Denpasastra.net

'Kerumitan Sastra' - Edisi 7

Edisi Tahun Baru: Fanfic Sebagai Politically Correct

Apa yang dilakukan oleh Jean Rhys dan Alice Randall sebenarnya paling tepat disebut karya politically correct. Ranah politically correct pernah menjadi perhatian luas sejak James Finn Garner menaruh papan nama di depan cerita-cerita sebelum tidur: Politically Correct Bedtime Stories. Di sana, “Once upon a time” tetap muncul, tapi kata pembuka itu kini dipindai, diberi label, dan ditempelkan keterangan kecil: may contain stereotypes; please consult sensitivity reader before proceeding. Nada itu tidak mendayu seperti guru yang mengasihani muridnya yang bodoh; nada itu lebih seperti satpam berkumis dengan senyum tipis sambil menyalakan lampu ruang wawancara.

Ambil satu adegan klasik: Cinderella di pesta, momen sepatu kaca yang jadi bukti cinta sejati. Dalam versi aslinya, ada kilau, ada tarian yang menenggelamkan jam, ada romansa yang disegel oleh satu benda kecil yang entah bagaimana mujarab. Adegan itu adalah mesin mitos: satu objek, satu takdir, satu akhir yang manis. Sekarang bayangkan adegan itu via kaca mata kuda Garner. Sepatu bukan lagi bukti cinta; ia adalah barang bukti human resources. Ketika sang pangeran mengumumkan pencarian pemilik sepatu, ada formulir yang harus diisi: KTP, KK, BPJS, dan surat keterangan cerai jika pernah menikah. Pangeran berubah sedikit kikuk—ia harus membaca kebijakan non-diskriminasi sebelum memutuskan—sementara Cinderella, yang kini mengenal hak-hak tubuh dan hak-hak buruh, bertanya apakah sepatu itu nyaman dipakai seharian atau hanya untuk estetika festival. Romantisme masih ada, tapi dibalut kontrak kerja paruh waktu. Pragma Love. Humor itu mengungkap bahwa mitos lama sering dibangun di atas lupa: lupa akan upah, lupa akan kompromi, lupa akan struktur sosial dan patriarki yang membagongkan.

Garner menaruh pisau bedah kecil di bawah bunga mawar ceritera lama. Dalam parodinya, momen-momen yang dulu “natural” menjadi artifisial—sebuah produksi yang butuh izin, pengawasan, dan–tentu saja–nota keberatan. Satu adegan kecil yang dulu dimaknai sebagai cinta sekarang menjadi kasus studi etika: siapa memberi persetujuan, siapa yang mendapat hak cerita, siapa yang diuntungkan oleh ending yang tampak netral? Membaca ulang dengan cara ini terasa seperti menonton ulang film lama yang jalur-suaranya diganti; adegan sama, arti berubah karena katalog konteks baru.

Kejutannya menyenangkan: kita tertawa karena absurditasnya. Tapi tawa itu juga tajam. Garner, dengan gayanya yang seakan-akan bercanda sambil menusuk, menunjukkan bahwa modernisasi adalah soal redistribusi perhatian. Cinderella menuntut kompensasi; pangeran harus mengakui privilege; ibu peri harus mengikuti pedoman consent sebelum menyentuh rambut. Satire bekerja lewat pergeseran fokus: dari magis ke administratif, dari takdir ke proses.

Mari bandingkan adegan lain, Harimau Sang Raja Hutan dan Si Kancil—si penipu yang selalu lolos karena cerdik dan licik. Di versi lama, si Kancil selalu menang dengan kelicikan; moral cerita memuja kecerdikan yang mengelabui kekuasaan. Dalam versi garneresque, Si Kancil digeruduk ormas bayaran Sang Raja Hutan. Kena hajar sekali di mukanya, dan dia gak melawan. Lalu Si Kancil harus membuat video permohonan maaf di akun media sosialnya. 

Fanfic yang mengadopsi bahasa politically correct bukan menutup luka dengan Hansaplast edisi Disney, namun remodel ringan terhadap pondasi. Fanfic menata ulang panggung: siapa yang bicara, siapa yang didengarkan, siapa yang harus menyediakan kompensasi bila suara mereka diambil. Reformasi ini kerap berbau performatif, namun ketika dilakukan sungguh-sungguh, ia memperlihatkan potensi luar biasa: dongeng yang dulunya mengajarkan ketaatan kini bisa mengajarkan keadilan administratif.

Modernisasi dongeng melalui lensa politically correct menulis ulang aturan main: jika sebuah akhir bahagia pernah lahir dari lupa, mengapa kita tak ingin akhir yang sama yang lahir dari kesepakatan? Kita tidak perlu menutup mata terhadap kekonyolan baru—formulir cinta memang lucu—tetapi kita boleh menikmati nyeri kecil itu. Karena jika dongeng adalah alat pembelajaran, maka mengajarkannya ulang—dengan pilihan kata, prosedur, dan kepekaan—adalah cara kita membuat cerita tak lagi menjadi alat moral yang ketat dan klise.

Cinderella, di kantor pendaftaran kerajaan, menunggu giliran. Di meja pendaftaran ada kopi instan dan brosur kebijakan baru. Ia menandatangani formulir—setuju untuk berdansa dengan syarat kerja yang adil. Dan ketika ia menoleh ke pangeran, tidak ada kilau sepatu yang langsung mengakhiri semua masalah. Hanya ada dua manusia yang setuju pada sebuah konsensus. Romantis? Mungkin tidak, tapi setidaknya lebih dewasa dan lebih posmo. Dan jika kamu masih rindu keajaiban tanpa syarat, ingatlah: syarat sekarang adalah kemewahan yang dulu hanya dimiliki sedikit orang. Syarat itu mungkin satu cara agar dongeng tidak lagi menidurkan sebagian anak-anak dengan mengorbankan anak-anak lainnya.

Karya di bawah ini adalah contoh karya politically correct.

KRONIK PEMBANTAIAN BUBAT

Bagian 1. Dyah Pitaloka 

Di tengah labirin waktu yang membingungkan, tersembunyi kisah tentang Dyah Pitaloka, putri Sunda yang menjadi saksi dan pelaku utama dalam satu bab yang tak tertulis dalam sejarah resmi. Dalam narasi yang sering kali kekurangan detail, Dyah Pitaloka muncul bukan hanya sebagai putri raja, tetapi sebagai seorang pejuang yang menghadapi kekuatan patriarki yang membelenggu.

Pada masa ketika kerajaan Sunda berdiri tegak, Dyah Pitaloka dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, namun di balik wajahnya yang anggun, tersembunyi keberanian yang tak terduga. Dibesarkan dalam lingkaran kerajaan, dia tidak hanya dilatih dalam seni bela diri tetapi juga dalam strategi dan diplomasi. Di ruang rahasia di tengah hutan yang jauh dari istana, dalam bimbingan pamannya yang seorang pertapa—Sang Bunisora—Dyah Pitaloka mempelajari naskah-naskah Austronesia Kuno dan melatih dirinya dalam seni pertempuran yang diwariskan dari para leluhur.

Ketika ancaman dari Majapahit semakin nyata, Prabu Wangi, ayahnya, memilih jalan diplomasi yang penuh risiko. Demi menjaga perdamaian, Dyah setuju untuk menikah dengan Hayam Wuruk, Raja Majapahit. 

Lagipula, Hayam Wuruk bukan pemuda asing baginya, mereka berdua pernah bertemu dan berkenalan saat masih remaja dalam sebuah upacara besar di Negeri Shima Borobudur.

Pernikahan ini bukan sekadar pernikahan politik; ini adalah langkah strategis untuk melindungi kerajaannya dari kehancuran. Dyah, yang tahu bahwa perang bukan hanya soal pedang dan darah, tetapi juga soal pikiran dan hati, menerima takdir ini dengan keteguhan. Jika melihat putri-putri raja lain, Dyah merasa nasibnya jauh lebih beruntung. Hayam Wuruk, sejauh yang dia kenal, adalah pemuda yang lembut dan baik. Meski dia mendengar bagaimana armada Majapahit menaklukan negeri-negeri di luar Jawadwipa, namun itu bukan obsesi Hayam Wuruk, melainkan obsesi Sang Mahapatih Gajah Mada, yang secara de facto adalah penguasa Majapahit. Dyah sangat menyadari hal ini. Dyah tahu bahwa Hayam Wuruk yang umurnya semuda dirinya, hanya sebagai simbol untuk mempertahankan kepercayaan rakyat Majapahit pada kerajaan. Di sini letak permasalahannya, yang membuat perasaan Dyah bergejolak penuh spekulasi buruk.

Baca Juga  Manual Membunuh Idola

Perjalanan panjang memakai kapal menyusuri pesisir utara Jawa menuju Majapahit tidak hanya dipenuhi dengan doa dan harapan, tapi juga dengan bayangan ancaman yang kian mendekat. Dyah meyakinkan dirinya untuk memilih sukacita ketimbang duka lara.  Rombongan pengantin Sunda, dipimpin oleh Prabu Wangi, tiba di Bubat, sebuah wilayah padang luas yang tak jauh dari pelabuhan utama Majapahit. Di sini, mereka mendirikan kemah, tempat di mana harapan dan kecemasan bercampur menjadi satu.

Namun, tak lama setelah mereka tiba, Patih Gajah Mada mengirimkan sebuah ultimatum. Dyah Pitaloka, yang seharusnya menjadi Ratu Majapahit, diminta sebagai upeti—ini penghinaan! Ini pengkhianatan keji! Hal terburuk yang sempat terlintas dalam benak Dyah Pitaloka selama perjalanan. Suka cita berubah total menjadi bara dan duka. Dyah Pitaloka, dengan seluruh pengetahuan dan kebijaksanaannya, segera memahami bahwa ini bukan hanya penghinaan terhadap dirinya, tetapi juga terhadap kerajaannya dan seluruh rakyat Sunda.

Rombongan dari Sunda, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan tentara Majapahit, dan kebanyakan bukan prajurit, kecuali satu batalyon pengawal raja,  marah bukan main dan menolak ultimatum itu. Mereka tahu bahwa menyerahkan Dyah sebagai upeti akan meruntuhkan kehormatan orang Sunda secara menyeluruh. Di dalam kemah, Dyah Pitaloka merencanakan langkah berikutnya, mengingat setiap ajaran yang dia terima dari Sang Bunisora. Dia tahu bahwa keberanian bukan hanya dalam melawan dengan senjata, tetapi juga dalam mempertahankan prinsip hingga ajal datang.

Ketika serangan tentara Majapahit yang ganas tak terelakkan, Prabu Wangi dan seluruh rombongannya—prajurit maupun bukan—bertarung dengan segenap keberanian. Dalam kekacauan dan kebisingan pertempuran, Dyah memimpin pertahanan terakhir, menggunakan setiap teknik dan strategi perang yang dipelajarinya. Namun, meskipun dengan segala taktik dan keberanian, jumlah dan kekuatan Majapahit terlalu besar untuk ditahan.

Dalam sekejap, rombongan Sunda dihancurkan. Prabu Wangi dan seluruh rombongannya gugur di medan perang, meninggalkan Dyah Pitaloka sebagai satu-satunya yang selamat. Namun, Dyah, yang telah berjuang dengan segenap jiwa raga, tahu bahwa nasibnya telah berada di ujung jalan. Dalam keputusan yang mengingatkan pada kebesaran jiwanya, Dyah Pitaloka memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada ditawan dan menjadi upeti bagi Majapahit. Dia mengeluarkan kujang pusaka dari balik ikat pinggangnya, lalu menusukkannya tepat di jantung.

Di sana, di Bubat yang kini sunyi, Dyah Pitaloka mengakhiri kisahnya dengan sebuah tindakan yang akan dikenang sepanjang masa dengan amarah dan air mata orang-orang Sunda.

Bagian 2. Hayam Wuruk

Setelah tragedi banjir darah di Bubat, keheningan yang mencekam menyelimuti istana Majapahit. Riuh peperangan dan jeritan para prajurit berganti menjadi bisikan duka dan rasa bersalah. Raja Hayam Wuruk, penguasa agung Majapahit, duduk seorang diri di balairung istana, wajahnya yang dahulu bersinar oleh cintanya pada Dyah dan cita-cita besar membangun kemaharajaannya, kini suram oleh kepedihan. Kegemilangan yang diimpikannya—penyatuan dua kemaharajaan melalui pernikahan—berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui jejak kekuasaannya. Bayangan pengorbanan Dyah Pitaloka dan kehancuran pasukan Sunda terus terngiang dalam pikirannya, luka yang lebih dalam dari hunjaman senjata mana pun.  

“Di mana paman Gajah Mada?” Suaranya terdengar lirih namun sarat amarah, menggelegar bagai gemuruh di antara tiang-tiang megah istana. Para pembesar kerajaan menundukkan kepala, tak berani menatap rajanya. Sorot mata sang raja, yang dulu penuh keyakinan tentang kejayaan Nusantara, kini hanya menyimpan duka dan kemarahan yang tak terperi. Patih yang menjadi arsitek kemenangan demi kemenangan Majapahit, kini tak lagi ada di sisinya.  

Dengan suara yang bergetar, Hayam Wuruk mengeluarkan titah, “Cari dia. Bawa dia ke hadapanku—hidup atau mati! Dia harus mempertanggungjawabkan semua ini!”  

Pasukan Majapahit bergerak seperti badai, menyisir hutan belantara, sungai yang berliku, hingga puncak-puncak gunung. Namun, Gajah Mada seolah lenyap ditelan bumi. Ada yang berbisik bahwa ia bersembunyi di lembah-lembah terpencil, ada pula yang mengatakan ia telah menjadi pertapa, mencari penebusan atas dosanya di Alas Purwa. Namun, di mana pun ia berada, sosok sang patih tetap tak terjangkau, meninggalkan kekosongan yang membayang-bayangi kerajaan yang pernah begitu berjaya.  

Hari-hari berlalu, berubah menjadi bulan dan tahun. Ketidakmampuan pasukan khusus Majapahit yang sangat terlatih yang bertanggungjawab langsung pada Sang Maharaja untuk mencari dan menangkap Gajah Mada menjadi luka yang membakar di hati Hayam Wuruk. Amarah yang membara perlahan mereda, digantikan oleh kesedihan tanpa akhir yang menghantui. Kesedihan itu tumbuh menjadi bagian dari dirinya, tak bisa diredakan oleh kejayaan atau harta benda. Cintanya pada Dyah lebih mendominasi emosinya ketimbang amarah. Balairung istana yang dahulu riuh oleh pesta kini sunyi. Festival dan perayaan yang biasanya gemerlap berubah menjadi bayangan dari masa kejayaannya. Dalam kesendiriannya, Hayam Wuruk sering kali menatap tahta kosong di sisinya, tahta yang dipersiapkan untuk cinta sejatinya—untuk Sang Putri pujaan hatinya—tahta yang tak pernah disinggahi, tahta untuk calon ratunya yang mati di tangannya sendiri untuk mempertahankan harga diri dan kemuliaan bangsanya.

Para penasihatnya memohon agar Sang Maharaja melanjutkan pemerintahannya, membangun kembali kebesaran Majapahit. Namun, Hayam Wuruk tahu kebenaran yang tak bisa ia sangkal—tanpa Gajah Mada, denyut nadi kerajaan ini melemah. Mimpi Nusantara yang bersatu, cita-cita yang mereka bangun bersama, kini terlihat seperti fatamorgana, seperti lukisan megah yang perlahan memudar.  

Tahun-tahun berlalu, Sang Maharaja menua sebelum waktunya. Keagungannya yang dulu memancar kini terlihat rapuh, matanya semakin berat oleh bayangan masa lalu. Saat ia berjalan di taman istana, angin sepoi membawa bisikan-bisikan yang tak pernah ia lupakan—senyum Dyah Pitaloka, keteguhan Prabu Wangi, pengkhianatan Gajah Mada dan gaung jeritan dari pembantaian Bubat yang masih membekas.  

Baca Juga  Fanfic Dalam Esensi Kafkaesque

Di ranjang kematiannya, kata-kata terakhir Hayam Wuruk hanyalah sebuah penyesalan, diucapkan untuk siapa saja dan tak seorang pun: “Kita membangun kerajaan dari batu, namun kita lupa hati-hati yang hancur karenanya. Biarkan sejarah menjadi saksi, dan semoga ia lebih bijak dari kita.”  

Dan demikianlah, Sang Maharaja Majapahit pergi ke alam baka, sebuah episode terakhir dari penderitaan akut batinnya—meninggalkan sebuah kerajaan yang perlahan runtuh setelah kepergiannya. Bayang-bayang pembantaian Bubat, keperkasaan Prabu Wangi, keteguhan Dyah Pitaloka, dan pengkhianatan licik Gajah Mada menjadi awal epilog dari sebuah imperium yang pernah bermimpi menyatukan Nusantara, namun hancur oleh sifat ketamakannya sendiri.  

Bagian 3. Niskala Wastukencana

Dua puluh tahun telah berlalu sejak peristiwa tragis Palagan Bubat, ketika Prabu Wangi, Dyah Pitaloka, dan rombongan mereka gugur, meninggalkan luka mendalam di hati rakyat Sunda. Niskala Wastukencana, anak bungsu Sang Prabu Wangi, adik satu-satunya Dyah Pitaloka, yang saat pembantaian Bubat terjadi baru berusia sembilan tahun, kini telah menjadi raja muda yang cerdas dan adil, dalam bimbingan pamannya Sang Bunisora. Namun—tanpa sepengetahuan pamannya, yang selalu mengajarkannya untuk meredam dendam pada Majapahit—Niskala dan sahabat setianya, Rakeyan Hujung, tetap memelihara dendam itu secara diam-diam, bukan untuk Majapahit, tapi untuk Gajah Mada. 

Setelah bertahun-tahun melakukan pencarian dalam penyamaran sebagai dua pendekar petualang dari Negeri Sunda, mereka akhirnya menemukan Gajah Mada di tempat persembunyiannya, di sebuah gua sunyi di puncak sebuah bukit di Alas Purwa. 

Kini mereka berdiri di hadapan Gajah Mada yang sedang bertapa. Patih yang dulu perkasa, kini tampak rapuh, rambutnya memutih dan tubuhnya terlihat lemah. Ia duduk bersila, bermeditasi di antara sisa-sisa kejayaannya yang telah lama ditinggalkan. Matanya yang tertutup perlahan terbuka saat Niskala dan Rakeyan Hujung mendekat.

Niskala Wastukencana menatap Gajah Mada dengan perasaan yang campur aduk. Amarah, kesedihan, dan kebingungan berkecamuk di dalam dirinya. Di depannya duduk seorang lelaki yang, dengan satu perintah, mengubah sejarah Sunda. Namun, bukan lagi seorang patih yang ditemuinya, melainkan seorang pertapa tua yang terlihat damai.

“Hei kakek tua sundal, bajingan keparat! Gajah Mada,” suara Niskala terdengar bergetar, menyiratkan rasa sakit, dendam, dan amarah yang masih segar. “Aku Niskala, Raja Sunda, putra Prabu Wangi yang dulu kau bantai bersama pasukannya di rumahmu sendiri, di Bubat, atas undanganmu! Hanya tuan rumah bejat, tak bermoral, dan berjiwa rusak yang membunuh tamu undangannya sendiri. Kami datang dengan kebencian dan dendam mendalam, namun kuberi kau satu kesempatan untuk memberi alasan. Mengapa? Mengapa kau melakukan pembantaian dan pengkhianatan keji itu?”

Gajah Mada sedikit terhenyak, lalu memandang Niskala dengan mata yang pedih, lelah, dan renta. “Segala yang kulakukan dulu adalah demi cita-cita, demi persatuan Nusantara,” jawabnya lirih. “Tapi aku belajar, Niskala. Kekuasaan dan ambisi seringkali membutakan kita dari kemanusiaan. Aku memimpikan kejayaan, tapi tak menyadari berapa banyak jiwa yang harus dikorbankan.”

“Omong kosong,” timpal Rakeyan Hujung geram.

Gajah Mada mengangguk pelan. “Aku mengakui bahwa aku tidak bijak. Aku tidak mengerti bahwa persatuan yang kudambakan tidak bisa dipaksakan dengan kekerasan. Aku memandang kekuasaan sebagai jawaban, tapi melupakan kebaikan yang lebih besar.”

Niskala terdiam, namun hatinya masih berkecamuk. Bayangan ayahnya yang gagah dan berani kembali terlintas, “Apakah kau menyesal, kakek tua?” Niskala akhirnya bersuara.

Gajah Mada menghela napas panjang. Air mata menetes dari sudut matanya. “Penyesalan adalah bagian dari perjalanan manusia. Aku menyesal, tapi lebih dari itu, aku belajar. Dalam kesendirianku sebagai pertapa, aku menyadari bahwa kedamaian bukan datang dari kemenangan, tapi dari pengertian. Dari menerima bahwa kita semua, meski berbeda, memiliki harapan yang sama: hidup dalam damai.”

“Tak akan pernah ada kedamaian untukmu, bangsat,” timpal Rakeyan Hujung.

“Ayahku tidak akan kembali, kakakku tak akan pernah kembali, rakyatku yang kau bantai tak akan pernah kembali,” ujar Niskala dengan suara yang masih gemetar. “Tapi apa yang terjadi sudah menjadi bagian dari sejarah. Aku datang ke sini membawa dendam dan amarah, tapi aku ingin pulang dengan hati yang tenang.”

Rakeyan Hujung menepuk bahu sahabatnya, lalu memberi Niskala sebuah isyarat dengan anggukan. Niskala balas mengangguk. Dengan gerakan tiba-tiba, Rakeyan hujung menendang dada Gajah Mada hingga si kakek terkapar. Lalu Rakeyan Hujung menginjak lehernya. Niskala mengeluarkan kujang pusaka yang dulu dipakai kakaknya, Dyah Pitaloka, untuk mengakhiri hidup. Niskala mendekati si kakek renta itu, menarik gelungan rambut putihnya dengan tangan kiri, lalu memotong gelungan itu dengan kujang dalam sekali tebas.

Niskala menatap Gajah Mada sekali lagi. “Aku memaafkanmu, kakek sundal! Bukan untukmu, tapi untuk kami, untuk ketenangan hati yang kami cari selama ini. Demi ayahku, kakak perempuanku, dan seluruh rakyat Sunda yang sudah kau hina sedemikian kejinya.” 

“Dan satu hal lagi,” Rakeyan Hujung menambahkan, “kau tak pantas dikenang dengan cara apapun! Kau akan mati sendirian dengan penuh kehinaan!”

Mata Gajah Mada berkaca-kaca penuh kesedihan mendalam dan penyesalan. Namun Niskala dan Rakeyan Hujung tak memberi kakek tua itu kesempatan untuk kembali bicara. Niskala melemparkan potongan rambut putih ke muka si kakek yang masih terkapar, lalu meninggalkannya tanpa menoleh lagi. 

Mereka berdua berjalan menuruni bukit dengan perasaan yang lebih ringan. Seperti riak air di sungai yang akhirnya menghilang, dan kembali tenang. 

Mereka berdua pulang ke Sunda. Niskala kini sudah siap duduk di singgasana raja yang selama ini dipegang sementara oleh pamannya Sang Bunisora, lalu memerintah dengan adil dan bijak seperti yang dicontohkan ayah dan pamannya, hingga dia mendapat julukan Sang Prabu Siliwangi, yang berarti pengganti keharuman ayahnya, Sang Prabu Wangi yang gugur di Bubat. Selebihnya adalah sejarah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Lihai Gunakan Kata Bersayap, Profesi Sastrawan Terancam Digantikan Anggota DPR

Preman Laut

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Sastrawan Harus Miskin

Preman Laut

Menemukan Nyala: Jalan Merawat Semangat dalam Menulis

Redaksi

Sabtu Besok, HIMA Sastra Indonesia UNUD Bahas Buku Puisi ‘Jamuan Malam’ di Denpasar

Redaksi

10 Cerpen Terpilih Sayembara Cerpen Denpasar 2025 Resmi Diumumkan

Redaksi
Kolom Minggu

'Kerumitan Sastra' - Edisi 7

Edisi Tahun Baru: Fanfic Sebagai Politically Correct

Ilustrasi oleh Preman Laut

Apa yang dilakukan oleh Jean Rhys dan Alice Randall sebenarnya paling tepat disebut karya politically correct. Ranah politically correct pernah menjadi perhatian luas sejak James Finn Garner menaruh papan nama di depan cerita-cerita sebelum tidur: Politically Correct Bedtime Stories. Di sana, “Once upon a time” tetap muncul, tapi kata pembuka itu kini dipindai, diberi label, dan ditempelkan keterangan kecil: may contain stereotypes; please consult sensitivity reader before proceeding. Nada itu tidak mendayu seperti guru yang mengasihani muridnya yang bodoh; nada itu lebih seperti satpam berkumis dengan senyum tipis sambil menyalakan lampu ruang wawancara.

Ambil satu adegan klasik: Cinderella di pesta, momen sepatu kaca yang jadi bukti cinta sejati. Dalam versi aslinya, ada kilau, ada tarian yang menenggelamkan jam, ada romansa yang disegel oleh satu benda kecil yang entah bagaimana mujarab. Adegan itu adalah mesin mitos: satu objek, satu takdir, satu akhir yang manis. Sekarang bayangkan adegan itu via kaca mata kuda Garner. Sepatu bukan lagi bukti cinta; ia adalah barang bukti human resources. Ketika sang pangeran mengumumkan pencarian pemilik sepatu, ada formulir yang harus diisi: KTP, KK, BPJS, dan surat keterangan cerai jika pernah menikah. Pangeran berubah sedikit kikuk—ia harus membaca kebijakan non-diskriminasi sebelum memutuskan—sementara Cinderella, yang kini mengenal hak-hak tubuh dan hak-hak buruh, bertanya apakah sepatu itu nyaman dipakai seharian atau hanya untuk estetika festival. Romantisme masih ada, tapi dibalut kontrak kerja paruh waktu. Pragma Love. Humor itu mengungkap bahwa mitos lama sering dibangun di atas lupa: lupa akan upah, lupa akan kompromi, lupa akan struktur sosial dan patriarki yang membagongkan.

Garner menaruh pisau bedah kecil di bawah bunga mawar ceritera lama. Dalam parodinya, momen-momen yang dulu “natural” menjadi artifisial—sebuah produksi yang butuh izin, pengawasan, dan–tentu saja–nota keberatan. Satu adegan kecil yang dulu dimaknai sebagai cinta sekarang menjadi kasus studi etika: siapa memberi persetujuan, siapa yang mendapat hak cerita, siapa yang diuntungkan oleh ending yang tampak netral? Membaca ulang dengan cara ini terasa seperti menonton ulang film lama yang jalur-suaranya diganti; adegan sama, arti berubah karena katalog konteks baru.

Kejutannya menyenangkan: kita tertawa karena absurditasnya. Tapi tawa itu juga tajam. Garner, dengan gayanya yang seakan-akan bercanda sambil menusuk, menunjukkan bahwa modernisasi adalah soal redistribusi perhatian. Cinderella menuntut kompensasi; pangeran harus mengakui privilege; ibu peri harus mengikuti pedoman consent sebelum menyentuh rambut. Satire bekerja lewat pergeseran fokus: dari magis ke administratif, dari takdir ke proses.

Mari bandingkan adegan lain, Harimau Sang Raja Hutan dan Si Kancil—si penipu yang selalu lolos karena cerdik dan licik. Di versi lama, si Kancil selalu menang dengan kelicikan; moral cerita memuja kecerdikan yang mengelabui kekuasaan. Dalam versi garneresque, Si Kancil digeruduk ormas bayaran Sang Raja Hutan. Kena hajar sekali di mukanya, dan dia gak melawan. Lalu Si Kancil harus membuat video permohonan maaf di akun media sosialnya. 

Fanfic yang mengadopsi bahasa politically correct bukan menutup luka dengan Hansaplast edisi Disney, namun remodel ringan terhadap pondasi. Fanfic menata ulang panggung: siapa yang bicara, siapa yang didengarkan, siapa yang harus menyediakan kompensasi bila suara mereka diambil. Reformasi ini kerap berbau performatif, namun ketika dilakukan sungguh-sungguh, ia memperlihatkan potensi luar biasa: dongeng yang dulunya mengajarkan ketaatan kini bisa mengajarkan keadilan administratif.

Modernisasi dongeng melalui lensa politically correct menulis ulang aturan main: jika sebuah akhir bahagia pernah lahir dari lupa, mengapa kita tak ingin akhir yang sama yang lahir dari kesepakatan? Kita tidak perlu menutup mata terhadap kekonyolan baru—formulir cinta memang lucu—tetapi kita boleh menikmati nyeri kecil itu. Karena jika dongeng adalah alat pembelajaran, maka mengajarkannya ulang—dengan pilihan kata, prosedur, dan kepekaan—adalah cara kita membuat cerita tak lagi menjadi alat moral yang ketat dan klise.

Cinderella, di kantor pendaftaran kerajaan, menunggu giliran. Di meja pendaftaran ada kopi instan dan brosur kebijakan baru. Ia menandatangani formulir—setuju untuk berdansa dengan syarat kerja yang adil. Dan ketika ia menoleh ke pangeran, tidak ada kilau sepatu yang langsung mengakhiri semua masalah. Hanya ada dua manusia yang setuju pada sebuah konsensus. Romantis? Mungkin tidak, tapi setidaknya lebih dewasa dan lebih posmo. Dan jika kamu masih rindu keajaiban tanpa syarat, ingatlah: syarat sekarang adalah kemewahan yang dulu hanya dimiliki sedikit orang. Syarat itu mungkin satu cara agar dongeng tidak lagi menidurkan sebagian anak-anak dengan mengorbankan anak-anak lainnya.

Karya di bawah ini adalah contoh karya politically correct.

KRONIK PEMBANTAIAN BUBAT

Bagian 1. Dyah Pitaloka 

Di tengah labirin waktu yang membingungkan, tersembunyi kisah tentang Dyah Pitaloka, putri Sunda yang menjadi saksi dan pelaku utama dalam satu bab yang tak tertulis dalam sejarah resmi. Dalam narasi yang sering kali kekurangan detail, Dyah Pitaloka muncul bukan hanya sebagai putri raja, tetapi sebagai seorang pejuang yang menghadapi kekuatan patriarki yang membelenggu.

Pada masa ketika kerajaan Sunda berdiri tegak, Dyah Pitaloka dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, namun di balik wajahnya yang anggun, tersembunyi keberanian yang tak terduga. Dibesarkan dalam lingkaran kerajaan, dia tidak hanya dilatih dalam seni bela diri tetapi juga dalam strategi dan diplomasi. Di ruang rahasia di tengah hutan yang jauh dari istana, dalam bimbingan pamannya yang seorang pertapa—Sang Bunisora—Dyah Pitaloka mempelajari naskah-naskah Austronesia Kuno dan melatih dirinya dalam seni pertempuran yang diwariskan dari para leluhur.

Ketika ancaman dari Majapahit semakin nyata, Prabu Wangi, ayahnya, memilih jalan diplomasi yang penuh risiko. Demi menjaga perdamaian, Dyah setuju untuk menikah dengan Hayam Wuruk, Raja Majapahit. 

Lagipula, Hayam Wuruk bukan pemuda asing baginya, mereka berdua pernah bertemu dan berkenalan saat masih remaja dalam sebuah upacara besar di Negeri Shima Borobudur.

Pernikahan ini bukan sekadar pernikahan politik; ini adalah langkah strategis untuk melindungi kerajaannya dari kehancuran. Dyah, yang tahu bahwa perang bukan hanya soal pedang dan darah, tetapi juga soal pikiran dan hati, menerima takdir ini dengan keteguhan. Jika melihat putri-putri raja lain, Dyah merasa nasibnya jauh lebih beruntung. Hayam Wuruk, sejauh yang dia kenal, adalah pemuda yang lembut dan baik. Meski dia mendengar bagaimana armada Majapahit menaklukan negeri-negeri di luar Jawadwipa, namun itu bukan obsesi Hayam Wuruk, melainkan obsesi Sang Mahapatih Gajah Mada, yang secara de facto adalah penguasa Majapahit. Dyah sangat menyadari hal ini. Dyah tahu bahwa Hayam Wuruk yang umurnya semuda dirinya, hanya sebagai simbol untuk mempertahankan kepercayaan rakyat Majapahit pada kerajaan. Di sini letak permasalahannya, yang membuat perasaan Dyah bergejolak penuh spekulasi buruk.

Baca Juga  Sastrawan Harus Miskin

Perjalanan panjang memakai kapal menyusuri pesisir utara Jawa menuju Majapahit tidak hanya dipenuhi dengan doa dan harapan, tapi juga dengan bayangan ancaman yang kian mendekat. Dyah meyakinkan dirinya untuk memilih sukacita ketimbang duka lara.  Rombongan pengantin Sunda, dipimpin oleh Prabu Wangi, tiba di Bubat, sebuah wilayah padang luas yang tak jauh dari pelabuhan utama Majapahit. Di sini, mereka mendirikan kemah, tempat di mana harapan dan kecemasan bercampur menjadi satu.

Namun, tak lama setelah mereka tiba, Patih Gajah Mada mengirimkan sebuah ultimatum. Dyah Pitaloka, yang seharusnya menjadi Ratu Majapahit, diminta sebagai upeti—ini penghinaan! Ini pengkhianatan keji! Hal terburuk yang sempat terlintas dalam benak Dyah Pitaloka selama perjalanan. Suka cita berubah total menjadi bara dan duka. Dyah Pitaloka, dengan seluruh pengetahuan dan kebijaksanaannya, segera memahami bahwa ini bukan hanya penghinaan terhadap dirinya, tetapi juga terhadap kerajaannya dan seluruh rakyat Sunda.

Rombongan dari Sunda, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan tentara Majapahit, dan kebanyakan bukan prajurit, kecuali satu batalyon pengawal raja,  marah bukan main dan menolak ultimatum itu. Mereka tahu bahwa menyerahkan Dyah sebagai upeti akan meruntuhkan kehormatan orang Sunda secara menyeluruh. Di dalam kemah, Dyah Pitaloka merencanakan langkah berikutnya, mengingat setiap ajaran yang dia terima dari Sang Bunisora. Dia tahu bahwa keberanian bukan hanya dalam melawan dengan senjata, tetapi juga dalam mempertahankan prinsip hingga ajal datang.

Ketika serangan tentara Majapahit yang ganas tak terelakkan, Prabu Wangi dan seluruh rombongannya—prajurit maupun bukan—bertarung dengan segenap keberanian. Dalam kekacauan dan kebisingan pertempuran, Dyah memimpin pertahanan terakhir, menggunakan setiap teknik dan strategi perang yang dipelajarinya. Namun, meskipun dengan segala taktik dan keberanian, jumlah dan kekuatan Majapahit terlalu besar untuk ditahan.

Dalam sekejap, rombongan Sunda dihancurkan. Prabu Wangi dan seluruh rombongannya gugur di medan perang, meninggalkan Dyah Pitaloka sebagai satu-satunya yang selamat. Namun, Dyah, yang telah berjuang dengan segenap jiwa raga, tahu bahwa nasibnya telah berada di ujung jalan. Dalam keputusan yang mengingatkan pada kebesaran jiwanya, Dyah Pitaloka memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada ditawan dan menjadi upeti bagi Majapahit. Dia mengeluarkan kujang pusaka dari balik ikat pinggangnya, lalu menusukkannya tepat di jantung.

Di sana, di Bubat yang kini sunyi, Dyah Pitaloka mengakhiri kisahnya dengan sebuah tindakan yang akan dikenang sepanjang masa dengan amarah dan air mata orang-orang Sunda.

Bagian 2. Hayam Wuruk

Setelah tragedi banjir darah di Bubat, keheningan yang mencekam menyelimuti istana Majapahit. Riuh peperangan dan jeritan para prajurit berganti menjadi bisikan duka dan rasa bersalah. Raja Hayam Wuruk, penguasa agung Majapahit, duduk seorang diri di balairung istana, wajahnya yang dahulu bersinar oleh cintanya pada Dyah dan cita-cita besar membangun kemaharajaannya, kini suram oleh kepedihan. Kegemilangan yang diimpikannya—penyatuan dua kemaharajaan melalui pernikahan—berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui jejak kekuasaannya. Bayangan pengorbanan Dyah Pitaloka dan kehancuran pasukan Sunda terus terngiang dalam pikirannya, luka yang lebih dalam dari hunjaman senjata mana pun.  

“Di mana paman Gajah Mada?” Suaranya terdengar lirih namun sarat amarah, menggelegar bagai gemuruh di antara tiang-tiang megah istana. Para pembesar kerajaan menundukkan kepala, tak berani menatap rajanya. Sorot mata sang raja, yang dulu penuh keyakinan tentang kejayaan Nusantara, kini hanya menyimpan duka dan kemarahan yang tak terperi. Patih yang menjadi arsitek kemenangan demi kemenangan Majapahit, kini tak lagi ada di sisinya.  

Dengan suara yang bergetar, Hayam Wuruk mengeluarkan titah, “Cari dia. Bawa dia ke hadapanku—hidup atau mati! Dia harus mempertanggungjawabkan semua ini!”  

Pasukan Majapahit bergerak seperti badai, menyisir hutan belantara, sungai yang berliku, hingga puncak-puncak gunung. Namun, Gajah Mada seolah lenyap ditelan bumi. Ada yang berbisik bahwa ia bersembunyi di lembah-lembah terpencil, ada pula yang mengatakan ia telah menjadi pertapa, mencari penebusan atas dosanya di Alas Purwa. Namun, di mana pun ia berada, sosok sang patih tetap tak terjangkau, meninggalkan kekosongan yang membayang-bayangi kerajaan yang pernah begitu berjaya.  

Hari-hari berlalu, berubah menjadi bulan dan tahun. Ketidakmampuan pasukan khusus Majapahit yang sangat terlatih yang bertanggungjawab langsung pada Sang Maharaja untuk mencari dan menangkap Gajah Mada menjadi luka yang membakar di hati Hayam Wuruk. Amarah yang membara perlahan mereda, digantikan oleh kesedihan tanpa akhir yang menghantui. Kesedihan itu tumbuh menjadi bagian dari dirinya, tak bisa diredakan oleh kejayaan atau harta benda. Cintanya pada Dyah lebih mendominasi emosinya ketimbang amarah. Balairung istana yang dahulu riuh oleh pesta kini sunyi. Festival dan perayaan yang biasanya gemerlap berubah menjadi bayangan dari masa kejayaannya. Dalam kesendiriannya, Hayam Wuruk sering kali menatap tahta kosong di sisinya, tahta yang dipersiapkan untuk cinta sejatinya—untuk Sang Putri pujaan hatinya—tahta yang tak pernah disinggahi, tahta untuk calon ratunya yang mati di tangannya sendiri untuk mempertahankan harga diri dan kemuliaan bangsanya.

Para penasihatnya memohon agar Sang Maharaja melanjutkan pemerintahannya, membangun kembali kebesaran Majapahit. Namun, Hayam Wuruk tahu kebenaran yang tak bisa ia sangkal—tanpa Gajah Mada, denyut nadi kerajaan ini melemah. Mimpi Nusantara yang bersatu, cita-cita yang mereka bangun bersama, kini terlihat seperti fatamorgana, seperti lukisan megah yang perlahan memudar.  

Tahun-tahun berlalu, Sang Maharaja menua sebelum waktunya. Keagungannya yang dulu memancar kini terlihat rapuh, matanya semakin berat oleh bayangan masa lalu. Saat ia berjalan di taman istana, angin sepoi membawa bisikan-bisikan yang tak pernah ia lupakan—senyum Dyah Pitaloka, keteguhan Prabu Wangi, pengkhianatan Gajah Mada dan gaung jeritan dari pembantaian Bubat yang masih membekas.  

Baca Juga  Menengok Batin Para Pengarang

Di ranjang kematiannya, kata-kata terakhir Hayam Wuruk hanyalah sebuah penyesalan, diucapkan untuk siapa saja dan tak seorang pun: “Kita membangun kerajaan dari batu, namun kita lupa hati-hati yang hancur karenanya. Biarkan sejarah menjadi saksi, dan semoga ia lebih bijak dari kita.”  

Dan demikianlah, Sang Maharaja Majapahit pergi ke alam baka, sebuah episode terakhir dari penderitaan akut batinnya—meninggalkan sebuah kerajaan yang perlahan runtuh setelah kepergiannya. Bayang-bayang pembantaian Bubat, keperkasaan Prabu Wangi, keteguhan Dyah Pitaloka, dan pengkhianatan licik Gajah Mada menjadi awal epilog dari sebuah imperium yang pernah bermimpi menyatukan Nusantara, namun hancur oleh sifat ketamakannya sendiri.  

Bagian 3. Niskala Wastukencana

Dua puluh tahun telah berlalu sejak peristiwa tragis Palagan Bubat, ketika Prabu Wangi, Dyah Pitaloka, dan rombongan mereka gugur, meninggalkan luka mendalam di hati rakyat Sunda. Niskala Wastukencana, anak bungsu Sang Prabu Wangi, adik satu-satunya Dyah Pitaloka, yang saat pembantaian Bubat terjadi baru berusia sembilan tahun, kini telah menjadi raja muda yang cerdas dan adil, dalam bimbingan pamannya Sang Bunisora. Namun—tanpa sepengetahuan pamannya, yang selalu mengajarkannya untuk meredam dendam pada Majapahit—Niskala dan sahabat setianya, Rakeyan Hujung, tetap memelihara dendam itu secara diam-diam, bukan untuk Majapahit, tapi untuk Gajah Mada. 

Setelah bertahun-tahun melakukan pencarian dalam penyamaran sebagai dua pendekar petualang dari Negeri Sunda, mereka akhirnya menemukan Gajah Mada di tempat persembunyiannya, di sebuah gua sunyi di puncak sebuah bukit di Alas Purwa. 

Kini mereka berdiri di hadapan Gajah Mada yang sedang bertapa. Patih yang dulu perkasa, kini tampak rapuh, rambutnya memutih dan tubuhnya terlihat lemah. Ia duduk bersila, bermeditasi di antara sisa-sisa kejayaannya yang telah lama ditinggalkan. Matanya yang tertutup perlahan terbuka saat Niskala dan Rakeyan Hujung mendekat.

Niskala Wastukencana menatap Gajah Mada dengan perasaan yang campur aduk. Amarah, kesedihan, dan kebingungan berkecamuk di dalam dirinya. Di depannya duduk seorang lelaki yang, dengan satu perintah, mengubah sejarah Sunda. Namun, bukan lagi seorang patih yang ditemuinya, melainkan seorang pertapa tua yang terlihat damai.

“Hei kakek tua sundal, bajingan keparat! Gajah Mada,” suara Niskala terdengar bergetar, menyiratkan rasa sakit, dendam, dan amarah yang masih segar. “Aku Niskala, Raja Sunda, putra Prabu Wangi yang dulu kau bantai bersama pasukannya di rumahmu sendiri, di Bubat, atas undanganmu! Hanya tuan rumah bejat, tak bermoral, dan berjiwa rusak yang membunuh tamu undangannya sendiri. Kami datang dengan kebencian dan dendam mendalam, namun kuberi kau satu kesempatan untuk memberi alasan. Mengapa? Mengapa kau melakukan pembantaian dan pengkhianatan keji itu?”

Gajah Mada sedikit terhenyak, lalu memandang Niskala dengan mata yang pedih, lelah, dan renta. “Segala yang kulakukan dulu adalah demi cita-cita, demi persatuan Nusantara,” jawabnya lirih. “Tapi aku belajar, Niskala. Kekuasaan dan ambisi seringkali membutakan kita dari kemanusiaan. Aku memimpikan kejayaan, tapi tak menyadari berapa banyak jiwa yang harus dikorbankan.”

“Omong kosong,” timpal Rakeyan Hujung geram.

Gajah Mada mengangguk pelan. “Aku mengakui bahwa aku tidak bijak. Aku tidak mengerti bahwa persatuan yang kudambakan tidak bisa dipaksakan dengan kekerasan. Aku memandang kekuasaan sebagai jawaban, tapi melupakan kebaikan yang lebih besar.”

Niskala terdiam, namun hatinya masih berkecamuk. Bayangan ayahnya yang gagah dan berani kembali terlintas, “Apakah kau menyesal, kakek tua?” Niskala akhirnya bersuara.

Gajah Mada menghela napas panjang. Air mata menetes dari sudut matanya. “Penyesalan adalah bagian dari perjalanan manusia. Aku menyesal, tapi lebih dari itu, aku belajar. Dalam kesendirianku sebagai pertapa, aku menyadari bahwa kedamaian bukan datang dari kemenangan, tapi dari pengertian. Dari menerima bahwa kita semua, meski berbeda, memiliki harapan yang sama: hidup dalam damai.”

“Tak akan pernah ada kedamaian untukmu, bangsat,” timpal Rakeyan Hujung.

“Ayahku tidak akan kembali, kakakku tak akan pernah kembali, rakyatku yang kau bantai tak akan pernah kembali,” ujar Niskala dengan suara yang masih gemetar. “Tapi apa yang terjadi sudah menjadi bagian dari sejarah. Aku datang ke sini membawa dendam dan amarah, tapi aku ingin pulang dengan hati yang tenang.”

Rakeyan Hujung menepuk bahu sahabatnya, lalu memberi Niskala sebuah isyarat dengan anggukan. Niskala balas mengangguk. Dengan gerakan tiba-tiba, Rakeyan hujung menendang dada Gajah Mada hingga si kakek terkapar. Lalu Rakeyan Hujung menginjak lehernya. Niskala mengeluarkan kujang pusaka yang dulu dipakai kakaknya, Dyah Pitaloka, untuk mengakhiri hidup. Niskala mendekati si kakek renta itu, menarik gelungan rambut putihnya dengan tangan kiri, lalu memotong gelungan itu dengan kujang dalam sekali tebas.

Niskala menatap Gajah Mada sekali lagi. “Aku memaafkanmu, kakek sundal! Bukan untukmu, tapi untuk kami, untuk ketenangan hati yang kami cari selama ini. Demi ayahku, kakak perempuanku, dan seluruh rakyat Sunda yang sudah kau hina sedemikian kejinya.” 

“Dan satu hal lagi,” Rakeyan Hujung menambahkan, “kau tak pantas dikenang dengan cara apapun! Kau akan mati sendirian dengan penuh kehinaan!”

Mata Gajah Mada berkaca-kaca penuh kesedihan mendalam dan penyesalan. Namun Niskala dan Rakeyan Hujung tak memberi kakek tua itu kesempatan untuk kembali bicara. Niskala melemparkan potongan rambut putih ke muka si kakek yang masih terkapar, lalu meninggalkannya tanpa menoleh lagi. 

Mereka berdua berjalan menuruni bukit dengan perasaan yang lebih ringan. Seperti riak air di sungai yang akhirnya menghilang, dan kembali tenang. 

Mereka berdua pulang ke Sunda. Niskala kini sudah siap duduk di singgasana raja yang selama ini dipegang sementara oleh pamannya Sang Bunisora, lalu memerintah dengan adil dan bijak seperti yang dicontohkan ayah dan pamannya, hingga dia mendapat julukan Sang Prabu Siliwangi, yang berarti pengganti keharuman ayahnya, Sang Prabu Wangi yang gugur di Bubat. Selebihnya adalah sejarah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Novel ‘Menuai Badai’ Karya Juli Sastrawan Resmi Terbit

Redaksi

Manual Membunuh Idola

Ervin Ruhlelana

Rapor Merah Menteri Kebudayaan dan Sastra Kita di Halaman Belakang

Preman Laut

Disita Militer dan Lama Hilang, Dua Novel Baru Pramoedya Siap Dicetak

Redaksi

Lihai Gunakan Kata Bersayap, Profesi Sastrawan Terancam Digantikan Anggota DPR

Preman Laut

Dua Penulis Bali, Tan Lioe Ie dan Pranita Dewi, Masuk Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi