Aku selalu suka tempat-tempat sunyi. Seperti candi tebing Tegal Linggah ini—tersembunyi di balik hutan Gianyar, jauh dari keramaian wisatawan. Di tempat-tempat seperti ini, waktu terasa terhenti. Ada sesuatu yang aneh dengan kesunyian, sesuatu yang membuatku merasa seperti sedang mengintip ke dalam celah waktu, menunggu sesuatu terjadi, sesuatu yang besar, meskipun aku tak pernah tahu apa itu.
Dan hari ini, aku duduk di sini, tidak sendirian, aku bersama Jacqueline. Sebelumnya selama satu bulan kami berdua melakukan trip bareng dari Cianjur hingga Ubud, menyusuri jalur darat, dan mampir di beberapa kota. Trip ini terjadi awalnya karena beberapa bulan sebelumnya aku dan Jacqueline saling sapa di dunia maya—dia seorang blogger dan aku menyukai tulisan-tulisan bergaya new age-nya. Saling sapa itu berlanjut ke personal message, saat itulah kami berdua menemukan kesukaan yang sama, yaitu situs-situs kuno dan sinkretisme. Ketika aku bilang bahwa aku kembali dan tinggal di Cianjur, kota kelahiranku, aku langsung membuka topik Gunung Padang—situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Jacqueline sangat tertarik dan ingin mengunjungi tempat itu—dia mengetahui Gunung Padang dari sebuah series dokumenter di Netflix.
Kami sepakat bahwa pertemuan kami bukan hanya kebetulan, tapi sesuatu yang akan berlanjut pada hal yang lebih besar. Dan perasaan ini kuat sekali, setidaknya itu yang kurasakan. Singkatnya, Jacqueline terbang dari Paris ke Cianjur, lalu kami melakukan riset bersama tentang situs-situs kuno di Jawa-Bali dan saling bertukar pengetahuan sinkretisme dari sudut pandang masing-masing. Dimulai dari Gunung Padang–Cianjur, lalu Jogja dan sekitarnya, hingga saat ini—sudah seminggu—kami di Ubud. Dan sesuai rencana trip kami, hari ini kami berkunjung ke Candi Tebing Tegal Linggah di Gianyar.
Dia berdiri tak jauh dariku, memandangi reruntuhan candi yang dialiri air dari air terjun di atasnya. Ketenangannya selalu membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia pikirkan. Jacqueline bukan tipe orang yang mudah terbaca—ia lebih seperti teka-teki yang tak pernah selesai. Ia bisa berbicara tentang cinta dan kedamaian dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, sementara aku hanya bisa memandang dunia dengan sinisme yang tak pernah berhasil kutinggalkan.
“Cinta itu seperti Sungai Sein, Ervin,” katanya tiba-tiba, dengan Bahasa Inggris berdialek Perancis yang kental, memecah keheningan. Suaranya terdengar ringan, tetapi penuh makna. “Ia mengalir, tak pernah meminta untuk dihargai, tapi selalu memberi kehidupan di sepanjang alirannya.”
Aku tersenyum. “Kau selalu bicara tentang cinta, Jacqueline. Seolah-olah cinta bisa menyelamatkan segalanya,” ujarku dalam Bahasa Inggris berdialek Sunda.
Dia menoleh, sedikit tersenyum, matanya yang gelap penuh kelembutan. “Bukan cinta untuk menyelamatkan dunia, Ervin. Dunia tak butuh diselamatkan. Yang butuh diselamatkan itu jiwa kita.”
Aku ingin membalas dengan komentar sinis yang biasa. Sesuatu tentang bagaimana cinta hanyalah khayalan, dongeng yang kita ciptakan untuk bertahan dari kenyataan pahit. Tapi kata-kata itu tak keluar. Yang ada hanya keheningan yang menggantung di antara kami.
Jacqueline selalu begitu, membuatku terjebak di dalam pikiranku sendiri. Aku, yang biasa menulis tentang revolusi dan anarki, tentang dunia yang rusak dan tatanan yang perlu dihancurkan, selalu merasa tak berdaya di hadapannya. Di dalam kesederhanaannya, ada sesuatu yang tak bisa kuabaikan—sebuah kedalaman yang mengusik bagian dari diriku yang belum pernah benar-benar aku pahami.
Aku mendekatinya, mengalihkan pandanganku ke arah reruntuhan yang ia tatap. Di antara reruntuhan itu ada ukiran-ukiran relief yang sudah pudar dimakan air dan usia. Aku merasakan sesuatu yang asing saat melihat ukiran-ukiran itu, semacam perasaan mengenali sesuatu tapi sesuatu itu tenggelam dalam kabut. Aku yakin ada sesuatu di relief itu, sesuatu yang selama ini tidak kuperhatikan.
“Naga?” tanyaku setengah berbisik, jariku menyentuh relief yang berbentuk seperti seekor ular yang memiliki kaki dan cakar, tubuhnya melingkar di antara pahatan-pahatan lainnya.
Jacqueline menoleh ke arahku, matanya menyipit seolah-olah sedang mencoba membaca sesuatu dalam pikiranku. “Ya, naga,” jawabnya pelan. “Kau tahu, dalam mitologi Bali, naga sering kali dikaitkan dengan kekuatan alam, pelindung dunia. Tapi naga di sini…,” suaranya terhenti.
“Apa?” desakku.
Dia menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan, lalu kembali melihat relief itu. “Aku tidak yakin. Tapi rasanya, ini bukan sekadar ukiran. Seperti ada sesuatu yang menunggu kita di baliknya.”
Aku tertawa kecil, meski tidak karena lucu. “Kau serius, Jacqueline? Naga?”
Jacqueline tersenyum lagi, kali ini dengan tatapan yang dalam, penuh dengan sesuatu yang lebih dari sekadar keyakinan spiritualnya yang biasa. “Ervin, kau tahu kita sedang mencari sesuatu di balik situs kuno dan sinkretisme, bukan? Meskipun tujuan kita beda—kau mencari revolusi, aku mencari kedamaian—tapi mungkin, kali ini kita mencari sesuatu yang lebih dari sekadar gagasan. Sesuatu yang nyata.”
Aku terdiam, mencoba memproses kata-katanya. Di satu sisi, aku ingin menganggapnya sebagai omong kosong, fantasi yang tak masuk akal. Tapi di sisi lain… entah kenapa, ada sesuatu di balik kata-katanya yang menarikku. Jacqueline selalu begitu, membuatku percaya pada hal-hal yang biasanya akan kutolak mentah-mentah.
“Kau benar-benar ingin memburu naga, Jacqueline?”
Dia mengangguk, seolah itu adalah hal paling sederhana di dunia. “Ya, dan aku ingin kau ikut denganku.”
Aku terdiam lagi. Di luar, hujan rintik mulai turun, menyelimuti candi dengan kesejukan yang aneh. Aku bisa saja menolak. Aku bisa saja berkata bahwa ini semua tak masuk akal, bahwa kita sedang hidup di dunia nyata, bukan dalam dongeng. Tapi entah kenapa, ada bagian dari diriku yang tak ingin menolaknya.
“Apa yang kau cari, Jacqueline?” tanyaku akhirnya.
Dia tersenyum sambil mengusap rambut pirangnya ke belakang, kali ini dengan senyum yang lebih lembut dari biasanya. “Aku mencari kedamaian, Ervin. Tapi bukan kedamaian yang kau pikirkan. Bukan yang tenang dan sunyi. Aku mencari kedamaian yang ada di dalam kekacauan. Dan aku pikir, di balik naga itu, kita akan menemukannya.”
Aku tertawa, kali ini benar-benar terbahak. “Kau bicara tentang kedamaian, tapi kau ingin memburu naga?”
“Ya, karena kedamaian bukan sesuatu yang datang begitu saja. Kau harus menemukannya, bahkan jika itu berarti mengejar makhluk legendaris di tempat yang kau kira tak mungkin.”
Aku menggelengkan kepala, masih tertawa kecil, tapi ada sesuatu yang bergetar dalam diriku. Mungkin, selama ini aku mencari sesuatu yang lebih dari sekadar perubahan sosial dan revolusi. Mungkin, aku mencari sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.
“Baiklah,” kataku akhirnya, “kalau begitu, mari kita berburu naga.”
Jacqueline tersenyum lebar, lalu melangkah lebih dekat. “Terima kasih, Ervin. Kau tahu, aku selalu percaya kau akan melanjutkan perjalanan ini bersamaku.”
Aku mendekat, menatap dalam-dalam ke matanya yang bersinar dalam temaram hujan. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang selalu tertahan di antara kami, tak pernah terucap. Namun kali ini, aku memilih membiarkannya tetap tak terucap. Mungkin, kata-kata memang tak selalu dibutuhkan.
Kami berdua memandang relief naga itu lagi. Di baliknya, aku bisa merasakan sesuatu. Mungkin itu hanya imajinasiku. Tapi mungkin juga, naga itu benar-benar ada.
Dan jika benar, kami akan menemukannya bersama-sama.

Kelanjutan dari kisah ini tidak seperti harapanku. Realitas menggigit hubungan kami. Meskipun memang indah pada awalnya, namun saat urusan duniawi ikut campur dalam kisah—yang hampir menjadi kisah cinta abadi—ini, segalanya langsung berantakan.
Setelah momen di Candi Tebing itu, kami hanya punya waktu tiga hari sebelum jadwal kepulangan Jacqueline ke Perancis. Dalam waktu tiga hari itu kami mulai membicarakan perasaan yang berkembang dalam diri kami selama hampir satu bulan berpetualang bersama. Terkadang bersama sebotol wine dan percumbuan.
Dan akhirnya kami sepakat untuk berpacaran, tepat sebelum dia check in di bandara. Lalu kami berpeluk-ciuman, dan Jacqueline berjanji akan kembali tiga bulan lagi—dia memutuskan akan tinggal di Ubud bersamaku, untuk cinta dan perburuan naga. Maka dia pulang dulu ke Paris untuk berbenah bersiap pindah, dan aku tinggal di Ubud untuk berbenah menyiapkan rumah. Kami memiliki mimpi untuk membangun sebuah toko di Ubud—bahkan sudah membuat namanya: Niskala Moon—Ubud Tarot & Magic Shop.
Namun, seperti kubilang di awal tadi, realitas menggigit kami, hubungan jarak jauh tidak bekerja dengan baik untuk kami—banyak kesalahpahaman, distrosi satelit, perbedaan waktu, perbedaan bahasa dan budaya, dan kebangsatan lainnya. Kami putus di bulan ketiga, pada hari ulang tahunnya, beberapa saat sebelum Jacqueline memesan tiket pesawat ke Bali—yang kemudian diurungkannya. Maka perburuan naga yang kami rencanakan itu pun otomatis batal.
Namun meskipun kisah tentang naga ini berhenti, bahkan sebelum dimulai, setidaknya aku pernah punya wacana melakukan perburuan naga dan menambah Kerumitan Sastra kita. Bisa saja kulanjutkan sendirian, namun tanpa Jacqueline, aku tak punya motivasi, dan naga kurang cocok untukku. Harus kuakui, kisah naga memang lebih pantas untuknya ketimbang untukku. Aku lebih dekat dengan harimau dan kupu-kupu.
Agar kamu mengerti apa yang terjadi, akan kucoba untuk menjelaskannya sedikit dalam sebuah narasi yang ditulis olehnya, sebuah balasan dari cerita Romantika Candi Tebing yang kukirim padanya sebagai hadiah ulang tahun yang telat, sebab pada hari ulang tahunnya, situasiku sedang sangat tidak menguntungkan— bangun sejak subuh karena ingin memberikan ucapan selamat pas jam 12 malam di Paris, yang berarti jam 7 pagi di Bali, dan saat menelepon ternyata Jacqueline belum tidur karena harus packing untuk besok pagi pergi ke Oxford, sebuah mimpi yang dia idamkan sejak lama, yaitu berkunjung ke museum Tolkien, nabinya. Jadi kami hanya teleponan sebentar dengan ucapan sekadarnya, lalu baru bisa video call lagi sore hari di Bali, saat dia berada di bandara yang bising, aku tak bisa mendengar apa yang dia ucapkan, jadinya salah tafsir dan salah semua. Singkatnya kami putus hari itu. Besoknya aku kirimkan Romantika Candi Tebing padanya lewat e-mail sebagai hadiah ulang tahun yang terlambat. Lalu dia membalas email itu beberapa hari kemudian.
Berikut balasannya dalam Bahasa Inggris yang kuterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:
Jacqueline Membenci Hari Ulang Tahunnya
Bagi dirinya, hari itu selalu menjadi saat keputusasaan yang paling sunyi—sebuah pengingat akan kehidupan yang jiwanya terpilih untuk menebus karma, dalam keluarga yang penuh beban karmis; sebuah rumah di mana ia merasa tak dicintai, tak aman, tak dihargai oleh siapa pun, dan benar-benar sendirian di dunia. Ia terjebak di dalam keluarga tempat ia terus mencoba mencari kasih dari orang-orang yang justru menyakitinya.
Hari ulang tahun selalu mengingatkannya pada ketakutan itu. Ia menjadi rapuh, dan anak kecil di dalam dirinya berjuang keras untuk tetap bertahan, sementara dirinya yang dewasa berusaha untuk menjadi ibu bagi sang anak batin—meski sering kali gagal.
Pada hari itu, ia sangat membutuhkan kekasihnya: seseorang yang mengerti isi hatinya, yang bisa menenangkannya tanpa merasa tersinggung, tanpa bereaksi atas luka yang tak ditujukan padanya.
Terutama pada hari itu—hari di mana ia paling membutuhkan sandaran untuk melewati gelombang emosi yang selalu datang setiap tahun.
Setiap ulang tahun terasa sama: air mata yang mengalir, hati yang goyah. Kadang ia berhasil menavigasi ombaknya, kadang tenggelam di dalamnya. Tahun lalu, untuk pertama kalinya, ia berhasil “berselancar” di atas gelombang itu dengan tenang. Tapi tahun ini, ia kembali terhempas—terhisap ke dalam arus, seolah tenggelam sepenuhnya.
Sahabat lamanya—teman yang telah ia kenal sejak bayi di rumah sakit—lupa akan ulang tahunnya. Padahal baru-baru ini ia pergi jauh ke Belgia untuk merayakan ulang tahun sahabat itu.
Kakaknya lupa, adiknya lupa. Semua teman sekolahnya lupa. Ia sudah lama terpisah dari orang tuanya, dan tak ada satu pun anggota keluarga yang mengucapkan selamat—kecuali satu: neneknya, yang mengirimkan kartu sederhana.
Perasaan tidak berharga, tak terlihat, begitu menyakitkan.
Dan ketika seorang teman yang berjanji untuk menemaninya membatalkan, Jacqueline akhirnya pergi sendirian.
Seorang teman lain memang akan menyusul keesokan harinya, tetapi itu tak sama—tidak cukup untuk mengusir kesepian saat ia duduk di pesawat, menatap jendela dengan mata sembab, merasakan kehampaan di “hari kelahirannya”, dan bertanya pada dirinya sendiri: apa sebenarnya yang ia lakukan di dunia ini?
Ia menangis di dalam pesawat.
Dan ketika ia mencoba berbagi tentang rasa sakitnya, kekasihnya tidak mendengar suara anak kecil di dalam dirinya. Tapi itu bukan kesalahan kekasihnya—ia bukan terapis, dan Jacqueline pun tidak berharap ia menjadi terapis. Ia hanya butuh pelukan. Hanya itu. Sedikit kehangatan.
Mungkin kekasihnya tidak menyadari bahwa yang berbicara saat itu adalah luka lama, bukan amarah baru—dan karena itu, kekasihnya menganggap itu sebagai penolakan, sebagai penghinaan.
Dalam kepedihannya, Jacqueline takut pada hubungan cinta. Ia takut setiap pria akan menjadi seperti ayahnya—pria yang setiap tahun memberi hadiah ulang tahun yang sama untuk istrinya: sebotol parfum yang bahkan belum habis dari tahun sebelumnya.
Sebagai anak kecil, Jacqueline bisa merasakan kekecewaan ibunya, rasa tidak dicintai, rasa terperangkap bersama lelaki kasar yang tak berubah. Ia tak ingin mengalami itu dalam hidupnya sendiri, dan ketakutan itu terus menghantuinya.
Suatu tahun, di hari ulang tahun ibunya, Jacqueline dan adiknya lupa memberikan ucapan. Ibunya begitu marah, membuat Jacqueline merasa bersalah berbulan-bulan lamanya.
Ayahnya tidak mengingatkan mereka, tidak bertanya apakah mereka sudah menyiapkan sesuatu—dan Jacqueline membencinya karena itu. Ibunya menyalahkan Jacqueline, padahal ia masih anak-anak. Ayahnya yang seharusnya tahu, yang seharusnya mengingatkan.
Jacqueline sangat membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan anak batinnya di hari ulang tahunnya. Namun yang datang justru spiral luka dan kesedihan yang tak berujung.
Ia lupa menjadi ibu bagi dirinya sendiri, dan tersesat dalam rasa sakit masa kecil—dalam bayang ayahnya yang kejam dan penuh kekerasan, yang ia yakini juga merupakan korban dari lingkaran setan yang sama.
Setelah hari ulang tahun itu, Jacqueline tidak tahu harus berpikir apa.
Kekasihnya mengirimkan sebuah cerita. Katanya, cerita itu ia tulis untuk koleksi bukunya. Jacqueline sudah pernah membaca kisah itu sebelumnya—tentang kisah mereka di Candi Tebing—sebelum mereka berpisah di bandara. Namun di pesannya, kekasihnya mengatakan bahwa itu adalah hadiah ulang tahun yang terlambat. Jacqueline bingung—apakah maksudnya ia telah mengeditnya ulang? Menulisnya kembali sebagai hadiah khusus?
Ia merasa bersyukur atas kiriman itu, tetapi pikirannya masih terasa seperti jeli—lembek, bergetar, tidak mampu memproses apapun setelah luka hari ulang tahun itu.
Mungkin ketakutannya terhadap laki-laki masih terlalu kuat.
Mungkin yang ia butuhkan sekarang hanyalah diam bersama dirinya sendiri—untuk belajar mencintai dirinya, menemukan nilai dirinya, dan mengingat kembali tempatnya di sisi Tuhan.

Setelah membaca surat balasan itu, aku menangis di sudut. Aku tak bisa berkata apa-apa, aku tidak tahu harus berbuat apa, namun aku jadi tahu bahwa keputusan kami untuk berpisah adalah keputusan tepat. Aku sangat menghormati pilihannya, dan aku setuju bahwa dia butuh untuk bersama dirinya tanpa gangguan orang lain—terutama aku.
Namun, aku ingin membuat lanjutan dari Romantika Candi Tebing setelah aku membaca cerita balasan dari Jacqueline itu, agar kisah ini menjadi lengkap dan tuntas.

Hujan sore itu telah reda, meninggalkan bau tanah basah yang lembut di udara. Di hadapan kami, relief naga di reruntuhan candi tebing tampak hidup oleh sinar lembayung yang tersisa. Tapi pandanganku tidak lagi tertuju pada batu, melainkan pada wajah Jacqueline—tenang di permukaan, namun matanya menyimpan badai yang tak pernah benar-benar reda.
Aku baru mengerti sekarang.
Ketika Jacqueline berbicara tentang cinta, tentang damai di tengah kekacauan, ia sebenarnya sedang berbicara tentang dirinya sendiri — tentang peperangan yang tak terlihat, yang berlangsung di dalam dadanya setiap kali dunia terasa terlalu sunyi, terlalu jauh untuk memeluknya.
“Jacqueline,” kataku perlahan, suaraku nyaris tertelan udara. “Aku menulis kisah itu untukmu, tapi mungkin aku tidak benar-benar tahu siapa dirimu saat itu.”
Ia menatapku, seolah kalimatku menyentuh sesuatu yang rapuh di dalam dirinya.
“Aku pikir aku mengenalmu,” lanjutku, “tapi ternyata aku hanya mengenal sisi yang kamu perlihatkan pada dunia—sisi yang bijak, tenang, penuh cinta. Aku tidak tahu betapa dalam luka yang kamu simpan di bawahnya.”
Jacqueline tersenyum samar, namun matanya berkaca. “Aku tidak bermaksud menyembunyikannya,” katanya. “Aku hanya… lelah menceritakannya. Kadang lebih mudah memakai kedamaian sebagai selimut, daripada menunjukkan betapa retaknya aku di dalam.”
Aku mendekat, langkahku pelan agar kata-kata tak pecah di antara kami.
“Tidak apa-apa,” bisikku. “Kedamaianmu tetap indah, bahkan jika di bawahnya ada luka. Karena mungkin itulah kedamaian yang paling jujur—yang lahir dari pertarungan panjang, bukan dari ketenangan semu.”
Ia menghela napas, menunduk, jari-jarinya menyentuh ukiran naga di batu seolah mencari arti dari setiap goresannya.
“Kau tahu,” katanya, “ulang tahunku selalu membuatku takut. Seperti hari di mana semua bayangan masa kecil datang menjemputku. Kadang aku merasa tidak pantas dicintai. Seolah cinta hanyalah hadiah untuk orang lain, bukan untukku.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau begitu,” ujarku pelan, “izinkan aku belajar mencintaimu, agar kamu tahu kamu tak sendirian menghadapi dunia.”
Aku ragu sejenak, lalu menambahkan, “Aku mungkin bukan penyembuh. Tapi aku bisa menjadi tangan yang kamu genggam saat ombak datang lagi.”
Jacqueline menatapku lama, lalu setitik air mata jatuh tanpa suara. Ia menutup matanya, membiarkan keheningan berbicara untuknya.
Malam turun perlahan, dan udara di tepi tebing menjadi dingin. Tapi ada sesuatu yang hangat di antara kami—keheningan yang tak lagi menakutkan.
“Aku mencoba menulis tentang naga,” kataku akhirnya, “karena aku pikir naga itu sesuatu yang kita cari di luar diri kita—sebuah misteri, kekuatan, petualangan. Tapi mungkin aku salah. Mungkin naga itu justru hidup di dalam diri kita, di balik luka-luka yang belum sembuh.”
Jacqueline tersenyum lembut. “Kalau begitu,” katanya, “mungkin kita memang ditakdirkan bukan untuk memburu naga, tapi untuk menjinakkannya.”
Aku mengangguk. “Dan melakukannya bersama.”
Ia meraih tanganku, dan untuk pertama kalinya, aku merasa kami benar-benar berada di tempat yang sama—di antara dua jiwa yang akhirnya berani saling melihat apa adanya: indah dan rusak, kuat dan gentar, suci dan penuh luka.
Di hadapan kami, relief naga tampak bergetar samar dalam cahaya terakhir senja.
Entah mengapa, aku merasa makhluk batu itu sedang tersenyum.

Meski aku dan Jacqueline tak bisa mengalami kisah lanjutan itu di dunia nyata—dan karena begitu menyakitkannya realitas itu—maka aku ingin memperbaikinya lewat fiksi, dengan harapan semoga fiksi ini bisa menyembuhkan luka batin kami berdua.
Untuk penutup, aku lampirkan percakapan terakhir kami di Whatsapp, kuterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Ervin,
Aku dengar kabar bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini… Aku mendoakanmu dan berpikir panjang apakah harus menghubungimu atau tidak.
Aku menyesal jika kamu merasa terluka olehku. Kurasa kamu kesal karena aku pernah bilang, “Aku tidak akan meninggalkanmu,” tapi pada akhirnya aku pergi. Kupikir ketika kepercayaan antara kita terkikis sejak ulang tahunku, melalui semua kesalahpahaman kita, rasanya sangat sulit untuk memulihkannya kembali… Aku menyesal telah mengatakan bahwa aku tidak akan meninggalkanmu… Waktu itu aku mengatakannya saat kamu khawatir aku akan pergi karena mantan suamiku. Tapi lama-kelamaan menjadi jelas bahwa hubungan kita tidak untuk jangka panjang, dan perjuangan serta kesalahpahaman kita tidaklah sejalan. Namun, ketika melihat ke belakang, aku mengingat semuanya dengan positif dan berfokus pada semua hadiah, pembelajaran, dan penyembuhan yang kita lalui bersama… saat kamu mengirimkan begitu banyak cinta, dan bagaimana kita bersatu membahas isu-isu kompleks di planet ini, serta bagaimana kita menemukan kesamaan dalam banyak hal dalam spiritualitas dan dituntun ke tempat-tempat suci, dan belajar banyak satu sama lain, mengirimkan doa untuk membantu planet ini. Planet ini mempertemukan kita untuk membantu dalam Kebangkitan dan penyembuhan luka, terutama antara maskulin dan feminin, dan aku bersyukur untuk semua yang kita bagikan bersama.
Aku bisa melihat kita memiliki koneksi jiwa, bukan sebagai soulmate atau apa pun artinya, tetapi seperti mencerminkan bagian satu sama lain dan di mana kita perlu tumbuh—kita melihat bayangan (shadow) dalam diri masing-masing; itu adalah sebuah hadiah sehingga kita sekarang tahu apa yang harus kita sembuhkan. Aku bisa melihat kecenderungan kodependensiku dan bagaimana aku perlu menemukan kebahagiaan di dalam diriku sendiri, bukan mengejarnya di luar, dan bahwa hal terpenting adalah bersama Tuhan dan jiwaku, dan bahwa terapi serta penyembuhan selalu menjadi tujuannya.
Aku merasa bangga padamu karena telah menghadapi begitu banyak gejolak dalam dirimu dan kembali ke jiwamu, melakukan yang kamu cintai dengan baca tarot, menulis, dan bernyanyi, dan mungkin jiwaku memantulkan kembali impian-impian terpendammu seperti magic shop atau menulis di Paris, bahwa dirimu sendiri saja sudah cukup untuk meraihnya tanpa perlu orang lain dalam kodependensi. Jiwamu utuh, bahagia, dan damai selalu bersamamu.
Maafkan aku jika kata-kataku memicu luka, bukan itu maksudku, ini datang dari hatiku karena semua ini adalah hal-hal yang aku hadapi dan harus aku akui.
Menurutku kamu sangat berani menghadapi rasa sakitmu. Kuharap kamu memiliki terapis atau teman terpercaya untuk diajak bicara, untuk menemukan akar dari rasa sakit dan pola-pola tertentu, untuk menyembuhkan siklus—entah apa pun siklus itu? Untuk bersama dengan anak batinmu (inner child) dan apa yang dia butuhkan sekarang?
Koneksi kita telah mendorongku lebih dalam di jalur spiritualku dan untuk itu aku sungguh bersyukur… Aku tahu aku harus menemukan kebahagiaan dari dalam, bersama Tuhan, bersama jiwa. Aku selalu berterima kasih padamu untuk hadiah itu. Kuharap kamu menemukan jalanmu dan terima kasih telah melintas di jalanku.

Jacqueline,
Terima kasih telah menghubungiku dan berbagi renunganmu dengan begitu jujur dan penuh perhatian. Aku sangat menghargai kebaikanmu, doa-doamu, dan pengakuan akan perjalanan yang kita lalui bersama. Kata-katamu sangat berarti, dan aku ingin kamu tahu aku tidak menyimpan dendam—hanya rasa syukur atas pertumbuhan dan penyembuhan yang kita temukan, bahkan dalam gejolak dan perseteruan yang menjemukan—yang sering bikin kita pusing dan emosi.
Kamu benar—koneksi kita mengajariku banyak hal tentang diriku sendiri, bayang-bayangku, dan pentingnya untuk berakar pada keutuhanku sendiri. Aku telah berfokus pada penyembuhan, mendalami passion-ku seperti baca tarot, menulis, dan bermain musik, dan ya, bahkan memelihara mimpi-mimpi yang indah itu (ide magic shop itu masih membuatku tersenyum, mimpiku menulis di cafe-cafe di Paris masih membangkitkan semangatku). Terapi telah menjadi penopang yang kuat, membantuku melepaskan pola-pola lama dan menyambung kembali dengan anak batinku. Ini sebuah proses, tapi aku belajar untuk mempercayai jalanku.
Aku juga melihat ke belakang dengan kehangatan pada momen-momen selaras kita—petualangan suci itu, kebangkitan spiritual, dan cara kita saling mencerminkan kebutuhan masing-masing untuk tumbuh. Keberanianmu untuk menghadapi kodependensi dan mencari cahaya di dalam dirimu menginspirasiku. Aku senang waktu kebersamaan kita memperdalam koneksimu dengan Tuhan dan jiwamu; itu adalah hadiah yang akan selalu kusyukuri.
Semoga kamu terus mendapatkan kedamaian dalam perjalananmu, dan semoga hatimu selalu menemukan jangkar dalam Dzat Ilahi. Terima kasih telah melintas di jalanku dan berbagi dalam Kebangkitan ini.