Denpasastra.net
Sumber ilustrasi: Maxuser/Shutterstock.com
Opini

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari dari Riset Cambridge

Riset terbaru dari Minderoo Centre for Technology and Democracy, Universitas Cambridge, mengangkat kembali perdebatan tentang masa depan literasi di era kecerdasan buatan. Laporan ini bukan sekadar kumpulan opini tentang ancaman AI yang kian nyata di hari-hari belakangan.

Ia menghimpun suara ratusan kreator di Inggris, mulai dari novelis, penerbit, editor, agen literer, hingga pelaku komunitas, lalu menyusunnya menjadi potret ekosistem sastra di Inggris yang disebut-sebut sedang mengalami tekanan besar.

Cambridge sendiri menempatkan novel sebagai salah satu pilar budaya Inggris dalam laporan ini. Bentuk novel bertahan ratusan tahun dengan daya lenting yang luar biasa.

Namun, kehadiran AI hari ini telah mengubah pola kerja dan ekonomi kepenulisan dengan kecepatan yang sulit diimbangi. Laporan Cambrigde ini mencoba memetakan perubahan itu dan menilai sejauh apa dampaknya pada mata pencaharian, proses kreatif, dan masa depan sastra di Inggris.

Apa Sebetulnya Isi Laporan Cambridge

Para peneliti yang menjalani penelitian Cambridge mewawancarai dan berdiskusi dengan ratusan pelaku industri di Inggris dengan metode focus group discussion di sejumlah kota yakni Manchester, Edinburgh, dan London. Dari data yang terkumpul, semuanya menunjukkan pola yang konsisten. Sebanyak 39 persen novelis melaporkan penurunan pendapatan sejak kemunculan Generative AI.

Hilangnya pekerjaan sampingan yang dulu menopang penghasilan penulis menjadi penyebab utama. Sebanyak 59 persen penulis mengetahui bahwa karya mereka digunakan untuk melatih model AI tanpa izin. Lebih dari separuh responden mengaku khawatir karya mereka akan digantikan sepenuhnya oleh hasil AI.

Kekhawatiran terbesar muncul dari penulis dengan genre romance. Sebanyak 66 persen responden menyebut genre ini sebagai kategori yang paling terancam. Penulis cerita menegangkan menyusul dengan 61 persen dan penulis genre crime dengan 60 persen. Banyak novelis merasa tekanan muncul di seluruh lini. Biaya produksi menurun. Penerbit semakin tergoda untuk mengandalkan otomatisasi. Pembaca dibanjiri narasi cepat, murah, dan paham algoritma.

Riset ini tidak berhenti pada statistik. Para peserta focus group discussion mengungkapkan keresahan yang lebih dalam. Mereka berbicara tentang erosi relasi manusia dalam proses kreatif, hilangnya keterampilan menulis, serta ketakutan bahwa lanskap sastra akan kehilangan originalitas. Beberapa responden mengakui adanya manfaat AI. Di antaranya membantu penulis dengan hambatan akses atau mobilitas. Namun mereka juga mencatat pola diskriminasi dan stereotip yang muncul dalam hasil model AI.

Novel dalam Persimpangan Sejarah

Cambridge menyimpulkan bahwa novel sedang menghadapi persimpangan sejarah. AI membawa perubahan struktural yang tidak bisa dibalik. Para penulis dan penerbit perlu merancang ulang peran mereka pada abad ini.

Baca Juga  Sabtu Besok, HIMA Sastra Indonesia UNUD Bahas Buku Puisi ‘Jamuan Malam’ di Denpasar

Laporan tersebut menyarankan serangkaian rekomendasi. Mulai dari penguatan regulasi hak cipta, peningkatan transparansi penggunaan data untuk pelatihan model, pendanaan riset, hingga praktik penerbitan yang lebih bertanggung jawab.

Novel ditempatkan sebagai bentuk seni yang memiliki nilai sosial, kultural, dan ekonomi yang penting. Laporan ini menegaskan bahwa novel adalah salah satu bentuk kreativitas yang layak diperjuangkan. Jika rekomendasi dijalankan, Inggris diyakini dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu pusat industri kreatif dunia.

Pembacaan Kritis atas Laporan Cambridge

Tulisan ini menggunakan sumber primer yakni data laporan cambridge yang dipetik dari situs resmi dan dokumen PDF-nya bisa diunduh bebas. Lewat tulisan ini, saya tak hendak hanya menginformasikan hasil temuan ini, tapi juga mengambil jarak sebagai pembacaan kritis dalam konteksnya di Indonesia berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya pribadi yang boleh jadi punya biasnya sendiri.

Sebab meskipun ia kaya data dan suara, laporan ini menyisakan sejumlah celah yang perlu diperhatikan. Penurunan pendapatan penulis, misalnya, belum sepenuhnya dijelaskan secara independen dari faktor eksternal. Pasar buku Inggris mengalami guncangan dalam beberapa tahun terakhir. Inflasi meningkat. Pola konsumsi digital berubah. Perubahan ini bisa berperan sama besar dengan pengaruh AI.

Data yang digunakan cenderung berbasis persepsi para kreator. Persepsi layak dihargai karena menggambarkan kondisi psikologis dan sosial. Namun persepsi tidak selalu sejalan dengan realitas ekonomi yang dapat diukur. Laporan ini juga tidak membedakan dampak AI berdasarkan genre atau model bisnis. Padahal penulis romance independen yang bekerja dengan mekanisme self publishing menghadapi kondisi yang berbeda dari penulis fiksi sastra yang bergantung pada advance dari penerbit besar.

Partisipan riset sebagian besar berasal dari kelompok yang sudah resah terhadap dampak AI. Kondisi ini bisa menciptakan bias seleksi. Selain itu laporan ini tidak menyediakan perbandingan internasional. Negara lain justru melihat pertumbuhan pasar melalui bantuan model bahasa. Korea Selatan dan Cina misalnya mencatat peningkatan produksi web novel yang signifikan.

Laporan ini juga mengasumsikan bahwa hilangnya keterampilan atau berkurangnya originalitas adalah konsekuensi langsung penggunaan AI. Klaim ini perlu diperiksa kembali karena lebih bersifat normatif daripada empiris. Setiap teknologi baru dalam sejarah sastra selalu memicu kecemasan serupa. Mulai dari mesin cetak, mesin tik, blog, hingga fan fiction. Novel selalu beradaptasi dengan media baru.

Mengenai hal ini, ada sejumlah counter opini yang layak dipertimbangkan. Pertama, AI bukan penyebab tunggal menurunnya pendapatan penulis. Masalah struktural dalam industri penerbitan sudah muncul jauh sebelum AI hadir. Pada sisi lain AI membuka peluang untuk memperluas akses terhadap proses kreatif. Banyak penulis pemula menggunakan AI sebagai alat belajar menulis, bukan sebagai mesin produksi. AI juga dapat menghasilkan bentuk naratif baru yang belum dikenal sebelumnya.

Baca Juga  Menemukan Nyala: Jalan Merawat Semangat dalam Menulis

Bagaimana Konteksnya di Indonesia

Menurut hemat saya, Laporan Cambridge memberi cermin yang berguna bagi Indonesia. Betul bahwa kondisi ekosistem sastra Indonesia berbeda dari Inggris, tetapi kerentanannya serupa. Pendapatan penulis Indonesia jauh lebih rendah. Royalti kecil. Infrastruktur industri masih rapuh. Jika negara dengan industri kuat seperti Inggris saja mengalami tekanan, Indonesia bisa menghadapi risiko yang lebih besar.

Perdebatan tentang hak cipta data hampir tidak terdengar di Indonesia. Padahal karya para penulis lokal sudah pasti masuk dalam dataset global. Tanpa regulasi, Indonesia berpotensi kehilangan kendali atas distribusi dan pemanfaatan karya sastra. Di sisi lain AI dapat menjadi sarana pemberdayaan literasi nasional. Penulis pemula, disleksia, atau mereka yang tinggal di daerah minim akses editorial dapat terbantu oleh alat ini.

Risiko terbesar bagi Indonesia terletak pada homogenisasi bahasa dan gaya. Mayoritas model AI dilatih dalam korpus pengetahuan Barat dengan dataset yang paling banyak jadi sumber. Jika dipakai tanpa kesadaran kritis, AI dapat mereduksi ekspresi lokal dan estetika non Barat. Dampaknya tidak hanya pada penulis, tetapi juga pada keberlangsungan bahasa daerah.

Dalam rangka inilah Indonesia perlu mulai membangun langkah antisipatif. Edukasi penggunaan AI yang etis bagi penulis menjadi langkah pertama. Penerbit perlu transparan dalam penggunaan AI pada proses editorial. Pemerintah perlu menyusun aturan pemanfaatan karya sastra Indonesia dalam pelatihan model bahasa. Komunitas, kampus, dan lembaga riset perlu mengembangkan kajian dampak AI versi Indonesia agar diskusi publik tidak hanya bergantung pada riset luar negeri.

Penutup: Teknologi dan Sastra Masa Depan

Tekanan AI tidak berdiri sendiri. Ia memperlihatkan bagian yang rapuh dari ekosistem sastra kita. Dari laporan Cambridge, Indonesia dapat belajar bahwa kesiapan regulasi, transparansi penggunaan data, dan literasi teknologi sangat menentukan nasib penulis pada satu atau dua dekade mendatang.

Laporan Cambridge memang bukan nubuat yang hendak digenapi. Ia lebih jitu bila ditempatkan seperti cermin: menunjukkan tekanan yang muncul ketika teknologi menggeser aturan lama.

Sastra di Inggris saat ini memang sedang berada pada masa transisi yang tidak nyaman, tetapi bukan tanpa arah. Dan dari laporan ini, Indonesia dapat mempelajari dua hal. Pertama, bahwa dampak teknologi tidak pernah merata dan selalu bergerak melalui struktur yang sudah rapuh. Kedua, bahwa kesiapan ekosistem jauh lebih menentukan daripada kecanggihan teknologi itu sendiri.

Novel, seperti laiknya produk sastra lain akan tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan. Yang berubah adalah cara ia lahir, dibaca, dan dipertahankan dalam bentang teknologi yang terus bergerak.


Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Tan Lioe Ie Terbitkan Dua Buku Baru di Bawah Ladang Publishing: ‘Tubuh yang Tak Patuh Seluruh’ dan ‘Sekolah Tikus’

Preman Laut

Novel ‘Menuai Badai’ Karya Juli Sastrawan Resmi Terbit

Preman Laut

Bahaya Laten Buku ‘Filosofi Teras’ dan Muslihat Logikanya

Preman Laut

Dua Penulis Bali, Tan Lioe Ie dan Pranita Dewi, Masuk Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Preman Laut

Film Chairil Anwar Segera Tayang di Bioskop, Falcon Pictures Belum Umumkan Pemeran dan Jadwal Rilis

Preman Laut

Menemukan Nyala: Jalan Merawat Semangat dalam Menulis

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi