat Eros, padahal hanya sebuah insekuritas yang timbul dari rasa kepemilikan.

Jika esai ini meminta sesuatu darimu, itu sederhana: belajarlah dimanjakan oleh kejutan. Ada etika dari keterkejutan; ada puisi dalam membiarkan dunia lambat berbuah. Praktiknya: sisakan satu jam tanpa rencana, selipkan satu buku tak tercatat di tasmu, jawab satu pesan dengan pertanyaan alih-alih jadwal. Buat enam pilihan. Lempar dadu dan ikuti nomor yang keluar. Pemberontakan kecil—seperti tidak menjadwalkan setiap kebahagiaan—beranak-pinak menjadi hidup yang menolak diproduksi massal. Misteri adalah agen pendalamannya. Saat kau berhenti di jendela yang terbuka malam-malam dan mendengar tiupan angin, selalu ada peluang pesan-pesan menantang dan ingin segera diterjemahkan datang melenggang.

Aku tidak menganggap sikap ini suci. Ada saat misteri hanya menjadi alasan untuk penaklukan setengah hati. Tapi ada kenekatan lembut dalam hidup yang tak ditutup rapat: hadir, sabar, takjub; mau menetap di menit-menit tanpa resolusi, dan masih bisa menyeringai menyambut pertanyaan baru. Dalam senyum itu, untukku, terbentuk rupa sukacita.

Maka aku menjaga lampuku. Masih membaca larut di malam-malam yang tak dikira, masih mengangkat telepon dengan harap konyol bahwa sesuatu yang tak terjelaskan dan diimpi-impikan mungkin ada di seberang jalan. Masih kubiarkan Radiohead menjahit senja di dadaku dan monster-monster del Toro bertugas sebagai diakon penghiburan. Kubiarkan pintu-pintu tanpa label, kusisakan ruang dalam hari untuk peristiwa yang tak bisa dicentang. Kunikmati teror kecil dari pesan centang biru yang belum dijawab, sebab kadang jawaban itu adalah sebuah cerita yang belum sempat hadir menemuiku.

Akan ada yang menamai wacana ini sebagai penghindaran. Mereka bilang yang belum diketahui adalah persembunyian pengecut. Aku akan mendengar, lalu berbelanja tanpa daftar belanjaan, karena urusan remeh tanpa daftar masih menyisakan kemungkinan yang bikin takjub. Pada akhirnya, Lima Sekawan benar setidaknya dalam satu hal: pintu-pintu rahasia itu ada. Apa yang kita lakukan; menggemboknya, mengabaikannya, atau melangkah masuk dan melihat siapa yang berteriak; itulah yang membentuk hari-hari kita. Aku memilih, dengan tukikan keras kepala sebuah peristiwa kecil yang anteng dan damai, menyeberangi sebanyak mungkin pintu tersembunyi. Misteri, bagiku, adalah desakan halus dari dunia yang menolak dimiliki sepenuhnya; adalah iman, bahwa seni tertinggi dari hidup adalah ketidaktahuan yang dikelola dengan kasih sayang. Setiap misteri bagiku selalu menjadi sebuah peta harta karun yang menanti untuk dipecahkan—dan terkadang hanya untuk menelusuri jalannya tanpa harus terobsesi pada harta di balik peti-petinya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Tiga Puisi untuk Iryna

Ervin Ruhlelana

Menengok Batin Para Pengarang

Ervin Ruhlelana

Ada yang Baru di Denpasastra: Kolom Mingguan ‘Kerumitan Sastra’

Preman Laut

Fanfic Dalam Esensi Borgesian

Ervin Ruhlelana

Edisi Tahun Baru: Fanfic Sebagai Politically Correct

Ervin Ruhlelana

Fragmen dalam Sastra Eksperimental

Ervin Ruhlelana
Kolom Minggu

'Kerumitan Sastra' - Edisi 11

Peta Harta Karun

Ilustrasi oleh Preman Laut

Waktu aku baru bisa lancar baca, Lima Sekawan menjahit kisah pertama di benakku; Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy menggandengku dari pagar tanaman ke rumah reyot, dari teh sore ke mulut gua yang bergema. Setiap petualangan adalah pelajaran kejutan geometri: selalu ada tikungan yang tak kau duga, dan di balik tikungan itu ada sesuatu yang mengatur ulang sisa harimu. Pelajaran itu kubawa seperti perabot moral: membuatku alergi pada kerapihan palsu; jadwal yang merataratakan posibilitas, kalender yang sok meramalkan kebahagiaan sebelum sempat menjadi. Rutinitas: terlalu terjadwal dan mudah ditebak. Membosankan!

Bagiku hidup ini masih menarik dan layak dijalani justru karena misterinya. Tanpa misteri, hidup rasanya seperti stasiun kereta tanpa pintu masuk/keluar, dan kita dipaksa menanti kereta kematian di ruang tunggu tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan misteri, kita bisa berpetualang ke seluruh dunia, meskipun kita tahu pada akhirnya kita akan selalu berakhir di stasiun kereta, dan harus cek in setidaknya satu jam sebelum kereta kematian datang. Dalam jeda satu jam itulah hidup kita yang sebenarnya. Demikianlah indahnya misteri.

Aku ingat betul saat menginjak bangku SMP, sebuah rasa yang menggelinjang di balik perutku ketika menemukan anasir-anasir yang begitu presisi; bau daun basah setelah hujan, lampu-lampu jalan raya yang menyala sebelum waktunya, seekor ngengat yang sopan menumbuk-numbuk kaca jendela sementara aku membaca buku ini. Inilah momen pertama kali aku berjumpa Agatha Christie di sebuah toko buku bekas kecil dekat alun-alun Cianjur—lonceng pintunya punya hobi mengejutkan akang-akang penjaga toko yang sering terlihat mengantuk—yaitu sebuah buku menguning edisi terjemahan Bahasa Indonesia And Then There Were None (saat itu Gramedia—yang memiliki hak cipta terjemahannya dan belum teredukasi wacana rasialisme—menerjemahkannya menjadi Sepuluh Anak Negro, namun pada edisi-edisi terbaru diganti menjadi Dan Semuanya Lenyap, sesuai judul aslinya dan mungkin karena sudah teredukasi) terselip di antara Buku Pintar Senior dan novel Sidney Sheldon. Judulnya menantangku—Sepuluh Anak Negro. Kubeli tanpa menawar lalu kubawa pulang seperti barang selundupan sebab ayah melarangku baca novel saat seharusnya aku mengerjakan PR sekolah; malam itu hujan membuat kaca bernyanyi dan rumah terasa dibangun hanya untuk menahan tegangnya satu novel. Sepuluh orang asing di sebuah pulau: premis sederhana, kejam secara geometris. Christie mengajariku, dengan kejernihan bedah, bahwa misteri bisa jadi kuliah etika yang menyamar sebagai hiburan. Motif, katanya, adalah aljabar dingin: tambahkan dosa lama pada rahasia, bagi dengan isolasi, kalikan dengan diam; hasilnya tragedi yang tak terelakkan. Aku menutup buku dalam keadaan puas sekaligus kosong, memahami bahwa pengetahuan tak selalu membebaskan; kadang ia memperluaslebar rongga pernapasan.

Ada malam-malam ketika aku masih bisa mencecium toko buku itu jika mengingat Christie: bau apek, sedikit rasa perasan lemon di pinggir lidah, dan optimisme sengatan listrik yang tidak akan membunuhmu tapi cukup menyakitkan sehingga kamu tak ingin mengulanginya lagi (100 volt); namun kau tetap mengulanginya lagi. Menemukan Christie adalah membuku, yang berniat menyakitimu dengan lembut dan tepat. Kenangan itu kusimpan karena mengajariku sesuatu yang tak tersentimentil oleh wajah manusia. Kita menyenyumi perang; di dalamnya mungkin tersembunyi buku besar pengkhianatan. Novel itu membuatku lembut; melembut pada fakta rapuh bernama kesopanan, sekaligus waspada dan berterima kasih padanya. Matematika moral And Then There Were None menelanjangi gagasan bahwa hidup bisa dijalani dengan rapi. Sejak saat itu, aku curiga bahwa adab hanya setipis kertas; ruangan paling santun sering menyimpan angin paling gelap.

Edgar Allan Poe menumbuhkan lapar yang berbeda pada tekstur tak mau mengalah. Pengalaman ini datang saat aku menginjak bangku SMA. Kalimat-kalimat Poe seperti uang logam tembaga yang dititipkan ke telapak malam; mendingin, memberat, menggaung. Ia mengajariku bagaimana satu detail kecil; ketukan halus, tekad gelap seekor gagak, bercak tinta yang menolak terbaca selain sebagai firasat; dapat menyusun ulang arsitektur kepala. Misteri versi Poe dalam imajinasi manusia adalah katedral, kaca patrinya disusun dari obsesi. Poe adalah demam yang memaksa kita melihat warna-warna yang tak kita minta. Poe emang bangsat!

Kafka datang saat aku kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi di Bandung seperti perubahan cuaca yang tak diundang: pelan, telaten, final. Pagi setelah aku menamatkan Metamorphosis untuk pertama kali, aku menyentuh benda-benda dengan kecurigaan baru: kewaspadaan orang yang pernah melihat kemungkinan “menjadi lain” secara mendadak. Transformasi Gregor, bagiku, merupakan sayatan eksistensial. Kafka menyodorkan kebenaran rumah tangga yang pahit: pintu bisa tertutup dan tetap tertutup karena dunia meningkatkan bahasa dan kunci-kunci, sehingga kita ketinggalan jauh. Pelajarannya adalah kerendahan hati yang tajam: tak semua misteri bisa diselesaikan, karena beberapa kemustahilan adalah pengkondisian situasi yang menjebak.

Baca Juga  Tiga Puisi untuk Iryna

Film, tentu saja, memberi gerak pada kecurigaanku. Hitchcock mengajariku mengukur selang waktu. Bahwa jarak antara pengetahuan dan tindakan bisa menjadi seni tersendiri; kekejaman manis menunda penyingkapan, ekonomi moral yang menjadikan penonton penjaga rahasia yang tak bisa ia campuri. Aku menonton Psycho di bioskop beraroma popcorn dan disinfektan, ruang proyektor seperti altar. Orang-orang tertawa pada momen yang mereka kira nyaman, lalu menahan napas bersama pada momen yang menguliti rasa bersalah dan teramat mengerikan. Adegan kamar mandi adalah buku teks kepanikan yang dikoreografikan, sekaligus orakel tentang keintiman: rutinitas privat dipaksa menjadi trauma publik karena film menolak hak privasi yang biasa-biasa saja. Rear Window ngasih tahu bahwa menatap pun sebuah risiko moral, rasa ingin tahu bisa berevolusi menjadi kuku hitam kotor tak terawat.

Di dua kursi di sebelahku, seorang lelaki menangis pelan seperti orang mengaku dosa. Entah karena filmnya, entah karena film itu memberi izin untuk melepaskan badai trauma yang sudah lama dipikulnya. Suara basah yang privat itu tertanam dalam caraku memikirkan voyeurisme dan belas kasih. Film melonggarkan otot-otot yang kita bikin kaku karena hidup terlalu lama bersama kesendirian genit yang selalu mengundang tanya.

Dongeng-dongeng Guillermo del Toro adalah katekismus yang berbeda. Dunia Hitchcock adalah pelipatan banal yang klinis; del Toro memperlihatkan dunia di mana monster sering lebih jujur dibanding fasad sopan yang disukai kebanyakan orang. Pan’s Labyrinth menyadarkan kita bahwa mitos bisa jadi dialek paling jujur untuk trauma: berkata apa adanya tentang kekejaman kadang hanya mungkin dilakukan lewat dongeng. Monster del Toro adalah saksi, sering lebih penyayang daripada tokoh beradab. Ia membuatku curiga pada pertolongan yang dikemas rapi dalam kemasan modern, dan menyuruhku mendengar logika rakyat di tempat bahasa resmi kehabisan kata.

Musik melapisi atmosfer hidup yang kubangun dari buku-buku dan film itu. Radiohead memasuki kamar seperti senja yang bikin mager. Suara Thom Yorke membuat keraguan terdengar liturgis; melodinya membuaikan dan mengajariku bagaimana sebuah pertanyaan bisa dibentuk dalam sebuah paduan suara. Smashing Pumpkins memberiku nyeri-nyeri asik intensitas remaja, gelombang sonik yang terasa di dada seperti pasang naik yang kasat mata. Soundgarden adalah pekik ritual: ketidakpastian yang disulap menjadi guntur. Tiga band itu bila disatukan akan menjadi teologi ambiguitas: lagu-lagu mengajarkan cara mendiami suasana kala masa depan hanya menyisakan beberapa gigi untuk menggigit dan menggigil.

Cuaca kultural ini perlahan menginfeksi toleransiku terhadap hidup. Aku menemukan alergi terhadap definisi overrated. Beri aku itinerary, tubuhku gatal, jadwal tanpa celah keanehan terasa menyinggung intelektualitas diri sendiri. Dunia, dalam pengalamanku, dermawan dalam kegagalannya: ia menumpahkan rahasia di tempat paling jujur. Dalam kekacauan kecil; pesan gagal terkirim namun tetap bergetar di meja, tetangga pergi di jam-jam yang ganjil; cerita-cerita berkembang biak jadi antologi dan serial. Cintaku pada misteri adalah sikap etis yang dipelajari dengan kecermatan seorang pembaca kritis. Memihak kegelapan berarti menolak tirani: tirani teka-teki cemen, tirani jadwal kantor yang membosankan.

Kesia-siaan kecil yang manis dalam sikap ini adalah pengakuan dosa atas semacam perasaan inisiat. Misteri menuntutku untuk belajar sabar, yang di zaman penyembahan instan adalah bentuk pembangkangan. Duduk bersama sebuah tanya tanpa memaksa jawabannya sekarang juga adalah cara kecil menolak komodifikasi perhatian. Ada ketebalan sipil di sana: pada era algoritma yang ingin menebak setiap langkah, hidup yang menyisakan opasitas keras kepala lebih sukar dimonetisasi, dan karena itu, sejauh bisa diupayakan, cukup berguna secara politis.

Namun mencintai misteri bukan romantisme tanpa nyeri. Ada malam-malam ketika kekosongan menggigiti tulang. Pesan tak berbalas bisa menjelma krisis kecil; pintu yang dibiarkan terbuka berubah menjadi wilayah berhantu untuk satu malam; menulis menjadi tukikan yang keras kepala. Bertahun-tahun aku belajar membedakan rasa ingin tahu yang menyuburkan dan yang menyerang balik. Ada batas untuk menjaga jantung tetap lentur. Terlalu banyak curiga membuatmu kikuk dan kesepian. Keahlian adalah keseimbangan: menahan lapar pada misteri tanpa membiarkannya mengapur menjadi industri kecil yang memproduksi dendam karatan.

Aku masih ingat saat Radiohead dengan album The Bends menyentakku seperti kesetrum. Usia enam belas, larut malam, kaset rekaman teman, canggung dan rapuh. Lagu dimulai dengan bisik; suara Thom datang seperti pasang. Rasanya seperti ada laci di dadaku dibuka dan dipenuhi udara. Sebuah pengakuan bahwa rangkaian nada bisa menceritakan rasa tercerabut tanpa malu. Sejak saat itu, ketika dunia terasa terlalu rapi, aku mencari satu garis gitar Smashing Pumpkins dengan double album Mellon Collie and the Infinite Sadness atau satu korus Radiohead, memejam, dan membiarkan musik memulihkan cuaca yang pas untuk ketidakpastian.

Baca Juga  Fanfic Dalam Esensi Kafkaesque

Oh Borges yang agung, izinkan aku menyimpan mitologi kecilku sendiri, cerita yang kususun saat seseorang, dengan kesabaran yang praktis, bertanya kenapa hidupku tak juga beres. Borges mungkin tersenyum pada penolakanku menjadi buku tertutup. “Peta bukan wilayah,” barangkali katanya, sembari tergelak melihat upayaku hidup di dalam peta. Borges memberitahuku satu anugerah presisi: paradoks adalah mesin berpikir. Bila kau memeta hanya demi orientasi, kau akan melewatkan keindahan fraktal labirin. Lebih baik jadi peziarah di perpustakaan yang terus menata ulang dirinya; lebih baik—meminjam nadanya—tersesat dengan bahagia, ketimbang hidup lurus tetapi hampa.

Ada vignette kecil yang mengorbit teologi ini. Suatu Selasa di Jakarta, kereta commuter line macet; heningnya mengental hingga seorang lelaki di depanku membaca Poe dari Kindle-nya, seolah gerbong adalah ruang tamu. Lebih aneh: saat dia membaca, seorang perempuan di belakangku tertawa, tawa spontan yang memecah sesuatu di udara. Orang-orang di sekitar seketika menjadi jemaat temporer. Dua puluh menit. Kereta bergerak lagi, semua kembali ke ponsel masing-masing, scrolling—kembali ke dracin atau algoritma reels masing-masing. Mukjizat kecil: perhatian publik, sekejap, diberikan pada misteri yang bukan milik mereka.

Dalam urusan intim, cinta pada ketaktahuan sering disalahpahami. Seorang kekasih meminta kepastian seolah “dikenal” adalah layanan. Hubungan-hubunganku dengan banyak perempuan adalah eksperimen kecil opasitas yang dinegosiasikan: memberi cukup waktu dan ruang agar kepercayaan tumbuh, tetapi menyisakan pinggiran ego yang tak diketahui agar jiwa menyempatkan diri untuk pulih. Aku menyaksikan hubungan tumbang ketika para pihak berusaha saling memprediksi hingga menjadi bentuk permanen; ketertebakan adalah lonceng kematian kejutan. Paradoksnya: ketidaktahuan—bila mutual dan murah hati—bisa menjadi keintiman. Dua orang yang mengizinkan suatu bagian yang terungkap dan yang tak terungkap secara  berdampingan, sering tinggal lebih dekat dibanding mereka yang menyerah pada tirani keterbukaan total, dengan dalih cinta yang bersifat Eros, padahal hanya sebuah insekuritas yang timbul dari rasa kepemilikan.

Jika esai ini meminta sesuatu darimu, itu sederhana: belajarlah dimanjakan oleh kejutan. Ada etika dari keterkejutan; ada puisi dalam membiarkan dunia lambat berbuah. Praktiknya: sisakan satu jam tanpa rencana, selipkan satu buku tak tercatat di tasmu, jawab satu pesan dengan pertanyaan alih-alih jadwal. Buat enam pilihan. Lempar dadu dan ikuti nomor yang keluar. Pemberontakan kecil—seperti tidak menjadwalkan setiap kebahagiaan—beranak-pinak menjadi hidup yang menolak diproduksi massal. Misteri adalah agen pendalamannya. Saat kau berhenti di jendela yang terbuka malam-malam dan mendengar tiupan angin, selalu ada peluang pesan-pesan menantang dan ingin segera diterjemahkan datang melenggang.

Aku tidak menganggap sikap ini suci. Ada saat misteri hanya menjadi alasan untuk penaklukan setengah hati. Tapi ada kenekatan lembut dalam hidup yang tak ditutup rapat: hadir, sabar, takjub; mau menetap di menit-menit tanpa resolusi, dan masih bisa menyeringai menyambut pertanyaan baru. Dalam senyum itu, untukku, terbentuk rupa sukacita.

Maka aku menjaga lampuku. Masih membaca larut di malam-malam yang tak dikira, masih mengangkat telepon dengan harap konyol bahwa sesuatu yang tak terjelaskan dan diimpi-impikan mungkin ada di seberang jalan. Masih kubiarkan Radiohead menjahit senja di dadaku dan monster-monster del Toro bertugas sebagai diakon penghiburan. Kubiarkan pintu-pintu tanpa label, kusisakan ruang dalam hari untuk peristiwa yang tak bisa dicentang. Kunikmati teror kecil dari pesan centang biru yang belum dijawab, sebab kadang jawaban itu adalah sebuah cerita yang belum sempat hadir menemuiku.

Akan ada yang menamai wacana ini sebagai penghindaran. Mereka bilang yang belum diketahui adalah persembunyian pengecut. Aku akan mendengar, lalu berbelanja tanpa daftar belanjaan, karena urusan remeh tanpa daftar masih menyisakan kemungkinan yang bikin takjub. Pada akhirnya, Lima Sekawan benar setidaknya dalam satu hal: pintu-pintu rahasia itu ada. Apa yang kita lakukan; menggemboknya, mengabaikannya, atau melangkah masuk dan melihat siapa yang berteriak; itulah yang membentuk hari-hari kita. Aku memilih, dengan tukikan keras kepala sebuah peristiwa kecil yang anteng dan damai, menyeberangi sebanyak mungkin pintu tersembunyi. Misteri, bagiku, adalah desakan halus dari dunia yang menolak dimiliki sepenuhnya; adalah iman, bahwa seni tertinggi dari hidup adalah ketidaktahuan yang dikelola dengan kasih sayang. Setiap misteri bagiku selalu menjadi sebuah peta harta karun yang menanti untuk dipecahkan—dan terkadang hanya untuk menelusuri jalannya tanpa harus terobsesi pada harta di balik peti-petinya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Fragmen dalam Sastra Eksperimental

Ervin Ruhlelana

Tiga Puisi untuk Iryna

Ervin Ruhlelana

Ada yang Baru di Denpasastra: Kolom Mingguan ‘Kerumitan Sastra’

Preman Laut

Romantika Candi Tebing

Ervin Ruhlelana

Kerumitan Sastra: Sebuah Epilog

Ervin Ruhlelana

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ervin Ruhlelana
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi