Indeks Konten
Pengantar Penulis
Tiga puisi ini aku ciptakan untuk Iryna Nykonchuk, belahan jiwaku—dalam Bahasa Indonesia konsep belahan jiwa ini tepat, namun dalam Bahasa Inggris kami tidak mau disebut soulmate, kami lebih suka konsep heavenmate—kalau kata dia, kata soulmate sudah sering dipakai, boring!
Pada pertemuan pertama kami di kehidupan saat ini—sebagai Ruhlelana dalam wujud laki-laki Indonesia-Sunda dan Iryna dalam wujud perempuan Ukraina-Slavik—ingatan jiwa kami tiba-tiba mengalir deras menyerbu ingatan daging dan ingatan pikiran tanpa bisa dibendung, hingga kami berdua merasa overload oleh ribuan ingatan baru yang tak pernah kami alami di kehidupan saat ini. Selama beberapa saat kami hanya terdiam, bahkan nyaris kolaps, malah mirip seseorang yang sedang terlelap dalam lupa. Gejalanya sama, bengong dan sejenak hilang orientasi dengan keadaan sekitar. Tak lama kemudian kami kembali normal saat arus ingatan itu mulai melambat.
Aku dan Iryna bertemu untuk pertama kalinya di Ubud pada tahun 2025. Dia khusus mendatangiku jauh-jauh dari Canggu karena kami memiliki janji temu untuk sesi pembacaan tarot—sejak pindah lagi ke Ubud aku membuka sesi tarot berdasarkan janji dan bekerja sama dengan beberapa cafe serta pusat yoga.
Saat dia datang ke villa tempatku tinggal di Nyuh Kuning—di mana kami akan melakukan sesi tarot—aku sudah langsung tahu bahwa aku pernah bertemu dengannya di kehidupan sebelum ini. Aku memilih rumahku saat itu, dan bukannya cafe atau yoga center, karena aku merasakan ada sesuatu yang berbeda pada diri perempuan ini, meskipun kami berdua belum pernah bertemu dan hanya berkomunikasi lewat WA. Cantik, pikirku saat itu.
Dan perasaanku ternyata benar. Setelah sesi tarot selesai, kami hanya diam dan saling pandang selama berabad-abad—waktu tiba-tiba jadi absurd. Hingga realitas menggigit kami—kami berdua kelaparan.
Lalu kami memutuskan untuk makan malam, yang kemudian kami anggap sebagai kencan. Kami naik motor ke Pawon Cahaya, sebuah warung makan kecil dengan masakan khas Nusantara yang terletak di sebuah ujung gang buntu di Ubud. Aku ingin memamerkan warung ini ke Iryna karena masakan khas nusantaranya sangat enak dan cocok untuk perut orang asing, no bali-belly.
Dan aku juga ingin memamerkan padanya hal yang sama pentingnya dengan makanan, yaitu buku. Aku kebetulan memang sedang merintis untuk membangun sebuah perpustakaan gratis untuk umum, terutama untuk anak-anak di area halaman dan teras Pawon Cahaya. Pemilik restoran ini, Julia, memiliki seorang anak perempuan berumur 9 tahun bernama Cahaya. Karena Cahaya inilah aku ingin membangun perpustakaan untuk anak di sana.
Setelah berdiskusi tentang perpustakaan, kami terlibat dalam sebuah diskusi yang lebih dalam, lebih intim, dengan intensitas yang begitu kuat selama berjam-jam, tanpa melepaskan tangan satu sama lain selama dialog berlangsung—diwarnai peluk-cium untuk beberapa hal yang tak terkatakan atau yang tak bisa kami katakan secara terbuka. Namanya juga kencan pertama!
Arus deras ingatan jiwa yang merasuk pada pikiran dan ingatan daging—yang kami rasakan saat kami bersentuhan—boleh dibilang begitu memabukkan. Sepertinya ini adalah gabungan hormon- hormon yang menyebabkan kita melayang-layang di udara, mengalahkan gravitasi—pada akhirnya.
Aku tidak berlebihan saat kubilang memabukkan, sebab malam itu, setelah kami berpisah, aku pulang sempoyongan ke Nyuh Kuning, seperti habis nenggak setengah botol arak dari Warung Madura.
Kami bertemu dua kali lagi pada hari-hari berikutnya dalam minggu itu. Pada pertemuan ketiga—sehari setelah ulang tahunku yang ke-46—kami memutuskan untuk berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing, di negara masing-masing.
Dia harus pulang untuk ikut berjuang dalam perang yang sedang berlangsung di negaranya. Aku harus tinggal untuk melanjutkan perjuanganku yang begitu disukai Iryna, yaitu membangun perpustakaan-perpustakaan kecil gratis di ruang mana pun yang kusinggahi dalam perjalananku.
Tema perjuangan inilah yang selalu memenuhi obrolan kami yang hanya terjadi tiga kali itu. Tentang kegigihannya melaporkan berita di medan perang—Iryna adalah seorang jurnalis perang yang terjun langsung ke lapangan untuk meliput dan melaporkan. Di tubuhnya terdapat dua luka tembak, satu di sekitar tulang selangka dada kiri—yang dia dapatkan di jalur Gaza dari tentara IDF yang menembaki wartawan, satu lagi di pinggang kiri—yang dia dapatkan sebelumnya di Ukraina dari tentara Rusia. Dua bekas luka tembak ini—yang kubilang padanya sebagai tato terindah yang pernah kulihat—adalah alasan dia tak lagi takut mati. Maka dari itu dia pikir dia harus terjun lagi ke medan perang, namun kali ini sebagai prajurit berani mati yang ingin membela bangsanya dari bangsa penjajah. Alasan-alasan perjuangan ini adalah alasan-alasan yang tak bisa kami berdua bantah tentang kenapa kami harus berpisah—bahkan sebelum kisah cinta ini dimulai.
Di samping itu, meski kami tahu kami saling mencintai, namun kami lebih tahu bahwa cinta tidak berarti harus hidup bersama, cinta kadang tak perlu drama—cinta itu saja sudah sangat cukup sebagai energi kehidupan bagi kami.
Kami berjanji akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, andaipun salah satu dari kami sudah memenuhi syarat moksha, kami tetap akan reinkarnasi lagi—kata dia moksha itu boring. Janji temu inilah yang membuat kami tetap bersemangat untuk memelihara cinta—yang meskipun abadi tetap saja butuh perawatan agar tidak kotor dan berantakan. Energi cinta yang bersih dan terawat ini yang membuat kami menghadapi perpisahan dengan senyuman, tanpa tangis dan drama yang menyakitkan.
Cinta bagi kami adalah sebuah kesabaran tanpa batas sebab kami yakin bahwa kami akan selalu bertemu dalam setiap reinkarnasi, dalam wujud yang selalu secantik dan seganteng sekarang. Dan cinta yang seperti itu rasanya sangat lezat.

Untitled #1
Perempuan itu berkata:
“Aku akan berangkat perang.”
Aku menjawab:
“Jangan lupa bawa charger.”
Lalu dia menciumku seperti mengucapkan selamat tinggal
kepada es krim yang meleleh sebelum sempat dijilat.
Dia membawa rompi antipeluru.
Aku membawa cucian kotor.
Dia membawa granat tangan.
Aku membawa kupon diskon sambal terasi.
Dia menatap langit dan berkata,
“Negaraku memanggil.”
Aku menatap kompor dan berkata,
“Gasnya abis.”
Setiap malam aku berdialog dengan panci.
Panci berkata: “Dia takkan kembali.”
Tapi sendok menimpali: “Mungkin dia berubah bentuk jadi drone.”
Aku setuju dengan sendok,
karena logika bukan sesuatu yang kuhormati sejak 2022.
Aku mencoba menulis puisi untuknya,
tapi semua rimanya mirip bahan siaran radio militer:
“Kekasihku, mortir meledak,
hatiku juga… tapi tanpa efek ledakan dramatis.”
Aku beli bendera Ukraina ukuran kecil
dan memakainya sebagai saputangan.
Ketika orang bertanya,
“Kenapa kau menangis?”
Aku jawab,
“Aku alergi damai.”
Aku daftar ke pelatihan milisi internasional,
tapi mereka menolakku
karena aku terlalu sering membuka aplikasi makanan
di tengah simulasi serangan udara.
Pernah suatu malam, aku yakin
ia muncul dalam mimpiku
sebagai siluet perempuan
yang setengah dewi, setengah tank tempur.
Ia berkata:
“Kalau aku gugur,
tanamkan ingatanku di halaman rumahmu.”
Aku lakukan.
Tapi ternyata itu cuma halaman rumah tetangga,
dan mereka melaporkanku ke RT.
Aku mencoba berdamai dengan takdir.
Tapi takdir bilang,
“Maaf, saya sedang sibuk. Silakan tunggu di antrean.”
Nomorku: 78.956.129.
Maka aku berdiri di beranda
dengan pakaian dalam warna kamuflase,
menyanyikan lagu kebangsaan negara yang bukan milikku,
menunggu kabar dari seseorang
yang mungkin sudah tiada,
atau berubah menjadi pos Instagram
dengan filter hitam putih dan hashtag patriotisme.
Kalau nanti ia kembali—
mungkin tanpa kaki, atau tanpa memori,
aku akan menawarinya mie ayam, makanan favoritnya
dan berkata:
“Aku tidak bertempur,
tapi aku lapar setiap malam karenamu.”
Dan kalau ia tak kembali,
aku akan menikahi kesunyian,
dan kami akan tinggal bersama
di rumah kecil penuh senjata tumpul
dan dialog yang hanya dimengerti oleh
meja makan dan nyamuk-nyamuk eksistensialis.
Pantai Kedungu, 2025
Untitled #2
Cintaku, Iryna…
Namamu terdengar seperti hujan yang jatuh di atap seng di ujung dunia, ketika matahari lelah jadi dewa.
Aku tidak menulis tentang cinta, aku menulis dengan cinta,
setiap huruf adalah teh hitam di musim dingin;
panas, pahit, tak tepat waktu.
Kita adalah dua bayangan yang bertemu di jalan asing,
namun tatapan kita mengenali masa depan, dan masa lalu
jika keduanya memang bisa dikenali.
Tawamu terdengar seperti kamu tahu kata sandi
dari semua bencana yang pernah kualami.
Aku menyentuh namamu
seperti tuts piano tua,
ia tetap berbunyi bahkan saat tak ada yang memainkannya.
Aku tidak menjanjikan surga;
cintaku berbau asap,
ia berbisik di malam hari,
ia menggigit fajar,
dan entah kenapa kamu tetap ada.
Sebab cinta, Iryna,
adalah saat kekacauan akhirnya
mulai terlihat seperti semesta,
dan kamu tiba-tiba sadar
bahwa kamu betah di tengah ledakan itu.
Pantai Kedungu, 2025
Library Against War
(Sebuah Manifesto—terinspirasi dari diskusi panjang dengan Iryna)
Kenapa bikin perpustakaan kecil di kampung-kampung bisa jadi salah satu cara untuk mencegah Perang Dunia Ketiga?
Kedengarannya memang sederhana, atau bahkan terlalu idealis. Tapi kalau dipikir-pikir lebih dalam, ada hal-hal mendasar yang bisa dijelaskan.
Pertama, karena perang sering muncul dari kebodohan. Bukan cuma bodoh dalam hal tidak sekolah, tapi bodoh dalam arti sempit cara pandang. Orang gampang marah, gampang percaya hoaks, gampang dibakar sentimen suku, agama, dan bangsa, karena nggak terbiasa membaca, nggak terbiasa memahami dunia lewat berbagai sudut pandang. Di kampung, banyak orang yang baik hati, tapi karena akses informasi sempit, mereka bisa diprovokasi dengan cepat. Nah, perpustakaan kecil bisa jadi jendela buat mereka melihat dunia lebih luas—pelan-pelan.
Kedua, karena damai itu harus dilatih dari bawah. Selama ini, orang sering mengira damai itu urusannya politik tingkat tinggi, diplomasi, tentara, atau hukum. Tapi lupa, bahwa kalau orang-orang di kampung sudah punya kebiasaan berpikir jernih, berdialog, dan menghargai pendapat berbeda—maka ketika ada provokasi, mereka nggak langsung terpancing. Mereka punya benteng dalam diri sendiri.
Ketiga, dunia sekarang bukan cuma perang pakai senjata, tapi juga perang pikiran, perang opini, perang informasi. Kita diserang lewat internet, lewat narasi. Kampung-kampung sering jadi ladang empuk buat menyebarkan ide-ide radikal atau manipulatif karena nggak ada ruang alternatif. Kalau ada perpustakaan, ada tempat anak muda nongkrong sambil baca, diskusi, nonton film dokumenter, nulis puisi, ya itu udah jadi perisai alami dari perang-perang zaman sekarang.
Keempat, perpustakaan bisa bikin orang kampung punya rasa percaya diri. Mereka bisa baca sejarah kampung mereka sendiri, bisa menulis kisah hidup mereka, bisa merasa bahwa hidup mereka penting. Kalau orang udah merasa hidupnya penting, dia nggak gampang mau disuruh mati demi ideologi yang nggak jelas asal-usulnya.
Dan yang terakhir—ini mungkin yang paling penting—perpustakaan ngajarin orang buat sabar. Baca buku itu butuh waktu, butuh diam, butuh ketekunan. Semua hal yang bertolak belakang dengan karakter perang yang serba cepat, impulsif, penuh kebencian. Mungkin dari kebiasaan kecil itu, manusia bisa belajar cara hidup yang lebih lambat, lebih dalam, dan lebih damai.
Bikin perpustakaan kecil di kampung memang nggak kelihatan heroik. Tapi justru di situlah revolusi damai bisa dimulai—tanpa teriak, tanpa senjata, cuma dari rak buku dan obrolan santai di tikar bambu.
Ubud, 2025