Pada akhirnya, yang tersisa dari sebelas minggu terakhir ini hanya satu perasaan kecil yang mengganggu: sastra ternyata tidak akan pernah bisa selesai kubicarakan, dan selalu sukses menguras tenagaku.
Setiap kali aku menutup satu kolom, aku merasa seperti baru saja membereskan kamar yang besok paginya sudah berantakan lagi. Buku kembali berserakan. Catatan hilang entah ke mana. Ide-ide yang semalam tampak jernih berubah menjadi coretan gelap yang sulit kubaca sendiri. Sastra bekerja seperti itu. Dia tidak memberi penutup tapi memberi koma, lalu mengacak semuanya lagi. Rasanya seperti mandi sore hari di Tangerang, baru saja selesai handukan, langsung keringetan lagi!
Musim pertama ini, jika harus kuberi ringkasan yang jujur, hanyalah catatan tentang kekacauan yang kupelajari untuk kuterima dengan lapang dada.
Aku memulai kolom-kolom itu dengan niat yang cukup polos: membedah sastra, menjelaskan lapisan-lapisannya, memetakan problemnya, menertawakan mitosnya, menikmati prosesnya; lebih banyak bengong ketimbang ngetik. Seperti teknisi yang membongkar radio tua untuk memahami bagaimana suara bisa lahir dari benda sekecil itu. Tetapi semakin banyak sekrup yang kulepas, semakin aku sadar: radio itu tidak pernah dimaksudkan untuk dipahami sepenuhnya, namun hanya ingin didengarkan… Tuh, cowok-cowok, denger… Cewek mah cuma pengen didengerin!
Begitulah kerumitan sastra. Sebab lelaki tak punya telinga. Perempuan tak bisa baca peta.
Aku terlalu sering memperlakukannya seperti mesin. Bagaimana strukturnya, bagaimana teorinya, bagaimana pasarnya, bagaimana posisinya di sejarah, siapa pengaruhnya, siapa yang harus dibunuh secara simbolik agar kita orisinal, siapa yang disalahkan jika naskahnya gak laku, bikin pitch deck buat film jika karyanya laku, pilih jalur suara yang enak untuk adegan-adegan tertentu. Aku menyiapkan pisau bedah: strukturalisme, pascastrukturalisme, semiotika, psikoanalisis, sosiologi sastra, psychoactive, eh… Aku membedahnya dengan khidmat seperti dokter forensik… Aku berharap menemukan jantungnya, namun yang kutemukan hanya daging, lapisan-lapisan daging… Dan daging tidak pernah menjelaskan kehidupan… kecuali ingatan daging, seperti sensasi kesetrum saat pertama kali memegang tangannya.
Sebelas edisi itu, kurasa, adalah serangkaian usaha untuk mengakui satu hal yang memalukan yaitu bahwa aku menulis tentang sastra karena aku tidak pernah benar-benar memahaminya. Jika aku memahaminya, mungkin aku sudah berhenti menulis dan menolak tawaran Denpasastra untuk mengisi rubrik Kolom Minggu. Dan aku bersyukur karena itu. Sebab tak mudah memiliki deadline, setiap minggu harus terbit satu tulisan, sangat menantang, dan tantangan itu yang bikin aku merasa kembali dilahirkan.
Ada paradoks kecil yang selalu menggangguku. Orang-orang yang paling banyak bicara tentang sastra justru orang-orang yang paling tersesat di dalamnya. Mereka seperti turis yang tersesat di Jakarta, lalu mulai menggambar peta dengan percaya diri. Petanya rapi, penuh legenda, penuh panah. Hanya saja Jakarta tidak memercayai peta itu. Tersesat dalam kepusingan sendiri. Ngaririweuh maneh!
Aku adalah salah satu turis itu. 🙁
Setiap kolom terasa seperti usaha menggambar peta baru, dan diam-diam aku tahu bahwa besok peta itu akan usang.
Sastra terlalu cair untuk dipaku, berubah setiap kali disentuh. Sebuah puisi yang kubaca sepuluh tahun lalu berbeda total dengan puisi yang sama hari ini. Teksnya identik, aku yang bergeser. Ingatan, usia, luka, politik, tagihan listrik, biaya persanggamaan darurat, semuanya ikut campur dalam tafsir. Membaca adalah kegiatan biologis—kadang seksual. Tubuh ikut menentukan makna.
Mungkin itu sebabnya sastra terasa rumit bagiku sebab sastra di mataku bukan benda mati. Sastra adalah organisme hidup, tumbuh jamur di pinggirnya, berbau, kadang busuk, kadang indah seperti bunga mekar, dan seperti organisme lain: menolak untuk dikontrol sepenuhnya. Seperti memiliki jiwa sendiri yang tidak bisa dikendalikan.
Selama sebelas minggu, aku merasa seperti berbicara dengan makhluk yang keras kepala. Aku memanggilnya “Sastra”, tapi dia tidak pernah menoleh ketika dipanggil. Dia datang hanya ketika dia mau. Kayak temen lama, nelpon kalo lagi butuh. Kadang di tengah malam, kadang saat aku sedang mencuci piring, kadang ketika aku sama sekali tidak ingin menulis. Lalu dia pergi ketika aku sudah menyalakan laptop. Sebrengsek itu.
Hubungan kami tidak romantis. Lebih mirip hubungan dua orang yang sama-sama tidak cocok tapi telanjur tinggal serumah. Seperti pernikahanku yang gagal beberapa tahun lalu. Sialan!
Aku mencoba bersikap teoritis… dia menjawab dengan absurditas!
Aku mencoba serius… dia menyelipkan humor gelap!
Aku mencoba rapi… dia menumpahkan tinta!
Aku sudah horny… dia malah mengancingkan behanya!
Pada titik tertentu, aku berhenti mencoba menang. Apa boleh buat!
Mungkin ini pelajaran paling penting dari musim pertama kolom minggu ini: sastra tidak perlu ditaklukkan, dia hanya perlu ditinggali—digauli (dalam beberapa kasus).
Seperti rumah tua dengan lorong-lorong ganjil, pintu yang tidak simetris, dan jendela yang menghadap tembok. Kita bisa marah karena arsitekturnya kacau. Atau kita bisa belajar hidup di dalam kekacauan itu, menghafal bunyi lantainya, mengenali sudut yang bocor ketika hujan, menerima bahwa tidak semua hal harus logis.
Kerumitan ternyata bukan masalah yang harus diselesaikan namun sebuah kondisi yang harus diterima!
Barangkali selama ini aku terlalu terobsesi pada kejelasan. Aku ingin sastra menjelaskan dunia, bisa menuliskan filsafat. Aku ingin cerita memberi pesan. Aku ingin puisi memberi makna yang bisa diringkas dalam satu kalimat bijak. Aku ingin semuanya efisien, seperti iklan. Padahal hidup itu sendiri tak pernah efisien.
Hidup itu penuh pengulangan, kesalahpahaman, kalimat setengah jadi, cinta yang datang terlambat, ide brilian yang muncul saat sinyal internet putus, penyesalan karena telanjur pergi demi memanjakan ego, ngelap tisyu di perut “teman”! Mengapa sastra harus rapi jika hidup saja seberantakan itu?
Semakin kupikirkan, semakin terasa masuk akal: sastra justru jujur karena kerumitannya. Sastra menolak memberikan jawaban cepat. Dia memaksa kita duduk lebih lama, membiarkan kita tersesat beberapa halaman. Dia seperti kota tanpa papan penunjuk arah, dan kita dipaksa bertanya pada orang asing. Kadang kita salah jalan. Kadang kita menemukan sesuatu yang tidak kita cari. Kadang dimainin perasaan—disapa duluan, dighosting kemudian. Mungkin di situlah nilainya.
Jika musim pertama ini memiliki fungsi, mungkin hanya satu: mencatat kebingungan itu dengan sadar sebab sistem kebingungan yang kita sebut filsafat itu lebih nikmat jika kita tuangkan dalam bentuk sastra. Buku filsafat membawa pembaca hidup di wilayah abu-abu. Mungkin beberapa dari kita akan menutup bukunya sejak halaman pertama karena tulisannya yang teramat teknis dan membosankan—bikin ngantuk. Jika dituangkan ke dalam bentuk sastra mungkin akan membuat kita tidak sepenuhnya tahu apa yang kita baca karena kerumitannya, tapi meskipun begitu, kerumitannya tidak bikin pusing, tidak terlalu teknis, lebih cair, dan lebih menggoda, maka kita akan cenderung meneruskan untuk membacanya hingga akhir.
Aku tidak ingin menutup musim ini dengan kesimpulan besar. Kesimpulan terasa seperti pagar, sementara sastra lebih mirip lapangan kosong yang terlalu luas untuk dipagari. Aku lebih suka menganggap epilog ini sebagai catatan kaki yang kepanjangan—tambahan kecil yang bandel, yang muncul setelah teks utama selesai, seolah berbisik, “Sebenarnya masih ada yang belum beres…” Dan memang selalu ada yang belum beres. Seperti novel terakhirku, Jalan Setapak Bercecabang, yang butuh waktu dua puluh dua tahun untuk berproses hingga akhirnya dipaksa terbit karena sudah kelamaan meskipun ego kepenulisanku dan ego naskah ini masih merasa tidak puas dengan hasil akhirnya.
Besok mungkin aku akan membaca ulang kolom-kolom ini dan merasa semuanya keliru. Beberapa argumen terdengar naif. Beberapa metafora terasa berlebihan. Beberapa keyakinan tampak kekanak-kanakan. Beberapa bait terasa menye-menye. Tapi mungkin itu tanda yang sehat. Artinya aku masih bergerak. Sastra memastikan diriku tetap bergerak. Bergerak menuju pertanyaan berikutnya—pertanyaan filosofis berikutnya. Aku tidak akan menyerah, tidak semenyerah aku pada pernikahan.
Musim pertama selesai. Kerumitan tidak. Dan aku rasa itu kabar baik. 🙂

Sebagai bonus untuk edisi terakhir Kerumitan Sastra, aku tambahkan sebuah cerpen yang sudah terlalu lama mengendap dalam folder dan tidak pernah berani keluar dari sana sebab memiliki latar sebuah kota yang tidak pernah kukunjungi. Dulu aku tidak suka penulis yang bercerita pada sebuah latar yang tidak pernah mereka kunjungi sebab bagiku waktu itu, atmosfer dalam sebuah cerita amatlah penting dan bagaimana mungkin seorang penulis mampu menyerap dan melukiskan atmosfer cerita jika mereka tak pernah datang ke tempat yang mereka jadikan latar ceritanya. Tapi itu dulu, saat aku masih bodoh dan naif. Kini aku lumayan lebih pintar dan cukup terbuka pada segala kemungkinan.
Saat menuliskan cerpen berikut ini, aku membayangkan bahwa aku adalah Eddi Mora—saat masih menjadi penulis—dalam film Limitless (2011) yang sedang berada di bawah pengaruh obat nootropic NZT-48. Hal ini juga menjelaskan mengapa karya ini mengambil latar kota New York.
Selamat membaca dan sampai jumpa lagi di Kolom Minggu Musim Kedua yang entah kapan akan dimulai. Terima kasih karena sudah menjadi pembaca setia Kolom Minggu Kerumitan Sastra, apresiasimu teramat sangat berarti bagiku.
Gaung Eksistensi
David Levant, seorang pria yang tampaknya biasa saja, berusia empat puluh lima tahun, berdiri di tepi atap gedung pencakar langit. Angin kota menggulung jaket kulitnya, mendorong tubuhnya ke depan dengan lembut, seperti desakan halus dari tangan tak terlihat yang terus membujuk. Di bawahnya, Manhattan membentang dengan jutaan kemungkinan, semua terbuka baginya, semua jelas di benaknya. Namun, hanya satu pilihan yang benar.
Langkah-langkah menuju saat ini sebenarnya dimulai dua puluh tiga tahun sebelumnya, ketika David, seorang mahasiswa di Yale, bertemu dengan pria bernama Marcus Duval di sebuah perpustakaan yang sepi. Duval, dengan rambut acak-acakan dan mata yang tampak terlalu tajam untuk tubuh kurusnya, tidak seperti mahasiswa lainnya. Mereka berdiskusi seputar filsafat dan sejarah dunia kuno, termasuk pembicaraan tentang struktur tersembunyi yang mengatur dunia modern—bagaimana keputusan kecil pada tingkat pribadi dapat memicu perubahan besar pada tingkat global. The Butterfly Effect.
Duval memperkenalkan David kepada sebuah buku, Kalkulus Ketidakpastian, karya yang tidak pernah diterbitkan secara resmi. Buku itu berisi teori ilmiah tentang algoritma sosial yang menjelaskan bagaimana tindakan individu, jika ditempatkan dengan benar dalam sistem yang lebih besar, bisa menggeser peradaban. David membacanya sekali, dua kali, hingga setiap kata terpatri di pikirannya, dan saat itulah semuanya dimulai.
Dua puluh tiga tahun kemudian, David berdiri di atap, dan setiap detik dari hidupnya, setiap peristiwa acak yang tampaknya tidak berarti, membentuk pola kompleks yang kini dipahaminya. Tidak ada yang kebetulan. Pertemuannya dengan seorang wanita di sebuah kafe di Lisbon, perbincangan singkat dengan seorang pengemudi taksi di Tokyo, bahkan caranya mengambil keputusan untuk berinvestasi di perusahaan perangkat lunak kecil di Silicon Valley. Semuanya mengarah pada titik ini—sebuah pengorbanan yang sudah dia hitung secara presisi, di mana keberadaan dirinya adalah tentang memainkan peran terakhir.
David tahu bahwa lompatan dari tepi ini akan memulai sebuah riak yang menjalar melalui jaringan takdir yang selama ini dia pelajari. Dengan dia menghilang, perusahaan yang dia bangun akan jatuh ke tangan kolega ambisiusnya, Leah, yang hanya dipercayainya secara sepintas. Leah, tanpa mengetahui apa yang dipegangnya, akan mengungkap algoritma tersembunyi yang disematkan David ke dalam sistem mereka, memanipulasi pasar global dengan presisi tak tertandingi.
Dalam dua tahun, Leah akan menguasai teknologi yang akan memecahkan masalah energi dunia. Dalam lima tahun, dia akan menyatukan blok ekonomi utama dunia. Sepuluh tahun kemudian, peradaban akan berada di bawah satu pemerintahan global, semua atas nama stabilitas. Dan semuanya akan dimulai dari detik terakhir David di tepi gedung ini.
David tersenyum. Di bawahnya, seorang pria berjas abu-abu melangkah keluar dari gedung lain. Itu Marcus Duval. Selalu Duval, selalu tepat waktu. Mereka bertukar pandang sekilas, dan David tahu bahwa Duval mengerti. Duval selalu mengerti.
“Ini bukan akhir, kau tahu,” kata David dalam gumaman yang hanya didengarnya sendiri.
Lalu, dia melangkah maju. Tubuhnya jatuh, tetapi otaknya tetap waspada, menghitung dengan akurasi matematis, tahu bahwa dampak terhadap trotoar di bawah akan merusak arteri utama di tubuhnya dalam sepersekian detik. Semua terkalkulasi, semua presisi.
Namun, dalam detik-detik terakhir, saat gravitasi memeluknya dengan pelan, sesuatu yang tidak dia duga muncul. Sebuah kilasan—wajah wanita di Lisbon itu. David tidak pernah memperhitungkannya dalam algoritma. Itu hanya momen kecil, sebuah pertemuan singkat.
Pada detik terakhir hidupnya, David menyadari bahwa dia mungkin telah salah memperhitungkan satu hal yang terpenting.

Semua orang, pada titik tertentu dalam hidupnya, pernah melihat cermin dan bertanya-tanya, “Siapa aku sebenarnya?” Tetapi bagi Victor Hale, pertanyaan itu lebih dari sekadar refleksi eksistensial. Itu adalah misteri yang menghantui dirinya setiap hari, karena suatu pagi yang biasa, Victor bangun dan melihat cerminnya kosong.
Tidak ada pantulan!
Victor berdiri di depan cermin kamar mandinya, menatap ke dalam kaca bening yang biasanya menunjukkan wajahnya yang lelah setelah malam tanpa tidur. Namun, hari itu, cermin tidak memberi apa-apa. Ruang di depannya kosong, seolah-olah Victor tidak pernah ada. Dia mencoba menyentuh cermin, memastikan bahwa itu bukan ilusi optik, tetapi kulitnya hanya bersentuhan dengan permukaan dingin yang datar.
Dia mengira dirinya gila. Mungkin efek samping dari terlalu banyak begadang atau stres yang terkulminasi selama bertahun-tahun. Victor menjalani hidup yang sangat terstruktur, sebuah kebiasaan rutin yang dimulai sejak kecil. Dia bangun pada waktu yang sama setiap hari, pergi bekerja, pulang, makan malam, dan tidur. Segala sesuatu di dunia Victor diukur dan diprediksi. Tetapi pantulan yang hilang ini? Itu bukan bagian dari rencananya.
Victor mulai bereksperimen. Dia pergi ke toko cermin, membeli yang baru, yang lebih besar dan lebih mahal. Tidak ada perubahan—cerminnya tetap kosong. Dia mengambil cermin kecil dari kantornya, meminjam kaca dari teman-temannya, bahkan menggunakan kaca jendela. Sama saja. Cermin-cermin itu tidak lagi memantulkan dirinya.
Tapi itu bukan masalah yang sebenarnya. Masalah muncul ketika orang-orang di sekitarnya mulai bertingkah aneh.
Di hari-hari setelah pantulannya menghilang, Victor mulai memperhatikan sesuatu yang ganjil pada orang-orang yang ditemuinya. Mereka tidak benar-benar melihatnya. Setiap percakapan seolah-olah terjadi di sekitar dirinya, seperti dirinya adalah bagian dari latar belakang yang tidak penting. Kolega di kantor mulai berbicara melaluinya, tak lagi menatap matanya. Bahkan pelayan di restoran tempat dia sering makan malam, yang biasanya selalu mengingat pesanannya, kini tampak kebingungan setiap kali dia datang.
Victor Hale, lambat laun, bukan hanya hilang dari cermin. Dia mulai menghilang dari dunia.
Rasa putus asa perlahan merayapi dirinya. Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali seseorang memeluknya atau menepuk bahunya, tetapi ingatan itu terasa kabur, seperti adegan film lama yang sudah luntur warnanya. Apa mungkin selama ini dia hanya ilusi yang diciptakan oleh pikiran orang-orang di sekitarnya? Mungkinkah selama ini keberadaannya tergantung pada seberapa kuat orang lain melihatnya, dan sekarang dia mulai memudar karena mereka berhenti peduli?
Dalam pencariannya mencari jawaban, Victor menemui seorang psikiater, seorang pria tua dengan kumis tebal dan suara yang dalam. Psikiater itu mendengarkan kisah Victor dengan tenang, tanpa memotong, dan saat Victor selesai, dia hanya menatap kosong. Ketika Victor menanyakan diagnosisnya, pria tua itu hanya tersenyum aneh dan berkata, “Mungkin kau akhirnya menemukan apa yang orang lain tidak berani temukan—bahwa kita semua hanyalah pantulan dari dunia di sekitar kita. Dan ketika dunia berhenti memperhatikan, kita berhenti ada.”
Victor meninggalkan kantor psikiater itu dengan perasaan lebih bingung daripada sebelumnya. Apakah itu benar? Apakah dia tidak lebih dari sekadar bayangan dalam pikiran orang lain? Jika begitu, apa yang terjadi jika tidak ada seorang pun yang melihatnya lagi?
Waktu berlalu, dan Victor makin terisolasi. Setiap hari, pantulan dirinya di dunia nyata semakin memudar, seperti tinta di buku tua yang perlahan memudar di bawah sinar matahari. Pada titik tertentu, Victor tak lagi bertanya-tanya apakah cermin yang hilang itu masalah nyata. Yang dia khawatirkan adalah apakah dirinya benar-benar pernah ada sejak awal.
Suatu malam, ketika Victor berbaring di tempat tidurnya, memandangi langit-langit yang sama seperti setiap malam sebelumnya, dia memutuskan untuk melakukan satu eksperimen terakhir. Dia berjalan menuju cermin, menatap ke dalam kekosongan yang tidak pernah menatap balik, dan dengan tenang berkata pada dirinya sendiri: Aku ada. Aku masih berpikir, maka aku ada.
Namun, kali ini, tidak ada yang menjawab.
Dan saat itulah Victor Hale benar-benar menghilang—tidak hanya dari cermin, tetapi dari dunia, tanpa jejak, tanpa kenangan, tanpa satu pun yang ingat bahwa dia pernah ada.

Aku selalu menganggap diriku sebagai seseorang yang logis. Tidak ada kejutan dalam hidup yang tak bisa dijelaskan dengan analisis yang cukup mendalam, tak ada misteri yang tak bisa dipecahkan dengan observasi yang cermat. Hingga aku bertemu mereka: David Levant dan Victor Hale. Dua pria yang hidupnya seperti teka-teki yang mematahkan keyakinanku tentang kenyataan.
Pertama, David Levant. Dia bukan orang biasa, meskipun dia ingin kau berpikir begitu. Aku mengenalnya melalui seminar di Princeton, sebuah presentasi yang dihadiri oleh para profesor ekonomi, analis pasar, dan ilmuwan sosial dari seluruh dunia. Dia berbicara tentang keterkaitan global dan efek riak keputusan individu, tetapi ada sesuatu di balik teori-teorinya yang terasa terlalu sempurna. Ketika David berbicara, seolah-olah setiap kalimatnya sudah dipersiapkan jauh sebelum dia tiba di ruangan itu, setiap kata menyatu dengan dunia yang lebih besar, menunggu untuk dijelaskan.
Namun, anehnya, setelah presentasi itu, ketika semua orang pergi dengan pandangan terpesona, aku satu-satunya yang tidak bisa melepaskan diri dari pertanyaan: bagaimana dia tahu semuanya? Bagaimana dia bisa meramalkan peristiwa-peristiwa dunia dengan keakuratan yang tampak seperti lebih dari sekadar analisis tren?
Aku akhirnya menemukannya di kafe terdekat, duduk sendirian, mengaduk secangkir kopi yang sudah dingin. Aku duduk di depannya tanpa meminta izin, dan dia hanya mengangkat alis, seolah menungguku untuk mulai berbicara.
“Bagaimana kau bisa tahu semua ini, David?” tanyaku, suaraku hampir berbisik, karena pertanyaannya terasa terlalu besar untuk diucapkan keras-keras.
Dia mengangkat bahu, senyum kecil bermain di bibirnya. “Aku tidak tahu. Aku hanya memahami polanya. Setiap peristiwa di dunia ini—kecil atau besar—hanya variasi dari pola yang sama.”
Aku tidak percaya pada takdir, atau setidaknya, aku dulu tidak percaya. Namun, duduk di hadapan David Levant, aku mulai merasa seperti bidak dalam permainan catur yang terlalu besar untuk aku pahami. Dia berbicara tentang kalkulus sosial, tentang bagaimana segala hal saling berhubungan dengan cara yang begitu kompleks, namun begitu sederhana baginya. Seolah-olah dia bisa melihat akhir dari setiap langkah bahkan sebelum permainan dimulai.
Lalu ada Victor Hale.
Jika David Levant adalah seseorang yang mengendalikan realitas dengan kekuatan pikirannya, Victor adalah orang yang mulai kehilangan cengkeramannya pada dunia nyata. Aku bertemu Victor di sebuah konferensi tentang psikologi modern di Chicago. Dia memperkenalkan diri sebagai seorang peneliti yang sedang mengeksplorasi ide-ide tentang identitas dan pantulan diri. Dalam banyak hal, dia tampak seperti pria biasa, tetapi sesuatu dalam caranya berbicara membuatku tertarik.
Victor mulai menceritakan kisah tentang cermin. Dia, katanya, sudah lama tidak memiliki bayangan di cermin. Awalnya, aku pikir itu lelucon atau metafora untuk depresi atau rasa kehilangan identitas. Tapi semakin dia berbicara, semakin aku sadar bahwa dia benar-benar percaya. Bahkan, bukan hanya pantulannya yang hilang. Kehadirannya di dunia juga mulai memudar.
“Aku tidak lagi ada di dunia ini,” katanya dengan tenang, matanya menatap jauh ke arah jendela yang memantulkan siluet kota yang sibuk. “Orang-orang tidak melihatku seperti dulu. Mereka mulai melupakan aku, bahkan saat aku ada di hadapan mereka.”
Aku seharusnya menertawakannya, menolaknya sebagai delusi, tapi ada sesuatu tentang Victor yang membuatku tetap mendengarkannya. Mungkin itu caranya mengungkapkan kata-katanya—seolah-olah dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi, seolah dia adalah penonton dalam tragedi yang dia tidak pernah rencanakan.
Dalam pertemuan-pertemuan kami berikutnya, dia semakin menghilang. Bukan secara harfiah—setidaknya, tidak pada awalnya. Tetapi setiap kali aku melihatnya, dia tampak lebih samar, lebih terpisah dari realitas. Orang-orang di sekitar kami mulai tidak menyadarinya. Ada saat-saat aku harus memastikan bahwa aku benar-benar melihatnya duduk di sana, bahwa Victor Hale benar-benar ada, meski sejenak.
Yang paling mengerikan adalah pada akhirnya, aku tahu Victor benar-benar hilang. Suatu hari, aku mencarinya di kedai kopi yang biasa kami kunjungi, tetapi dia tidak ada di sana. Aku menghubungi tempat kerjanya, tetapi tidak ada yang mengingatnya. Bahkan teman-temannya tidak bisa mengingat siapa yang aku bicarakan. Victor Hale menghilang dari ingatan dunia.
Apa hubungannya dengan David Levant? Aku belum bisa sepenuhnya menjelaskan. Tetapi semakin aku mengingat mereka berdua, semakin aku sadar bahwa mereka adalah dua sisi dari koin yang sama. David, yang mampu memanipulasi realitas dan masa depan dengan kecerdasannya, seorang pria yang begitu mendalam dalam keterkaitan setiap peristiwa, sehingga dia menjadi bagian dari mekanisme dunia itu sendiri. Victor, yang begitu terputus dari identitas dan refleksi dirinya, bahwa dia akhirnya hilang, menguap dari dunia, seperti mimpi yang tak lagi bisa diingat.
Mungkin ini tentang seberapa besar kontrol yang kita miliki atas kenyataan kita. Mungkin, semakin kita mencoba memahami dunia, semakin kita rentan kehilangan cengkeraman atas diri kita sendiri.
Atau mungkin—dan ini pemikiran yang paling menakutkan dari semuanya—mereka berdua hanyalah wujud dari kemungkinan yang berbeda dari setiap manusia.
David Levant dan Victor Hale, dua pria yang hidup di ujung ekstrem kemampuan manusia. Satu menguasai dunia, yang lain hilang dari dunia.
Dan aku, entah bagaimana, ada di antara mereka, berusaha memahami apa yang tersisa dari dunia setelah pertemuan itu.
