Dua karya Pramoedya Ananta Toer yang selama puluhan tahun tersimpan dan belum pernah diterbitkan akhirnya akan segera hadir untuk pembaca. Kedua novel tersebut berjudul Mata Pusaran dan Musim Kawin di Nusa Kambangan.
Naskah Mata Pusaran diketahui pernah disita militer dan lama tersimpan di luar jangkauan publik, hingga kemudian muncul kembali lewat penelusuran arsip. Sementara Musim Kawin di Nusa Kambangan berasal dari catatan lama keluarga Pramoedya yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan.
Keluarga Pram memastikan bahwa kedua karya ini sudah masuk tahap penyuntingan akhir dan siap dicetak dalam waktu dekat oleh penerbit Lentera Dipantara. “Kami ingin menghadirkan kembali suara Pram yang pernah dibungkam,” kata perwakilan keluarga dalam pernyataan yang dikutip sejumlah media.
Penerbitan dua novel ini menjadi bagian dari rangkaian Seabad Pram, perayaan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer yang berlangsung sepanjang 2025–2026. Selain menerbitkan naskah baru, keluarga juga merencanakan pencetakan ulang beberapa karya lama Pram yang sudah sulit ditemukan.
Dengan segera terbitnya Mata Pusaran dan Musim Kawin di Nusa Kambangan, pembaca akan disuguhi warisan intelektual Pramoedya Ananta Toer yang sempat dibungkam, tetapi kini hidup kembali.
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925 dan dikenal sebagai salah satu sastrawan terbesar Indonesia. Ia meninggalkan jejak panjang melalui puluhan karya, mulai dari cerita pendek, esai, hingga novel. Karya monumentalnya, Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), dianggap sebagai tonggak penting sastra Indonesia modern karena menyuarakan sejarah, kolonialisme, dan perjuangan identitas bangsa.
Namun, perjalanan kepenulisan Pram tak lepas dari kontroversi. Ia ditahan tanpa pengadilan di Pulau Buru selama lebih dari satu dekade setelah peristiwa 1965, dan banyak karyanya dilarang beredar oleh rezim Orde Baru. Meski begitu, di dalam penjara ia tetap menulis dengan segala keterbatasan, menjadikan tulisannya sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap penindasan. Larangan terhadap buku-bukunya baru dicabut setelah jatuhnya Soeharto pada 1998.
Di balik segala tekanan politik, nama Pramoedya tetap harum di kancah dunia. Ia pernah masuk nominasi Nobel Sastra, menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Kreatif (1995), serta penghargaan dari PEN Freedom-to-Write. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa, menjadikannya salah satu penulis Indonesia paling berpengaruh di tingkat global.