Lagu ini terdengar hangat, tapi sebetulnya menipu.
Sebab jika ‘dibaca’ lebih dekat, ia menyimpan sesuatu yang gelap, pedih dan tanpa harapan.
Ketika hit single ‘Kesepian Kita’ dirilis pada 2001, Pas Band sudah dikenal lebih dulu sebagai unit underground pionir indie movement asal Bandung dengan signatur musik keras dan cepat.
Di lagu ini, musikalitas mereka tetiba berbelok 180 derajat. Aransemennya jadi pop rock, ringan dan mudah dicerna. Menurut hemat saya, justru karena perubahan drastis itulah lapisan gelapnya bekerja tanpa terasa.
Kontras ini dipertegas oleh kehadiran Tere, pendatang baru yang kala itu masih entah antah berantah. Suara Yukie yang khas dan kolektif bertemu vokal Tere yang lebih personal dan rapuh. Keduanya tidak benar-benar menyatu.
Dari sini sudah terasa bahwa kebersamaan Yukie dan Tere dalam mengolah vokal diam-diam menyimpan jarak. Sebab terminologi ‘kita’ di sini bukan solidaritas, tapi sekumpulan individu yang sama-sama terasing.
Simak saja bagian reffnya ‘hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan’. Ini bukan sekadar metafora, melainkan pernyataan eksistensial.
Wajar bila kemudian ada kemiripan tema dengan gagasan Jean-Paul Sartre tentang manusia sebagai entitas yang terlempar, tanpa pusat dan harus menghadapi keterasingannya sendiri.
Dalam konteks lagu ini, Pas Band terdengar seperti Sartrean: bukan karena memberi jawaban, tapi karena membiarkan manusia berdiri di hadapan kesepian yang tidak bisa dihindari.
Dalam posisi itu, ‘kita’ berubah fungsi. Ia bukan jawaban, melainkan cara bertahan karena pada akhirnya, kamu memang tidak sendirian tapi tetap bisa merasa kesepian.
Lagu ini tidak hendak menyatukan siapa pun. Ia hanya menunjukkan pada pendengarnya bahwa kesepian lebih bisa ditanggung karena dialami bersama.
Tidak ada jalan keluar memang dan tidak perlu juga harapan.
