Denpasastra.net

'Kerumitan Sastra' - Edisi 2

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Pengantar Penulis: Ars Poetica Untuk Hati yang Rapuh Tapi Keras Kepala

Suatu malam—malam yang menatapku lebih lama daripada aku menatapnya—datang kiriman ke meja kerjaku: sebuah stoples kaca bertutup logam, berisi sesuatu yang berdenyut pelan. Pada label kertasnya tertulis: hopeless romantic heart. Layaknya seorang kurator sebuah museum yang sedang menatap artefak rahasia tentang sebuah kota, aku melihat benda itu dengan suatu sudut pandang seorang ilmuwan. Di rak belakangku, buku-buku tua berdesis halus. Horatius berbisik dari risalah sastranya, Ars Poetica (kadang disebut Epistula ad Pisones, Surat kepada Keluarga Piso)—“Ut pictura poesis erit; quae, si propius stes, te capiat magis, et quaedam, si longius abstes.”—sebagaimana lukisan, begitu juga puisi, yang satu lebih indah dilihat dari dekat, yang lain lebih baik dari jauh. Puisi menuntut jarak pandang yang tepat: terlalu dekat, kau hanya melihat pigmen; terlalu jauh, kau kehilangan wajah. Hati di dalam stoples itu, pikirku, telah ditatap terlalu dekat oleh duka dan terlalu jauh oleh akal. Maka kubuka jendela, kubiarkan angin memindahkan jarak.

Ada hal yang diketahui orang-orang yang terselamatkan diam-diam oleh bait-bait: puisi bisa mengobati hati yang rapuh. Bukan karena rima adalah obat, melainkan karena ritme mengajari napas kembali ke tubuh. Namun hatiku—atau hati siapa pun yang semirip benda dalam stoples itu—kadang lebih dari sekadar rapuh: ia juga keras kepala, menolak dinasihati oleh keindahan, menarik selimut ketika disinari. Untuk hati seperti ini, obat bernama puisi sering ditelan lalu diludahkan sebagai ironi. Yang diperlukan oleh hati semacam ini bukan sekadar puisi, melainkan ars poetica—seni berpuisi: bukan pil yang ditelan, melainkan tata-cara meracik pil—sebuah etika, sebuah teknik, sebuah disiplin yang bukan hanya melantunkan kata-kata, tetapi menyusun ruang tempat kata-kata itu melakukan pekerjaannya.

Eliot dalam esainya “Dante” (1929) menulis, “It is a test (a positive test, I do not assert that it is always valid negatively), that genuine poetry can communicate before it is understood.” Dengan kata lain: puisi sejati memiliki kekuatan untuk “berbicara” atau menimbulkan resonansi emosional/intuitif sebelum pembacanya benar-benar memahaminya secara intelektual. Kalimat itu adalah obor di lorong darurat. Tetapi hati yang rapuh sekaligus keras kepala menjawab: justru karena aku tak memahaminya, aku menolak dipengaruhi. Di titik itu, seni berpuisi turun tangan. Sebab seni berpuisi bukan persuasi; namun arsitektur. Seni berpuisi tidak mendorong; namun membangun ruangan di mana keengganan pun memperoleh tempat. Wallace Stevens menambahkan batu penjuru lain, muncul tepat di baris pembuka puisinya yang berjudul Man Carrying Thing: “The poem must resist the intelligence / Almost successfully.” Stevens menyatakan bahwa puisi sejati harus bekerja melawan (atau paling tidak menantang) akal/rasio—namun tidak sampai sepenuhnya mengalahkannya (“almost successfully”), sehingga masih ada titik penghubung antara kesadaran pembaca dengan pengalaman puisi. Bagi hati keras kepala, kata “almost successfully” inilah yang menciptakan celah penyelamatan: bukan kekalahan, bukan kemenangan, melainkan retakan yang memungkinkan cahaya masuk.

Maka kubawa stoples itu ke ruang yang kusebut Laboratorium Puitika—ruangan dengan tiga dinding buku dan satu dinding cermin. Di ruangan itu, puisi bukan berbentuk “teks” melainkan “alat peraga”: baris, bait, garis, jarak, diam, jeda. Aku menaruh stoples berisi hati di hadapan cermin, dan kulihat dua bayangan: rapuhnya—serpih dari permukaan yang mudah berjatuhan bila disentuh seperti ketombe—dan keras kepalanya—sumbu pendek yang menolak dipatahkan meski sudah hangus. Aku sadar, seni berpuisi untuk jenis hati seperti ini tidak boleh memuja kerapuhannya hingga menjadi sentimental, juga tidak boleh mematahkan kekeraskepalaannya hingga menjadi moral. Seni berpuisi harus bertindak seperti tukang kintsugi: menyatukan pecahan dengan emas, tetapi membiarkan jejak retakan sebagai peta baru, menambahkan garis-garis berharga, sebuah pengalaman menikah meski sudah cerai.

Aku memulai dengan stamina, bukan dengan baris dan bait. Puisi sebagai obat; seni berpuisi sebagai terapi setelah operasi. Aku ajukan premis: bahwa setiap baris adalah gerak—bukan hanya gerak kata, melainkan gerak hati menegosiasikan ulang gravitasi. Octavio Paz adalam bukunya El arco y la lira (1956)—sebuah pengantar untuk refleksinya mengenai hakikat puisi: “La poesía es conocimiento, salvación, poder, abandono”—puisi adalah pengetahuan, keselamatan, kuasa, penyerahan. “Penyerahan” (abandono) itulah yang paling sukar bagi hati yang keras kepala; dan karenanya seni berpuisi harus menciptakan ritual di mana penyerahan bukan kekalahan, melainkan teknik.

Barangkali teknik paling sederhana sekaligus paling tua adalah mengukur napas. Tidak dengan metronom, melainkan dengan kalimat yang panjangnya setara dengan nyali untuk berubah meski tahu jalannya sesulit niatnya. Baris yang terlalu panjang bagi hati yang rapuh akan pecah di tengah; baris yang terlalu pendek bagi hati keras kepala akan berubah menjadi dengusan. Maka kubuat serangkaian kalimat yang panjangnya kira-kira sama dengan satu tarikan napas yang tulus dan tidak dibuat-buat. Aku menulisnya bukan untuk dibaca, melainkan untuk dilalui, untuk dialami. Dan benar: pada baris yang ketiga, stoples itu berembun. Tidak ada keajaiban di situ; namun ada pengakuan bahwa tubuh masih tahu cara bertahan dari serangan melankolia yang sukar dilawan.

Tentu saja, hati dalam stoples menolak proses ini, dan akan selalu begitu. Ia menata ulang keberatannya: “Aku rapuh, aku berhak melindungi diriku dari bentuk.” Di sinilah Horatius kembali diperlukan sebagai saksi bahwa bentuk adalah cara menghindari kebohongan. Horatius bukan polisi metrum. Bentuk bukan pagar; namun rute evakuasi. Dalam paniknya kebakaran, jangan berlari ke tangga spiral yang gelap, akan tetapi ikuti garis hijau di lantai. Bentuk penyelamatan diri seperti ini bukan berarti galak dan ketat, melainkan karena bisa diulang tanpa menimbulkan kepanikan dalam pikiran. Soneta, pantun, haiku, pupuh, syair, gurindam—semua bukan menara, melainkan tali karamantel untuk orang yang sedang rapelling.

Aku melakukan sebuah percobaan saat hujan batal turun dan matahari dengan keras kepalanya mencoba menembus awan: kukunci diriku dengan satu bentuk—empat kalimat saja, bukan soneta, tapi masing-masing ditutup oleh kata yang sama. Kata itu bukan “cinta,” bukan “maaf,” bukan “kembali,” melainkan kata yang lebih sederhana: “cukup.” Empat kali cukup: cukup untuk memadamkan api yang gemar menyala di kamar kosong, cukup untuk membatalkan kebisingan dalam kepala, cukup untuk memaafkan detik-detik yang berlalu, cukup untuk mengingat bahwa “cukup” adalah kata yang cukup adil. Empat kalimat itu bukan puisi yang layak dipajang sebab seni berpuisi bukan pameran, namun fisioterapi. Pada kalimat keempat, hati dalam stoples itu berhenti berdebat. Ia tidak percaya bahwa ia bisa kembali mengingat bagaimana caranya napas.

Namun kekeras-kepalaannya membuat hati dalam stoples tetap menggeliat: keras kepala adalah bentuk kehormatan bagi orang yang terlalu sering rubuh, terlalu gemar runtuh. Dia tidak mau dihibur. Dia selalu curiga pada setiap kecantikan yang disodor-sodorkan ke mukanya. Maka kubalikkan cermin; kutulis tentang sesuatu yang sangat biasa: sisi cangkir yang retak, kursi plastik di teras yang permukaannya sudah rapuh dihajar cuaca, bunyi tak-tik sepatu dalam setiap langkah menuju penghakiman, layar cermin hitam dalam genggaman yang membombardir emosi dengan sejuta informasi. Aku tidak menuliskan benda-benda yang tidak jago berbohong, juga tidak menuliskan suasana hati. Aku mulai mengerti kalimat Rilke dalam puisi Archaïscher Torso Apollos (1908), sebuah ajakan, bukan ancaman: “Du mußt dein Leben ändern”—kau harus mengubah hidupmu. Bukan “kau harus menjadi mulia”, bukan “kau harus mengerti”, hanya “ubah.” Hati yang rapuh dan keras kepala paham rasionalitas perubahan kecil ini: dia hanya diminta untuk mengganti tempat duduk, bukan untuk runtuh dan hancur lebur.

Apakah teori ini saintifik? Tidak. Tetapi ia taat beragama, taat pada pengulangan, disiplin dalam beribadah, tak pernah ketinggalan shalat lima waktu: setiap kali kubiarkan bentuk yang jujur mengatur ruang, hati rapuh berhenti memproduksi ketombe; setiap kali kubiarkan benda-benda sederhana memimpin, hati keras kepala berhenti berdebat sambil memukul meja. Aku menamainya Teori Retakan Terkendali: bahwa seni berpuisi bukan untuk meniadakan retak, melainkan memberi retakan dengan rute emas yang meniadakan luka secara teratur dan perlahan. Lalu muncul konsekuensi yang mungkin sangat pahit namun adil: bahwa tidak semua puisi bisa cocok dengan hati dalam stoples itu, dan tidak semua hari bisa dipakai untuk menulis. Ada hari yang menuntut diam sebagai bait yang tak tertulis. Seni berpuisi harus mengakui bab kosong sebagai bagian dari rancangan.

Pada jam tertentu—jam ketika kota melonggarkan bahunya, jam saat robot-robot rusak rebahan di kasur kontrakan sambil nonton film bajakan—aku membawa stoples itu jalan-jalan. Di trotoar, aku membaca keras-keras satu kalimat yang selalu kubawa untuk keadaan begini: “Kita akan menyusun ruang di mana kekeras-kepalaan boleh duduk bareng dan ngobrol, asal jangan arogan.” Kalimat itu, pada mulanya, terdengar seperti protokol rapat, namun seiring langkah, berubah jadi undangan. Agaknya begitulah kerja perbedaan halus antara puisi dan seni berpuisi: puisi bisa dinikmati sendirian; seni berpuisi meminta kehadiran tubuh—tubuh yang berjalan, tidak tergesa, menandai batu, mencatat angin, lalu pulang.

Ada yang berkata padaku—seorang sahabat yang kerap berpura-pura sinis untuk melindungi harapan—bahwa semua ini hanyalah penghiburan. Mungkin. Tetapi penghiburan yang terlatih adalah keadilan bagi diri sendiri, sebuah pemenuhan hak tubuh untuk tetap sehat dan kuat. Kita tidak berutang heroisme pada siapa pun; kita berutang ketelitian kepada lukanya sendiri. Seni berpuisi memang tidak menyejukkan, tapi mampu menyentuh pusat kegelisahan tanpa menambah robekan. Dan karena itu, hasilnya tidak selalu indah di telinga; namun sering terasa benar dalam setiap tarikan napas. Ada perbedaan antara lagu yang membuatmu menangis karena manipulasi rasa dan kalimat yang membuatmu menahan beban setengah senti dari tanah. Aku memilih yang kedua: tidak spektakuler, namun mampu bertahan.

Sekali waktu, aku meletakkan stoples itu di rak paling sunyi dan membuka buku-buku yang kucintai bukan karena ide besarnya namun karena kejujuran kecilnya. Di sana, aku menemukan kembali Borges—tapi kali ini aku melihat Borges karena kebiasaan diamnya, bukan bentuk kutipan yang sering diucapkan dalam esai-esai sastra: aku melihat cara Borges membangun labirin agar pembaca tersesat menuju dirinya sendiri. Labirin ini bukan jebakan, bukan kurungan yang menyesatkan, tapi sebuah metode. Hati yang keras kepala diselamatkan oleh belokan yang tiba-tiba. Di belokan itu, dia menyadari bahwa dia tak perlu lagi mempertahankan pos, tak perlu juga mencari gerbang besar menuju kebahagiaan secara tergesa—karena tak ada musuh, hanya peta yang sudah berubah.

Malam hilang, fajar datang: puisi mengobati, seni berpuisi melatih. Yang pertama menghapus demam, yang kedua mengajarkan cara tidur. Yang pertama membawakanmu air; yang kedua mengingatkanmu untuk merawat mata air. Dan untuk hati yang rapuh namun keras kepala—yang menolak disuruh bahagia, yang mencemooh nasihat motivator—seni berpuisi tidak mengiming-imingimu keselamatan; namun menyalakan lampu-lampu kecil di lorong yang panjang yang akan kamu susuri.

Kukembalikan stoples itu ke meja. Denyutnya belum segagah seharusnya, tetapi juga bukan lagi denyut yang menggambarkan ketakutan. Barangkali karena dia tahu bahwa keras kepala bukan musuh dari rapuh; keras kepala—di tangan seni berpuisi—adalah tulang: penyangga agar meski rapuh namun bisa tetap berdiri. Barangkali karena dia melihat bahwa retak tidak harus disembunyikan, cukup digarisbawahi dengan emas yang tipis. Barangkali karena dia akhirnya percaya pada kalimat pendek yang kutulis diam-diam di bagian dalam tutup logam: cukup untuk hari ini. Sebab tidak ada teori yang lebih manusiawi daripada menutup buku tepat ketika mata sudah tinggal 5 watt.

Sebelum tidur, aku membaca lagi kalimat Eliot, lalu mengucapkannya seperti orang yang menyebut nama kota sebelum berangkat: puisi yang sungguh-sungguh, bisa berkomunikasi sebelum dipahami. Aku melanjutkan dalam bahasa yang diciptakan malam itu sendiri: seni berpuisi—untuk hati yang rapuh dan keras kepala—mengizinkan komunikasi bahkan sebelum persetujuan. Seni berpuisi adalah menyiapkan meja, menaruh roti, menutup jendela setengah, dan berkata: besok puisi baru harus tercipta. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa musim, aku mendengar sesuatu yang lebih tua dari teori, lebih jernih dari metafora, yaitu bunyi detik di jam dinding yang kali ini tidak terasa mengejar-ngejar, namun menuntun dan menemani perjalanan.

Kumatikan lampu, bayangan rak buku membentuk peta yang kini kumengerti, peta harta karun telaga keabadian.

Di dalam stoples kaca, ada hati yang tetap retak, tetap keras kepala, namun kini retak dengan sebuah keindahan terbarukan dan keras kepala pada arah yang berbeda: tidak lagi menolak untuk disentuh, namun masih menolak untuk dibohongi. Jika itu bukan kesembuhan, mungkin itu yang paling dekat dengan kata “sembuh” yang bisa diberikan oleh kata-kata. Selebihnya: pagi, roti, dan halaman kosong; dan kesediaan untuk duduk lagi di meja, tak menaklukkan apa pun, hanya menyusun ruang tempat hati yang rapuh boleh menua tanpa harus menanggung rasa malu dan bersalah.

“Mengingatmu, cintaku, adalah asin air mata yang tumpah ke dalam stoples gula. Di pagi hari, dengan naiknya asam lambung, kopi kita nano-nano.”

Prolog

Saat ini aku sedang merindukan sebuah peristiwa retro seperti ini:

LATAR: Sore, cafe di teras sebuah perpustakaan.

SUASANA: Bau buku yang terpancar dari pintu perpustakaan yang terbuka, bercampur dengan petrichor, sebab gerimis baru saja turun, segelas kopi tubruk mengepul di atas meja berbentuk bundar, dengan sebatang kretek diapit jari, asapnya mengalahkan uap kopi, dan “Kota-Kota Tak Tampak” karya Italo Calvino terbuka di sebelah asbak setengah penuh.

ADEGAN: Senyum berlesung pipit dari bibir merah dadu seorang perempuan yang berniat untuk berteduh dan melirik padaku. Lalu terciptalah sebuah novelet di antara dua kata, Hello! dan Goodbye!

Hello!

“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya anggun, memecah kesunyian yang barusan terasa begitu nyaman. Suaranya lembut, menyatu dengan suasana sore itu, mengalir bersama angin yang menari Solo; lembut, pelan, menyejukkan. Aku mempersilakannya dengan membalas senyumnya—senyum di antara dua lesung pipit yang muncul sekejap tapi sudah kadung terbit, sudah kadung terekam dalam ingatanku. Kami duduk bersama dalam keheningan yang rasanya akrab—tapi gak tahu apaan, pokoknya nyaman aja!

Aku mengamati setiap detail dari dirinya—sorot matanya yang terkadang teralihkan ke lampu jalan yang mulai menyala, gerakan tangan yang gemulai saat dia membenahi rambut yang tertiup angin. Setiap gerakannya seolah membentuk melodi yang hanya bisa kudengar, membuat waktu terasa berhenti sejenak di antara deretan detik-detik yang terasa begitu cepat berdetak. Kayak saat aku kebanyakan nyintak!

Malam datang terlalu tergesa, hujan reda terlalu cepat. Dia pergi terlalu dini, tapi senyumnya sudah menato di hati. Aku ingin bertanya lebih banyak, ingin mengenalnya lebih dalam, namun waktu tidak memberiku kesempatan.

“Sampai jumpa,” katanya dengan senyum yang masih tergambar di bibirnya, lesung pipit itu terbit lagi, dicetak ulang tepat ketika aku merasakan kupu-kupu beterbangan di ulu hati, mendesak ingin keluar.

“Sampai ketemu,” jawabku, meski aku tak yakin kapan dan bagaimana. Aku tidak punya cukup nyali untuk meminta nomor teleponnya. Dan seperti biasa, untuk hal-hal seperti ini, aku menyukai misterinya. Kupu-kupu dalam ulu hatiku mendesak-desak lambung, asamnya naik ke kerongkongan, nyaris saja muntah namun untung Si Lesung Pipit keburu terbang.

Dalam bayanganku, ada harapan yang tertinggal di balik dua kata itu: “sampai” dan “jumpa”. Semesta masih memberi ruang bagi pertemuan yang berikutnya; sebuah spasi.

Kopi sudah dingin. Kututup buku Kota-kota Tak Tampak. Kumatikan rokok di atas asbak. Kukeluarkan buku kecil di saku kemeja. Kuambil bolpennya juga. Kucatat senyum dua senti itu, di antara dua lesung pipit sekejap itu. Lalu kuberikan ilustrasi tambahan, kicauan burung pipit, suara ombak, dan sinar bulan. Kutambahkan catatan dengan judul Hello!

Sebab kisah cinta hanyalah kisah di antara “Hello!” dan “Goodbye!”.

Anatomi

Saat dia duduk satu meja denganku menunggu hujan reda, lekuk lesung pipitnya bereaksi agresif, sebuah reaksi dari senyum terkembang di bibirnya. Lesung pipitnya serupa rumah undur-undur, membuatku tak tahan untuk mengoreknya, mencari undur-undur di sana.

Ada ribuan spekulasi di kepalaku tentang anatomi senyumnya. Berkembang pada yang menyenangkan. Berkembang pada yang bukan-bukan. Yang menyenangkan adalah rasa bibir dan aroma napasnya. Yang bukan-bukan adalah rasa estrogen dan aroma feromon dari tubuhnya.

Setiap unsur dirinya memiliki bahasa masing-masing; lingua franca, bahasa tubuh, dan bisikan jiwa. Kami berdua dipertemukan oleh lingua franca: “Hello!”, bahasa tubuh berbentuk senyuman, dan selama duduk semeja yang tak seberapa lama itu jiwa kami saling berbisik dengan berisik.

Meskipun berisik, tak satu kata pun dalam dialog dari bisikan jiwa ini bisa kuterjemahkan, baik ke dalam lingua franca maupun bahasa tubuh, sebab bisikan ini bukan untuk kebutuhan pikiran maupun tubuh, hanya jiwa kami yang mengerti, ditandai dengan lambaian ombak dalam imajinasi ketika terik purnama menyambangi lautan.

Sebab sebuah hubungan harus cocok di tiga tempat; kepala, dada, dan selangkangan. 

Rumah

Arsitektur, konstruksi, interior, dan taman adalah empat hal yang harus dirancang agar dia nyaman berada dalam fiksi ini. Rumah adalah tempat dengan energi sihir yang tak bisa ditembus ilmu hitam. Menuliskannya adalah mengekalkan eksistensinya. Aku tidak mau menempatkannya di sebuah kosan atau kontrakan, harus sebuah rumah permanen yang kokoh dan nyaman, yang layak dirindukan, agar jika pun jarang dia singgahi, dia akan selalu kembali. Yang jelas harus ada pot dekat pintu, agar bawahnya bisa jadi tempat untuk menyembunyikan kunci. Ini penting sebab kupikir aku tak boleh punya duplikatnya, rumah ini adalah rumahnya, seperti juga tubuh, rumah itu adalah miliknya sendiri. Pot itu hanya harapan, jika suatu waktu aku berkunjung ke rumah ini dan dia sedang pergi, aku bisa ke dapur bikin kopi. Semoga dia mengerti.

Arsitektur rumah ini akan kutiru dari riasan muka dan konsep pakaian yang dikenakannya saat pertemuan pertama kami. Top to bottom.

Meskipun akan mengadaptasi rumah pinggir hutan, konstruksinya harus sekuat rumah-rumah era Victoria. Interior biophilia akan membuat rumah ini semakin kaya oksigen. Eksterior taman akan menyembunyikan batas luar dan dalam, bergaya villa-villa di Bali. Semoga dia suka.

Sebab kenyamanan tanpa syarat adalah suatu keniscayaan.

Takdir dan Anasir-Anasirnya

Karena takdir alam raya adalah absolut dimiliki Tuhan, aku tak berani menciptakan takdir perempuan itu kemudian. Pertemuanku dengannya adalah takdir, tapi setelah dia pergi karena hujan sudah reda, maka hanya dia yang memiliki nasibnya sendiri, seperti juga aku yang memiliki nasibku sendiri.

Dalam fiksi ini bisa saja aku menciptakan perempatan baru agar kemungkinan untuk bertemu lagi dengannya bisa lebih besar. Tapi tidak begitu cara kerja takdir. Tak peduli jutaan perempatan kuciptakan, jika Tuhan tak menakdirkan, aku hanya akan bernasib menyedihkan; penantian panjang; harapan kosong; godaan feromon lokal yang harus ditolak; sebab persanggamaan darurat sudah tidak mampu menjadi obat.

Jadi biarkanlah dia menjalankan nasibnya bertemu entah siapa di mana; dan aku menjalankan nasibku untuk menuliskan kisah cintanya.

Cinta adalah anasir takdir, tak ada siapa pun yang bisa mengendalikannya, bahkan seorang pengarang sekali pun pada tokoh ciptaannya.

Harapanku datang dari sebuah intuisi, bahwa aku akan bertemu lagi dengannya.

Sebab takdir adalah pertemuan antar nasib dan intuisi adalah penggaris takdir yang akurat.

Beberapa Penyesalan dan Cara Mengatasinya

Penyesalan pertama adalah kebisuanku. Aku terlalu sibuk mencari undur-undur di balik lesung pipitnya.

Hingga menciptakan penyesalan kedua, aku tak tahu namanya, –goblok! Ketidaktahuanku yang tolol ini agak menyulitkan proses penulisan kisah cinta ini. Aku jadi punya beban untuk menciptakan nama untuknya, yang sesuai dengan karakternya. Kukira Calvino bisa membantuku untuk urusan ini. Kota-kota Tak Tampak karangannya dipenuhi dengan nama-nama perempuan. Akan kucari di buku itu kota yang tepat untuknya, lalu kunamai dia berdasarkan nama kota itu.

Indra penciumanku terkejut saat diberondong campuran aroma yang begitu kuat; aroma kopi yang masih mengepul; aroma buku dari pintu perpustakaan yang terbuka; petrichor yang merajalela; feromonnya menelusup di antara ketiga aroma itu. Bombardir aroma membuat hidungku kebas. Andai saja aku bisa mengatasinya dengan cepat, mungkin penyesalan ketiga tak akan hadir, aku tidak begitu memperhatikan bau feromonnya, padahal hanya feromon yang bisa membantuku melacaknya kembali. Butuh meditasi untuk memecah kembali aroma campuran yang membuat hidung ini kebas. Dan si tolol aku terlalu malas untuk bermeditasi, pikiran ini lari-lari. Memang harus kupaksakan sih, agar aku bisa mendeskripsikan dengan baik bentuk feromonnya.

Sebab aroma adalah perangkat intuisi yang paling kuat.

Ekstensi Eksistensi

Menuliskan kisah cinta ini berarti memperpanjang keberadaan perempuan itu dalam hidupku. Pertemuan sesaat seperti ini bahkan bisa abadi di tangan lihay para penulis. Namun sekali lagi, aku tidak berniat mengabadikannya, hanya ingin sedikit memperpanjang eksistensinya sebelum pada akhirnya mungkin nanti kami akan bertemu kembali.

Siapa yang menyangka bahwa Jesse akan bertemu kembali dengan Celine dalam Before Sunset setelah pertemuan singkat mereka 9 tahun lalu dalam Before Sunrise? Yang jelas pertemuan mereka sudah pasti tidak terjadi jika Jesse tidak menuliskan pertemuan pertama mereka menjadi sebuah novel yang laris. Dan tanpa pertemuan kedua ini, mereka tidak akan jadi keluarga yang seru dalam Before Midnight. Meskipun tidak memikirkan film trilogi itu sebelumnya, namun mungkin karena tiga film itu juga sudah mengakar dalam kepalaku, kira-kira harapanku dengan perempuan itu akan mewujud seperti skenario trilogi Before.

Saat ini, mengimitasi Jesse adalah jalan keluar terbaik. Tapi bahan apa yang kupunya dari sebuah pertemuan yang tak sampai 15 menit tanpa obrolan sedikit pun, tak seperti Jesse yang punya waktu lebih dari 2 jam berbincang dengan Celine?

Sebab rindu hanya bisa disembuhkan oleh tekad dan sedikit keberuntungan.

Epistem

Jiwaku mungkin tahu banyak tentang dia karena intensitas saling berbisik di antara mereka. Namun pengetahuan yang ditangkap akalku hanya sebatas wajahnya saja, itu pun spesifik hanya pada senyum manis dan lesung pipit indah yang mendominasi keseluruhan wajahnya. Wajah senyum berlesung pipit adalah pengetahuan empirik tentangnya, detail lainnya terasa samar, untuk itu aku harus melakukan improvisasi.

Akan kumulai dari mata, karena katanya, mata adalah jendela jiwa. Jika aku berhasil menggambarkan matanya, siapa tahu aku dapat bocoran bisikan jiwanya pada jiwaku saat perbincangan mereka terjadi. Mesti diingat bahwa dimensi jiwa tidak terpenjara waktu, pertemuan singkat kurang dari 15 menit di dimensi kita bisa jadi adalah perbincangan satu abad dalam dimensi jiwa. Jika aku berhasil mempertajam resolusi matanya, aku bisa membongkar rahasia terdalamnya.

Dari bentuk samar matanya aku bisa menduga agak sayu dan pupilnya berwarna coklat tua, atau coklat muda seperti hazelnut, tatapannya terlalu samar untuk bisa kuduga sekarang, namun saat itu kurasa matanya ikut tersenyum mengikuti bibirnya. Jika memang begitu berarti senyum itu tulus.

Sebab ketulusan senyum di bibir hanya bisa kita tangkap dari sorot mata.

Jalur Suara

Aku melayang sembari jalan pulang tadi sore setelah ngabuburit, membayangkan lagu tema yang tepat untuk kisah ini. Tentu saja selain lagu tema ciptaanku sendiri, aku memikirkan lagu-lagu ciptaan orang lain.

Kita sama-sama tahu bahwa sebuah kisah cinta akan sepi dan membosankan jika tidak memiliki soundtrack atau jalur suara, baik yang original maupun lagu cover.

Menurut seleraku, album soundtrack terbaik pada zamannya adalah SPAWN: The Album, OST dari film Spawn. Betapa tidak, tahun 1997 kita disuguhkan kolaborasi-kolaborasi yang edan, Atari Teenage Riot kolab bareng Slayer, Dust Brothers bareng Korn, terus ada kolaborasi lain dari musisi-musisi gila, Marilyn Manson, Tom Morello, Moby, Kirk Hammett, Prodigy, Silver Chair, Incubus, Goldie dan banyak lagi, anjing lah pokoknya!

Aku membayangkan jalur suaranya harus sehebat itu, namun untuk kisah cinta dan tepat untuk zamannya. Blue Sunday dari The Doors langsung masuk urutan pertama, boleh yang original atau dibawakan oleh Bjork. Berikutnya aku membayangkan duet Thom Yorke dan Beth Gibbons membawakan lagu Wish You Were Here dari Pink Floyd. Lalu Oh, Lonesome Me dari Neil Young dibawakan Agnez Mo dan Dewa Budjana. Berikutnya Sudah dari Ahmad Band dibawakan Nadin Amizah lewat aransemen Eka Gustiwana. Trust dari The Cure dibawakan oleh Sia dan duo Air.

Sebab tanpa musik yang bagus, kisah yang baik tak akan bisa menjadi indah.

Telur Paskah

Saat aku sampai di rumah, aku memikirkan beberapa easter eggs pada kisah cinta ini, termasuk ketika tadi aku memasukkan lagu Trust sebagai salah satu jalur suara. Ini adalah bocoran akhir kisah. Sebenarnya pada beberapa sub bab sebelumnya sudah banyak easter eggs yang secara tidak sadar kutulis. Namun kali ini aku ingin memasukkan telur-telur paskah ini secara sadar agar bisa lebih subliminal.

Ketika dengan sadar bahwa aku sedang menulis sebuah karya metafiksi, aku sedikit berharap ada seorang pembaca yang membuat karya fiksinya. Jika aku adalah Charlie Kaufman, maka kamu adalah Spike Jonze. Jika aku Plato, maka kamu adalah Socrates. Jika aku Syams Thabriz maka kamu adalah Jalaludin Rumi. Jika aku May Ziadah, maka kamu adalah Kahlil Gibran.

Untuk itu aku ingin memberimu banyak telur paskah agar kelak karya fiksimu bisa sangat kaya, terutama kaya secara kuantitas tema dan lema. Masalah kualitas bukan urusan kita, hanya pembaca lain yang berhak menilai kualitas sebuah karya, kita hanya akan mencoba yang terbaik.

Jika proses ini terjadi antara aku dan kamu, maka kita akan memiliki kualitas persahabatan seperti C.S. Lewis dan J.R.R. Tolkien; H.B. Jassin dan Chairil Anwar; atau Jorge Luis Borges dan Adolfo Bioy Casares. Nama-nama yang kusebut barusan juga adalah telur-telur paskah untukmu.

Sebab dalam setiap pesan tersembunyi, ada cinta yang mengalir di dalam gua.

Lema-Lema Arkais

Setelah kamu memecahkan telur-telur paskah itu, sekarang kita diskusi tentang lema-lema arkais dalam kisah ini, agar suatu hari seorang bibliosmia sekalipun akan mencium bau buku tua, padahal bukumu baru dicetak. Kita kelabui para bibliosmia itu dengan memberikan aura tua lewat lema-lema kuno.

Sebelum kamu buka kamus besar, aku perlu mencoret 10 lema arkais agar tidak digunakan pada karyamu—cuma saran aja, sih! Soalnya lema-lema ini sudah sering digunakan penulis lain, jadi menurutku sudah tidak arkais lagi, sudah bangkit dari kuburnya.

Ini daftarnya: 1. Mahardika 2. Renjana 3. Nirmala 4. Nuraga 5. Lazuardi 6. Bestari 7. Lenggana 8. Bumantara 9. Maharani 10. Kirana

Meskipun begitu, kamu boleh gunakan kata-kata itu untuk nama tokoh perempuan yang sedang kita bicarakan ini, sebab hingga saat ini Calvino belum banyak membantu, belum benar-benar ada yang cocok untuk disandang oleh perempuan itu.

Satu hal lagi, gunakan KBBI versi cetak, jangan yang daring. Sebab ada beberapa kata arkais yang sudah hilang dalam versi daring.

Sebab ada ribuan kata cinta yang bisa dipakai tanpa harus mengatakan cinta.

Genre

Meskipun ini adalah kisah cinta namun aku bisa menentukan genre apa yang ingin kupilih. Tergantung bagaimana cinta ini kemudian akan diantarkan. Jika mengambil genre thriller, berarti akan lebih seru jika ada pembunuhan. Atau mau lurus saja memakai genre populer. Atau aku bisa saja memakai salah satu genre musik, jika ingin ceritanya lebih musikal. Katakanlah aku memakai genre grunge, maka kisah cinta yang kubuat akan cenderung ke arah tema bunuh diri, penghancuran diri, dan melibatkan kekacauan institusi keluarga. Jika aku ambil genre blues, maka kisahnya akan mengarah pada suatu lautan rindu ingin pulang tapi tak bisa pulang.

Sebuah karya fiksi diberikan privilese untuk mengambil genre dari jenis seni apa pun. Aku diperbolehkan untuk menulis kisah cinta ini memakai beberapa aliran dalam lukisan. Kisah cinta yang surealis mungkin akan banyak adegan mlehoy, elemen ruang dan waktu bersifat fleksibel seperti permen karet, rapuh pada titik tertentu.

Lain halnya jika kisah ini berada di jalur impresionisme, aku mesti jago mengimitasi dengan cara menambahkan perspektif paling subjektif dari diriku.

Aku mungkin akan sedikit kesulitan jika mengambil aliran kubisme, bagaimana mungkin kisah cinta hanya terdiri dari bentuk, dan hanya mengandalkan entitas cahaya pada pembaca. Seperti menulis dalam kegelapan.

Sebab universalisme tak bisa dilepaskan dari urusan-urusan fakultatif.

Taksonomi Cinta

Tak hanya itu, kisah cinta juga memiliki taksonominya sendiri, berdasarkan dari sifat cinta yang dimiliki para tokohnya:

  1. Eros. Menceritakan kisah cinta yang purba, hasrat paling murni yaitu gairah seksual, mengandung unsur ketelanjangan yang sangat kental. Semi porno. Romantis.
  2. Storge. Cinta yang mengarah pada institusi yang stabil. Mengandung komitmen. Bisa jadi pernikahan.
  3. Ludus. Cinta di sini hanya sebuah permainan. Tak lebih dari itu. Mungkin akan tepat dikawinkan dengan genre komedi.
  4. Pragma. Para tokohnya dibuat realistis. Cinta di sini adalah urusan dapur dan kartu kredit. Urusan klasik sepasang kekasih berbeda status sosial. Lagi ngetrend dalam film-film vertikal di Facebook dan Tiktok (ibu-ibu bilangnya dracin—Drama Cina).
  5. Mania. Ini cocok dikolaborasikan dengan genre thriller. Cinta yang obsesif dan posesif dihadirkan terang-terangan. Lebih seru dikawinkan dengan genre detektif atau misteri. Tokoh perempuannya kubunuh. Terus kucari pembunuhnya lewat sudut pandang seorang detektif. Atau dengan horor psikologi, perempuan itu digambarkan psychopath, endingnya aku yang mati.
  6. Agape. Cinta yang diejawantahkan dalam bentuk kepedulian. Ujungnya di-friendzone, tapi ngelap tisu di perut. Namun dalam genre Agape sebaiknya dibuat lebih serius. Urusan ngelap tisu di perut akan jadi penyesalan mendalam di antara kami.
  7. Philia. Dalam genre philia, salah satu dari kami harus memiliki cinta yang murni, yang platonik. Biar aku saja. Dia boleh tidak mencintaiku—sebab mencintaiku itu kompleks, riskan, dan bebannya berat.
  8. Philautia. Self-Love. Dalam titik ekstrim ternyata dia mengidap narcissistic personality disorder. Sebaiknya tak perlu dilanjutkan kisahnya.

Sebab cinta yang menyembuhkan hanyalah angan-angan

Kecerdasan Buatan

Aku menyambut baik datangnya teknologi AI. Beberapa kali aku pernah mencobanya. Memberinya prompt untuk membuat kisah tertentu. Dan hasilnya sangat buruk. Ya, AI adalah penulis karya sastra yang sangat buruk. Namun justru karena itu aku membutuhkannya sebagai batas minimal. Jika AI membuat kisah cinta ini dengan sangat buruk, maka karyaku tak boleh lebih buruk dari itu.

Kita input saja bagian awal dari kisah ini, Latar, Suasana, dan Adegan. Lalu perintahkan padanya untuk mengembangkannya menjadi sebuah cerpen. Begini cara AI bertutur:

Di sore yang mendung itu, aku duduk sendirian di sebuah cafe di teras perpustakaan. Aroma khas buku-buku yang menguar dari pintu perpustakaan terbuka menyatu dengan semerbak petrichor usai hujan gerimis. Aku menyeruput kopi tubruk di atas meja bundar, sambil menikmati sebatang kretek di antara dua jari.

Tiba-tiba, sorot mata seorang wanita memperkenalkan senyum berlesung pipit dari bibirnya yang merah dadu. Dengan pelan, ia mendekati mejaku, menarik kursi di sebelahku, dan duduk dengan anggun. Tanpa disadari, sebuah novelet mulai tercipta di antara kami, di antara dua kata, “Hello!” dan “Goodbye!”.

Kami berbagi cerita tentang kota-kota tak tampak yang kami temui dalam buku karya Italo Calvino yang terbuka di atas meja. Percakapan kami terjalin begitu alami, seolah-olah kami telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.

Namun, seperti halnya hujan gerimis yang meninggalkan jejak, pertemuan kami juga harus berakhir. Dengan hati yang berat, kami mengucapkan “Goodbye”. Namun, di balik kata itu, tersimpan harapan untuk bertemu lagi di antara halaman-halaman kisah yang belum terungkap.

Sebab siapa saja bisa menulis karya yang bagus, tak ada karya tulis yang buruk, kecuali karya AI.

Koinsiden

Milan Kundera—sebagai alat metafiksi dan tukang catat absurditas—membedakan kebetulan ke dalam beberapa jenis: puitik, kontrapuntal, bisu, pembentuk cerita, dan morbid. Aku menggunakannya bukan untuk mengklasifikasikan hidup, melainkan untuk memberi nama pada rasa ketika hidup mendadak terasa seperti kalimat yang pas.

Pertemuanku dengan perempuan itu, jika dilihat melalui kaca teistik, adalah takdir; tampak ditulis jauh sebelum kami lahir. Namun tanpa Tuhan, pertemuan itu lebih mirip koinsiden puitik: deret peristiwa kecil yang, disusun oleh kebetulan, bergetar menjadi sebuah bait. Bagiku itu sudah cukup—aku ingin menulis novelet dari rasa itu.

Tapi dari sudut pandangnya, segala sesuatunya bisa bernada lain: koinsiden kontrapuntal—dua kehidupan yang berirama sendiri, bertemu sekejap lalu berpisah, saling memperkaya makna tanpa mengklaim takdir. Atau dia melihatku sebagai sekadar orang dengan kursi kosong, dan senyum itu semata hanya sebuah kesopanan. Dalam kepingan pandangan seperti itu, keanggunan puitik meredup; ia menjadi kebetulan yang biasa.

Bagi orang di sekitar, bagi pengantar kopi, bagi pejalan kaki, pertemuan kami hanyalah koinsiden bisu—sebuah catatan kecil yang tidak mengubah ritme hidup siapa pun. Bisu bukan hina; namun mengingatkanku bahwa banyak kebetulan tidak meminta tafsir.

Ada pula kemungkinan lain: kebetulan yang mendatangkan jalan cerita—koinsiden pembentuk cerita—ketika satu senyum memicu rantai keputusan yang menggembungkan hidup; atau koinsiden morbid, kebetulan manis yang berbuah malu atau luka. Aku menolak menyembunyikan kemungkinan-kemungkinan ini.

Karena itu aku memilih hidup dengan dua kebijakan: sebagai romantikus, aku kadang menyebutnya takdir; sebagai penulis dan ilmuwan kecil, aku mencatat waktu, cuaca, bunyi, ritme—variabel yang merawat kebetulan.

Sebab jika segala friksi hanya kebetulan belaka, kita tak akan punya penyesalan.

Konflik

Meskipun karya ini adalah karya metafiksi, namun karena mengambil bentuk sebagai novelet, aku harus patuh pada aturan dan kebiasaan para penulis, baik dari sisi tuntutan pembaca maupun tuntutan kritikus. Konflik harus dihadirkan!

Sejauh ini selain konflik dengan diriku sendiri, kisah cinta ini belum bisa dibawa pada konflik dua tokoh utama. Alasannya sudah jelas, aku harus bertemu lagi dengannya untuk mencapai suatu konflik yang paripurna. Jika tak bertemu, konflik dengannya hanya akan terjadi dalam imajinasiku. Keliaran imajinasi tentu bisa menciptakan banyak alternatif konflik, seperti yang telah kubilang, tergantung pada genre yang akan diambil untuk karya ini, namun imajinasi dalam hal ini tidak akan mengalahkan indahnya realitas.

Apakah kamu mau menungguku hingga bertemu lagi dengannya agar kamu bisa mendapatkan suatu konflik yang realistis? Atau kamu akan cukup puas dengan konflik yang dibuat-buat oleh imajinasiku? Atau kamu akan membuat konflik sendiri sesuai imajinasimu karena kamu bermaksud menciptakan karya fiksi berdasarkan karya metafiksi ini?

Bagiku, tiga pilihan itu saja sudah merupakan sebuah konflik serius yang harus segera diselesaikan.

Sebab sebuah semesta tanpa konflik adalah kemunduran zaman, kembali pada zaman malaikat.

Metafiksi

Metafiksi adalah bentuk fiksi yang menekankan struktur naratifnya sendiri yang secara inheren mengingatkan pembaca bahwa mereka sedang membaca karya fiksi. Metafiksi sadar akan bahasa, bentuk sastra, dan teknik penceritaan, dan karya-karya metafiksi secara langsung atau tidak langsung menarik perhatian pada status mereka sebagai artefak. Metafiksi sering digunakan sebagai bentuk parodi atau alat untuk meruntuhkan konvensi sastra dan mengeksplorasi hubungan antara sastra dan realitas, kehidupan dan seni.

Karya ini mengambil judul Metafiksi Sebuah Kisah Cinta sebab sedang berusaha menarasikan sebuah struktur naratif tentang rasa cinta yang dialami seorang laki-laki akibat sebuah senyuman singkat yang mentato permanen di hatinya. Karya ini sangat menyadari bahwa tema yang diangkat tidak sesederhana kisah cinta biasa, meskipun prolognya membuat sebuah pernyataan sarkastik bahwa sebuah kisah cinta hanyalah kisah di antara ucapan “Hello!” dan “Goodbye!”.

Seperti juga kehidupan adalah sebuah perjalanan di antara lahir dan mati. Kita tentu sependapat bahwa kehidupan tidak sesederhana itu, namun apa daya, pembatasnya adalah mutlak. Lahir dan mati. Hello dan goodbye.

Sebab kita semua yang lahir sudah pasti mati, namun tentu saja kita tak mau mati begitu saja.

Supranatural

Tak ada yang bisa kuceritakan lagi tentangnya selama bulan-bulan terakhir ini. Perasaanku padanya masih sama. Kerinduanku pada senyum manis dan lesung pipit indahnya masih sama. Tapi tekad untuk mencarinya sudah mulai meluruh seiring waktu. Ya, sebelumnya aku memutuskan untuk mencarinya di sudut-sudut kota. Mencarinya di media sosial. Menggunakan setiap nama perempuan secara acak dari A hingga Z. Aku tak menemukannya.

Hingga suatu malam kejadian itu menimpaku. Sudah tengah malam. Aku sedang berada antara alam sadar dan alam tidur. Ada bisikan keras di telingaku. Suara seorang perempuan meminta tolong. Sontak aku terbangun. Lalu kulihat dia sedang bersimpuh di lantai. Dia adalah perempuan itu. Aku tahu ini akan terdengar sangat aneh. Namun aku melihatnya dengan jelas sebab aku tak pernah mematikan lampu kamar saat tidur. Namun bukan senyum yang kukenal yang tersungging di bibirnya, melainkan sebuah tangisan menghiasi lesung pipitnya hingga surut. Matanya sembab, di dada dan perutnya ada noda merah darah yang terlihat jelas masih mengalir perlahan di permukaan baju putihnya.

Bulu-bulu di sekujur tubuhku berdiri, antara takut, senang dan sedih menimpaku. Aku terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga aku mendatangi dan memeluknya. Dia tersenyum singkat dan memeluk balik dengan sangat erat.

Lalu aku terbangun dengan basah keringat di sekujur tubuh. Dan merasakan kekosongan yang amat sangat.

Hari itu, di linimasa media sosialku, lewat sebuah berita tentang pembunuhan seorang perempuan di sebuah rumah.

Sebab suatu perasaan yang kuat akan mengantarkan kita pada konektivitas yang kuat pula.

Berita Duka

Aku membaca berita itu berulang-ulang di media yang berbeda-beda, isinya sama. Berita pembunuhan itu memenuhi linimasa dan headline koran-koran digital. Seorang perempuan dibunuh dengan cara ditusuk di beberapa bagian tubuhnya di Bandung. Polisi meyakini bahwa pembunuhnya adalah Chairil–yang kemudian dijuluki Sang Penjagal Maut. Polisi langsung menangkap tersangka di kediamannya.

Lalu sebuah berita duka dari seorang teman muncul di IG story. Ucapan duka yang menarik perhatianku karena puisi yang ditulisnya dalam ucapan duka itu mengiris hatiku. Dia juga me-mention akun almarhum yang dimaksud, @AnastasiaArunika. Otomatis aku mengunjungi akunnya. Lalu kulihat foto profilnya. Dan seketika itu juga aku mengenali senyum dan lesung pipitnya.

Anastasia Arunika, nama perempuan itu. Mati dibunuh Sang Penjagal Maut, seorang pembunuh berantai yang di kemudian hari sangat terkenal karena selalu meninggalkan puisi di tubuh korban-korbannya—makanya dia juga sering dijuluki Sang Penyair Maut di kemudian hari. Kematian Anastasia adalah petunjuk terakhir yang dibutuhkan polisi untuk meringkus Sang Penyair. Ribuan ucapan duka memenuhi komentar pada postingan terakhirnya. Banyak yang berdoa semoga Sang Penyair dihukum mati. Aku melihat semua postingannya, tak satupun dia memasang foto dirinya. Dia hanya mengunggah foto-foto hitam-putih berbagai suasana kota. Dan aku menangkap kesan suram dan indah di balik foto-foto berlatar sudut-sudut kota itu. Caption-nya kebanyakan adalah puisi pendek berbahasa Inggris.

Perasaan kosong yang kurasakan berubah menjadi sangat hampa. Perasaan kebas seperti saat jari kita teriris pisau, lalu perih mulai datang secara perlahan, lalu sangat sakit, lalu kebas lagi.

Sebab ketika sangat sakit justru kita tak bisa merasakan apa-apa.

Goodbye!

Dari IG story temanku, aku mendapatkan informasi kapan dan di mana Anastasia akan disemayamkan dan dimakamkan.

Aku tidak mendatangi rumah duka, namun sore hari aku mendatangi kuburnya di Jalan Pajajaran. Tanah kuburnya diselimuti bebungaan yang harumnya lembut tetapi getir menyentak saraf hidungku. Kulihat sebuah nisan kayu berbentuk salib tertancap di kuburnya serta sebuah epitaph ditulis tangan berbunyi, “Terbaring di sini, anak-cucu-adik-keponakan kami tercinta: Anastasia Arunika, yang senyumnya selalu mengobati kegelisahan kami. Lahir: New York, 25 Januari 1992 – Wafat: Bandung, 3 April 2024.”

Aku bersimpuh di sisi kuburnya. Mengelus nisan kayunya. Membayangkan kisah cintaku dengannya yang tak pernah terjadi itu. Entah berapa lama aku di sana, namun malam sudah datang. Aku beranjak. Mengucapkan selamat tinggal padanya. Diakhiri dengan setitik air mata menetes dan mengalir di pipiku.

Di depan cermin, sambil mengakhiri kisah ini, kulihat air mata yang sama sedang menetes mengalir di pipiku. Aku tahu kisah ini hanyalah fiksi, namun bukan berarti aku tidak merasakan kehilangan hebat atas tokoh fiksiku ini. Seperti kebanyakan fiksi, aku memang harus mengakhirinya. Dan aku memutuskan kisah ini sebagai sebuah kisah tragedi pada saat-saat terakhir.

Aku menarik napas panjang dengan tersengal. Lega sekaligus luka. Sedih sekaligus pulih. Sebab rindu yang penuh harapan itu kini sudah beralih menjadi rindu abadi. Usai sudah kisah cinta ini.

Sebab terkadang sebuah fiksi terasa lebih nyata ketimbang realitas itu sendiri.

Ilustrasi oleh Jaka Sandjaya. Anak manusia yang berjalan sembari melukis dan bermusik di sepanjang hidupnya. Memiliki ketertarikan akan cinta, alam, dan rahasia semesta.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Tan Lioe Ie Terbitkan Dua Buku Baru di Bawah Ladang Publishing: ‘Tubuh yang Tak Patuh Seluruh’ dan ‘Sekolah Tikus’

Redaksi

Fanfic Dalam Esensi Borgesian

Ervin Ruhlelana

Lihai Gunakan Kata Bersayap, Profesi Sastrawan Terancam Digantikan Anggota DPR

Preman Laut

Sabtu Besok, HIMA Sastra Indonesia UNUD Bahas Buku Puisi ‘Jamuan Malam’ di Denpasar

Redaksi
Kolom Minggu

'Kerumitan Sastra' - Edisi 2

Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ilustrasi oleh Jaka Sandjaya

Pengantar Penulis: Ars Poetica Untuk Hati yang Rapuh Tapi Keras Kepala

Suatu malam—malam yang menatapku lebih lama daripada aku menatapnya—datang kiriman ke meja kerjaku: sebuah stoples kaca bertutup logam, berisi sesuatu yang berdenyut pelan. Pada label kertasnya tertulis: hopeless romantic heart. Layaknya seorang kurator sebuah museum yang sedang menatap artefak rahasia tentang sebuah kota, aku melihat benda itu dengan suatu sudut pandang seorang ilmuwan. Di rak belakangku, buku-buku tua berdesis halus. Horatius berbisik dari risalah sastranya, Ars Poetica (kadang disebut Epistula ad Pisones, Surat kepada Keluarga Piso)—“Ut pictura poesis erit; quae, si propius stes, te capiat magis, et quaedam, si longius abstes.”—sebagaimana lukisan, begitu juga puisi, yang satu lebih indah dilihat dari dekat, yang lain lebih baik dari jauh. Puisi menuntut jarak pandang yang tepat: terlalu dekat, kau hanya melihat pigmen; terlalu jauh, kau kehilangan wajah. Hati di dalam stoples itu, pikirku, telah ditatap terlalu dekat oleh duka dan terlalu jauh oleh akal. Maka kubuka jendela, kubiarkan angin memindahkan jarak.

Ada hal yang diketahui orang-orang yang terselamatkan diam-diam oleh bait-bait: puisi bisa mengobati hati yang rapuh. Bukan karena rima adalah obat, melainkan karena ritme mengajari napas kembali ke tubuh. Namun hatiku—atau hati siapa pun yang semirip benda dalam stoples itu—kadang lebih dari sekadar rapuh: ia juga keras kepala, menolak dinasihati oleh keindahan, menarik selimut ketika disinari. Untuk hati seperti ini, obat bernama puisi sering ditelan lalu diludahkan sebagai ironi. Yang diperlukan oleh hati semacam ini bukan sekadar puisi, melainkan ars poetica—seni berpuisi: bukan pil yang ditelan, melainkan tata-cara meracik pil—sebuah etika, sebuah teknik, sebuah disiplin yang bukan hanya melantunkan kata-kata, tetapi menyusun ruang tempat kata-kata itu melakukan pekerjaannya.

Eliot dalam esainya “Dante” (1929) menulis, “It is a test (a positive test, I do not assert that it is always valid negatively), that genuine poetry can communicate before it is understood.” Dengan kata lain: puisi sejati memiliki kekuatan untuk “berbicara” atau menimbulkan resonansi emosional/intuitif sebelum pembacanya benar-benar memahaminya secara intelektual. Kalimat itu adalah obor di lorong darurat. Tetapi hati yang rapuh sekaligus keras kepala menjawab: justru karena aku tak memahaminya, aku menolak dipengaruhi. Di titik itu, seni berpuisi turun tangan. Sebab seni berpuisi bukan persuasi; namun arsitektur. Seni berpuisi tidak mendorong; namun membangun ruangan di mana keengganan pun memperoleh tempat. Wallace Stevens menambahkan batu penjuru lain, muncul tepat di baris pembuka puisinya yang berjudul Man Carrying Thing: “The poem must resist the intelligence / Almost successfully.” Stevens menyatakan bahwa puisi sejati harus bekerja melawan (atau paling tidak menantang) akal/rasio—namun tidak sampai sepenuhnya mengalahkannya (“almost successfully”), sehingga masih ada titik penghubung antara kesadaran pembaca dengan pengalaman puisi. Bagi hati keras kepala, kata “almost successfully” inilah yang menciptakan celah penyelamatan: bukan kekalahan, bukan kemenangan, melainkan retakan yang memungkinkan cahaya masuk.

Maka kubawa stoples itu ke ruang yang kusebut Laboratorium Puitika—ruangan dengan tiga dinding buku dan satu dinding cermin. Di ruangan itu, puisi bukan berbentuk “teks” melainkan “alat peraga”: baris, bait, garis, jarak, diam, jeda. Aku menaruh stoples berisi hati di hadapan cermin, dan kulihat dua bayangan: rapuhnya—serpih dari permukaan yang mudah berjatuhan bila disentuh seperti ketombe—dan keras kepalanya—sumbu pendek yang menolak dipatahkan meski sudah hangus. Aku sadar, seni berpuisi untuk jenis hati seperti ini tidak boleh memuja kerapuhannya hingga menjadi sentimental, juga tidak boleh mematahkan kekeraskepalaannya hingga menjadi moral. Seni berpuisi harus bertindak seperti tukang kintsugi: menyatukan pecahan dengan emas, tetapi membiarkan jejak retakan sebagai peta baru, menambahkan garis-garis berharga, sebuah pengalaman menikah meski sudah cerai.

Aku memulai dengan stamina, bukan dengan baris dan bait. Puisi sebagai obat; seni berpuisi sebagai terapi setelah operasi. Aku ajukan premis: bahwa setiap baris adalah gerak—bukan hanya gerak kata, melainkan gerak hati menegosiasikan ulang gravitasi. Octavio Paz adalam bukunya El arco y la lira (1956)—sebuah pengantar untuk refleksinya mengenai hakikat puisi: “La poesía es conocimiento, salvación, poder, abandono”—puisi adalah pengetahuan, keselamatan, kuasa, penyerahan. “Penyerahan” (abandono) itulah yang paling sukar bagi hati yang keras kepala; dan karenanya seni berpuisi harus menciptakan ritual di mana penyerahan bukan kekalahan, melainkan teknik.

Barangkali teknik paling sederhana sekaligus paling tua adalah mengukur napas. Tidak dengan metronom, melainkan dengan kalimat yang panjangnya setara dengan nyali untuk berubah meski tahu jalannya sesulit niatnya. Baris yang terlalu panjang bagi hati yang rapuh akan pecah di tengah; baris yang terlalu pendek bagi hati keras kepala akan berubah menjadi dengusan. Maka kubuat serangkaian kalimat yang panjangnya kira-kira sama dengan satu tarikan napas yang tulus dan tidak dibuat-buat. Aku menulisnya bukan untuk dibaca, melainkan untuk dilalui, untuk dialami. Dan benar: pada baris yang ketiga, stoples itu berembun. Tidak ada keajaiban di situ; namun ada pengakuan bahwa tubuh masih tahu cara bertahan dari serangan melankolia yang sukar dilawan.

Tentu saja, hati dalam stoples menolak proses ini, dan akan selalu begitu. Ia menata ulang keberatannya: “Aku rapuh, aku berhak melindungi diriku dari bentuk.” Di sinilah Horatius kembali diperlukan sebagai saksi bahwa bentuk adalah cara menghindari kebohongan. Horatius bukan polisi metrum. Bentuk bukan pagar; namun rute evakuasi. Dalam paniknya kebakaran, jangan berlari ke tangga spiral yang gelap, akan tetapi ikuti garis hijau di lantai. Bentuk penyelamatan diri seperti ini bukan berarti galak dan ketat, melainkan karena bisa diulang tanpa menimbulkan kepanikan dalam pikiran. Soneta, pantun, haiku, pupuh, syair, gurindam—semua bukan menara, melainkan tali karamantel untuk orang yang sedang rapelling.

Aku melakukan sebuah percobaan saat hujan batal turun dan matahari dengan keras kepalanya mencoba menembus awan: kukunci diriku dengan satu bentuk—empat kalimat saja, bukan soneta, tapi masing-masing ditutup oleh kata yang sama. Kata itu bukan “cinta,” bukan “maaf,” bukan “kembali,” melainkan kata yang lebih sederhana: “cukup.” Empat kali cukup: cukup untuk memadamkan api yang gemar menyala di kamar kosong, cukup untuk membatalkan kebisingan dalam kepala, cukup untuk memaafkan detik-detik yang berlalu, cukup untuk mengingat bahwa “cukup” adalah kata yang cukup adil. Empat kalimat itu bukan puisi yang layak dipajang sebab seni berpuisi bukan pameran, namun fisioterapi. Pada kalimat keempat, hati dalam stoples itu berhenti berdebat. Ia tidak percaya bahwa ia bisa kembali mengingat bagaimana caranya napas.

Namun kekeras-kepalaannya membuat hati dalam stoples tetap menggeliat: keras kepala adalah bentuk kehormatan bagi orang yang terlalu sering rubuh, terlalu gemar runtuh. Dia tidak mau dihibur. Dia selalu curiga pada setiap kecantikan yang disodor-sodorkan ke mukanya. Maka kubalikkan cermin; kutulis tentang sesuatu yang sangat biasa: sisi cangkir yang retak, kursi plastik di teras yang permukaannya sudah rapuh dihajar cuaca, bunyi tak-tik sepatu dalam setiap langkah menuju penghakiman, layar cermin hitam dalam genggaman yang membombardir emosi dengan sejuta informasi. Aku tidak menuliskan benda-benda yang tidak jago berbohong, juga tidak menuliskan suasana hati. Aku mulai mengerti kalimat Rilke dalam puisi Archaïscher Torso Apollos (1908), sebuah ajakan, bukan ancaman: “Du mußt dein Leben ändern”—kau harus mengubah hidupmu. Bukan “kau harus menjadi mulia”, bukan “kau harus mengerti”, hanya “ubah.” Hati yang rapuh dan keras kepala paham rasionalitas perubahan kecil ini: dia hanya diminta untuk mengganti tempat duduk, bukan untuk runtuh dan hancur lebur.

Apakah teori ini saintifik? Tidak. Tetapi ia taat beragama, taat pada pengulangan, disiplin dalam beribadah, tak pernah ketinggalan shalat lima waktu: setiap kali kubiarkan bentuk yang jujur mengatur ruang, hati rapuh berhenti memproduksi ketombe; setiap kali kubiarkan benda-benda sederhana memimpin, hati keras kepala berhenti berdebat sambil memukul meja. Aku menamainya Teori Retakan Terkendali: bahwa seni berpuisi bukan untuk meniadakan retak, melainkan memberi retakan dengan rute emas yang meniadakan luka secara teratur dan perlahan. Lalu muncul konsekuensi yang mungkin sangat pahit namun adil: bahwa tidak semua puisi bisa cocok dengan hati dalam stoples itu, dan tidak semua hari bisa dipakai untuk menulis. Ada hari yang menuntut diam sebagai bait yang tak tertulis. Seni berpuisi harus mengakui bab kosong sebagai bagian dari rancangan.

Pada jam tertentu—jam ketika kota melonggarkan bahunya, jam saat robot-robot rusak rebahan di kasur kontrakan sambil nonton film bajakan—aku membawa stoples itu jalan-jalan. Di trotoar, aku membaca keras-keras satu kalimat yang selalu kubawa untuk keadaan begini: “Kita akan menyusun ruang di mana kekeras-kepalaan boleh duduk bareng dan ngobrol, asal jangan arogan.” Kalimat itu, pada mulanya, terdengar seperti protokol rapat, namun seiring langkah, berubah jadi undangan. Agaknya begitulah kerja perbedaan halus antara puisi dan seni berpuisi: puisi bisa dinikmati sendirian; seni berpuisi meminta kehadiran tubuh—tubuh yang berjalan, tidak tergesa, menandai batu, mencatat angin, lalu pulang.

Ada yang berkata padaku—seorang sahabat yang kerap berpura-pura sinis untuk melindungi harapan—bahwa semua ini hanyalah penghiburan. Mungkin. Tetapi penghiburan yang terlatih adalah keadilan bagi diri sendiri, sebuah pemenuhan hak tubuh untuk tetap sehat dan kuat. Kita tidak berutang heroisme pada siapa pun; kita berutang ketelitian kepada lukanya sendiri. Seni berpuisi memang tidak menyejukkan, tapi mampu menyentuh pusat kegelisahan tanpa menambah robekan. Dan karena itu, hasilnya tidak selalu indah di telinga; namun sering terasa benar dalam setiap tarikan napas. Ada perbedaan antara lagu yang membuatmu menangis karena manipulasi rasa dan kalimat yang membuatmu menahan beban setengah senti dari tanah. Aku memilih yang kedua: tidak spektakuler, namun mampu bertahan.

Sekali waktu, aku meletakkan stoples itu di rak paling sunyi dan membuka buku-buku yang kucintai bukan karena ide besarnya namun karena kejujuran kecilnya. Di sana, aku menemukan kembali Borges—tapi kali ini aku melihat Borges karena kebiasaan diamnya, bukan bentuk kutipan yang sering diucapkan dalam esai-esai sastra: aku melihat cara Borges membangun labirin agar pembaca tersesat menuju dirinya sendiri. Labirin ini bukan jebakan, bukan kurungan yang menyesatkan, tapi sebuah metode. Hati yang keras kepala diselamatkan oleh belokan yang tiba-tiba. Di belokan itu, dia menyadari bahwa dia tak perlu lagi mempertahankan pos, tak perlu juga mencari gerbang besar menuju kebahagiaan secara tergesa—karena tak ada musuh, hanya peta yang sudah berubah.

Malam hilang, fajar datang: puisi mengobati, seni berpuisi melatih. Yang pertama menghapus demam, yang kedua mengajarkan cara tidur. Yang pertama membawakanmu air; yang kedua mengingatkanmu untuk merawat mata air. Dan untuk hati yang rapuh namun keras kepala—yang menolak disuruh bahagia, yang mencemooh nasihat motivator—seni berpuisi tidak mengiming-imingimu keselamatan; namun menyalakan lampu-lampu kecil di lorong yang panjang yang akan kamu susuri.

Kukembalikan stoples itu ke meja. Denyutnya belum segagah seharusnya, tetapi juga bukan lagi denyut yang menggambarkan ketakutan. Barangkali karena dia tahu bahwa keras kepala bukan musuh dari rapuh; keras kepala—di tangan seni berpuisi—adalah tulang: penyangga agar meski rapuh namun bisa tetap berdiri. Barangkali karena dia melihat bahwa retak tidak harus disembunyikan, cukup digarisbawahi dengan emas yang tipis. Barangkali karena dia akhirnya percaya pada kalimat pendek yang kutulis diam-diam di bagian dalam tutup logam: cukup untuk hari ini. Sebab tidak ada teori yang lebih manusiawi daripada menutup buku tepat ketika mata sudah tinggal 5 watt.

Sebelum tidur, aku membaca lagi kalimat Eliot, lalu mengucapkannya seperti orang yang menyebut nama kota sebelum berangkat: puisi yang sungguh-sungguh, bisa berkomunikasi sebelum dipahami. Aku melanjutkan dalam bahasa yang diciptakan malam itu sendiri: seni berpuisi—untuk hati yang rapuh dan keras kepala—mengizinkan komunikasi bahkan sebelum persetujuan. Seni berpuisi adalah menyiapkan meja, menaruh roti, menutup jendela setengah, dan berkata: besok puisi baru harus tercipta. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa musim, aku mendengar sesuatu yang lebih tua dari teori, lebih jernih dari metafora, yaitu bunyi detik di jam dinding yang kali ini tidak terasa mengejar-ngejar, namun menuntun dan menemani perjalanan.

Kumatikan lampu, bayangan rak buku membentuk peta yang kini kumengerti, peta harta karun telaga keabadian.

Di dalam stoples kaca, ada hati yang tetap retak, tetap keras kepala, namun kini retak dengan sebuah keindahan terbarukan dan keras kepala pada arah yang berbeda: tidak lagi menolak untuk disentuh, namun masih menolak untuk dibohongi. Jika itu bukan kesembuhan, mungkin itu yang paling dekat dengan kata “sembuh” yang bisa diberikan oleh kata-kata. Selebihnya: pagi, roti, dan halaman kosong; dan kesediaan untuk duduk lagi di meja, tak menaklukkan apa pun, hanya menyusun ruang tempat hati yang rapuh boleh menua tanpa harus menanggung rasa malu dan bersalah.

“Mengingatmu, cintaku, adalah asin air mata yang tumpah ke dalam stoples gula. Di pagi hari, dengan naiknya asam lambung, kopi kita nano-nano.”

Prolog

Saat ini aku sedang merindukan sebuah peristiwa retro seperti ini:

LATAR: Sore, cafe di teras sebuah perpustakaan.

SUASANA: Bau buku yang terpancar dari pintu perpustakaan yang terbuka, bercampur dengan petrichor, sebab gerimis baru saja turun, segelas kopi tubruk mengepul di atas meja berbentuk bundar, dengan sebatang kretek diapit jari, asapnya mengalahkan uap kopi, dan “Kota-Kota Tak Tampak” karya Italo Calvino terbuka di sebelah asbak setengah penuh.

ADEGAN: Senyum berlesung pipit dari bibir merah dadu seorang perempuan yang berniat untuk berteduh dan melirik padaku. Lalu terciptalah sebuah novelet di antara dua kata, Hello! dan Goodbye!

Hello!

“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya anggun, memecah kesunyian yang barusan terasa begitu nyaman. Suaranya lembut, menyatu dengan suasana sore itu, mengalir bersama angin yang menari Solo; lembut, pelan, menyejukkan. Aku mempersilakannya dengan membalas senyumnya—senyum di antara dua lesung pipit yang muncul sekejap tapi sudah kadung terbit, sudah kadung terekam dalam ingatanku. Kami duduk bersama dalam keheningan yang rasanya akrab—tapi gak tahu apaan, pokoknya nyaman aja!

Aku mengamati setiap detail dari dirinya—sorot matanya yang terkadang teralihkan ke lampu jalan yang mulai menyala, gerakan tangan yang gemulai saat dia membenahi rambut yang tertiup angin. Setiap gerakannya seolah membentuk melodi yang hanya bisa kudengar, membuat waktu terasa berhenti sejenak di antara deretan detik-detik yang terasa begitu cepat berdetak. Kayak saat aku kebanyakan nyintak!

Malam datang terlalu tergesa, hujan reda terlalu cepat. Dia pergi terlalu dini, tapi senyumnya sudah menato di hati. Aku ingin bertanya lebih banyak, ingin mengenalnya lebih dalam, namun waktu tidak memberiku kesempatan.

“Sampai jumpa,” katanya dengan senyum yang masih tergambar di bibirnya, lesung pipit itu terbit lagi, dicetak ulang tepat ketika aku merasakan kupu-kupu beterbangan di ulu hati, mendesak ingin keluar.

“Sampai ketemu,” jawabku, meski aku tak yakin kapan dan bagaimana. Aku tidak punya cukup nyali untuk meminta nomor teleponnya. Dan seperti biasa, untuk hal-hal seperti ini, aku menyukai misterinya. Kupu-kupu dalam ulu hatiku mendesak-desak lambung, asamnya naik ke kerongkongan, nyaris saja muntah namun untung Si Lesung Pipit keburu terbang.

Dalam bayanganku, ada harapan yang tertinggal di balik dua kata itu: “sampai” dan “jumpa”. Semesta masih memberi ruang bagi pertemuan yang berikutnya; sebuah spasi.

Kopi sudah dingin. Kututup buku Kota-kota Tak Tampak. Kumatikan rokok di atas asbak. Kukeluarkan buku kecil di saku kemeja. Kuambil bolpennya juga. Kucatat senyum dua senti itu, di antara dua lesung pipit sekejap itu. Lalu kuberikan ilustrasi tambahan, kicauan burung pipit, suara ombak, dan sinar bulan. Kutambahkan catatan dengan judul Hello!

Sebab kisah cinta hanyalah kisah di antara “Hello!” dan “Goodbye!”.

Anatomi

Saat dia duduk satu meja denganku menunggu hujan reda, lekuk lesung pipitnya bereaksi agresif, sebuah reaksi dari senyum terkembang di bibirnya. Lesung pipitnya serupa rumah undur-undur, membuatku tak tahan untuk mengoreknya, mencari undur-undur di sana.

Ada ribuan spekulasi di kepalaku tentang anatomi senyumnya. Berkembang pada yang menyenangkan. Berkembang pada yang bukan-bukan. Yang menyenangkan adalah rasa bibir dan aroma napasnya. Yang bukan-bukan adalah rasa estrogen dan aroma feromon dari tubuhnya.

Setiap unsur dirinya memiliki bahasa masing-masing; lingua franca, bahasa tubuh, dan bisikan jiwa. Kami berdua dipertemukan oleh lingua franca: “Hello!”, bahasa tubuh berbentuk senyuman, dan selama duduk semeja yang tak seberapa lama itu jiwa kami saling berbisik dengan berisik.

Meskipun berisik, tak satu kata pun dalam dialog dari bisikan jiwa ini bisa kuterjemahkan, baik ke dalam lingua franca maupun bahasa tubuh, sebab bisikan ini bukan untuk kebutuhan pikiran maupun tubuh, hanya jiwa kami yang mengerti, ditandai dengan lambaian ombak dalam imajinasi ketika terik purnama menyambangi lautan.

Sebab sebuah hubungan harus cocok di tiga tempat; kepala, dada, dan selangkangan. 

Rumah

Arsitektur, konstruksi, interior, dan taman adalah empat hal yang harus dirancang agar dia nyaman berada dalam fiksi ini. Rumah adalah tempat dengan energi sihir yang tak bisa ditembus ilmu hitam. Menuliskannya adalah mengekalkan eksistensinya. Aku tidak mau menempatkannya di sebuah kosan atau kontrakan, harus sebuah rumah permanen yang kokoh dan nyaman, yang layak dirindukan, agar jika pun jarang dia singgahi, dia akan selalu kembali. Yang jelas harus ada pot dekat pintu, agar bawahnya bisa jadi tempat untuk menyembunyikan kunci. Ini penting sebab kupikir aku tak boleh punya duplikatnya, rumah ini adalah rumahnya, seperti juga tubuh, rumah itu adalah miliknya sendiri. Pot itu hanya harapan, jika suatu waktu aku berkunjung ke rumah ini dan dia sedang pergi, aku bisa ke dapur bikin kopi. Semoga dia mengerti.

Arsitektur rumah ini akan kutiru dari riasan muka dan konsep pakaian yang dikenakannya saat pertemuan pertama kami. Top to bottom.

Meskipun akan mengadaptasi rumah pinggir hutan, konstruksinya harus sekuat rumah-rumah era Victoria. Interior biophilia akan membuat rumah ini semakin kaya oksigen. Eksterior taman akan menyembunyikan batas luar dan dalam, bergaya villa-villa di Bali. Semoga dia suka.

Sebab kenyamanan tanpa syarat adalah suatu keniscayaan.

Takdir dan Anasir-Anasirnya

Karena takdir alam raya adalah absolut dimiliki Tuhan, aku tak berani menciptakan takdir perempuan itu kemudian. Pertemuanku dengannya adalah takdir, tapi setelah dia pergi karena hujan sudah reda, maka hanya dia yang memiliki nasibnya sendiri, seperti juga aku yang memiliki nasibku sendiri.

Dalam fiksi ini bisa saja aku menciptakan perempatan baru agar kemungkinan untuk bertemu lagi dengannya bisa lebih besar. Tapi tidak begitu cara kerja takdir. Tak peduli jutaan perempatan kuciptakan, jika Tuhan tak menakdirkan, aku hanya akan bernasib menyedihkan; penantian panjang; harapan kosong; godaan feromon lokal yang harus ditolak; sebab persanggamaan darurat sudah tidak mampu menjadi obat.

Jadi biarkanlah dia menjalankan nasibnya bertemu entah siapa di mana; dan aku menjalankan nasibku untuk menuliskan kisah cintanya.

Cinta adalah anasir takdir, tak ada siapa pun yang bisa mengendalikannya, bahkan seorang pengarang sekali pun pada tokoh ciptaannya.

Harapanku datang dari sebuah intuisi, bahwa aku akan bertemu lagi dengannya.

Sebab takdir adalah pertemuan antar nasib dan intuisi adalah penggaris takdir yang akurat.

Beberapa Penyesalan dan Cara Mengatasinya

Penyesalan pertama adalah kebisuanku. Aku terlalu sibuk mencari undur-undur di balik lesung pipitnya.

Hingga menciptakan penyesalan kedua, aku tak tahu namanya, –goblok! Ketidaktahuanku yang tolol ini agak menyulitkan proses penulisan kisah cinta ini. Aku jadi punya beban untuk menciptakan nama untuknya, yang sesuai dengan karakternya. Kukira Calvino bisa membantuku untuk urusan ini. Kota-kota Tak Tampak karangannya dipenuhi dengan nama-nama perempuan. Akan kucari di buku itu kota yang tepat untuknya, lalu kunamai dia berdasarkan nama kota itu.

Indra penciumanku terkejut saat diberondong campuran aroma yang begitu kuat; aroma kopi yang masih mengepul; aroma buku dari pintu perpustakaan yang terbuka; petrichor yang merajalela; feromonnya menelusup di antara ketiga aroma itu. Bombardir aroma membuat hidungku kebas. Andai saja aku bisa mengatasinya dengan cepat, mungkin penyesalan ketiga tak akan hadir, aku tidak begitu memperhatikan bau feromonnya, padahal hanya feromon yang bisa membantuku melacaknya kembali. Butuh meditasi untuk memecah kembali aroma campuran yang membuat hidung ini kebas. Dan si tolol aku terlalu malas untuk bermeditasi, pikiran ini lari-lari. Memang harus kupaksakan sih, agar aku bisa mendeskripsikan dengan baik bentuk feromonnya.

Sebab aroma adalah perangkat intuisi yang paling kuat.

Ekstensi Eksistensi

Menuliskan kisah cinta ini berarti memperpanjang keberadaan perempuan itu dalam hidupku. Pertemuan sesaat seperti ini bahkan bisa abadi di tangan lihay para penulis. Namun sekali lagi, aku tidak berniat mengabadikannya, hanya ingin sedikit memperpanjang eksistensinya sebelum pada akhirnya mungkin nanti kami akan bertemu kembali.

Siapa yang menyangka bahwa Jesse akan bertemu kembali dengan Celine dalam Before Sunset setelah pertemuan singkat mereka 9 tahun lalu dalam Before Sunrise? Yang jelas pertemuan mereka sudah pasti tidak terjadi jika Jesse tidak menuliskan pertemuan pertama mereka menjadi sebuah novel yang laris. Dan tanpa pertemuan kedua ini, mereka tidak akan jadi keluarga yang seru dalam Before Midnight. Meskipun tidak memikirkan film trilogi itu sebelumnya, namun mungkin karena tiga film itu juga sudah mengakar dalam kepalaku, kira-kira harapanku dengan perempuan itu akan mewujud seperti skenario trilogi Before.

Saat ini, mengimitasi Jesse adalah jalan keluar terbaik. Tapi bahan apa yang kupunya dari sebuah pertemuan yang tak sampai 15 menit tanpa obrolan sedikit pun, tak seperti Jesse yang punya waktu lebih dari 2 jam berbincang dengan Celine?

Sebab rindu hanya bisa disembuhkan oleh tekad dan sedikit keberuntungan.

Epistem

Jiwaku mungkin tahu banyak tentang dia karena intensitas saling berbisik di antara mereka. Namun pengetahuan yang ditangkap akalku hanya sebatas wajahnya saja, itu pun spesifik hanya pada senyum manis dan lesung pipit indah yang mendominasi keseluruhan wajahnya. Wajah senyum berlesung pipit adalah pengetahuan empirik tentangnya, detail lainnya terasa samar, untuk itu aku harus melakukan improvisasi.

Akan kumulai dari mata, karena katanya, mata adalah jendela jiwa. Jika aku berhasil menggambarkan matanya, siapa tahu aku dapat bocoran bisikan jiwanya pada jiwaku saat perbincangan mereka terjadi. Mesti diingat bahwa dimensi jiwa tidak terpenjara waktu, pertemuan singkat kurang dari 15 menit di dimensi kita bisa jadi adalah perbincangan satu abad dalam dimensi jiwa. Jika aku berhasil mempertajam resolusi matanya, aku bisa membongkar rahasia terdalamnya.

Dari bentuk samar matanya aku bisa menduga agak sayu dan pupilnya berwarna coklat tua, atau coklat muda seperti hazelnut, tatapannya terlalu samar untuk bisa kuduga sekarang, namun saat itu kurasa matanya ikut tersenyum mengikuti bibirnya. Jika memang begitu berarti senyum itu tulus.

Sebab ketulusan senyum di bibir hanya bisa kita tangkap dari sorot mata.

Jalur Suara

Aku melayang sembari jalan pulang tadi sore setelah ngabuburit, membayangkan lagu tema yang tepat untuk kisah ini. Tentu saja selain lagu tema ciptaanku sendiri, aku memikirkan lagu-lagu ciptaan orang lain.

Kita sama-sama tahu bahwa sebuah kisah cinta akan sepi dan membosankan jika tidak memiliki soundtrack atau jalur suara, baik yang original maupun lagu cover.

Menurut seleraku, album soundtrack terbaik pada zamannya adalah SPAWN: The Album, OST dari film Spawn. Betapa tidak, tahun 1997 kita disuguhkan kolaborasi-kolaborasi yang edan, Atari Teenage Riot kolab bareng Slayer, Dust Brothers bareng Korn, terus ada kolaborasi lain dari musisi-musisi gila, Marilyn Manson, Tom Morello, Moby, Kirk Hammett, Prodigy, Silver Chair, Incubus, Goldie dan banyak lagi, anjing lah pokoknya!

Aku membayangkan jalur suaranya harus sehebat itu, namun untuk kisah cinta dan tepat untuk zamannya. Blue Sunday dari The Doors langsung masuk urutan pertama, boleh yang original atau dibawakan oleh Bjork. Berikutnya aku membayangkan duet Thom Yorke dan Beth Gibbons membawakan lagu Wish You Were Here dari Pink Floyd. Lalu Oh, Lonesome Me dari Neil Young dibawakan Agnez Mo dan Dewa Budjana. Berikutnya Sudah dari Ahmad Band dibawakan Nadin Amizah lewat aransemen Eka Gustiwana. Trust dari The Cure dibawakan oleh Sia dan duo Air.

Sebab tanpa musik yang bagus, kisah yang baik tak akan bisa menjadi indah.

Telur Paskah

Saat aku sampai di rumah, aku memikirkan beberapa easter eggs pada kisah cinta ini, termasuk ketika tadi aku memasukkan lagu Trust sebagai salah satu jalur suara. Ini adalah bocoran akhir kisah. Sebenarnya pada beberapa sub bab sebelumnya sudah banyak easter eggs yang secara tidak sadar kutulis. Namun kali ini aku ingin memasukkan telur-telur paskah ini secara sadar agar bisa lebih subliminal.

Ketika dengan sadar bahwa aku sedang menulis sebuah karya metafiksi, aku sedikit berharap ada seorang pembaca yang membuat karya fiksinya. Jika aku adalah Charlie Kaufman, maka kamu adalah Spike Jonze. Jika aku Plato, maka kamu adalah Socrates. Jika aku Syams Thabriz maka kamu adalah Jalaludin Rumi. Jika aku May Ziadah, maka kamu adalah Kahlil Gibran.

Untuk itu aku ingin memberimu banyak telur paskah agar kelak karya fiksimu bisa sangat kaya, terutama kaya secara kuantitas tema dan lema. Masalah kualitas bukan urusan kita, hanya pembaca lain yang berhak menilai kualitas sebuah karya, kita hanya akan mencoba yang terbaik.

Jika proses ini terjadi antara aku dan kamu, maka kita akan memiliki kualitas persahabatan seperti C.S. Lewis dan J.R.R. Tolkien; H.B. Jassin dan Chairil Anwar; atau Jorge Luis Borges dan Adolfo Bioy Casares. Nama-nama yang kusebut barusan juga adalah telur-telur paskah untukmu.

Sebab dalam setiap pesan tersembunyi, ada cinta yang mengalir di dalam gua.

Lema-Lema Arkais

Setelah kamu memecahkan telur-telur paskah itu, sekarang kita diskusi tentang lema-lema arkais dalam kisah ini, agar suatu hari seorang bibliosmia sekalipun akan mencium bau buku tua, padahal bukumu baru dicetak. Kita kelabui para bibliosmia itu dengan memberikan aura tua lewat lema-lema kuno.

Sebelum kamu buka kamus besar, aku perlu mencoret 10 lema arkais agar tidak digunakan pada karyamu—cuma saran aja, sih! Soalnya lema-lema ini sudah sering digunakan penulis lain, jadi menurutku sudah tidak arkais lagi, sudah bangkit dari kuburnya.

Ini daftarnya: 1. Mahardika 2. Renjana 3. Nirmala 4. Nuraga 5. Lazuardi 6. Bestari 7. Lenggana 8. Bumantara 9. Maharani 10. Kirana

Meskipun begitu, kamu boleh gunakan kata-kata itu untuk nama tokoh perempuan yang sedang kita bicarakan ini, sebab hingga saat ini Calvino belum banyak membantu, belum benar-benar ada yang cocok untuk disandang oleh perempuan itu.

Satu hal lagi, gunakan KBBI versi cetak, jangan yang daring. Sebab ada beberapa kata arkais yang sudah hilang dalam versi daring.

Sebab ada ribuan kata cinta yang bisa dipakai tanpa harus mengatakan cinta.

Genre

Meskipun ini adalah kisah cinta namun aku bisa menentukan genre apa yang ingin kupilih. Tergantung bagaimana cinta ini kemudian akan diantarkan. Jika mengambil genre thriller, berarti akan lebih seru jika ada pembunuhan. Atau mau lurus saja memakai genre populer. Atau aku bisa saja memakai salah satu genre musik, jika ingin ceritanya lebih musikal. Katakanlah aku memakai genre grunge, maka kisah cinta yang kubuat akan cenderung ke arah tema bunuh diri, penghancuran diri, dan melibatkan kekacauan institusi keluarga. Jika aku ambil genre blues, maka kisahnya akan mengarah pada suatu lautan rindu ingin pulang tapi tak bisa pulang.

Sebuah karya fiksi diberikan privilese untuk mengambil genre dari jenis seni apa pun. Aku diperbolehkan untuk menulis kisah cinta ini memakai beberapa aliran dalam lukisan. Kisah cinta yang surealis mungkin akan banyak adegan mlehoy, elemen ruang dan waktu bersifat fleksibel seperti permen karet, rapuh pada titik tertentu.

Lain halnya jika kisah ini berada di jalur impresionisme, aku mesti jago mengimitasi dengan cara menambahkan perspektif paling subjektif dari diriku.

Aku mungkin akan sedikit kesulitan jika mengambil aliran kubisme, bagaimana mungkin kisah cinta hanya terdiri dari bentuk, dan hanya mengandalkan entitas cahaya pada pembaca. Seperti menulis dalam kegelapan.

Sebab universalisme tak bisa dilepaskan dari urusan-urusan fakultatif.

Taksonomi Cinta

Tak hanya itu, kisah cinta juga memiliki taksonominya sendiri, berdasarkan dari sifat cinta yang dimiliki para tokohnya:

  1. Eros. Menceritakan kisah cinta yang purba, hasrat paling murni yaitu gairah seksual, mengandung unsur ketelanjangan yang sangat kental. Semi porno. Romantis.
  2. Storge. Cinta yang mengarah pada institusi yang stabil. Mengandung komitmen. Bisa jadi pernikahan.
  3. Ludus. Cinta di sini hanya sebuah permainan. Tak lebih dari itu. Mungkin akan tepat dikawinkan dengan genre komedi.
  4. Pragma. Para tokohnya dibuat realistis. Cinta di sini adalah urusan dapur dan kartu kredit. Urusan klasik sepasang kekasih berbeda status sosial. Lagi ngetrend dalam film-film vertikal di Facebook dan Tiktok (ibu-ibu bilangnya dracin—Drama Cina).
  5. Mania. Ini cocok dikolaborasikan dengan genre thriller. Cinta yang obsesif dan posesif dihadirkan terang-terangan. Lebih seru dikawinkan dengan genre detektif atau misteri. Tokoh perempuannya kubunuh. Terus kucari pembunuhnya lewat sudut pandang seorang detektif. Atau dengan horor psikologi, perempuan itu digambarkan psychopath, endingnya aku yang mati.
  6. Agape. Cinta yang diejawantahkan dalam bentuk kepedulian. Ujungnya di-friendzone, tapi ngelap tisu di perut. Namun dalam genre Agape sebaiknya dibuat lebih serius. Urusan ngelap tisu di perut akan jadi penyesalan mendalam di antara kami.
  7. Philia. Dalam genre philia, salah satu dari kami harus memiliki cinta yang murni, yang platonik. Biar aku saja. Dia boleh tidak mencintaiku—sebab mencintaiku itu kompleks, riskan, dan bebannya berat.
  8. Philautia. Self-Love. Dalam titik ekstrim ternyata dia mengidap narcissistic personality disorder. Sebaiknya tak perlu dilanjutkan kisahnya.

Sebab cinta yang menyembuhkan hanyalah angan-angan

Kecerdasan Buatan

Aku menyambut baik datangnya teknologi AI. Beberapa kali aku pernah mencobanya. Memberinya prompt untuk membuat kisah tertentu. Dan hasilnya sangat buruk. Ya, AI adalah penulis karya sastra yang sangat buruk. Namun justru karena itu aku membutuhkannya sebagai batas minimal. Jika AI membuat kisah cinta ini dengan sangat buruk, maka karyaku tak boleh lebih buruk dari itu.

Kita input saja bagian awal dari kisah ini, Latar, Suasana, dan Adegan. Lalu perintahkan padanya untuk mengembangkannya menjadi sebuah cerpen. Begini cara AI bertutur:

Di sore yang mendung itu, aku duduk sendirian di sebuah cafe di teras perpustakaan. Aroma khas buku-buku yang menguar dari pintu perpustakaan terbuka menyatu dengan semerbak petrichor usai hujan gerimis. Aku menyeruput kopi tubruk di atas meja bundar, sambil menikmati sebatang kretek di antara dua jari.

Tiba-tiba, sorot mata seorang wanita memperkenalkan senyum berlesung pipit dari bibirnya yang merah dadu. Dengan pelan, ia mendekati mejaku, menarik kursi di sebelahku, dan duduk dengan anggun. Tanpa disadari, sebuah novelet mulai tercipta di antara kami, di antara dua kata, “Hello!” dan “Goodbye!”.

Kami berbagi cerita tentang kota-kota tak tampak yang kami temui dalam buku karya Italo Calvino yang terbuka di atas meja. Percakapan kami terjalin begitu alami, seolah-olah kami telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.

Namun, seperti halnya hujan gerimis yang meninggalkan jejak, pertemuan kami juga harus berakhir. Dengan hati yang berat, kami mengucapkan “Goodbye”. Namun, di balik kata itu, tersimpan harapan untuk bertemu lagi di antara halaman-halaman kisah yang belum terungkap.

Sebab siapa saja bisa menulis karya yang bagus, tak ada karya tulis yang buruk, kecuali karya AI.

Koinsiden

Milan Kundera—sebagai alat metafiksi dan tukang catat absurditas—membedakan kebetulan ke dalam beberapa jenis: puitik, kontrapuntal, bisu, pembentuk cerita, dan morbid. Aku menggunakannya bukan untuk mengklasifikasikan hidup, melainkan untuk memberi nama pada rasa ketika hidup mendadak terasa seperti kalimat yang pas.

Pertemuanku dengan perempuan itu, jika dilihat melalui kaca teistik, adalah takdir; tampak ditulis jauh sebelum kami lahir. Namun tanpa Tuhan, pertemuan itu lebih mirip koinsiden puitik: deret peristiwa kecil yang, disusun oleh kebetulan, bergetar menjadi sebuah bait. Bagiku itu sudah cukup—aku ingin menulis novelet dari rasa itu.

Tapi dari sudut pandangnya, segala sesuatunya bisa bernada lain: koinsiden kontrapuntal—dua kehidupan yang berirama sendiri, bertemu sekejap lalu berpisah, saling memperkaya makna tanpa mengklaim takdir. Atau dia melihatku sebagai sekadar orang dengan kursi kosong, dan senyum itu semata hanya sebuah kesopanan. Dalam kepingan pandangan seperti itu, keanggunan puitik meredup; ia menjadi kebetulan yang biasa.

Bagi orang di sekitar, bagi pengantar kopi, bagi pejalan kaki, pertemuan kami hanyalah koinsiden bisu—sebuah catatan kecil yang tidak mengubah ritme hidup siapa pun. Bisu bukan hina; namun mengingatkanku bahwa banyak kebetulan tidak meminta tafsir.

Ada pula kemungkinan lain: kebetulan yang mendatangkan jalan cerita—koinsiden pembentuk cerita—ketika satu senyum memicu rantai keputusan yang menggembungkan hidup; atau koinsiden morbid, kebetulan manis yang berbuah malu atau luka. Aku menolak menyembunyikan kemungkinan-kemungkinan ini.

Karena itu aku memilih hidup dengan dua kebijakan: sebagai romantikus, aku kadang menyebutnya takdir; sebagai penulis dan ilmuwan kecil, aku mencatat waktu, cuaca, bunyi, ritme—variabel yang merawat kebetulan.

Sebab jika segala friksi hanya kebetulan belaka, kita tak akan punya penyesalan.

Konflik

Meskipun karya ini adalah karya metafiksi, namun karena mengambil bentuk sebagai novelet, aku harus patuh pada aturan dan kebiasaan para penulis, baik dari sisi tuntutan pembaca maupun tuntutan kritikus. Konflik harus dihadirkan!

Sejauh ini selain konflik dengan diriku sendiri, kisah cinta ini belum bisa dibawa pada konflik dua tokoh utama. Alasannya sudah jelas, aku harus bertemu lagi dengannya untuk mencapai suatu konflik yang paripurna. Jika tak bertemu, konflik dengannya hanya akan terjadi dalam imajinasiku. Keliaran imajinasi tentu bisa menciptakan banyak alternatif konflik, seperti yang telah kubilang, tergantung pada genre yang akan diambil untuk karya ini, namun imajinasi dalam hal ini tidak akan mengalahkan indahnya realitas.

Apakah kamu mau menungguku hingga bertemu lagi dengannya agar kamu bisa mendapatkan suatu konflik yang realistis? Atau kamu akan cukup puas dengan konflik yang dibuat-buat oleh imajinasiku? Atau kamu akan membuat konflik sendiri sesuai imajinasimu karena kamu bermaksud menciptakan karya fiksi berdasarkan karya metafiksi ini?

Bagiku, tiga pilihan itu saja sudah merupakan sebuah konflik serius yang harus segera diselesaikan.

Sebab sebuah semesta tanpa konflik adalah kemunduran zaman, kembali pada zaman malaikat.

Metafiksi

Metafiksi adalah bentuk fiksi yang menekankan struktur naratifnya sendiri yang secara inheren mengingatkan pembaca bahwa mereka sedang membaca karya fiksi. Metafiksi sadar akan bahasa, bentuk sastra, dan teknik penceritaan, dan karya-karya metafiksi secara langsung atau tidak langsung menarik perhatian pada status mereka sebagai artefak. Metafiksi sering digunakan sebagai bentuk parodi atau alat untuk meruntuhkan konvensi sastra dan mengeksplorasi hubungan antara sastra dan realitas, kehidupan dan seni.

Karya ini mengambil judul Metafiksi Sebuah Kisah Cinta sebab sedang berusaha menarasikan sebuah struktur naratif tentang rasa cinta yang dialami seorang laki-laki akibat sebuah senyuman singkat yang mentato permanen di hatinya. Karya ini sangat menyadari bahwa tema yang diangkat tidak sesederhana kisah cinta biasa, meskipun prolognya membuat sebuah pernyataan sarkastik bahwa sebuah kisah cinta hanyalah kisah di antara ucapan “Hello!” dan “Goodbye!”.

Seperti juga kehidupan adalah sebuah perjalanan di antara lahir dan mati. Kita tentu sependapat bahwa kehidupan tidak sesederhana itu, namun apa daya, pembatasnya adalah mutlak. Lahir dan mati. Hello dan goodbye.

Sebab kita semua yang lahir sudah pasti mati, namun tentu saja kita tak mau mati begitu saja.

Supranatural

Tak ada yang bisa kuceritakan lagi tentangnya selama bulan-bulan terakhir ini. Perasaanku padanya masih sama. Kerinduanku pada senyum manis dan lesung pipit indahnya masih sama. Tapi tekad untuk mencarinya sudah mulai meluruh seiring waktu. Ya, sebelumnya aku memutuskan untuk mencarinya di sudut-sudut kota. Mencarinya di media sosial. Menggunakan setiap nama perempuan secara acak dari A hingga Z. Aku tak menemukannya.

Hingga suatu malam kejadian itu menimpaku. Sudah tengah malam. Aku sedang berada antara alam sadar dan alam tidur. Ada bisikan keras di telingaku. Suara seorang perempuan meminta tolong. Sontak aku terbangun. Lalu kulihat dia sedang bersimpuh di lantai. Dia adalah perempuan itu. Aku tahu ini akan terdengar sangat aneh. Namun aku melihatnya dengan jelas sebab aku tak pernah mematikan lampu kamar saat tidur. Namun bukan senyum yang kukenal yang tersungging di bibirnya, melainkan sebuah tangisan menghiasi lesung pipitnya hingga surut. Matanya sembab, di dada dan perutnya ada noda merah darah yang terlihat jelas masih mengalir perlahan di permukaan baju putihnya.

Bulu-bulu di sekujur tubuhku berdiri, antara takut, senang dan sedih menimpaku. Aku terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga aku mendatangi dan memeluknya. Dia tersenyum singkat dan memeluk balik dengan sangat erat.

Lalu aku terbangun dengan basah keringat di sekujur tubuh. Dan merasakan kekosongan yang amat sangat.

Hari itu, di linimasa media sosialku, lewat sebuah berita tentang pembunuhan seorang perempuan di sebuah rumah.

Sebab suatu perasaan yang kuat akan mengantarkan kita pada konektivitas yang kuat pula.

Berita Duka

Aku membaca berita itu berulang-ulang di media yang berbeda-beda, isinya sama. Berita pembunuhan itu memenuhi linimasa dan headline koran-koran digital. Seorang perempuan dibunuh dengan cara ditusuk di beberapa bagian tubuhnya di Bandung. Polisi meyakini bahwa pembunuhnya adalah Chairil–yang kemudian dijuluki Sang Penjagal Maut. Polisi langsung menangkap tersangka di kediamannya.

Lalu sebuah berita duka dari seorang teman muncul di IG story. Ucapan duka yang menarik perhatianku karena puisi yang ditulisnya dalam ucapan duka itu mengiris hatiku. Dia juga me-mention akun almarhum yang dimaksud, @AnastasiaArunika. Otomatis aku mengunjungi akunnya. Lalu kulihat foto profilnya. Dan seketika itu juga aku mengenali senyum dan lesung pipitnya.

Anastasia Arunika, nama perempuan itu. Mati dibunuh Sang Penjagal Maut, seorang pembunuh berantai yang di kemudian hari sangat terkenal karena selalu meninggalkan puisi di tubuh korban-korbannya—makanya dia juga sering dijuluki Sang Penyair Maut di kemudian hari. Kematian Anastasia adalah petunjuk terakhir yang dibutuhkan polisi untuk meringkus Sang Penyair. Ribuan ucapan duka memenuhi komentar pada postingan terakhirnya. Banyak yang berdoa semoga Sang Penyair dihukum mati. Aku melihat semua postingannya, tak satupun dia memasang foto dirinya. Dia hanya mengunggah foto-foto hitam-putih berbagai suasana kota. Dan aku menangkap kesan suram dan indah di balik foto-foto berlatar sudut-sudut kota itu. Caption-nya kebanyakan adalah puisi pendek berbahasa Inggris.

Perasaan kosong yang kurasakan berubah menjadi sangat hampa. Perasaan kebas seperti saat jari kita teriris pisau, lalu perih mulai datang secara perlahan, lalu sangat sakit, lalu kebas lagi.

Sebab ketika sangat sakit justru kita tak bisa merasakan apa-apa.

Goodbye!

Dari IG story temanku, aku mendapatkan informasi kapan dan di mana Anastasia akan disemayamkan dan dimakamkan.

Aku tidak mendatangi rumah duka, namun sore hari aku mendatangi kuburnya di Jalan Pajajaran. Tanah kuburnya diselimuti bebungaan yang harumnya lembut tetapi getir menyentak saraf hidungku. Kulihat sebuah nisan kayu berbentuk salib tertancap di kuburnya serta sebuah epitaph ditulis tangan berbunyi, “Terbaring di sini, anak-cucu-adik-keponakan kami tercinta: Anastasia Arunika, yang senyumnya selalu mengobati kegelisahan kami. Lahir: New York, 25 Januari 1992 – Wafat: Bandung, 3 April 2024.”

Aku bersimpuh di sisi kuburnya. Mengelus nisan kayunya. Membayangkan kisah cintaku dengannya yang tak pernah terjadi itu. Entah berapa lama aku di sana, namun malam sudah datang. Aku beranjak. Mengucapkan selamat tinggal padanya. Diakhiri dengan setitik air mata menetes dan mengalir di pipiku.

Di depan cermin, sambil mengakhiri kisah ini, kulihat air mata yang sama sedang menetes mengalir di pipiku. Aku tahu kisah ini hanyalah fiksi, namun bukan berarti aku tidak merasakan kehilangan hebat atas tokoh fiksiku ini. Seperti kebanyakan fiksi, aku memang harus mengakhirinya. Dan aku memutuskan kisah ini sebagai sebuah kisah tragedi pada saat-saat terakhir.

Aku menarik napas panjang dengan tersengal. Lega sekaligus luka. Sedih sekaligus pulih. Sebab rindu yang penuh harapan itu kini sudah beralih menjadi rindu abadi. Usai sudah kisah cinta ini.

Sebab terkadang sebuah fiksi terasa lebih nyata ketimbang realitas itu sendiri.

Ilustrasi oleh Jaka Sandjaya. Anak manusia yang berjalan sembari melukis dan bermusik di sepanjang hidupnya. Memiliki ketertarikan akan cinta, alam, dan rahasia semesta.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Puisi, Manusia, dan Mesin: Refleksi atas Perpuisian Indonesia di Era Kecerdasan Buatan

Wayan Jengki Sunarta

Sastrawan Harus Miskin

Preman Laut

Lihai Gunakan Kata Bersayap, Profesi Sastrawan Terancam Digantikan Anggota DPR

Preman Laut

Dua Penulis Bali, Tan Lioe Ie dan Pranita Dewi, Masuk Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Preman Laut

Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham Bakal Dibedah Di Denpasar, Habis-Habisan!

Redaksi

Pemenang Lomba Baca Puisi Bali Politika 2025 Diumumkan. Berikut Ini Daftarnya

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi