Valentine bukan budaya kita. Halloween bukan budaya kita. April Mop, Black Friday, K-pop, Netflix and chill, hingga satanic (yang katanya ada) dalam lagu-lagu Hindia pun bukan budaya kita.
Tapi pelanggaran HAM juga bukan budaya kita. Penghilangan aktivis juga bukan budaya kita. Apalagi menuliskan ulang sejarah nasional (baca: menghapus fakta-fakta penting dan membelokkan maknanya) versi Menteri Kebudayaan kita tercinta, itu semua juga bukan budaya kita.
Karenanya, jangan terlalu santai menyikapinya. Tegang saja. Sebab dalam waktu dekat, kita mungkin akan lebih sering melihat aktivis lingkungan yang mempromosikan produk properti pembabat sawah dan hutan, misalnya. Atau para pegiat festival literasi bertaraf dunia yang abai pada kenyataan bahwa bocah-bocah SMP di sebelah kampungnya kebanyakan belum lurus membaca.
Dalam iklim yang kacau dan penuh oksimoron seperti ini, suara-suara alternatif dari seniman subkultur menjadi penting. Mereka hadir sebagai penanda arah, sekaligus penolak lupa.
Salah satunya adalah Made Mawut, seorang troubadour yang lahir dan besar di Denpasar. Ia hadir sejak era pra-Covid 19 melantunkan karya folk blues-nya dari gerbang masuk Rumah Tanjung Bungkak sampai ke ruang-ruang toko buku sempit Kios Ojo Keos.
Made Mawut, demikian nama panggung yang terdengar seperti hasil perkawinan antara kemarahan lokal dan keputusasaan global, tidak sedang bermain-main saat menamakan album perdananya Merdeka 100%.
Dirilis pada 2019 silam, ada baiknya memang kita jangan buru-buru membayangkan album ini mengandung makna ‘kemerdekaan’ dalam versi pamflet pemerintah.
Album debut ini bagi saya justru terasa seperti pamflet gelap yang dicetak diam-diam di sudut kamar kos sempit di Jalan Raya Pramoedya, daerah Kesiman: ia penuh coretan dinding tulisan tangan seperti “Kita ini budak dengan cicilan” atau “Pancasila tidak berlaku di gang buntu.”
Pasalnya, Made Mawut mengusung blues kasar dengan tiupan harmonika yang meringis. Ia bernyanyi seolah lirik lagunya ditulis oleh preman pasar yang baru khatam Tetralogi Pulau Buru sambil mendengarkan Album Salak-nya Zeke Khaseli.
Bagi saya, Merdeka 100% adalah penghinaan halus terhadap selebrasi kemerdekaan versi karnaval tiap Agustusan: potong tumpeng, lomba panjat pinang, dan selfie pakai bendera. Ia membawakan ironi itu dengan gitar ngik-ngik-ngok tiga jurus tapi blues, seolah menyodorkan cermin kusam pada bangsa yang mabuk nasionalisme di permukaan, namun kelaparan di dalam rumah.
Dan jangan salah, Merdeka 100% bukan cuma maki-maki. Di balik denting gitar akustik dan raungan harmonika, ada kesedihan yang tak sempat ditulis di buku sejarah. Ada luka kolektif yang dibalut humor gelap. Ada nuansa kampung yang ditindih ambisi urban.
Dan Made Mawut, dengan suara serak dan artikulasi vokal yang kadang nyaris tak bisa saya dengar jelas, berhasil menyalurkan itu semua dengan terang benderang.
Fast forward ke 2023, Made Mawut kemudian merilis album Tradisi. Album ini bisa dibilang lebih rapi, lebih kaya kolaborasi, dan sedikit lebih… kalem. Tapi kalem di sini bukan berarti jinak.
Lagu seperti Arak Steady Blues misalnya, adalah kritik sosial yang disajikan seperti arak lokal: pahit, hangat, dan membuat saya sadar bahwa negara ini lebih sibuk mengurus izin edar arak lewat BPOM ketimbang menindak korupsi triliunan.
Di karya lain, kolaborasi Made Mawut dengan Kaka Slank dan Nosstress bukan cuma gimmick. Ia menjadi titik temu antara generasi dan genre, antara idealisme jalanan dan wacana lingkungan serta sosial yang semakin mendesak.
Dalam Tabir Kelam misalnya, kita dibawa menyusuri sejarah yang tak pernah diajarkan di kelas IPS. Sebuah upaya membongkar tirai ingatan kolektif yang sengaja dikaburkan demi stabilitas nasional (baca: kenyamanan mereka yang elit di atas).
Belum selesai menarik napas, tahun berikutnya Made merilis amunisi terbaru tahun lalu: De Je Loba, nomor single berbahasa Bali yang menggandeng idola masa kecil, Oppie Andaresta (damn, ketahuan deh umur saya, wakakak).
Kolaborasi ini terasa seperti duet dua orang sepuh yang tahu betul bahwa dunia sudah miring, tapi tetap ngotot menyanyi meski sound system-nya jelek. Dan yang paling penting: mereka membuktikan bahwa kritik sosial tak harus disampaikan dalam bahasa ibu negara. Bahasa daerah pun bisa menggigit, bahkan lebih tajam.
Dalam skena musik indie kiwari di Bali, jika Candu Baru-nya Zat Kimia adalah kritik halus teknologi dalam balutan pop gula-gula, maka karya-karya Made Mawut adalah tamparan budaya pakai sandal jepit. Tak ada mixing yang manja. Tak ada progresi kord yang rumit. Tapi ada rasa dan keberanian. Serta yang terpenting, ada kejujuran yang kuat di sana.
Wajar kalau musik Made Mawut memang bukan untuk didengar sambil scroll dan pargoy TikTok. Musiknya adalah undangan untuk berhenti, mendengar, dan berpikir. Atau setidaknya, jadi teman suasana pagi saat ambil gitar kopong, petik melodi sebentar, seruput kopi pahit, lalu tertawa getir sebelum berangkat kerja naik matic butut yang STNK-nya mati bertahun-tahun silam (ini kisah nyata penulis, sumpah!).
Bukan berarti karyanya bebas dari cela. Lagu-lagunya kadang repetitif. Ada kecenderungan bermain di pola yang sama, baik secara musikal maupun tematik. Tapi mari kita bahas soal itu lain kali.
Toh sebagai seniman, Made Mawut memang tak selalu menawarkan kejutan. Ia memilih tetap bernyanyi dengan caranya sendiri, meski dunia di sekelilingnya terus berubah.
Simak saja mini album terbaru bertajuk Dunia yang Lain Saat Ini yang baru saja dirilis. Dilepas independen 9 Juli kemarin, EP ini berisi 4 lagu yakni Tak Ada Makan Siang yang Gratis, Dunia yang Lain Saat Ini, Sama rasa Sama Rata, dan Si Buyung.
Di karya terbarunya ini, Made Mawut tampak fokus pada eksplorasi story telling alih-alih mengulik musik secara estetik. Walau jelas album ini repetitif dengan pola sama, tapi justru di sanalah kekuatan musikalnya. Karya anyarnya ini seperti obrolan warung kopi jam 2 pagi, ketika sudah tidak ada basa-basi, hanya tinggal kejujuran yang pahit.
Dan tidak apa-apa, sebab mengharapkan kreativitas tanpa henti dari seorang musisi ‘jalanan’ yang bersuara di tengah absurditas budaya dan kapitalisme pinggiran hari ini, barangkali adalah bentuk kemanjaan saya sebagai pendengar.
Dan kalau setelah mendengarkan albumnya kebanyakan dari kita akan merasa tidak nyaman, mungkin itu memang tujuan utamanya.
Long live, Made Mawut!