Denpasastra.net

Hidup Ketawa Cara Mens Rea

Tahukah kamu, generasi boomer dan milenial Indonesia punya satu muscle memory yang aneh tapi kolektif: masa ketika buku Mati Ketawa Cara Rusia terbit dan beredar di Indonesia pada awal 1990-an.

Dari judulnya saja sudah menggelitik. Seakan mengundang pertanyaan, memang bagaimana sih jokes di buku ini dan seberapa epic lucunya, sampai-sampai warga negara yang terkenal serius, dingin dan berwajah jutek seperti orang Rusia saja bisa tertawa terpingkal-pingkal sampai mau mati rasanya.

Buku ini berisi sekitar 200 lelucon politik yang menyasar para pemimpin dan politikus Rusia, juga problematika kehidupan rumah tangga. Di Indonesia, Mati Ketawa Cara Rusia dikenal luas karena humornya terasa dekat dengan pengalaman pembacanya pada masa itu. Bukan karena latarnya sama, melainkan karena tekanannya terasa serupa.

Lelucon-lelucon tersebut menyindir kehidupan sosial dan politik masyarakat yang hidup di bawah rezim Uni Soviet. Materinya dikompilasi oleh Dolgopolova, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari judul asli Russia Dies Laughing oleh Batara Sakti, dan diterbitkan oleh Pustaka Grafitipers. Yang membuatnya berumur panjang justru bukan kelucuannya semata, melainkan fungsinya.

Bukan kebetulan buku ini sampai ke Indonesia dan dibubuhi kata pengantar oleh alm Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam kata pengantarnya, Gus Dur menulis bahwa humor ala Rusia ini bukan sekadar hiburan, melainkan hasil pengamatan terhadap sistem masyarakat yang tertutup, bahasa resmi yang kaku, serta klaim ideologis negara yang berjarak dengan realitas hidup sehari-hari.

Dalam pembacaan Gus Dur, humor bekerja sebagai cara menjaga kewarasan. Ia bukan dimaksudkan untuk menggulingkan kekuasaan secara langsung, tetapi untuk mempertahankan nalar kritis individu ketika kritik terbuka tidak memungkinkan. Humor menjadi ruang bernapas. Bukan teriakan, melainkan jeda yang menyelamatkan.

Gus Dur memang tidak pernah secara eksplisit menyamakan situasi Uni Soviet dengan Indonesia di bawah Orde Baru. Namun pembaca pada masa itu tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk memahami relevansinya. Mati Ketawa Cara Rusia dibaca sebagai cermin, bukan sebagai laporan luar negeri.

Baca Juga  Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Pemahaman ini kembali terasa bagi saya bertahun-tahun kemudian, dalam konteks yang sangat berbeda. Orde Baru telah lama lewat. Saya sendiri berteman baik dengan beberapa teman peselancar di kawasan Uluwatu. Sebagian dari mereka orang Rusia, baik yang datang singkat maupun yang menetap lama di Bali.

Betul memang ada kesan kaku dan gap budaya yang terselip. Namun ketika obrolan menyentuh urusan politik, kami justru sering menemukan tawa bersama. Menertawakan pejabat, kebijakan, dan absurditas negara masing-masing. Bukan untuk meremehkan penderitaan, melainkan untuk menjaga jarak dari hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Di titik itu saya paham: humor Rusia yang dulu saya baca bukanlah bawaan genetis, melainkan hasil hidup lama di bawah tekanan. Ketika tekanannya mengendur, humor itu tidak hilang. Ia hanya berubah fungsi. Dari alat bertahan hidup menjadi bahasa pertemanan.

Pemahaman inilah yang membawa saya pada Mens Rea, special stand-up comedy oleh Pandji Pragiwaksono yang tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025. Sejak awal, pertunjukan ini memang memicu perdebatan. Bukan karena ia tidak lucu, melainkan karena ia berani menyentuh wilayah yang selama ini ingin dijaga tetap steril dari tawa: kekuasaan.

Mens Rea direkam dua hari setelah publik Indonesia diguncang kabar meninggalnya Affan, warga sipil yang terlindas mobil rantis Brimob. Artinya, materi komedi ini hadir di tengah suasana sosial yang panas, emosional, dan penuh luka. Tawa dan duka yang dialami penonton malam itu hanya berjarak kurang dari 2 x 24 jam. Di situlah letak keberanian pertunjukan ini. Ia tidak menunggu luka mengering untuk berani berbicara.

“Kita mau berharap ke siapa? Polisi kita membunuh. Tentara kita berpolitik. Presiden kita memaafkan koruptor. Wakil presiden kita Gibran,” ucap Pandji di penutup show-nya. Kalimat ini tidak bekerja sebagai lelucon yang meminta tawa, melainkan sebagai pernyataan telanjang. Ia memaksa jeda. Bukan karena komedinya gagal, tetapi karena komedinya tepat mengenai sasaran.

Baca Juga  Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ - Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Di titik ini, Mens Rea tidak berhenti sebagai pertunjukan komedi. Ia bekerja seperti Mati Ketawa Cara Rusia dulu bekerja; sebagai cara menjaga kewarasan di tengah situasi yang terasa buntu; sebagai humor yang sadar bahwa diam bukan pilihan, tetapi teriak pun sering tidak didengar.

Pertanyaan tentang apakah tawa pantas atau tidak pantas sering kali keliru arah. Humor tidak pernah lahir di ruang netral. Ia selalu lahir di bawah tekanan. Yang patut dipertanyakan bukan apakah humor terlalu kejam, melainkan apakah kita masih memberi ruang bagi tawa untuk menjalankan fungsinya yang paling dasar.

Jika Mati Ketawa Cara Rusia dulu membantu orang menjaga jarak dari bahasa resmi negara, Mens Rea hadir di era ketika jarak itu nyaris lenyap. Media sosial memotong konteks, mempercepat penghakiman, dan mengubah humor menjadi pernyataan moral yang harus dipertanggungjawabkan secara instan.

Dalam situasi seperti ini, keberanian Mens Rea justru terletak pada keengganannya untuk menunggu waktu yang aman. Ia memilih berbicara saat situasi belum selesai diproses. Seperti humor Rusia yang dulu beredar diam-diam, Mens Rea mengingatkan bahwa tawa bukan tanda ketidakpekaan, melainkan salah satu cara manusia bertahan agar tidak sepenuhnya tunduk.

Kalimat Warkop DKI, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, hari ini terasa relevan kembali. Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai peringatan darurat! Dan ketika tawa dituntut harus selalu menjelaskan niatnya, kita patut bertanya siapa yang sebenarnya sedang memaksakan kuasa atas ruang batin dan selera humor kita.

Di tengah riuh Mens Rea, hidup ketawa cara manusia, seperti yang pernah diajarkan orang-orang Rusia di bawah tekanan politiknya, justru terdengar semakin subversif. Bukan karena ia menyelesaikan masalah, tetapi menurut keyakinan saya karena ia memastikan kita masih cukup waras untuk menikmatinya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Esai

Hidup Ketawa Cara Mens Rea

Tahukah kamu, generasi boomer dan milenial Indonesia punya satu muscle memory yang aneh tapi kolektif: masa ketika buku Mati Ketawa Cara Rusia terbit dan beredar di Indonesia pada awal 1990-an.

Dari judulnya saja sudah menggelitik. Seakan mengundang pertanyaan, memang bagaimana sih jokes di buku ini dan seberapa epic lucunya, sampai-sampai warga negara yang terkenal serius, dingin dan berwajah jutek seperti orang Rusia saja bisa tertawa terpingkal-pingkal sampai mau mati rasanya.

Buku ini berisi sekitar 200 lelucon politik yang menyasar para pemimpin dan politikus Rusia, juga problematika kehidupan rumah tangga. Di Indonesia, Mati Ketawa Cara Rusia dikenal luas karena humornya terasa dekat dengan pengalaman pembacanya pada masa itu. Bukan karena latarnya sama, melainkan karena tekanannya terasa serupa.

Lelucon-lelucon tersebut menyindir kehidupan sosial dan politik masyarakat yang hidup di bawah rezim Uni Soviet. Materinya dikompilasi oleh Dolgopolova, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari judul asli Russia Dies Laughing oleh Batara Sakti, dan diterbitkan oleh Pustaka Grafitipers. Yang membuatnya berumur panjang justru bukan kelucuannya semata, melainkan fungsinya.

Bukan kebetulan buku ini sampai ke Indonesia dan dibubuhi kata pengantar oleh alm Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam kata pengantarnya, Gus Dur menulis bahwa humor ala Rusia ini bukan sekadar hiburan, melainkan hasil pengamatan terhadap sistem masyarakat yang tertutup, bahasa resmi yang kaku, serta klaim ideologis negara yang berjarak dengan realitas hidup sehari-hari.

Dalam pembacaan Gus Dur, humor bekerja sebagai cara menjaga kewarasan. Ia bukan dimaksudkan untuk menggulingkan kekuasaan secara langsung, tetapi untuk mempertahankan nalar kritis individu ketika kritik terbuka tidak memungkinkan. Humor menjadi ruang bernapas. Bukan teriakan, melainkan jeda yang menyelamatkan.

Gus Dur memang tidak pernah secara eksplisit menyamakan situasi Uni Soviet dengan Indonesia di bawah Orde Baru. Namun pembaca pada masa itu tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk memahami relevansinya. Mati Ketawa Cara Rusia dibaca sebagai cermin, bukan sebagai laporan luar negeri.

Baca Juga  Seni Menjadi Tidak Meledak di Dunia yang Terlalu Mudah Terbakar

Pemahaman ini kembali terasa bagi saya bertahun-tahun kemudian, dalam konteks yang sangat berbeda. Orde Baru telah lama lewat. Saya sendiri berteman baik dengan beberapa teman peselancar di kawasan Uluwatu. Sebagian dari mereka orang Rusia, baik yang datang singkat maupun yang menetap lama di Bali.

Betul memang ada kesan kaku dan gap budaya yang terselip. Namun ketika obrolan menyentuh urusan politik, kami justru sering menemukan tawa bersama. Menertawakan pejabat, kebijakan, dan absurditas negara masing-masing. Bukan untuk meremehkan penderitaan, melainkan untuk menjaga jarak dari hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Di titik itu saya paham: humor Rusia yang dulu saya baca bukanlah bawaan genetis, melainkan hasil hidup lama di bawah tekanan. Ketika tekanannya mengendur, humor itu tidak hilang. Ia hanya berubah fungsi. Dari alat bertahan hidup menjadi bahasa pertemanan.

Pemahaman inilah yang membawa saya pada Mens Rea, special stand-up comedy oleh Pandji Pragiwaksono yang tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025. Sejak awal, pertunjukan ini memang memicu perdebatan. Bukan karena ia tidak lucu, melainkan karena ia berani menyentuh wilayah yang selama ini ingin dijaga tetap steril dari tawa: kekuasaan.

Mens Rea direkam dua hari setelah publik Indonesia diguncang kabar meninggalnya Affan, warga sipil yang terlindas mobil rantis Brimob. Artinya, materi komedi ini hadir di tengah suasana sosial yang panas, emosional, dan penuh luka. Tawa dan duka yang dialami penonton malam itu hanya berjarak kurang dari 2 x 24 jam. Di situlah letak keberanian pertunjukan ini. Ia tidak menunggu luka mengering untuk berani berbicara.

“Kita mau berharap ke siapa? Polisi kita membunuh. Tentara kita berpolitik. Presiden kita memaafkan koruptor. Wakil presiden kita Gibran,” ucap Pandji di penutup show-nya. Kalimat ini tidak bekerja sebagai lelucon yang meminta tawa, melainkan sebagai pernyataan telanjang. Ia memaksa jeda. Bukan karena komedinya gagal, tetapi karena komedinya tepat mengenai sasaran.

Baca Juga  Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ - Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Di titik ini, Mens Rea tidak berhenti sebagai pertunjukan komedi. Ia bekerja seperti Mati Ketawa Cara Rusia dulu bekerja; sebagai cara menjaga kewarasan di tengah situasi yang terasa buntu; sebagai humor yang sadar bahwa diam bukan pilihan, tetapi teriak pun sering tidak didengar.

Pertanyaan tentang apakah tawa pantas atau tidak pantas sering kali keliru arah. Humor tidak pernah lahir di ruang netral. Ia selalu lahir di bawah tekanan. Yang patut dipertanyakan bukan apakah humor terlalu kejam, melainkan apakah kita masih memberi ruang bagi tawa untuk menjalankan fungsinya yang paling dasar.

Jika Mati Ketawa Cara Rusia dulu membantu orang menjaga jarak dari bahasa resmi negara, Mens Rea hadir di era ketika jarak itu nyaris lenyap. Media sosial memotong konteks, mempercepat penghakiman, dan mengubah humor menjadi pernyataan moral yang harus dipertanggungjawabkan secara instan.

Dalam situasi seperti ini, keberanian Mens Rea justru terletak pada keengganannya untuk menunggu waktu yang aman. Ia memilih berbicara saat situasi belum selesai diproses. Seperti humor Rusia yang dulu beredar diam-diam, Mens Rea mengingatkan bahwa tawa bukan tanda ketidakpekaan, melainkan salah satu cara manusia bertahan agar tidak sepenuhnya tunduk.

Kalimat Warkop DKI, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, hari ini terasa relevan kembali. Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai peringatan darurat! Dan ketika tawa dituntut harus selalu menjelaskan niatnya, kita patut bertanya siapa yang sebenarnya sedang memaksakan kuasa atas ruang batin dan selera humor kita.

Di tengah riuh Mens Rea, hidup ketawa cara manusia, seperti yang pernah diajarkan orang-orang Rusia di bawah tekanan politiknya, justru terdengar semakin subversif. Bukan karena ia menyelesaikan masalah, tetapi menurut keyakinan saya karena ia memastikan kita masih cukup waras untuk menikmatinya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi